
Nita dan keluarga akhirnya mulai berangkat ke bandung. Sesaat setelah nita pergi, rifal menghela nafas dan sedikit bergumam. “Kenapa? Kenapa lidah gue seketika jadi kaku dan ga bisa ngomong? Kenapa gue ngerasain hal aneh buat ngomong perasaan gw ke nita padahal waktu gue nembak rina perasaannya ga kaya gini, ga segugup ini? Apa karena dia sahabat gue makanya gue ga bisa buat ngomong tapi seharusnya karena dia sahabat gue, gue harusnya lebih leluasa dong buat ungkap perasaan gue. Ahhh… sekarang nita dah berangkat dan gue..gue dengan bodohnya biarin dia pergi tanpa tahu perasaan gue ke dia”. Ucap rifal yang menyesal.
Sepanjang perjalanan ke bandung. Nita memandangi pemandangan jalan seraya berkata dalam hati, “mungkin memang ini jalannya, mungkin memang ini yang terbaik dan mungkin dengan cara seperti ini aku akan bisa move on dari kamu, gi. Mungkin dengan seperti ini ga akan lagi ada bayang – bayang kamu, melupakan semua kenangan kita karena terlalu banyak kenangan kita disana tapi ya ini awal hidupku yang baru, ini awal dari semua. Aku baru menginjak SMK tapi kenapa aku harus merasakan ini duluan, perasaan yang harusnya aku rasakan nanti saat aku beranjak dewasa”, gumamnya.
Malam hari jam 22.30 mereka semua sampai dirumah mereka di Bandung, mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat. Begitu juga dengan nita, setelah membersihkan diri ia membaringkan tubuhnya di kasur, memejamkan mata tapi malam itu entah kenapa wajah dan senyum egi kembali terlihat di matanya. Nita menutup wajahnya dengan bantal berusaha untuk tidur dan melupakan egi tapi semakin berusaha melupakan bayangan dan kenangan tentang egi semakin jelas. Nita membolak balikan badannya berusaha untuk bisa segera tidur, mendengarkan mp3 dengan lagu favoritnya.
Saat sedang menikmati lagu, tak sengaja lagu favoritnya bersama egi terputar.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 2 malam tapi mata nita masih belum bisa terpejam. Hingga akhirnya ia mengggunakan cara terakhir yang biasanya ampuh untuknya, menghitung bintang sambil memejamkan matanya. Nita akhirnya mulai terpejam hingga pagi menjelang. Terdengar suara ketukan di pintu. “Nit, kamu dah bangun belum? Kalau sudah sarapan yuk sudah mama siapkan, semua sudah di meja makan tinggal kamu aja”, panggil mami dari balik pintu. “Hemmm, iya mi sebentar lagi nita turun”, jawabnya dengan suara yang masih mengantuk.
Nita terhuyung berjalan menuju kamar mandi, mengambil handuk dan segera mandi. Setelah selesai mandi dengan mata yang masih sangat mengantuk, ia berjalan menuju ke meja makan. “Kamu kenapa nit? Matamu kok merah begitu kaya kurang tidur?”, Tanya papinya. “Gapapa, pi. Semalem emang kurang tidur ga tau kenapa ga bisa tidur baru bisa tidur jam 02.00-an pagi kayanya”, jawab nita sambil mengambil nasi goreng ke piringnya. Papinya tersenyum sambil menggelengkan kepala, “kamu jadi besok cari sekolah di Bandung?”, Tanya papinya lagi. Nita hanya menggangguk.
Setelah selesai sarapan nita pamit ingin ke kamarnya, “kamu ga ikut jalan pagi sama mami, papi dan adik kamu, nit?”, Tanya maminya. “Ga mam, nita masih ngantuk banget. Kalian aja, nita ikut lain kali aja”, ujarnya sambil berlalu meninggalkan meja makan. Begitu sampai kamar, nita langsung membaringkan tubuhnya untuk melanjutkan tidur. Baru sesaat matanya terpejam hpnya bergetar, “aduh, siapa sih pagi buta gini dah nelpon aja”, ucapnya dengan mata yang masih terpejam sambil meraba dan meraih ponselnya.