
Evangeline dongkol sehabis Ares -papa Keanu- menelepon putra semata wayangnya supaya cepat pulang ke rumah. Apa yang dikatakan pria dewasa itu di telepon terdengar tak masuk akal.
Meminta cepat pulang ke rumah karena membawa oleh-oleh dari Inggris.
Memangnya Keanu dan Evangeline masih bocah? Bakal tergoda dengan iming-iming semacam itu.
Pokoknya apapun alasan Ares meminta mereka pulang, Evangeline yakin mama juga sedang menunggunya. Selanjutnya sudah bisa ditebak, mama akan mengajaknya kembali ke rumah.
"Mau makan dulu?" Keanu mengelus sebelah pundak Evangeline. Perhatiannya langsung terpusat melihat kekasihnya berwajah masam.
"Nggak usah." Balas Evangeline bersuara lemah. Kepalanya tengah bersandar nyaman di bahu Keanu, mata menatap bengong ke depan.
"Lusa adalah hari kita."
"Gue nggak lupa."
"Jaga kesehatan, jangan mikir berat-berat nanti stres, istirahat yang cukup. Pokoknya pas acara nanti nggak boleh ada kekurangan sedikit pun."
Hembusan napas lelah terdengar dari bibir Evangeline. Pikirannya sudah sulit akhir-akhir ini, ditambah memikirkan acara penting yang akan berlangsung tak lama lagi.
Rasanya kepalanya seperti mau pecah.
"Gue tau harus apa. Nggak usah bawel juga."
"Gue cuma ngingetin."
"Tapi gue nggak suka diingetin. Gue nggak suka acara itu!" Balasnya sengak. Kontan membuat rahang Keanu mengeras.
Tangan laki-laki itu yang semula mengelus bahunya, kini merambat pelan menuju kepala Evangeline.
Luput dari ingatan, tangan Keanu kembali menjambak rambut Evangeline. Si empunya langsung mengerang sakit dan memejamkan mata erat-erat. Diam-diam membodohi diri sendiri yang tidak pandai menangkis bahaya.
"Gue nggak akan pernah berhenti ngadain acara tentang kita, Alin. Perlu lo catat kalo lo itu berpengaruh. Seluruh dunia tau lo siapa. Dan elo pajangan gue sekarang, dunia juga harus tau itu!"
"Gue tau gue tawanan lo. Nggak usah diperjelas! Gue cuma nggak suka terbebani gara-gara inget acara sialan itu."
"Oh, jadi lo terbebani? Sedangkan mencemaskan Rano bukan beban buat lo?"
"Jelas enggak lah! Karena gue cinta Rano. Inget itu!"
Remasan di rambut Evangeline tiba-tiba terlepas begitu saja. Menyisakan rasa pedas di kepala.
Sementara Keanu mengubah raut wajah yang semula murka, menjadi sedatar papan triplek. Ekspresi mukanya yang tanpa beriak, berbeda jauh dengan isi hatinya yang bergejolak. Karena Keanu hanya bisa memendam. Dia sadar bukan sekarang waktunya menyiksa gadis itu. Beberapa hari lagi acara penting mereka, Keanu tidak ingin Evangeline terlihat memar.
Sampai mereka tiba di depan mansion Keanu, cowok itu masih diam tanpa sepatah kata. Evangeline juga tidak peduli. Malah senang, karenanya Keanu tak akan banyak menuntut.
***
"Sayang, yuk pulang sekarang. Tapi sebelum itu ke tempat papa dulu ya?"
Suara itu yang menyambut Evangeline pertama kali saat kakinya menginjak lantai ruang tamu.
Di sana ada Milla -mamanya. Juga ada Ares dan Ruby, orang tua Keanu. Sementara putra kebanggaan mereka tidak ada di ruang tamu. Entah, mungkin mengurung diri di kamar.
"Kenapa terburu-buru, Milla? Alin mesti mencicipi Yorkshire buatan nenek Keanu. Betul kan, Princess?" Mama Keanu berbicara dengan nada lembut. Senyum cerah turut hadir dalam bibir ranumnya.
