
Nita meletakkan piring kotor di wastafel dan mba sari mencucinya. “Mba, nanti kalo udah cuci piringnya nita minta tolong hangatkan zuppa soup sama dimsum ya trus nanti bawa ke kamar nita, nita mau belajar. Oiya, satu lagi tolong buatkan white tea dan biscuit rasa kelapa buat mami dan antar ke ruang kerja mami ya. Biasanya mami kalo lagi sibuk butuh minuman yang buat dia relaks. Abis itu mba boleh langsung istirahat” pinta nita lembut ke mba sari dan meninggalkan mba sari di dapur. Mba sari mengangguk dan tersenyum.
Nita hapal setiap kebiasaan yang dilakukan anggota keluarganya dan setiap kegiatan yang dilakukan anggota keluarganya. Bukan hanya anggota keluarganya tapi ia juga hapal kebiasaan yang dilakukan asisten rumah tangganya dan pekerja dirumahnya.
Sesaat setelah nita beranjak dari dapur terdengar suara nyanyian dangdut dari dapur. Nita tersenyum, itulah kebiasaan mba sari saat didapur saat ga ada dirinya atau ga ada anggota keluarga di dapur. Menyanyikan lagu dangdut dari salah satu seniman dangdut yang menjadi favorit mba sari.
Ia menuju kamarnya, ia mengerjakan beberapa tugas sekolah hingga selesai lalu mengemas buku untuk besok kemudian melanjutkan melakukan hobinya menulis cerpen atau puisi. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Nita membukanya.
Mba sari membawakan permintaannya ke kamar dan meletakkan di meja belajarnya. “Teh dan camilan buat mami udah, mba?” tanya nita ke mba sari. “Sudah saya antar non ke ruangan ibu” jawab mba sari sambil meletakkan dimsum dan zuppa soup hangat untuknya. “Makasih ya mba. Yasudah mba boleh istirahat” ucap nita sambil menutup pintu.
Tak terasa waktu menujukkan pukul sepuluh malam matanya sudah mulai sayup – sayup di depan laptop, ia mematikan laptopnya dan membawa piring kotornya ke dapur. Tak sengaja ia melihat keruang kerja maminya, maminya tertidur diruang kerja mungkin karna terlalu lelah.
Ia berniat membangunkan maminya tapi ia urung melakukannya, maminya pasti sangat lelah setelah perjalanan dari raja ampat dan masih harus menyelesaikan pekerjaannya dirumah. Ia membuka salah satu pintu diruang kerja yang langsung tembus ke kamar mami dan papinya. Ia mengambil selimut dan kemudian kembali ke ruang kerja dan menyelimuti maminya. Di kecupnya pelan di kening maminya.
Pagi hari tiba, nita bergegas sarapan dan berangkat sekolah. “Mba, maminya udah bangun?” tanya nita. “Kayanya udah non tadi saya dengar bunyi air kran di kamar ibu” jawab mba sari. Tak lama mami datang menghampiri nita dan mba sari.
“Makasih ya mba” ucap mami sambil menyendok nasi goreng dan mengambil telur dadar ke piringnya. Nita tersenyum melihat maminya. “Mba, sarapan sekalian ya. Kita sarapan sama - sama” ajak nita. “Saya sarapan dibelakang aja, non” tolak mba sari halus dan kembali ke dapur.
Setelah selesai sarapan nita pamit ke mami dan berangkat ke sekolah. Baru ia hendak membuka pintu, motor rifal terparkir manis di pekarangannya. Rifal menghampiri nita dan maminya. “Lho kamu jemput nita?” tanya mami. Rifal mencium tangan mami “iya tante, nanti kalo nita berangkat sendirian disamber orang” canda rifal ke mami nita. Mami tersenyum.
“Siapa yang mau nyamber nita?” pancing maminya sambil tersenyum dan melirik ke arah putrinya. “Banyak tante, sekalipun anak tante ini tomboy kaya anak cowo tapi yang ngejar banyak. Makanya kalo ga rifal antar nita nanti belum jadian eh nitanya direbut orang” canda rifal sambil tertawa kecil. Nita melebarkan matanya ke arah rifal.
