My Prisoner

My Prisoner
Markas 3



"Di mana lo nyembunyiin dia, Keanu?!"


"Hm? Siapa yang lo maksud?"


"Jangan berlagak bodoh. Gue tau lo udah ngerencanain ini semua. Di mana lo nyembunyiin Rano, sialan?!"


"Slow down, Baby. Pujaan hati lo aman sama gue."


"Kalo gitu gue perlu bukti."


"Oh, iya boleh. Besok gue anter."


"Sekarang!"


"Baby, ini udah malem. Jangan buat gue marah cuma karena malem-malem pengen ketemu Si Sialan Rano."


"Nggak! Gue maunya sekarang. Kalo lo nggak bisa ngasih bukti sekarang, gue siap ninggalin lo, Keanu."


"Silahkan. Pintu terbuka lebar buat lo. Tapi, jangan salahin gue kalo sebelum lo bisa ketemu Rano, lo udah liat kepala dia duluan."


"Psiko!"


"Yes. I'm."


Keanu mendekat ke arah Evangeline. Mengunci gadis itu ke dinding. Mengangkat kedua tangannya ke atas, dan mengendus lehernya. Menghirup aroma wangi mawar khas Evangeline.


"Gimana kalo malam ini... kita main-main sebentar, hm?"


Evangeline melenguh geli sekaligus sakit merasakan gigi Keanu menusuk kulit lehernya. Dia pernah bersumpah tidak akan menikmati tindak-tanduk laki-laki itu saat mencoba menyentuhnya. Tapi sekarang, bentengnya runtuh. Hanya karena titik sensitifnya diganggu.


***


Keesokan harinya di sekolah, Evangeline tidak melihat Rano sama sekali. Surat izin yang datang dari orang tuanya menuliskan bahwa laki-laki pemilik mata coklat keemasan itu sakit. Evangeline tahu sakitnya tak main-main.


Dan ini semua karena Keanu.


Atau karenanya?


"Istirahat nggak, Lin?"


"Lo duluan aja. Gue mau di sini."


"Kenapa?"


"Males aja."


"Wahh, kurang refreshing nih pasti. Ntar malem ke club yuk! Udah lamaaa banget kita nggak ke sana. Ya, kan?" Ara membuka suara usai bel istirahat berdentang nyaring. "Ya... itung-itung lepas dahaga. Belajar buat persiapan ujian, tuh capek tau."


"Enggak deh. Gue pasti nggak dibolehin sama Keanu."


"Alahh, pacar lo itu cupu banget. Ceweknya main ke club aja nggak boleh. Apa jangan-jangan dia sendiri juga nggak pernah main ke club."


"Tau deh. Coba lo tanya sendiri sama orangnya."


"Gue pengen nanya, sih. Tapi... enggak jadi, deh. Pacar lo nyeremin, tau."


Evangeline menanggapi dengan senyum. Tepat ketika teman sebangkunya itu mengenyahkan diri dari sampingnya, sosok yang sedang mereka bicarakan hadir.


Keanu dengan wajah tampannya yang mampu melelehkan siapapun. Berdiri membawa dua kotak bekal. Berwarna hijau dan biru.


Kotak bekal warna biru ia berikan ke Evangeline. Membuat gadis itu mengangkat sebelah alis heran.


"Bekal dari mana?"


"Gue tadi buat pas elo belum bangun."


"Oh. Makasih."


Evangeline menerima bekal itu dan diletakkan di sisinya, tak berniat makan. Dia justru menggelongsorkan tubuh atasnya di meja. Keningnya ia tempelkan di kedua tangannya yang bertumpuk. Matanya terpejam. Enggan menatap lalu-lalang murid yang keluar-masuk kelas, atau menatap wajah datar Keanu di depannya.


Tanpa Rano, kelas ini terasa sepi.


"Makan, Lin. Tadi lo belom sarapan." Katanya sambil beranjak duduk di bangku kosong sisi Evangeline.


"Nanti."


"Buat apa gue bawa bekal dua kalo nggak makan bareng sama lo?"


Evangeline mendongakkan kepala. Menatap malas 'Tuannya'.


"Kalo gitu lo makan jangan di sini. Karena gue nggak bisa nemenin lo."


Kilat kesal hadir di bola mata Keanu. Laki-laki itu mengulurkan tangan, menyentuh rambut Evangeline alih-alih menjambak.


Kilasan bayangan semalam tiba-tiba mampir di ingatan Evangeline. Tentang betapa kejam Keanu menjambak rambutnya sesuka hati. Refleks, bulu kuduknya berdiri.


"Jangan pernah membantah gue, Alin. Lo udah tau sendiri akibatnya. Sekarang lo milih makan sama gue dan Rano aman. Atau... nggak makan dan Rano celaka." Bisik Keanu mengintimidasi.


Gadis itu menegakkan tubuh malas-malasan. Meskipun ia suka menentang, tapi Keanu memang tak pernah main-main dengan ucapannya.


"Enak masakannya Bi Asih." Celetuk Evangeline begitu suapan nasi yang pertama masuk ke mulutnya.


Keanu mengangkat pandangan dari bekalnya ke arah Evangeline. Kekasihnya makan dengan pelan, terlihat malas-malasan. Tapi bisa-bisanya mengomentari masakannya saat niatnya saja nyaris tidak ada.