"Eng-enggak usah, Ma. Aku langsung pulang aja."
"Padahal mama masih pengen kangen-kangenan sama kamu, Sayang." Ruby merangkul hangat pundak calon menantunya.
"Mama, kan masih bisa Skype sama aku." Jawab Evangeline menghibur.
"Gimana kalo besok pulang sekolah, kita ketemu?" Evangeline menatap calon mertuanya dengan alis mengerut. Jarang-jarang wanita itu ingin menghabiskan waktu bersamanya, karena karirnya yang mendunia. "Mama mau ngasih wejangan buat kamu."
Senyum terukir dalam wajah Evangeline. Gadis itu mengangguk-angguk dan memamerkan jempol kanannya. "Buat jadi istri terbaik Keanu, aku harus berusaha. Iya kan, Ma?" Katanya riang.
Seluruh orang di ruang itu tertawa. Kata-kata Evangeline yang tanpa beban mampu mengurangi rasa bersalah di hati masing-masing orang dewasa di sana. Milla, Ares, dan Ruby sama-sama melupakan kesedihan Evangeline yang sesungguhnya masih merundung gadis itu.
Evangeline hanya memamerkan kehebatannya dalam berpura-pura tegar. Ia tak sudi terlihat sedih di depan siapapun karena ikatan ini. Ia harus tegar. Akan ia tunjukkan pada Keanu, siapa yang paling hebat di sini.
Keanu boleh hebat dengan kekuasaan yang ia dan keluarganya miliki. Namun, Evangeline lebih hebat dalam memainkan peran. Alih-alih menggerakkan, Evangeline bisa memutar balik senjata tuannya. Melukai laki-laki berhati iblis itu dengan pedangnya sendiri.
"Gimana hari-hari kamu, Sayang? Aman sama Keanu, kan?" Tanya sang mama begitu mereka ada di dalam mobil. Sedang melaju ke rumah sakit papa.
"Sedetik pun aku nggak dibiarin bebas, Ma."
"Ya, dia mampu untuk itu. Tapi untuk memberi kasih sayang dan cinta, apa dia mampu, Ma?"
"Kenapa kamu bilang begitu? Keanu pasti mencintai kamu. Faktanya dia mau melindungi kamu sepenuh jiwa dan raganya."
"Keanu nggak cinta aku, Ma. Keanu cuma mau menyiksaku."
"Siksaan apa yang kamu maksud? Jangan mengada-ada, Alin."
"Mama, kan tau aku sama dia pernah punya masa lalu."
Milla melongo sedetik. "Astaga, Evangeline. Wajar kalo Keanu masih suka emosi karena itu. Dia, kan juga manusia yang nggak terima dibully."
"Bukan itu, Mama!"
"Lalu yang mana? Kamu nggak pernah cerita apapun ke mama."
"Karena Mama nggak akan percaya!"
"Coba sekarang kamu bilang."
"Keanu pernah memperkosaku! Dan dia bakal menyiksaku lebih dari itu. Dia bakal membalaskan dendamnya, Mama!"
CITTT!
Mobil direm dengan tak wajar. Menyebabkan beberapa pengendara di belakang mereka mengklakson tak sabaran. Jidat Evangeline sampai membentur dashboard.
Milla ingin mengeluarkan sesuatu yang merangsek dalam tenggorokannya. Namun, suara klakson saling bersahut-sahutan di belakang sana, membuatnya kembali menjalankan mobil.
Wajahnya yang semula tenang berubah setelah mendengar kalimat terakhir putrinya. Ekspresinya tak terbaca.
Seandainya mama tidak percaya, Evangeline tak masalah. Sejak awal dia sudah sadar, kalau mamanya berubah. Buktinya mama rela putri semata wayangnya menderita di bawah tahanan seorang demon.
