
Di Bandung dengan perasaan tenang nita menjalani hidup yang baru, sekolah baru dan hari – hari yang baru. Setelah melewati Masa Orientasi Siswa atau MOS nita mulai mengikuti pelajaran normal. Tak terasa sudah hampir seminggu nita masuk SMK, sedangkan di cikarang egi tengah bersiap – siap untuk berangkat ke bandung. “Pagi, semua”, ucap egi sambil meletakkan tasnya di bawah kursinya dan bersiap untuk sarapan. “Pagi, kak. Mau ke mana kok bawa tas? Emang liburan semesternya sudah selesai?”, Tanya rifal yang sambil melihat tas yang dibawa egi.
“Mau ke…”, egi berpikir sejenak mencari jawaban yang tepat supaya rifal tidak curiga, “kakak mau ke semarang, mau main sama teman sekalian liburan.” jawab egi ringkas. “ooooh, ok. Hati - hati”, ucap rifal. Dalam hati rifal merasa curiga tapi dia berpikir kalau egi juga ga tahu nita pindah ke mana jadi dia merasa tenang.
Setelah selesai egi langsung berpamitan, “egi pamit ya mi, bi”, sembari mencium tangan abi dan uminya. Egi berjalan menuju mobilnya, memanaskan sebentar dan segera berangkat. “Aku ga sabar mau ketemu sama kamu, nit”. Ujarnya di perjalanan. Sesampainya di Bandung, egi langsung check out dihotel dekat sekolah nita untuk menginap beberapa hari, selepas check out dia langsung mencari lokasi sekolah nita. “Semoga jam pelajaran belum selesai jadi nita belum pulang”, harapnya.
Sambil melihat kanan kiri ia memperhatikan semua nama sekolah dan kampus yang ada disekitar sana. Tak lama kemudian ia akhirnya menemukan lokasi sekolah nita. Egi memparkirkan mobilnya tidak jauh dari sekolah nita dalam hatinya terus berharap dapat menemui nita. Bel sekolah pun terdengar berbunyi tanda pelajaran telah selesai. Murid – murid bersiap untuk pulang, dari balik mobil egi memperhatikan dengan seksama.
“Nita, ada surat buat kamu”, ujar salah satu anak STM di sekolah nita. Ia menerima dan membacanya. “Hai, aku Chandra. Aku boleh kenal sama kamu ga? Aku sudah perhatikan kamu dari waktu MOS tapi belum tahu nama kamu. Aku tunggu kamu, di lorong samping kelas kamu ya”, isi dari surat itu. Nita hanya bersikap biasa aja. Ia keluar dari kelas dan melihat seorang anak STM dilorong samping kelasnya sedang tersenyum melihatnya dan menghampiri dirinya.
“Hai, kamu tadi sudah terima surat dari aku kan?”, ucapnya sambil menghampiri nita. Nita tersenyum. “Iya sudah”, jawabnya. “Kenalan ulang deh ya, aku Chandra. Kamu siapa?”, ucapnya sembari tersenyum dan mengulurkan tangan, nita membalas uluran tangannya. “Aku nita”, jawabnya.
“Aku nemuin kamu sekarang ga ya, nit? Aku takut kamu ga mau ketemu sama aku”, pikir egi. Egi mengurungkan niatnya untuk ketemu nita saat itu dan memilih mengikuti nita pulang dari kejauhan agar ia bisa tahu rumah nita yang baru. Supir nita tak bisa di hubungi, nita memilih naik angkutan umum untuk pulang kerumah. “Kasihan kamu, nit. Harusnya aku bisa antar kamu pulang tapi apa bisa”, ucap egi dari kejauhan. Egi mengikuti angkutan umum itu dan akhirnya sampai dirumah nita.
“Untung rumah yang di beli papi disini dilalui angkutan umum jadi tinggal turun di gerbang, jalan sedikit sampai rumah deh”, ucap nita sambil membuka pintu pagar rumahnya. Egi yang masih mengikutinya akhirnya tahu rumah nita. Setelah melihat nita sampai rumah, egi memilih kembali ke hotel. Saat telah tiba di hotel egi kembali menghubungi nita tapi kali ini ia memilih menyembunyikan nomor ponselnya agar nita tidak tahu.
“Halo, maaf ini siapa ya?”, ucap nita dari balik ponsel. Egi diam, “maaf ini dengan siapa ya? Kalau ga penting saya matikan ya?”, ucap nita lagi. “Aku kangen kamu, nit”. Jawab egi yang kemudian mematikan ponselnya. Nita terdiam mendengar suara itu, ia sangat mengenal suara itu. “Egi”, ia tertegun. Segera ia membuka ponselnya dan mencari kontak rifal dan langsung menghubungi rifal.
“Fal, egi barusan nelpon gue. Lo kasih tahu nomor baru gue sama dia?”, ucapnya dengan panik. Rifal kaget, “Apa? Kak egi nelpon lo? Kok bisa? Tahu kontak lo dari mana? Gue aja ga pernah kasih nomor lo ke dia yang ada nama lo aja di kontak gue aja sudah gue ubah jadi nama cowok biar kak egi ga curiga. Dia bilang apa?” Rifal yang kaget memberondongi pertanyaan ke nita. “Jusru gue nanya sama lo, gue kira egi dapat nomor gue dari lo. Gue juga ga tahu dia dapat nomor gue dari siapa, gue aja belum hubungi genk SMP gue dengan nomor yang ini. Ga mungkin kalau kak febri, dia ga akan kasih nomor gue ke egi. Dia ga akan mau adiknya berhubungan dengan egi lagi. Dia aja marah gue masih simpan foto egi kemarin setelah egi sakitin gue”, jawabnya yang bingung.