My Prisoner

My Prisoner
Interogasi



"Tuan, Nona Luna sudah datang."


"Bawa kemari. Ayahnya juga."


"Baik, Tuan."


Seluruh saraf di bawah otot Keanu menegang sempurna. Wajahnya kaku, matanya sedingin kutub, tangannya terkepal seolah siap melempar tinju. Ia akan siap menghancurkan wajah gadis itu jika tidak mau membuka mulut dengan jujur.


BRAK!


"Gue bisa jalan sendiri, sialan!"


Luna jatuh terjerembab di atas lantai marmer dingin rumah Keanu. Ayahnya turut serta bersimpuh di sampingnya. Dengan gemetar, Luna memegang bahu ayahnya, berusaha mencari perlindungan di balik punggung laki-laki itu. Sama seperti yang pernah ia lakukan saat kecil dulu, suka bersembunyi di balik ketiak ayah dan ibunya, demi menghindari kejaran petak umpet.


Bedanya, sekarang Luna menghindari iblis kejam yang siap menghantarkan maut padanya kapan saja. Luna takut sekali. Meskipun ia memang tak pernah sudi tunduk di depan Keanu, tapi tetap saja bayangan kematian terus menghantuinya sejak Keanu menyeret paksa melalui anak buahnya.


"Luna Haven." Suara dalam dan penuh penekanan itu membelai lembut tapi mematikan. Gendang telinga Luna serasa berdenging saat itu juga. Kepalanya semakin ia tundukkan. "Anda tahu hukuman apa yang pantas diterima untuk seorang pengkhianat? Membantu seorang tawanan melarikan diri adalah tindakan kriminal dan bodoh, Nona."


Keanu berbicara dengan formal. Seolah ingin menunjukkan pada seluruh orang di ruangan ini siapa yang paling berkuasa. Menegaskan posisinya di depan Luna dan ayahnya, yang sudah berani melanggar sumpah setia.


"Argh!" Luna mengerang begitu rahangnya diremas kuat, seolah akan timbul bunyi gemeretak dari sana. Habis ini, Luna tak berani berharap nyawanya bisa terselamatkan. Ia tahu Keanu kejam dalam menghabisi nyawa seseorang.


"T-tuan Muda, tolong lepaskan putriku. S-sa-saya yang paling bersalah di sini." Suara lirih nan getir itu dilontarkan oleh Sebastian Haven. Kepalanya terus tertunduk, tidak berani menatap sang penguasa dunia gelap.


Keanu terkekeh sumbang. Matanya menatap muak pria tua bertubuh bugar di depannya. Aura kebencian ikut memancar dari wajahnya. Tanpa sopan santun, Keanu meludah tepat di kaki pria itu. Membuat Luna terhenyak dan spontan menatap nyalang, tapi segera melunak begitu sadar posisi.


"Anda tidak tahu caranya berterima kasih ya, Tuan Sebastian? Bertahun-tahun saya biarkan Anda berwenang di wilayah selatan, tanpa saya pedulikan lagi kesalahan Anda bertahun-tahun silam. Tapi Anda manfaatkan kebaikan saya untuk membodohi saya. Anda pikir saya tidak tahu?"


"Maafkan saya, Tuan. Saya memang salah besar." Sebastian mendongakkan kepala. Kedua alisnya mengerut dan matanya berkaca-kaca. Kesedihan dan keputusasaan tergambar di sana. Tapi Keanu kembali meludah. Orang-orang tak tahu diri itu sering mengemis perhatian, dan Keanu tak peduli.


"Ya! Sudah jelas. Dan mudah bagimu untuk minta maaf. Sekarang aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi, pengkhianat!"


Keanu menarik rambut beruban pria itu ke belakang. Hingga Sebastian memekik dan berkali-kali menggumamkan maaf. Wajahnya dipukul, pipi kanan dan kiri, bergantian. Sudut bibirnya tampak mengeluarkan darah, begitu juga hidungnya yang sudah patah.


Di sisinya, Luna menangis dalam diam. Ini salahnya. Papanya tidak boleh kesakitan begitu. Kalau ada yang harus membayar ganti rugi, itu adalah dirinya.


"Tuan Muda Arvid!" Luna menyentak dengan suara lantang. Ia sebut baik-baik gelar mengerikan itu, sekalipun mulutnya serasa mencecap rasa mual.