Mobil kemudian berhenti di tepi jalan. Mesinnya dimatikan, yang terdengar hanyalah bising mesin lalu-lalang di tengah jalan. Milla maupun Evangeline sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Mama percaya." Evangeline tersenyum puas hanya mendengar kalimat itu keluar. Baginya, kepercayaan mama adalah obat. Barangkali setelah ini, mama akan menarik dirinya dari keluarga Keanu. Dan penderitaannya berakhir. "Mama udah tau sejak lama, Alin."
Tapi... ternyata Evangeline salah.
Mendadak, gelegak amarah menguasainya. Wajahnya sudah merah padam, dengan napas tersengal-sengal.
"Mama udah tau, Ma? Kenapa Mama tega?"
"Mama nggak punya pilihan lain."
"Aku tau, tapi..., gimana mungkin Mama tega masukin aku ke kandang singa? Bertahun-tahun aku tersiksa dengan masa laluku, sakit hatiku kupendam sendiri, nggak satupun orang tau. Apalagi Mama. Aku nggak mau Mama jadi ceroboh. Karena aku tau Mama sangat butuh pertolongan untuk penyembuhan papa, juga perekonomian keluarga kita. Dan hanya keluarga Keanu lah yang bisa membantu.
"Tapi, aku nggak tau kalo Mama sebegini kejam. Mama tetap mengorbankan aku sekalipun tau aku mengalami mimpi buruk tiap harinya. Benar kata Keanu. Aku terlalu baik buat mama dan papaku. Aku terlalu berbakti sampai mungkin udah dicap bodoh sama Mama."
"Mama nggak pernah mengatai kamu bodoh, Alin! Jangan bicara seperti itu."
Evangeline menarik napas dalam-dalam. Menghembuskannya perlahan, sambil menghapus sesak yang kian mencarut saja. Air matanya entah sejak kapan jatuh tak terkendali.
"Oke. Terserah Mama. Aku nggak akan bantah atau apapun itu. Aku terima dengan ikhlas. Tapi, satu yang perlu Mama tau."
Berat sekali Evangeline ingin mengucapkan kalimat ini. Apalagi terbayang dosa yang akan ia tanggung setelahnya. Namun, mengingat mama yang sudah tidak memperdulikannya, ia merasa patut berkata demikian.
"Aku benci Mama. Benar-benar benci Mama."
Beberapa jam kemudian saat di rumah sakit, Evangeline tak menanggapi satu ucapan pun dari mama. Ia hanya diam menyembunyikan kepala di atas tangan papa.
Bahkan ketika mereka sudah sampai rumah, Evangeline langsung masuk kamar. Tak keluar lagi setelahnya. Untuk mengucap selamat tidur yang biasa ia ucap untuk mama saja ia sungkan.
Sedih luar biasa. Mengetahui mamanya memang tak pernah memperdulikannya. Ah, ia jadi ingat kalau sebelum papa masuk rumah sakit, pria itu juga jarang pulang ke rumah.
Kata mama, pernikahannya dengan papa adalah karena balas budi. Entah apa yang sudah papa perbuat pada mama. Hingga balas budinya adalah mama harus terjerat selamanya dengan papa.
Jadi, benar kalau keluarganya tanpa kasih sayang? Pantas saja selama ini dia jarang melakukan kebersamaan dengan keluarga, seperti halnya keluarga normal di luar sana. Mama dan papa selalu sibuk bekerja, tak pernah ada waktu luang untuknya.
Sebelum keluarganya bangkrut, hari-hari Evangeline selalu ditemani dengan kawanan bodyguard yang menemaninya kesana-kemari. Senantiasa 24 jam menjaganya dari bahaya. Tidak ada kehadiran mama dan papa yang ikut menjaga.
Hah, kenapa Evangeline begitu bodoh. Berkorban untuk orang yang sama sekali tak memperdulikannya. Benar kata Keanu, dia sangat dungu.
Kalau begitu, apa artinya keluarga? Lebih baik Evangeline hidup sendiri, mencari kasih sayang sebebasnya di luar sana. Tanpa peduli mama, papa, atau Keanu yang baru-baru ini mengusik ketenangan hatinya.