
“Janji ya kita bakalan tetap sering kumpul kaya gini mau gimana pun kondisinya”,ucap gista. Nita berusaha tersenyum meski sebenarnya ia sedih meninggalkan sahabat-sahabatnya ini. “Iya kita pasti tetap kumpul kok”,ucap nita. “Ok kalau gitu gimana kalau kita merayakan pesta kelulusan kita”, ajak ziezie mencoba menghibur. “Ok, dimana?”,tanya gista.
“Nit, dirumah lo gimana? Kita cuma barbeque aja kok dan genks kita aja. Ehh tapi ajak deh 2 orang lagi”. Ujar ziezie. “Gue sih oke oke aja. Tapi 2 orang lagi siapa?”,tanya nita lagi. “Ya ampun ya si Rifal sama kakak kesayangan lo itu lah kak Febri. Ya cuma biar jadi lebih seru aja karena kan mereka suka ngelakuin hal konyol yang buat kita ketawa”, jelas ziezie. “Oke kalau gitu nanti gue kontak rifal dan kak febri”.Ucap nita.
Malam pun tiba pesta kelulusan mereka juga telah dimulai. Canda tawa menghiasi pesta itu hingga akhir. Pesta akhirnya selesai semua teman – teman nita mulai pulang. Nita masuk kamar. “Hemph besok hidup baru gue dimulai. Dan besok gue mulai mencari sekolah yang bagus untuk gue sekolah nanti. Selamat tinggal masa lalu terimakasih telah memberikan banyak kenangan ke gue, banyak pelajaran dalam hidup gue, dan banyak kisah yang sudah gue lewatin disini.”,ucapnya dalam hati sambil melihat fotonya bersama teman-temannya.
Tiba – tiba salah satu foto jatuh ke wajahnya, foto ia dan egi saat di taman hiburan. Nita menghela nafas, luka yang mulai sembuh dan bayangan egi yang mulai menghilang kembali muncul lagi. “Semoga kamu bahagia sama sarah. Terimakasih telah mengajarkanku arti sakit supaya nanti aku bisa lebih kuat lagi ke depannya. Terimakasih telah mengajarkanku kalau menjaga hati itu sulit dan kita harus bisa tetap menjaganya meski banyak godaan”. Ucap nita yang akhirnya membuang foto itu ke tempat sampah.
Sementara itu di Inggris egi berusaha menelpon rifal. Ponsel rifal berdering, rifal melihat nama egi di ponselnya, ia mengangkat telponnya. “Hai, kak. Apa kabar?”,sapa rifal. “Gue baik, fal. Lo sendiri gimana?”, jawab egi dari balik telpon. “Alhamdulillah baik juga, ada apa kak?”. Jawab rifal kembali. “Oiya fal, nita ganti nomor ya?”,tanya egi langsung. “Hah, ganti nomor? Masa sih gue ga tahu tuh. Gue sudah jarang ngobrol sama dia. Biasa gue sibuk sama ekskul badminton di sekolah gue yang baru jadi gue juga jarang komunikasi sama dia dan jarang juga gue ketemu sama nita sekarang”, jawab rifal yang berpura-pura tidak tahu.
"Lo yakin nita ga kasih tahu lo kalau dia ganti nomor? karena sudah berhari-hari gue coba hubungin dia tapi nomornya ga pernah aktif", egi berusaha menekan rifal. "Iya kak. Emang lo sama nita lagi ada masalah?",rifal berusaha memancing kakaknya.
Pagi hari nita dan keluarganya berkemas untuk pindah ke bandung dan sore hari mereka mulai berangkat ke bandung. "Nita", panggil Rifal. nita menoleh, "gue mau ngomong sesuatu", ucapnya sambil menarik tangan nita ke tempat sunyi. Nita menatap rifal.
Dan untuk pertama kalinya rifal gugup di tatap oleh nita. "yups.Kenapa, fal?", tanya nita. Rifal semakin gugup dan lidahnya seakan menjadi kaku untuk bicara. "Itu nit",Rifal gelagapan. "ya",jawab nita. Rifal terdiam beberapa saat. "Nita", teriak maminya dari kejauhan. "Ya, mam", sahutnya dari jauh.
"Fal, katanya mau ngomong trus mau ngomong apa? kok daritadi malah diam?",nita semakin tajam menatap. "Itu nit, nanti kalau lo sudah dapet sekolahnya kabarin gue ya,biar gue bisa kan sekali-kali main ke sana", Jawab rifal yang berusaha menutupi gugupnya.
Nita tertawa kecil dan menepuk pundak rifal. "Sumpah ya, fal. Gue kira lo mau ngomong apa soalnya muka lo serius banget ternyata itu doang. Aneh lo. Tenang aja nanti lo orang pertama yang gue kasih tahu setelah kak febri. Sudah ya gue jalan dulu keluarga gue sudah nunggu tuh", ucap nita sambil meninggalkan rifal.