Keanu menghentikan pukulannya. Kepalanya menoleh dengan wajah yang masih sama kakunya. Malah seringaiannya muncul gara-gara melihat wajah pucat pasi Luna. Pasti gadis itu menyadari betapa kelirunya dia.


"Bagaimana, Luna Haven? Sudahkah Anda pikirkan kemungkinan apa yang akan saya lakukan pada Ayah Anda?"


Kedua tangan Luna terkepal erat. Wajahnya yang semula pucat pasi, kini dihiasi rona merah yang menjalar hampir di keseluruhannya. Emosi, tentu saja.


"Jangan hukum Sebastian Haven. Dia tidak bersalah, Tuan Muda." Katanya tanpa nada gemetar. Ketakutan seolah menguap begitu saja, kala Luna menyadari Keanu sedang mempermainkannya.


Laki-laki iblis itu melepas cengkraman di rahang Sebastian. Wajahnya ia dekatkan ke wajah Luna, sampai dapat ia rasakan hembusan napas beraroma mint gadis itu. Matanya melirik ke arah kiri, menatap Sebastian, kemudian kembali ke kiri menatap putrinya. Sedetik kemudian kekehan tanpa irama itu berhasil membuat bulu kuduk Luna berdiri sempurna.


"Sebastian Haven bilang kalau dia yang bersalah. Sebenarnya siapa yang harus mengaku?" Tanyanya mengejek. Akan Keanu rekam baik-baik wajah-wajah malu dan marah itu.


"Evangeline Sonja adalah sahabat saya, Tuan Muda. Sudah seharusnya saya membantunya bukan?"


"Evangeline tidak pernah kesusahan di hidupnya. Dia selalu tercukupi, apapun. Lalu apa yang Anda keluarkan untuk membantunya?"


Luna tersenyum remeh. Apapun, katanya. Cih, padahal Evangeline pergi gara-gara sadar Keanu memang tidak bisa diharapkan.


"Saya hanya memberikan yang dia butuhkan, Tuan. Kasih sayang, contohnya." Mata Keanu tampak tak berkedip. Bibirnya juga tidak berkedut. Pandangannya terpaku menatap Luna, mencari kebenaran dalam hijau zamrud gadis itu. "Evangeline Sonja datang kepada saya sambil menangis. Dia bilang kalau sudah lumpuh, tidak bisa lari ataupun bangkit lagi."


"Apa maksud Anda dengan lumpuh?" Keanu tiba-tiba jadi serius. Kedua alisnya sesekali mengerut, memikirkan kata demi kata yang diluncurkan oleh mulut manis Luna.


"Saya tidak tahu apa maksudnya, Tuan. Tapi saya tahu hari itu dia sedang sakit, seperti tidak bisa disembuhkan. Mungkin ketika Tuan datang di hadapannya nanti, sakitnya juga masih sama, atau malah tidak bisa disembuhkan. Evangeline masih merasa lumpuh."


"Katakan yang sejujurnya, Luna! Jangan mengajak berteka-teki!" Tampaknya cowok itu sudah hilang kesabaran. Saking berharganya informasi dari Luna, dia sampai mendaratkan tinju di lantai agar tidak mengenai gadis itu. Gawat kalau sampai Luna mati duluan sebelum ia dapat informasi apa-apa.


Gadis pemilik mata obsidian itu hanya tersenyum kecil. Beginikah cara Keanu menghadapi musuh? Tak ada bedanya ketika marah menghadapi perasaannya yang hilang.


"Mohon maaf, Tuan. Tapi itulah yang dikatakan Evangeline Sonja sebelum dirinya benar-benar hilang di tangan musuh."


"Sialan!" Keanu langsung mencengkeram rahang Luna. Matanya melotot galak menatap gadis itu. "Anda tahu di mana tunanganku sekarang. Katakan dimana dia!"


Luna hanya diam. Mulutnya sakit, ia tak bisa bicara.


Seolah mengerti, Keanu mengendurkan sedikit cengkramannya. Membiarkan gadis itu menjawab sambil bersiaga kalau-kalau Luna tidak bisa dikendalikan.


"Anda akan membuang-buang waktu kalau mengurusi saya sekarang, Tuan. Mantan tunangan Anda keburu meninggal di tangan musuh. Saya harap Anda tidak membiarkan hal itu terjadi."