"Emang masakan gue kurang apa?"


"Ini terlalu asin. Ngebet nikah ya lo?"


Cowok dingin itu tersenyum jahil. "Iya, sama elo."


"Kalo gue ogah nikah sama lo gimana?"


"Nggak bisa. Lo udah terikat selamanya sama gue."


Evangeline menghela napas panjang. Diaduknya asal nasi ayam tumis buatan Keanu. Moodnya selalu jelek ketika membahas tentang mereka.


"Pernikahan tanpa cinta itu hambar. Lo mau anak-anak kita nanti hidup dalam kepalsuan?"


"Kayak elo ya?" Ejek Keanu tersenyum miring.


"Persisnya."


"Kenapa lo pede banget bilang anak-anak kita? Udah ngrencanain berapa anak?"


Evangeline melempar suiran ayam tepat ke wajah Keanu. Membuat cowok itu tertawa nyaring, bukannya ngambek seperti biasanya.


"Yang jelas gue nggak mau punya anak lebih dari dua."


Keanu memfokuskan pandangan ke samping. Evangeline tampak enteng mengucapkan hal itu. Tak masalah sama sekali.


"Gue nggak yakin lo mau punya anak sama gue." Selorohnya. Evangeline sontak melirik sinis.


"Anak itu anugrah Tuhan, Keanu. Saat kita udah nikah, gue nggak tau detik ke berapa Tuhan ngasih keajaiban itu. Mau nggak mau kita harus ngerawat, kan?"


"Tapi gue belom siap jadi ayah."


Evangeline menghentikan suapannya. Kali ini diiringi remasan kuat di gagang sendok. Terlintas bagaimana anak-anaknya nanti hadir tanpa diharapkan Keanu.


Sakit.


Tapi Evangeline mencintai Keanu.


Perasaannya untuk Keanu tak pernah berubah. Meski laki-laki itu kerap kali menyakitinya. Meski ia tahu tak ada apapun yang pantas diharapkan dari seorang Keanu, pria berhati beku dengan seribu kekejaman tercipta dalam dirinya. Dan meski ia tahu kalau Keanu hanya terobsesi membalas dendam.


Namun, tetap saja perasaan itu tak bisa hilang dengan mudah.


Evangeline mungkin sudah salah mencintainya. Tapi ia tidak bisa menampiknya. Ia bahkan tak tahu kapan perasaan yang dilarang Keanu itu hadir.


Lalu sekarang, mengetahui Keanu tak akan sudi mengharap seorang anak, pertahanan Evangeline nyaris runtuh. Air mata siap keluar, tapi segera ia tepis.


"Suatu saat lo bakal ngerti. Kenapa gue yakin buat punya anak sama lo, Keanu."


Ucapannya lugas dan datar. Tapi hati Keanu berhasil dibuat bergetar.


***


Evangeline terlihat antusias dengan kepulangannya dari sekolah bersama Keanu sore ini. Antusias bukan karena senang, tapi lebih ke khawatir yang tak bisa ia musnahkan sejak semalam.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan hutan. Pepohonan berdiri rimbun di kedua sisi jalan yang mereka lewati. Evangeline mengira, mereka sudah tiga kilometer jauhnya dari tepi kota.


Kendaraan bertulang besi itu akhirnya sampai di sebuah bangunan besar bergaya Eropa. Setelah 15 menit mereka lalui.


Bangunannya ditumbuhi tanaman merambat di tembok. Entah berapa lama rumah ini kosong.


Keanu turun dari kursi pengemudi. Berjalan memutari mobil dan membukakan pintu penumpang milik Evangeline.


Mereka berdua mulai berjalan memasuki bangunan tak berpenghuni itu, diikuti tiga orang berbaju hitam. Bodyguard Keanu memang setia mengekor kemanapun laki-laki itu pergi.


Tak sampai sepuluh meter dari pintu utama, Evangeline sudah bisa melihat dua bodyguard berjaga di sebuah pintu berwarna putih, senada dengan cat temboknya. Yang Evangeline yakin ruangan itu adalah milik Rano.


Refleks, ia berlari mendekati pintu.


"Buka pintunya!" Sentak Evangeline tak sabar. Begitu ia lihat pria-pria bertubuh besar itu tak lekas membukanya.


"Buka, Charles." Suara Keanu datar, namun dalam. Berbeda dari nada menyentak kekasihnya. Tapi langsung dituruti oleh pria yang berdiri di sebelah kanan Evangeline.


Jantung Evangeline berdetak luar biasa cepat. Adrenalinnya terpacu. Tanpa sadar membuat satu bulir keringat menetes dari dahinya.


Bayangan Rano yang tengah kesakitan membuat pikirannya kalang kabut. Membuatnya ingin menonjok muka Keanu saat ini juga. Tapi ia sadar, hal itu tak lantas membuat Rano bakal diselamatkan. Malah bisa jadi dibunuh.


Antusiasmenya terbalas. Saat seseorang yang ia cemaskan ada di balik pintu. Setengah terbaring dengan kepala disenderkan di pucuk ranjang. Kedua tangannya sama-sama memegang sisi ponsel. Sepertinya tengah bermain game.


Tatapannya luar biasa santai. Malah alisnya berubah mengerut bingung melihat Evangeline yang tiba-tiba saja ada di depannya.


"Evangeline? Kok bisa ada di sini?"