
Mereka berdua sama – sama bingung dan berpikir. “Tapi dia pakai private number, fal. Mungkin supaya gue ga tahu nomor dia dan lagi juga gue dah hapus nomor egi dari ponsel gue. Tapi dia cuma ngomong kalau dia kangen sama gue, fal”, cerita nita. Emosi rifal mulai naik, pikirannya mulai ke mana – mana. “Yasudah nit, kalau ada telpon dari nomor yang ga lo kenal dan dari private number jangan lo angkat lagi ya”, ucap rifal mencoba memberikan solusi.
Nita mengikutinya. Malam hari saat nita tengah belajar nomor pribadi itu nelpon lagi. Kail ini nita memilih untuk menggunakan mode “Silent” di hp-nya. Ia membalikkan ponselnya, agar tak terganggu oleh layar ponsel yang menyala karna egi terus menerus menelponnya. Setelah ia belajar, ia memilih langsung tidur dan menghiraukan ponsel yang ada di meja belajarnya. Keesokan harinya, nita melihat ponselnya ada 35 panggilan tak terjawab di ponselnya dari nomor pribadi.
Nita menghela nafas dan memejamkan mata. “Kenapa kamu datang lagi, gi? Aku sudah berusaha lupain kamu dan aku sudah berusaha menghindar dari kamu. Kenapa kamu mengganggu hidup aku lagi?”, tanyanya dalam hati. Ia berkemas, bersiap berangkat sekolah. Begitu sampai di sekolah, ia berusaha untuk tetap fokus belajar hingga jam pelajaran usai. Bel tanda pelajaran usai pun berbunyi, nita bersiap untuk pulang.
Saat hendak keluar dari gerbang sekolah hujan tiba – tiba turun sedangkan supirnya belum sampai, nita akhirnya memilih untuk menunggu di gerbang sekolah. Dari belakang Chandra menghampirinya, “kamu nunggu supir kamu ya? Mau bareng sama aku aja ga atau mau coba hubungi supir kamu lagi?”, tawar Chandra. Nita mencoba menghubungi supirnya kembali dan ternyata supirnya tidak bisa menjemputnya karna ada urusan yang mendadak. Nita akhirnya mau menerima tawaran Chandra untuk pulang bersama.
Setelah memakai jas ujan mereka berlalu meninggalkan sekolah, dari kejauhan egi mengikuti mereka. “Cowok itu lagi, kali ini dia berani – beraninya antar nita pulang kerumah. Kurang ajar”, egi emosi, mengepalkan tangan dan memukul stir kemudi mobilnya. Tatapannya tajam penuh kemarahan.“Kamu itu milik aku, kamu cuma boleh sama aku dan ga akan aku biarin satu pun cowo buat deketin kamu. Aku ga mau kehilangan kamu, nit”. Gumamnya dalam hati.
“Mie ayam? Aku tahu tempat makan mie ayam yang enak banget dan disitu ada varian mie ayam keju itu sumpah enak banget. Kamu pasti nanti suka abis cobain itu, yaudah kita kesana ya.” chandra memutarkan kembali arah motornya mereka menuju tempat yang dikatakan chandra.
Tak lama mereka sampai di tempat itu, nita dan chandra langsung memesan menu makanan. Egi yang masih mengikuti mereka daritadi pun berhenti di tempat mereka dan memilih meja yang ga jauh dari mereka. Sambil menunggu makanan datang, chandra dan nita terus berbincang. “Nit, kamu ikut ekstrakurikuler paskibra, basket, volley, teater dan woman footsal. Itu ga salah kamu ikut banyak banget ekskul gitu, ga takut ga bisa bagi waktunya? Nanti kalau kamu sakit gimana?”, ucap chandra yang mulai memberikan perhatian ke nita.
“Ahh ga kok itu semua ekskul yang aku minati. Aku juga bisa kok bagi waktunya lagipula hari ekskulnya kan beda – beda. Makasih buat perhatian kamu ya. Kok kamu bisa tahu semua ekskul yang aku pilih?”, nita bertanya balik. “Tapi itu full loh kan jadwalnya kan senin sampai jumat. Itu aku tahu karna aku juga ikut ekskul basket terus tadi aku ga sengaja lihat nama – nama ekskul dan hampir semua kamu ikuti. Emang kamu ga pake istirahat?”, chandra mulai menunjukkan perasaan khawatirnya.
“Dah gapapa tenang aja, aku bisa kok jaga kesehatan aku.” Ucap nita sambil senyum. Dari kejauhan egi tidak terima dengan apa yang ia dengarkan. “Sial, siapa dia berani – beraninya sok perhatian ke cewe gue? Pengen banget gitu nunjukin perhatian biar bisa luluhin hati nita”, gerutunya dengan tatapan kemarahan. Ia berdiri dari mejanya dan menuju meja chandra dan nita.