
Nita berjalan ke arah dapur mengambil piring dan mangkok untuk memakan soto betawi favoritnya. “Mba tolong buatkan makanan ya buat mas egi” pintanya pelan ke mba sari. “iya non” jawab mba sari. Ia kembali menuju ruang tamu dan segera menuangkan soto betawi ke mangkuknya.
Nita kembali menuju ruang tamu. “Kamu mau ini ga kak?” Tanya nita sembari menuangkan soto betawinya. “Kakak?” hatinya masih belum bisa menerima nita memanggilnya dengan sebutan kakak.
Egi terdiam beberapa saat sampai nita melambaikan tangan ke depan wajanya. “eh iya ga usah nit. Aku ga mau” jawabnya. “Aku masih ga suka kamu panggil sebutan itu nit. Apa hati kamu masih belum bisa nerima aku lagi nit?” batinnya.
“Ga gi lo yang salah, apa karna lo udah nolong dia kemaren trus dia jadi mau kasih kesempatan untuk lo lagi? Ya ga mungkinlah, pelan – pelan gi lo rebut hatinya lagi” pikirnya.
“Camilannya mas egi” tiba – tiba mba sari menyodorkan makanan ke depan egi menghilangkan lamunan egi. “Iya mba terima kasih” jawab egi. Ia melirik ke arah nita, ia sedang menyantap soto betawinya dengan lahap. Egi tersenyum melihatnya, ia rindu tatapan dan panggilan nita yang dulu.
Sadar ia sedang di perhatikan, nita menoleh ke arah egi. “Ada apa, kak?” Tanya nita. Egi menghembuskan nafas pelan, masih terasa sakit di hatinya. “Gapapa aku seneng lihat kamu makan soto betawi dengan lahap gitu” elaknya sambil tersenyum.
Nita membalas senyuman egi. “Tadi aku tawarin kamu mau atau ga tapi jawabnya ga mau” celetuk nita sambil menyantap sotonya lagi. Egi tertawa kecil “kan sotonya cuma satu masa iya aku minta juga lagian itu sengaja aku beli buat kamu” ucapnya.
“Dulu setiap aku nolak makan soto kamu pasti langsung suapin aku soto dari mangkok kamu” pikiran egi kembali melayang ke masa dulu. Ia tersenyum sendiri mengingatnya lagi. Nita memperhatikan egi. “Kenapa kak senyum – senyum sendiri gitu” Tanya nita. “eh itu a-aku ga senyum – senyum sendiri” elak egi.
“Itu camilannya mau di cuekin aja?” Tanya nita lagi. Egi melihat ke arah camilan dan mulai menyantap camilannya. “Kamu jangan mikirin itu lagi ya nanti kamu jadi drop karna itu. Masalah itu juga nanti berakhir sendiri dan kalo nanti di sekolah kamu di omongin yang ga ga karna masalah ini jangan kamu ambil hati dan jangan kamu pikirin. Cuekin aja anggap aja ada ayam yang berkokok. Kamu tetap harus fokus sama sekolah kamu dan kembali berprestasi kaya dulu.” Egi menasihati nita sembari menghibur nita dan memberikan semangat lagi ke nita.
Nita tersenyum dan mengangguk mendengarkan ucapan egi. Ia merasa ucapan egi benar ia tidak boleh terus larut hanya karna masalah ini karna kenyataannya ia ga bersalah. “Aku pulang dulu ya. Ingat pesan aku ya. Aku tahu kamu bisa kok kan bukan kamu juga yang salah” pamit egi ke nita.
Nita mengantarnya sampai ke depan pintu. Setelah motor egi keluar nita kembali ke dalam rumah dan menutup pintu. Ia menuju ruang tamu dan kembali mengambil mangkok bekas makannya kemudian membawanya ke dapur. Ia meletakkan di wastafel.
Ia melihat chesee burger yang dibawa egi, ia langsung membawanya dan berlalu ke kamarnya. Sesampainya di kamar ia membuka laptopnya menulis beberapa puisi mencoba menghilangkan beban di pikirannya.
