
Sudah 2 hari sejak ditemukan gadis tanpa identitas itu terhitung saat ditemukan nya di tepian sungai
"Ugh..." lengkuh gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Joy, ia pun hendak bangun, dan memegangi kepala nya yang masih sakit
"Mbak sampun sadar? (Mbak sudah sadar?), alhamdulillah" ucap seseorang yang menjaga nya itu sambil membantu Joy meninggikan bantal nya
"Umi... Umi...." teriak gadis yang mejaga nya tadi yang bernama Zahra
"Ono opo to nduk, cah gadis kok bengok bengok ngono (Ada apa nak, anak gadis kok teriak tetiak)" ujar Umi
"Niki Mi, mbake sampun sadar Mi (Ini Mi, mbak nya sudah sadar)" balas Zahra senang
"Bicara apa mereka, dan dimana aku" batin Joy menelisik ke penjuru ruangan itu
"Alhamdulillah, sampun sadar nak? (Alhamdulillah, sudah sadar nak?” tanya Umi dengan menghampiri Joy
Joy hanya diam karena bingung apa perkataan ibu ibu di depan nya itu
"Ah maksud nya, Mbak nya sudah sadar?" ujar Zahra menjelas kan, karena nampak raut wajah bingung dari Joy
"Ya" balas Joy singkat
"Siapa nama mu nak?" tanya Umi
"Joy..." balas Joy singkat dengan menahan rasa sakit
"Ndang panggil Farhan nduk (Buruan panggil Farhan nak)" pinta Umi kepada Zahra
Zahra pun dengan segera menanggil Farhan
"Assalamu'alaikum Mas Farhan, Mbake sampun sadar mas (Mbak nya sudah sadar Mas" ujar Zahra kepada Farhan yang telah dipanggil
Dengan segera Farhan yang diikuti Zahra pun menuju ke ruang uks
"Mbake mboten saged bahasa jawi mas (Mbak nya tidak bisa bahasa jawa mas)" ujar Zahra
Farhan mengangguk
"Bagaimana keadaan nya mbak?, apa ada yang masih sakit?” tanya Farhan kepada Joy
"Kaki dan kepala ku" ujar Joy dengan meringis karena sakit
"Saya periksa dulu ya mbak, untuk kaki mbak seperti nya terkilir, nanti kami panggil kan tukang urut nya" ujar Farhan
"Mbak ini kami bawakan bubur, mbak makan dulu ya" ujar Zahra mendekati Joy
"Makanan yang paling tidak kusukai Tuhan” batin Joy dengan memandang bubur itu
"Saya suapi ya mbak” ujar Zahra
"Enak" batin Joy saat menerima suapan itu
"Steril tidak ya, ah... tidak apa apa mereka sudah membantu ku" batin Joy lagi
"Mbak nanti setelah makan, minum obat nya ya. Mbak Zahra ini obat mbak nya. Saya permisi dulu mau ke masjid. Assalamu'alaikum" pamit Farhan dengan memberikan obat kepada Zahra
"Wa'alaikumsalam" balas Umi dan Zahra, sementara Joy hanya mengangguk
"Mbak sudah selesai makan nya, ini obat nya diminum" ujar Zahra
"Terima kasih" Balas Joy singkat
"Sama sama mbak, mbak nya istirahat saja dulu, nanti saya panggil kan mbak santri untuk menemani mbak"ujar Zahra
Zahra dan Umi pun pamit meninggal kan Joy
"Sebenar nya aku dimana sekarang, bahasa aneh, pakaian aneh, semua terasa asing bagiku" batin Joy terus berfikir sembari melamun
Hingga Joy dikejut kan oleh 2 suara yang menghampiri nya
"Assalamu'alaikum" salam mereka
Namun Joy tidak menjawab nya
"Masya allah, londo seko ngendi iku Ais, ayu men (Masya allah, bule dari mana itu Ais, cantik sekali)" ujar salah satu santri yang dimaksud Zahra tadi
"Iyo Mar, ayu tenan iki (Iya Mar, cantik benaran ini)" balas seseorang yang dipanggil Ais tadi
"Mbak sinten nami ne? ( Mbak siapa nama nya?” ujar Ais atau Aisyah itu
"Hmm" Joy berdehem dan mengkerut kan kening nya
"Mak.. maksud nya mbak siapa nama nya kalau boleh tahu" tanya Aisyah lagi
"Joyce, panggil saja Joy" ujar Joy memperkal kan dengan mengulur kan tangan nya
"Ah.. Saya Aisyah" ujar Aisyah menyalami Joy
"Saya Maryam" balas Maryam
"Tangan alus tenan yo Mar (Tangan nya halus bener ya Mar)" ujar Aisyah
"Iyo, aku dadi isen, tangan ku kapalanen Ais (Iya, aku jadi malu, tangan ku kapalan Ais)" balas Maryam dengan meringis kecil dan salah tingkah
"Kenapa?" tanya Joy saat mendapati mereka salah tingkah setelah berjabatan tangan dengan nya