Nita

Nita
N35



Rifal pulang menuju rumahnya, sesampainya di teras rumahnya ia memarkirkan motornya. Ia masuk kerumahnya tanpa mengucap salam dan menuju kamar kakaknya. Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke kamar kakaknya.


“Kenapa bukan lo yang nemenin nita, kak?” Tanyanya dengan nada tinggi. Egi menoleh kearah adiknya dan kembali menunduk sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Jawab gue kak!” suara rifal semakin meninggi. “Lo pikir gue mau ninggalin nita sendirian disaat kaya gini?” jawabnya dengan suara yang tinggi juga. “Terus kenapa lo malah pergi dan balik ke rumah?” rifal mulai bisa mengendalikan emosinya.


Egi teringat saat nita memintanya untuk jangan pernah muncul di hadapannya lagi, nita tak mau melihat wajahnya lagi.


Egi menatap wajah adiknya dalam – dalam. “Nita pernah minta gue buat jangan pernah nemuin dia lagi” ujarnya dengan suara mulai lembut. “Kalo gue nemenin dia, gue takut malah akan buat suasana hatinya makin kacau. Gue ga mau kaya gitu. Makanya gue nyuruh lo buat kesana” terangnya.


Rifal mulai mengetahui situasi sebenarnya. Tiba – tiba ada notifikasi chat masuk ke ponsel rifal. Nita. Thanks fal karna sudah mau nemenin gue, thanks buat semuanya. Tolong sampaikan ucapan terimakasih gue ke egi karna udah selamatin gue. Gue ga tahu apa jadinya kalo ga ada egi tadi. Rifal memperlihatkan isi chat nita ke kakaknya. Egi tersenyum, ia merasa ada desir halus menyentuh dadanya.


Untuk pertama kalinya ia merasa nita sudah mulai memakannya. Ia merasa ada semangat baru yang menyelimuti hatinya. Rifal membalas chat nita. Sama – sama. Gimana keadaan lo sekarang? Lo udah makan belum? Jangan mikirin hal tadi lagi ya. Lo harus bisa tenangin diri lo ya dan jaga kesehatan. Oiya, gue udah sampaikan ucapan lo ke kakak gue. Balasnya.


“Gue ke kamar gue dulu kak” pamitnya ke egi. Egi mengangguk. “Semoga ini jadi awal yang baik nit buat hubungan kita lagi” harapnya. Keesokan harinya, ia datang ke rumah nita dengan membawa makanan kesukaan nita, Cheese burger dan soto betawi. Ia mengetuk pintu rumah nita.


Ia terkejut melihat egi yang datang. “Egi” ucapnya. “Hai” sapa egi. Nita menarik nafasnya perlahan dan mempersilakan egi masuk. Sesampainya di dalam egi memberikan bawaan yang dia bawa untuk nita.


“Ini buat kamu nit. Aku bawain makanan kesukaan kamu” ucap egi sembari tersenyum. Nita menerimanya dan meletakkannya di meja. ”Thanks ya udah repot – repot bawain ini, terima kasih juga karna udah tolong aku kemarin” ucapnya. “Keadaan kamu gimana sekarang? Udah baikan belum? Kamu udah makan belum?” Ucap egi dengan memberondong pertanyaan ke nita dengan perasaan khawatir.


Nita menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. Ia menarik nafas perlahan dan menghembuskannya pelan. Ia masih takut jika harus mengingat kejadian itu, tangannya gemetar dan keringat dingin mengucur di wajahnya.


Kejadian kemarin kembali membayanginya. Egi yang melihat itu segera menggenggam erat tangan nita berusaha membuat nita tenang kembali. “Aku masih sedikit takut, gi. Kejadian kemarin masih membekas di pikiran aku. A-aku ga tahu masih bisa jalani hidup atau ga. Aku ngerasa hidup aku udah hancur” ucap nita. Ia mulai terisak, butiran bening di matanya mulai membasahi pipinya.


Egi meremas tangan nita, mencoba memberikan kekuatan ke nita. Hatinya terluka melihat nita seperti ini. Ingin rasanya ia memeluk nita mencoba membuatnya tenang. Tapi itu ga mungkin ia lakukan. Ia mengelus pundak nita mencoba membuatnya tenang.


Lima menit kemudian tangis nita mulai reda. Pikirannya mulai tenang kembali. “Kamu tenang aja ya masih ada aku dan rifal disini. Ada teman – teman sekolah kamu juga kan.” Ucapnya berusaha menenangkan pikiran nita. Nita menyeka air matanya, mencoba terus menarik nafas dan membuangnya perlahan. Mencoba mengontrol dirinya


Ia terdiam sesaat, mencoba mengatur pikirannya. Pikirannya mulai tenang. “Thanks ya” ucap nita. Egi membalasnya dengan senyum. “Yaudah dimakan makanan yang aku bawa nanti ke buru dingin” ucapnya sambil menunjuk kantong yang ia bawa.