Drrrttt…drrrrttt.. ponselnya bergetar. Ada chat masuk dari rifal. Lagi apa lo? Udah makan belum? Btw, gimana keadaan lo? Nita membalasnya lagi nulis puisi gue. Udah makan tadi dibawain soto betawi sama egi. Sekarang sih udah mendingan udah ga mikirin masalah itu lagi ya cuma tetap takut senin besok sekolah gue pasti heboh dan takut aja nanti gue dapet omongan yang ga ga. Rifal membalas pesan nita kan gue udah bilang jangan takut ga akan ada apa – apa nanti di sekolah. Lo harus tetap jadi nita yang gue kenal. Nita yang tomboy dan kuat, ini cuma masalah kecil nanti juga hilang sendiri. Lo harus fokus sekolah dan tetap berprestasi kaya dulu. Nita terdiam sejenak ucapan rifal sama seperti egi.
Tersenyum sendiri dan merasa ada motivasi baru. Rifal dan egi benar ini bukan dia yang drop hanya karna masalah ini lagipula bukan dia yang salah, dia masih menjaga kehormatannya kok.
Nita membalas pesan rifal lagi iya, fal. Lo kenapa jadi agak bawel sama gue ya karna masalah ini. Btw thanks udah ingatin gue dan kasih semangat ke gue. Tak lama setelah ia membalas chat rifal. Chat egi dan rifal masuk bersamaan ke ponsel nita.
Nita tak melihat nama pengirimnya dan langsung membalas pesannya. Perasaan gue tadi lo udah kasih tahu ini ke gue kenapa dikirim lagi ke gue? Kan gue juga udah jawab gue udah makan soto betawi tadi yang dibawa egi. Lo ke kirim dua kali ya, fal? (Emoticon kedipan mata) Chat untuk rifal ke kirim ke egi.
Drrrrtttt…drrrrrtttt…drrrrrttttt.. panggilan masuk dari egi. Tanpa melihat nama penelpon nita mengangkat dengan tatapan masih ke laptop. “Iya, fal. Kenapa?” ucapnya. “Nit, ini aku egi.” Ucap egi dari balik ponsel. Nita kaget mendengar itu, ia melihat ke arah layar ponselnya dan ternyata emang egi yang menelponnya. “Eh maaf aku ga lihat tadi. Maaf ya kak. Ada apa kak?” Tanya nita lagi.
“Tadi kamu juga salah kirim pesan ke aku, nit. Chat buat rifal ke kirim ke aku” ujar egi. Hati egi mulai di selimuti rasa cemburu ke rifal. “Ah masa sih?” elak nita sambil membuka aplikasi chatnya. Ia tersentak kaget. Ia benar – benar salah kirim chat ke egi. “Eh iya aku salah kirim. Duh, maaf ya kak pantas aja kok rifal kirim chat yang sama. Maaf tadi aku ga cek dulu tadi” ucapnya ga enak.
“Gapapa kok,nit. Kamu lagi chat-an sama rifal ya” Tanya egi. “Iya tadi kak” jawabnya. “ooo…yasudah kamu istirahat sana jangan banyak pikiran ya” egi kembali memberikan perhatian ke nita. Nita menutup telponnya. Ia melihat chesse burger di sebelah laptopnya. Ia menyantap chesee burgernya sambil memandang ke arah luar jendela.
Ia kembali teringat masa ia dan egi dulu. Ia tersenyum dan merasa kebahagiaan yang dulu lagi hadir dalam hatinya. Tapi ia masih belum bisa menerima egi seperti dulu lagi. Belum untuk saat ini. Ia menghempaskan dirinya ke sofa di dekat jendelanya.
Ia merasa batinnya lelah karna beberapa masalah yang tak selesai – selesai menerpanya. Namun ia juga ga bisa terus menerus larut dalam masalah ini. Ia harus bangkit dan kembali seperti dulu.
Ia menghembuskan nafas pelan sambil memejamkan mata, ia berharap semua ini selesai. ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Rifal?” Tanya nita lagi memastikan. “Iya non” jawab mba sari lagi. “Yasudah bilang sama rifal aku sebentar lagi turun ya mba” ucapnya ke mba sari. Ia kembali masuk ke kamar dan mematikan laptopnya lalu berjalan turun melewati tangga untuk ketemu rifal.