"Petunjuk macam apa ini?!"


"Hurimba Geodesic Home. Saya membawa Evangeline terakhir kali di sana. Kemudian dia meninggalkan rumah itu tanpa pamit."


"Aku menerima email rekaman CCTV. Apakah Anda tahu siapa pelakunya, Luna Haven?"


Luna merasakan tubuhnya menegang perlahan. Ia tatap sebentar mata tajam Keanu. Tidak seperti sebelumnya yang penuh intimidasi dan amarah, sekarang tatapannya sedikit putus asa.


"Begitu ya?"


Spontan, Keanu melepas cengkraman. Serta merta berdiri dan pergi meninggalkan dua manusia yang baru saja ia tangkap atas bukti pengkhianatan.


"Dean, jangan biarkan mereka lolos!"


"Baik, Tuan."


Luna memperhatikan suara langkah kaki Keanu yang semakin menjauh. Sejenak, ia menghela napas. Setidaknya mimpi buruknya sudah pergi, walau nanti mungkin akan kembali lagi, kalau sampai Keanu gegabah tidak bisa menemukan Evangeline.


Keahlian Luna nyatanya membawa keuntungan besar. Keanu tidak akan bisa melacak kelakuannya mengendalikan jaringan wilayah utara, yang digunakan sebagai jalur pelarian Evangeline dari Hurimba. Jelas saja Keanu hanya tahu kelakuannya saat membantu pelarian diri Evangeline di wilayah selatan saja, karena itu wilayah permanen Arvid.


Sedangkan wilayah utara adalah murni milik Dvorak. Keanu sudah pasti tidak akan menduga kalau ia sudah menyusup ke jaringan Dvorak. Karena pasukan terbanyak yang dikerahkan untuk mencari Evangeline adalah milik Keanu, bukan milik Dvorak semata. Kalau Luna tidak salah dengar, Dvorak untuk saat ini sedang dalam masa pemberhentian sebelum membangun ulang.


Cerdik bukan?


"Sayang, kamu yakin Keanu bisa menemukan gadis itu?"


"Papa sudah bekerja dengannya selama bertahun-tahun. Dia sangat cerdas diumurnya yang masih delapan belas tahun. Bagaimana Papa bisa meragukannya?"


Sebastian tersenyum. Sebelah tangannya menepuk-nepuk pucuk kepala Luna. "Kamu juga cerdas, Luna. Tidak sia-sia papa menikah dengan agen keamanan negara seperti mamamu." Ujarnya pelan.


Bukannya kesal sudah diingatkan, Luna justru beringsut mendekat untuk menyandar di dada bidang pria setengah baya itu. "Kenapa aku merasa janggal dengan kasus ini, Pa?"


Sebastian mengernyitkan kedua alisnya bingung. "Kasus yang mana?"


"Papa bilang perusahaan yang dipegang Keanu mengalami defisit, beberapa cabang sempat terbakar, dan virus menyebar bagai wabah. Kalau nggak salah, itu terjadi mendekati pertunangan Keanu dan Evangeline. Nggak lama kemudian, Keanu malah memutuskan pertuanangan secara sepihak di kantin sekolah. Semua ini seperti ada keterkaitan, Pa. Evangeline juga bilang kalau Keanu jarang berbuat bar-bar seperti itu, kalau alasannya untuk membuat Evangeline cemburu.


"Menurutku juga Keanu nggak akan punya banyak waktu buat mengurusi hal yang nggak penting. Tapi kalau dikait-kaitkan dengan kekacauan di perusahaannya, Vita Arczhanka juga bukan anak konglomerat. Dia hanya anak direktur pemasaran, nggak ada bandingannya sama musuh-musuh Keanu di luar sana."


"Papa tahu yang kamu cemaskan, Sayang. Evangeline juga sudah tepat berpikir demikian. Karena sebenarnya kami mencemaskan Vita Arczhanka."


"Maksud Papa?"


"Vita Arczhanka memiliki identitas palsu. Papa nggak tahu bagaimana dia bisa meminjam marga Arczhanka."


Seketika Luna menegakkan tubuhnya. Otak cerdasnya seolah bekerja ekstra di dalam sana. Ia perlu mengingat memori-memori kecil di waktu belakangan, yang akan menjadi kunci pemecahan masalah ini.


