
Sementara itu di Inggris, egi terus berusaha untuk menghubungi nita. “kamu kemana sih, nit? Apa sudah ga ada lagi kesempatan buat aku perbaiki hubungan kita?”,ujar egi yang mulai gelisah. Ia ingin segera pulang ke Indonesia tapi belum bisa untuk saat ini karena mendekati ujian semester.
Hari mulai berganti. Nita bersiap menghadapi ujian akhir nasional yang sebentar lagi akan dimulainya. Ia semakin tekun belajar, luka dihatinya memang belum sembuh tapi ia tetap harus fokus pada ujian nasionalnya. Ia ingin membahagiakan orang tua dan keluarganya. Waktu yang dinanti tiba, nita dengan tenang menyelesaikan soal – soal ujiannya. Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir ujiannya, ia masih tetap tenang menyelesaikannya.
Bel tanda ujian selesai berbunyi, “eh nit, habis ujian ini lo mau ke Inggris lagi ya makanya wajah lo tenang. Menghabiskan waktu sama egi sampai tiba masuk sma”, canda gista dan temannya yang lain. “Ahh ga kok gue ga mau ke sana, gue mau fokus sama ujan masuk sekolah menengah kejuruan (SMK)”, jawab nita. “btw, kok lo mau masuk SMK sih kan lo lumayan pintar, prestasi lo juga lumayan, ortu lo juga termasuk golongan menengah atas. Memang kalau SMK lo mau ambil jurusan apa?”,tanya rara.
“Gue mau aja masuk SMK, gue mau ambil jurusan bisnis ya kalau ga ada gue mau ambil jurusan sekretaris aja”,jawab nita sambil melahap mie ayam di mangkoknya. “what?bisnis?sekretaris? hemph, tapi dengan otak lo yang lumayan pintar wajar sih kalau lo mau ambil jurusan itu. Ya bisalah, soalnya lo dari SMP aja sudah kelihatan otak bisnisnya”, ujar ziezie yang sedikit kaget dengar keputusan temannya yang satu ini
“Kita semua masuk SMA kok lo malah mau ke SMK sih nit?”,gista bingung. “Mau gue SMK atau SMA atau kebalikannya gue kan tetap sahabat kalian. So, tenang aja kali”, ucap nita sambil tersenyum. “Hemph, iya sih tapi kan kita jadi susah buat kumpul lagi, nit. Lo mau SMK dimana?”,rara mulai takut kehilangan.
“Ahh tuh kan nita mah, dia aja ga tahu mau pindah ke mana dan SMK nya dimana. Kalau kaya gitu gimana caranya buat kumpul. Nanti kalau jauh gimana? Kalau diluar Indonesia gimana? Ahh bete gue jadinya, kita nanti jadi jauh dong bakalan jarang kumpul kaya gini lagi dan kalau gue lagi galau kan biasanya gue main kerumah lo nit. Gue curhat sama lo kalau kaya gini gimana?”, Rara mulai merengek dan meneteskan air mata.
“Gue pasti ke sini kok, tenang aja. Ra, kan kita ada ponsel jadi tetap bisa saling komunikasi kok. Sudah dong jangan nangis gitu sayang”, nita masih berusaha menghibur. Mereka saling merangkul dan mencoba menghibur rara yang terus menangis. Rara memang paling cengeng dan paling dekat dengan nita. Dan merasa cuma nita yang paling tahu karakternya.
Nita terdiam kini ia bukan berat meninggalkan egi dengan selingkuhannya tapi lebih berat meninggalkan sahabat-sahabatnya. Hari kelulusan pun tiba, semua siswa berlari menuju mading sekolah. Termasuk semua genks nita, mereka berlari dan membaca nama mereka di papan pengumuman. Dan saat mereka semua lulus, mereka loncat kegirangan tapi seketika berubah saat ingat mereka nanti akan berpisah.