Mami ikut tertawa kecil dengan candaan rifal. “Ngomong – ngomong sudah sarapan belum?” tanya mami. “Nanti aja tante di kantin sekolah” jawab rifal sopan. “Kalo gitu tunggu ya, tante siapin sarapan dulu biar nanti bisa makan disekolah” ucap mami. Mami masuk ke dalam dan mengambil nasi goreng serta telor ke dalam tempat makan.
Tak lama mami kembali menemui rifal dan nita yang sudah menunggu. “Nah ini, di makan ya sarapannya. Biar nanti semangat belajarnya” ujar mami sambil memberikan tempat makan ke rifal. “Aduh makasih tante jadi ngerepotin. Jadi berasa kangen sama umma dan kaya ada umma disini” ucap rifal sambil menerima bekal dari mami nita.
“Kami pamit ya, mam” ucap nita sambil mencium tangan maminya dan mencium kedua pipi maminya, diikuti oleh rifal yang mencium tangan mami nita. “Hati – hati ya dijalan dan belajar yang rajin” ujar maminya. Mereka pun menaiki motor dan berlalu meninggalkan rumah.
Mami kembali masuk kerumah. “Kayanya aku udah dapet restu duluan deh dari mami kamu tinggal nunggu hati anaknya aja luluh lagi ke aku” goda rifal saat di jalan. “Sok tahu” seloroh nita. Rifal tersenyum kecil mendengar seloroh nita.
Tak lama kemudian mereka sampai di sekolah nita. Nita segera masuk ke gerbang sekolah dan menuju kelasnya. Tidak sengaja ia melihat riani yang menyendiri di sudut luar ruangan kelasnya dan masih mengenakan tas ranselnya. Nita teringat kejadian kemarin. Nita menghela nafas pendek dan menghembuskannya perlahan, ia menghampiri riani. “Riani” panggilnya sambil duduk disamping riani.
“Kok ga masuk?” tanya nita lembut. Riani menatap nita merasa bersalah atas kejadian kemarin. “Gue di usir sama anak kelasan kita” jawabnya sambil kembali melihat ke lantai. “Di usir” sentak nita kaget. Riani mengangguk. “Lho kenapa emangnya?” tanya nita lagi. “Karna masalah kemarin, nit” jawabnya. Matanya mulai menghangat, perlahan ia mulai terisak.
“Nit, gue mohon maafin gue ya. Maafin semua kesalahan gue kemarin. Gue tahu gue salah, gue udah nusuk lo dari belakang dengan jadian sama chandra dan gue juga yang menghasut chandra supaya jadiin lo bahan taruhan dia dan teman – temannya. Sejujurnya gue iri sama lo nit.” Ucap riani sambil meraih kedua tangan nita.
Nita tertegun mendengar ucapan riani. Perasaan iri riani membuatnya dijebak dan hampir saja kehilangan kehormatannya. Nita menarik nafas pendek. Ia menepuk pundak riani. “Maaf kalo semua itu bikin lo iri ke gue. Gue hanya berusaha buat orang tua dan keluarga gue bangga aja sama gue ga bermaksud buat iri orang disekitar gue. Gue minta maaf ya untuk itu semua. Dan ga usah dipikirin masalah kemarin gue udah lupain itu kok” ujar nita sembari menepuk pelan pundak riani dan tersenyum.
Riani menatap ke arah nita. “Lo udah maafin gue dengan semua yang gue lakuin ke lo? Gue hampir buat lo kehilangan kehormatan lo, nit” ucap riani semakin merasa bersalah. Nita mengangguk dan tersenyum. Riani menatap nita, ia tidak percaya orang yang hampir ia celakai memaafkannya. Riani memeluk nita, menumpahkan air mata di pundak nita.
“Yasudah yuk sebentar lagi bel sekolah bunyi, kita masuk ke dalam yuk” ajak nita sambil membantu riani bangun dari duduknya. Saat hendak masuk, riani menahan tangan nita. Nita menoleh ke belakang, riani menggeleng takut. Ia menarik tangan riani untuk masuk ke dalam kelas bersamanya. Riani masuk ke kelas dengan kepala tertunduk. Semua mata tertuju ke nita dan riani dengan tatapan sinis.
“Nit, ngapain sih lo bawa dia masuk ke kelas kita. Buat kotor aja” sentak salah satu teman kelasnya. “Iya, nit. Lagian kan dia kemarin udah permalukan lo di hadapan kita dan hampir mencelakai lo juga” timpal yang lain.
