
“Lo kira lo siapa berani – beraninya sok perhatian sama nita. Lo ga punya hak sama sekali kasih perhatian sama dia”, ujar egi sambil mendorong chandra. Chandra dan nita sama – sama kaget melihat egi disini. “Lo siapa? Dateng – dateng main marah aja? Dan lo siapanya nita sampai larang – larang gue buat kasih perhatian ke nita”, Tanya chandra yang tidak terima diperlakukan seperti itu. Egi menatap nita dengan penuh harap, berharap nita akan menghentikannya dan mengatakan kalau dia adalah pacarnya.
Nita berdiri, “Kamu apa – apaan sih? Kamu ga berhak atas aku dan ga berhak larang – larang orang lain buat kasih perhatian atau apapun ke aku. Emang kamu siapa aku?”, ucap nita dengan nada tinggi. Egi terus menatap nita, rasa sakit baru aja menusuk hatinya dengar ucapan nita. Nita menarik tangan chandra dan pergi meninggalkan egi yang terdiam.
“Itu siapa sih, nit?”, Tanya chandra langsung. Nita terdiam, dia ga percaya egi bisa sampai bandung. “Kenapa egi bisa kesini bahkan dia bisa sampai tahu sekolah gue? Dia tahu darimana gue disini?”, pikiran nita bercampur aduk. “Nit.. nita..nita”, panggil chandra sambil menepuk pundak nita. Nita tersentak kaget. “Ah iya chan, duh maaf aku tadi ga konsen. Kamu ngomong apa?”, jawabnya mengalihkan lamunannya. “Kamu kenapa, nit? Dan dia siapa? Kenapa dia sampai semarah itu ke aku?”, Tanya chandra lagi.
Nita terdiam memikirkan jawaban, “Dia.. dia mantan aku yang kemarin dan jujur aku sama dia putus belum genap 2 bulan. Aku putus sama dia karna mungkin aku bukan yang terbaik untuk dia”, jawabnya sambil menghela nafas panjang. Chandra memilih diam. “Maaf atas perlakuan dia ke kamu ya. Aku juga ga tahu kalau dia sampai ada disini”, ucap nita yang mencoba minta maaf ke chandra.
“Slow aja, aku gapapa kok. Intinya aku dah tahu kalau dia mantan kamu, dan maaf ya aku begitu nunjukin perhatian aku ke kamu”, chandra menjawab dengan santai. Suasana yang semula tegang kembali cair hingga tidak terasa mereka telah sampai dirumah nita. “Makasih ya”, ucapnya. Egi yang belum menerima ucapan itu akhirnya memilih untuk kembali menemui nita. Ia menuju rumah nita dan berselisih beberapa menit setelah chandra dan nita yang sampai.
Asisten rumah tangga nita menuju kamar nita dan mengetuk pintu kamarnya. “Non, maaf itu ada tamu dibawah cari non.”, ucapnya dari balik pintu kamar. Nita membukakan pintu kamar, “siapa, mba?”, Tanya nita. “Temannya non katanya, tapi cowo non”, jawabnya. “Oyasudah makasih ya mba”, ucap nita yang segera turun menuju pintu.
“Si chandra kenapa dia balik lagi”, gumamnya dalam hati sambil menggelengkan kepala. Begitu pintu di buka betapa kagetnya ia melihat egi depan rumahnya. “Nit, akhirnya aku bisa ketemu dan ngomong berdua sama kamu. Aku mau jelasin semuanya yang di Inggris sama kamu”, ucap egi sambil meraih tangan nita. Nita langsung menghempaskannya, “Sudah jelas kok semuanya ga ada yang perlu di jelasin lagi. Dan semuanya juga sudah selesai. Silakan bahagia dengan sarah dan please banget jangan ganggu hidup aku lagi”, ucap nita yang berlalu dan menutup pintu.
“Gimana cara aku bahagia kalau kebahagiaan aku ada sama kamu, nit?”, ucap egi sambil menggedor - gedorkan pintu. Nita mengabaikannya dan berlalu menuju kamarnya. Air matanya kembali menetes, rasa sesak itu kembali hadir. Egi akhirnya pulang tanpa sempat menjelaskan semuanya sama nita.
“Aku ga akan berhenti ngejar dan jelasin semua ini ke kamu, nit. Ini janji aku, aku akan perbaiki semuanya, aku akan perbaiki kesalahan aku dan aku akan perbaiki semuanya. Aku ga sanggup tanpa kamu nit”, bisiknya dalam hati. 1- 7 hari egi tidak mengganggu nita dengan mencoba menghubunginya atau menemuinya. Pikiran nita mulai tenang, “akhirnya kamu pulang, gi. Rasa sayang kamu ke aku ternyata hanya sebatas itu”, pikirnya dalam hati.