Alis nita bertaut melihat penampilan rifal dihadapannya. Ia mencium wangi parfum pria yang sangat wangi. “Fal” panggilnya. Rifal menoleh ke arah nita dan tersenyum melihat nita dengan pakaian kaos oblong dan celana pendek dengan rambut yang terurai. “Lo siap – siap sana” pinta rifal. Alis nita kembali sedikit naik dan bertanya – tanya dalam hati. “Memang mau ke mana?” tanya nita masih bingung.
“Duh, lo bawel deh banyak tanya. Lo siap – siap aja dandan yang cantik. Gue mau ajak lo ke suatu tempat” jawab rifal sambil membalikkan tubuh nita supaya segera bersiap. Nita kembali ke kamarnya dan bersiap. Hati dan pikirannya terus bertanya – tanya ada apa dengan rifal.
Lalu ia kembali ke ruang tamu menemui rifal. Ia hanya memakai celana jeans kaos warna pink favoritnya dengan rambut dikuncir ekor kuda. Rifal tersenyum karna memang ga mungkin nita akan seperti gadis lain yang memakai gaun atau rok setidaknya.
Mereka mulai keluar rumah. “mba, aku pergi dulu ya sama rifal.” Pamitnya ke mba sari. Mba sari menghampiri nita dan rifal sembari mengangguk dengan ucapan nita dan menutup pintu rumah.
Nita dan rifal keluar rumah. Di perjalanan nita mencoba menerka – nerka ke mana mereka akan pergi. Aroma parfum rifal kembali tercium, wanginya menenangkan dan nita sangat menyukainya. “Fal, kita mau ke mana sih?” tanya nita tiba – tiba. Rifal menoleh sedikit kearah nita dan kembali fokus mengendarai motor. “Ntar lo juga tahu” jawabnya.
Tak lama mereka sampai di tempat yang rifal maksud. Nita mengedarkan pandangan ke sekitar. “Ngapain kita ke sini, fal?” tanya nita saat tiba di café ternama di bandung. “duduk dulu” jawab rifal. Tak lama kemudian makanan tiba – tiba di hidangkan di meja mereka. “Nit” panggil rifal lembut. Nita yang masih bingung menatap rifal dengan tatapan penuh tanda tanya. “Maksudnya apa sih ini, fal?” tanyanya makin tidak mengerti.
“Nit, coba lo lihat ke bawah deh.” Pinta rifal. Nita menoleh ke bawah ada banyak lilin menyala di kolam dengan bacaan “I Love You Nita” dengan gambar nita di tembok depan kolam. Ia terdiam sejenak. Rifal menggenggam tangan nita lembut.
“Nit, gue sadar dan tahu kalo ini bukan saat yang tepat. Dengan situasi lo saat ini. Tapi jujur gue mulai sayang sama lo gue juga ga tahu dari kapan gue mulai sayang sama lo tapi waktu lo mau pindah gue mau bilang ini ke lo tapi ga sempat.” Rifal menyatakan perasaannya.
Nita menarik perlahan tangannya dari genggaman rifal . Ia menghela nafas. “Andai lo lakuin ini semua dulu fal saat gue masih menyayangi lo, gue pasti langsung nerima lo saat itu tapi sekarang hati gue masih milik egi meski gue coba alihkan perasaan gue ke chandra beberapa waktu lalu buat lupain luka yang egi kasih ke gue tapi itu semua ga merubah kenyataan kalo di hati gue masih ada egi” batinnya. Nita mencoba menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
“Sorry, fal. Tapi gue masih belum bisa. Gue masih drop sama semuanya” ujar nita. Rifal tersenyum, ia mengerti maksud nita. “Nit, kita ga perlu langsung jadian kok. Kita tetap bisa jadi sahabat dan bisa nambah satu status lagi” ujar rifal. Alis nita bertaut ga mengerti maksud rifal.
