No Cute, But Strong Girl

No Cute, But Strong Girl
Gadis Tanpa Identitas



"Saat Aland hendak membalas mereka, tiba tiba ada yang memukul ku dari belakang. Dan sebagian dari mereka saling menghajar satu sama lain, sebagian nya lagi mendatangi Joy dengan membius nya" ujar Aland


"Joy yang pingsan pun dibawa salah satu kelompok itu, yang tak lain ada lah suruhan dari teman sekolah kami" ujar Aland lagi


"Lalu kenapa kamu tidak mengejar Joy" sarkas Briant dengan marah


"Dia sudah terkapar saat Jeff sampai ditempat kejadian kek" balas Jeff menimpali


"Argh... bagaimana ini jika Opa Oma nya mengetahui, aku tidak becus menjaga cucu ku" ujar Briant frustasi


"Anak buah ku sedang menelusuri keberadaan Joy kek, Joy pasti baik baik saja" ujar Jeff menenang kan kakek nya


.


...****************...


"Astaghfirullah.... siapa dia?" batin seseorang itu saat sedang bersantai dipinggir sungai dengan membawa pancing


"Ku tolongi atau tidak ya, tapi dia bukan mahrom ku" batin nya lagi


"Tapi tidak ada seseorang pun disini, dan lagi pakaian nya terlalu terbuka" batin nya menimang nimang


"Ya Allah ampuni hamba, hamba hanya berniat untuk menolong nya" ujar nya seraya berdoa


"Masih hidup" ujar nya saat mengecek detak nadi nya masih ada


"Bismillah Ya Allah" ujar nya lagi seraya mengangkat seseorang yang ia temukan tadi, dengan tak lupa ia menutup kan sarung nya di tubuh gadis itu


Digendong nya dengan sedikit berlari menuju ke sebuah pemukiman


"Assalamu'alaikum kyai" ujar seseorang itu


"Wa... Wa'alaikumsalam Farhan" jawab seseorang yang ia panggil kyai itu


"Astaghfirullah... anake sopo sampean gowo Han? (anak siapa yang kamu bawa itu Han?)" tanya Kyai


"Kulo kirang mangertos Kyai , wau Farhan menemukan wonten pinggir sungai, tiyange mboten sadar kalig mboten enten identitas kyai (Saya kurang tahu Kyai, tadi Farhan menemukan nya di pinggir sungai, dengan kondisi tidak sadar kan diri)" jelas Farhan seseorang yang menolong gadis tadi


"Yo wes ayo gowo ning uks, ndang ditangani (Sudah ayo kita bawa ke uks saja, segera di tangani)" ujar Kyai


"Sinten Bi? (Siapa Bi?)" tanya seorang perempuan paruh baya, yang tak lain adalah istri Kyai tadi


"Durung reti Mi, ayo bantu mengurus nya (Belum tahu Mi, ayo bantu kami mengurus nya)" ujar Kyai itu


"Mekaren kulo pamit riyen Kyai, Umi (Kalau begitu saya pamit dulu Kyai, Umi). Assalamu'aiakum" pamit Farhan


"Wa'alaikumsalam" balas mereka yang ada disana serempak, terkecuali gadis yang ditolong tadi karena belum sadar kan diri


"Abi metu yo Mi. Mangke Umi kabari lak wes sadar gadis iku (Abi keluar dulu ya Mi. Nanti Umi kabari Abi jika gadis itu sudah sadar). Asslamu'ailaikum" pamit Kyai itu diangguki oleh istri nya


"Wa'alaikumsalam"


"Ngapunten Umi, Zahra mundur ageman riyen kagem mbake Mi (Maaf Umi, Zahra ambil kan pakain dulu untuk gadis ini ya Mi)" pamit Zahra kepada Umi


"Iya nak" balas Umi


"Ya Allah mesakno men awakmu nak, ngantek luka luka ngene (Ya Allah malang sekali nasib mu nak, sampai luka luka seperti ini)". ujar Umi merasa iba akan keadaan gadis itu


"Niki Umi agemane, nyuwun bantu memakaikan agemane nggih Mi (Ini Umi pakaian nya, minta bantu untuk memakaikan pakaian nya ya Mi)" ujar Zahra


"Iyo nak, sini Umi ewangi (Iya nak, sini Umi bantu)" balas Umi


"Ndang panggil Farhan rene gawe memeriksa mbake (Lekas lah panggil Farhan kemari untuk memeriksa nya)" pinta Umi, Zahra pun mengangguk


"Assalamu'alaikum mas Farhan, diminta Umi untuk memeriksa gadis tadi" ujar Zahra saar tak sengaja bertemu Farhan di lapangan


Nampak Farhan sudah mengganti pakain nya yang basah tadi, dan hendak menuju uks


"Nopo sampun diganti agemane mbake? {Apa sudah diganti pakaian prempuan itu?]" tanya Farhan


" Sampun mas (Sudah mas)" balas Zahra dengan menunduk


"Hmm.. Nggih... Monggo (baik lah... Mari...)" balas Farhan dengan mengajak Zahra


"Assalamu'alaikum..." Salam Farhan dan Zahra


"Wa'alaikumsalam" balas Umi


Dengan segera Farhan pun memeriksa keadaan gadis itu dengan tak lupa mengenakan kaos tangan


Ia pasang kan infus ditangan dan membalut beberapa luka di dahi gadis itu.


"Sak benere sopo dekne nak? {Sebenar nya siapa dia nak?]" tanya Umi


"Farhan kirang mengertos Umi, wau Fahran nemuaken wonten pinggir sungai, lan mboten enten identitasipun (Farhan kurang tahu Umi, tadi Farhan menemukan nya di tepian sungai, dan tidak ada identitas nya)" Balas Farhan