“Semua orang pernah lakuin salah, kan? Dan semua orang berhak untuk di maafkan atas kesalahannya. Jika Allah saja bisa memaafkan kesalahan umatNya, trus kenapa kita sebagai umatNya ga bisa memaafkan sesama kita. Gue udah maafin apapun yang riani lakuin ke gue. Jadi gue harap kalian juga mau maafin dia ya” terang nita dengan lembut sembari meminta semua memaafkan kesalahan riani.
“Tapi tetap aja nit, dia udah kotor. Ga pantas jadi teman kita” sergah yang lain. Nita hanya menggeleng perkataan temannya. Ia mengantar riani duduk di bangkunya. Saat riani duduk, teman sebelahnya berpindah tempat duduk. “Gue ga mau ikutan kotor” ujarnya sambil mengambil tasnya dari bangku. Nita menghela nafas pendek, ia duduk disamping riani.
“Yasudah gue aja yang duduk disini kalo gitu”. Ucap nita sembari melepaskan tasnya dari punggungnya. Riani menoleh ke arah nita. Ia merasa bersalah ke nita. “Orang yang mau gue celakai justru dia yang berada disamping gue saat semua orang menjauh” rutuknya dalam hati dengan perasaan menyesal.
Jam pelajaran tiba mereka belajar seperti biasa sampai jam istirahat tiba. Saat nita dan riani ingin ke kantin, salah satu sahabat genk mereka yang mengenal persis bagaimana nita dan seperti apa riani itu. Ia baru tahu masalah ini karna kemarin ia ijin tidak sekolah.
Ia melihat nita berjalan ke arah kantin bersama riani.
Ia menarik lengan nita. “Buat apa lo masih temenan sama dia?” Sentaknya. Nita dan riani seketika menoleh ke arah suara yang mengucapkan kalimat itu. “Lolita” panggil nita yang terkejut. “Dia kan teman dalam genk kita juga, lol. kenapa gue ga boleh berteman sama dia?” tanya nita.
“Oke gue emang baru tahu soal masalah ini, tapi jujur kalo bukan waktu itu lo yang narik dia buat masuk ke dalam genk kita, gue ga mau dia ada dalam genk kita. Gue ga suka sama kelakuan dia dan sifat dia. Dia itu Cuma manfaatin lo selama ini dan lo udah dimanfaatin bahkan hampir celaka masih mau temenan sama dia?” ucap Lolita dengan nada tinggi.
“Setiap orang berhak dapat kesempatan kedua. Begitu juga riani, dia pernah salah tapi bukan berarti kita jadi musuhi dia kan karna kesalahannya?” tanya nita pelan. “Tapi tetap aja gue ga suka lo masih berteman dengan dia? Bukan cuma gue tapi semua anggota genk kita, nit. Please, jangan terlalu baik sama orang kaya gini kita cuma ga mau lo kenapa – kenapa lagi, nit. So, please kali ini dengar ucapan gue. Gue juga mau dia keluar dari anggota genk kita. Hadirnya dia cuma mencoreng nama genk kita aja.” ucap Lolita yang khawatir ke nita.
Nita menghela nafas berat dan menghembuskannya perlahan, ia tahu niat Lolita dan sahabatnya yang lain ingin menjaganya supaya ga kejadian dua kali tapi dalam kondisi seperti ini. Riani lebih membutuhkannya.
Nita menarik tangan riani dan meninggalkan Lolita. Ia tahu Lolita akan mengerti dengan sikap dan keputusan yang dia ambil karna di genk mereka hanya Lolita dan nita yang bisa berpikir matang di usia remaja.
Air mata riani menghangat, “Nit, gue rasa apa yang di omongin lolita tadi benar semua. Gue ga pantas jadi teman lo dan ga pantas jadi teman siapa pun. Gue ga baik nit” ucapnya dengan tertunduk. Nita meremas lembut tangan riani.
“Jangan di pikirin, ucapan itu karna Lolita dan yang lain lagi emosi aja sama masalah ini. Pantas ga pantasnya lo jadi teman gue itu gue yang nilai bukan orang lain. Kalo gue masih jadi teman lo ya berarti lo pantas jadi teman gue.” Ucap nita berusaha menenangkan pikiran riani.