“Nambah satu status Maksudnya?” tanya nita bingung. “Iya kita bisa jadi sahabat dan jadi TTM” jawab rifal. Nita semakin bingung. “TTM?” tanya nita lagi. “Iya TTM, Teman Tapi Mesra. Ya anggap aja ini proses balikin rasa sayang lo ke gue dulu. Lo dulu pernah sayang sama gue kan?” ucap rifal sambil bertanya balik ke nita.
“Lo tahu dari mana kalo gue pernah sayang sama lo?” tanya nita yang kaget dengan pertanyaan rifal. “Dari kakak lo, dia udah cerita semua kalo lo pernah sayang sama gue dan saat gue sadar waktu itu lo udah jadi pacar kakak gue” jawab rifal.
Hati nita masih bingung. “Ga mungkin gue pacaran sama lo fal masa gue putus dari kakak lo trus sekarang gue jadian sih sama lo. Nanti gimana omongan orang coba” ucap nita. “Ga usah pikirin omongan orang, yang jalanin kan gue sama lo. Gue berharap dengan hubungan TTM ini bisa buat balik perasaan lo yang dulu ke gue” harap rifal.
“Ga segampang itu, fal. Perasaan itu udah lama banget dan hubungan gue sama kakak lo aja udah lumayan lama juga. Rasa itu udah…..” nita tidak menghabiskan ucapannya karna rifal menyanggah ucapannya. “I don’t care. Rasa yang hilang itu pasti bisa tumbuh lagi kok, nit. Kita coba dulu dengan hubungan ini kalo emang rasa itu benar – benar hilang. Gue ga akan maksa lo buat jadian sama gue” rifal mencoba menyakinkan nita.
“Gue ga mau jadi cewe jahat, fal” ungkap nita lagi. “Jahat? Maksudnya lo jahat kenapa?” tanya rifal yang bingung dengan ungkapan nita. “Iya jahat. Gue pernah suka dan sayang sama lo habis itu gue jadian sama egi setelah gue putus sama egi, gue malah jalanin hubungan sama lo ya walaupun sekarang masih TTM tapi tetap aja gue rasa jadi cewe jahat. Kesannya putus dari kakaknya adiknya juga di ambil” ungkap nita dengan tertunduk.
“Ga akan gue jamin ga akan ada yang berani bilang kaya gitu. Gue mohon nit, kasih gue satu kesempatan aja gue akan buktiin kalo gue benar – benar tulus sayang sama lo. Kasih waktu gue enam bulan, kalo dalam enam bulan gue ga bisa kembaliin perasaan lo ke gue dulu. Gue akan nyerah dan lepasin lo untuk yang lain sekalipun berat buat gue.” ucap rifal mencoba memohon.
Nita menghela nafas mencoba menatap rifal. Nita masih terdiam beberapa saat, mencoba memikirkan dengan jernih. “Hemmm… yasudah kita jalanin aja dulu kalo emang gue sama lo cuma cocok jadi sahabat lo jangan menjauh dari gue ya” ucap nita.
Rifal tersenyum, ia yakin dalam jangka waktu enam bulan dia akan kembalikan rasa sayang nita ke dirinya dulu. Ia semakin bersemangat jalanin hari – hari. Hari senin tiba, waktu masuk sekolah. Hati nita berdebar ia takut menjadi bahan omongan di sekolahnya meski ia tidak bersalah.
Saat ia masuk gerbang sekolah ia melihat sekeliling, banyak yang berbisik – bisik saat melihatnya. Perasaannya benar ia akan jadi bahan omongan di sekolahnya. Omongan yang tidak – tidak pastinya. Begitu ia sampai di kelasnya, teman – temannya menjauh dan menggunjingkan dia termasuk teman – teman genknya.
Mereka ikut menjauh bukan menanyakan kebenaran sama nita. Ia merasa sendirian di sekolahnya. Tiba – tiba salah satu teman genknya duduk di depan mejanya sambil bicara dengan teman – teman yang lain. “Gue sih masih perawan ya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ga ada yang berani nyentuh gue” sindirnya sambil melirik ke arah nita sinis.