"Pa!" Luna menoleh secepat kilat. Suaranya yang nyaring nyaris membuat jantung Sebastian berhenti berdetak. "Aku kenal salah satu keluarganya. Namanya Quiin Arczhanka. Ya, meskipun aku nggak tau mereka saudara kandung atau bukan, mengingat Vita punya identitas palsu. Setidaknya Quiin bisa menjelaskan siapa orang yang berani memakai marganya."


"Lalu kamu mau apa?"


"Aku bakal menginterogasi Quiin. Tenang saja, dia temanku semasa SMP, ya walaupun beda kelas. Tapi kami cukup mengenal dekat, jadi Quiin nggak perlu takut denganku."


"Kamu melakukan ini bukan karena ingin menarik simpati Keanu untuk membebaskan kita, kan?" Selidik Sebastian. Matanya sampai memicing curiga.


Luna menggeleng tegas. "Tentu saja bukan. Aku melakukannya demi Evangeline. Keanu harus segera menemukan siapa dalang di balik kisruhnya perusahaan. Siapa tahu ada kaitannya dengan penculikan Evangeline."


"Tunggu, Luna." Sebastian seolah menyadari sesuatu yang janggal. Ia mendekat ke putrinya, akan ia bisikkan sesuatu yang tidak boleh ada orang lain mendengar selain mereka berdua. "Papa belum mendengar cerita kenapa kamu membiarkan Evangeline lepas di tangan musuh. Kamu bukan sengaja melenyapkannya, kan?"


"Papa kenapa bicara begitu!" Luna malah bersungut-sungut, Boleh saja orang lain tidak mempercayainya, tapi jangan papanya, plis. "Aku bukan sahabat yang gila harta. Evangeline sendiri yang memintanya."


Kedua bola mata Sebastian membulat. Bagaimana mungkin Evangeline sekejam itu dengan dirinya sendiri?


"Dia yang memintamu untuk tidak bergerak di tempat?"


"Iya, Pa. Evangeline sengaja menceburkan diri ke musuh itu."


"Astaga, Luna. Kenapa tidak kamu beritahu Keanu saja yang sebenarnya terjadi? Kalau sampai Keanu mendengar dari orang lain, dia bisa membunuhmu betulan."


"Memangnya sekarang dia tidak sedang coba-coba? Beberapa menit lalu nyawaku hampir melayang, Pa, kalau aku nggak memaksanya mencari Evangeline segera."


Sebastian dan Luna tampak menghela napas bebarengan. Secara serentak pula punggung mereka dimundurkan, sampai menyentuh sofa.


"Kalau begitu kenapa kamu nggak bilang sama Keanu?"


"Tidak ketika Keanu belum berhasil menemukan Evangeline."


"Apa maksudmu, Sayang?! Keanu mungkin akan tahu secepatnya kejanggalan ini. Dia akan memotong lehermu besok pagi."


"Keanu harus sadar dengan perasaannya, Pa! Aku nggak mau rencana Evangeline gagal, dan membuat Keanu nggak mau menolongnya lagi. Pokoknya sahabatku itu mau Keanu bisa merasakan cinta walau sedikit."


"Ya ampun, anak muda. Tapi gara-gara kalian berdua, papa harus bonyok begini."


Walau tahu kurang ajar, Luna tetap terkekeh melihat wajah lebam-lebam ayahnya. Tak ia sangka pria itu masih bisa melucu di saat menegangkan.


"Kami berdua akan membayar dengan bayaran setimpal, Pa. Evangeline hanya perlu membuktikan perasaan Keanu padanya. Toh, ini ada keuntungannya buat Keanu. Kalo dia tahu siapa yang menculik Evangeline, jadi memperbesar peluangnya untuk menangkap pericuh perusahaan."


"Meskipun sekarang kamu menyerahkan separuh jiwamu untuk Evangeline, papa tetap tidak rela kamu meninggalkan papa, Sayang. Kamu harus tetap hidup sampai papa mati."


Luna memeluk tubuh ayahnya seerat mungkin, menyalurkan rasa tidak rela atas perkataan ayahnya. "Papa dan aku bakal tua bareng. Kita akan mati saat rambut hitam kita berubah putih, Pa.