My Prisoner

My Prisoner
Prepare



Tak terasa waktu bergerak cepat. Hingga pada hari di mana Evangeline akan dibawa pergi ke Monte Carlo untuk menikah bersama Adam di sana. Sepanjang waktu sejak terakhir kali Adam memberitahunya, ia terus memikirkan Keanu. Sosok yang sangat dicintainya, yang tak kunjung datang menjemput.


Beberapa kali Evangeline melihat Si Kembar Alanzo hilir-mudik ke sana kemari. Saling membantu membawa barang-barang yang diperlukan di Monte Carlo. Sempat beberapa kali Evangeline salah paham, lantaran tidak bisa membedakan antara Adam dan Diego. Keduanya benar-benar mirip, seolah Diego adalah kloningan Adam.


"Evangeline, ada sesuatu yang kamu butuhkan? Mungkin mau kamu bawa ke Monte Carlo?" Tiba-tiba Adam datang dengan pelipis yang basah. Ia ikut duduk di sofa, agak jauh dari posisi Evangeline.


"Kalo boleh, gue mau ketemu Keanu."


Adam mengangkat sebelah alisnya. Berekspresi 'are you kidding me?'. Tatapan yang terang-terangan meremehkan. "Besok lusa kamu bisa ketemu dia."


"Ck, kalo gitu ngapain lo tanya sama gue. Nggak usah peduli kalo ujungnya lo nggak setuju."


"Maksud aku, kan kamu butuh sesuatu barang atau apa gitu."


Evangeline sontak berdiri. Tidak tahan dengan sesak di dadanya. Detik-detik menjelang pernikahan, biasanya mempelai wanita lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya. Namun, Evangeline tidak memiliki kesempatan itu. Kendatipun Adam tidak menyetujui untuk bertemu Keanu, bukan berarti tidak menyetujui untuk bertemu dengan Brenda juga.


Tapi, Evangeline sudah bisa menebak. Papanya mungkin tidak ada di sini sekarang, entah di mana ia juga tak peduli. Namun pengaruh Gerald juga besar untuk Adam, pria itu sudah pasti melarang putrinya untuk bertemu sang mama h-2 pernikahan seperti ini.


"Mau kemana, Lin?"


"Kamar."


"Kamu belom makan siang ini."


Cewek itu menoleh, menunjukkan senyum sinisnya. "Peduli lo sama gue?"


"Aku nggak mau kamu sakit."


"Ada yang lebih sakit dibanding fisik dan lebih penting dari itu. Mental dan perasaan. Lo nggak pernah ngerti gimana perasaan gue sekarang, dan jangan pernah berlagak peduli! Gue nggak butuh semua cinta dan kasih sayang lo, karena gue sendiri nggak bisa ngasih hal yang sama ke elo."


Adam diam tak berkedip. Hatinya ngilu, ditolak mentah-mentah oleh seseorang yang sudah ia taksir sejak lama. Sekalipun wajahnya setenang air, namun emosi dalam dadanya membuncah hebat. Di depan Evangeline dan orang lain, ia mampu menahan duka yang tak pernah orang lain mengerti. Namun ketika sendiri, ia selalu luruh tak berdaya.


Sampai kapan Evangeline seperti ini padanya?


"Kabar terbaru datang dari pebisnis muda yang tengah menjalin asmara dengan salah satu anak rekan bisnisnya. Tampak di sebuah pesta pada Rabu malam, Keanugrahan Samudera menggandeng pasangannya, Vita Arczhanka. Sebagai sepasang kekasih yang dikabarkan sedang menuju ke hubungan serius, mereka tak segan menunjukkan kemesraan di depan publik.


"Sempat terekam kamera bahwa pewaris tunggal Keluarga Samudera tersebut berdansa dan berciuman mesra dengan Vita Arczhanka. Wahh, sungguh romantis ya.... Semoga saja mereka segera menggelar pernikahan yang sudah ditunggu-tunggu oleh publik."


Suara reporter berita itu tegas dan easygoing. Layaknya membawa berita hiburan. Terang-terangan, Evangeline menyukai bagaimana cara wanita berambut pendek itu menyampaikan berita.


Namun, topik pembicaraan yang dibawa Si Reporter itu yang tidak ia suka. Tentang Keanu dengan Vita. Apalagi foto ciuman mereka ikut ditampilkan, meski disensor.


Berminggu-minggu ia bersama Adam dan setia menunggu Keanu datang menjemput, karena cowok itu pasti bisa menemukannya, apalagi sudah pernah bertemu dengan Diego. Keyakinannya bertambah kuat ketika Adam pernah berkata bahwa Keanu mencoba mencari tahu di balik penculikannya.


Namun, ia tak menduga bahwa kepedulian Keanu hanya sebatas 'ingin tahu'. Cowok itu tidak benar-benar menyayanginya, seperti yang ia harapkan. Itu artinya, Keanu tidak bisa diperjuangkan?


Kalau Keanu menggunakan Vita untuk memanas-manasinya, mengapa adegannya sedetail itu? Dulu Keanu pernah bilang, bahwa ia tak suka berciuman dengan banyak bibir. Ia hanya suka berciuman dengan seseorang yang benar-benar ada untuknya. Pada saat itu Evangeline. Lantas sekarang posisinya telah diganti dengan Vita.


Bisa saja Keanu betulan jatuh cinta pada Vita, dan tak hanya drama.


"Baby, are you okay?"


Evangeline tidak menghiraukan keberadaan Adam yang masih duduk di atas sofa. Mungkin malah laki-laki itu merasa girang atas berita yang mampu meruntuhkan pertahanan Evangeline.


Dirundung emosi dalam dada, ia melangkahkan kaki cepat-cepat ke belakang, mencari seseorang. Kemudian tak ia temukan adik kembar Adam. Ia berbalik ke ruang depan dan baru ia lihat laki-laki itu sedang mengangkat koper ke dalam bagasi.


"Diego!"


"Oh, hai, Evangeline." Cowok itu kelihatan canggung. Ia hanya beberapa kali bertemu Si Cantik Evangeline, dan terakhir kali mereka bertemu di pesta Annabel Nigor dengan Evangeline yang masih menggandeng Keanu. Sekarang mereka nyaris menjadi keluarga.


Ia hentikan sejenak kegiatannya. Lantas menghampiri Evangeline yang berdiri di undakan tangga. Ekspresi cewek itu aneh. Maksudnya, seperti kesal dan sedih. Sejenak, Diego berpikir serius. Apa kiranya yang membuat Evangeline sangat kesal.


Belum sempat pertanyaan batinnya terjawab, suara Evangeline yang menggelegar sudah mampu menjawab kebingungannya.


"Lo putus dari Vita?" Diego sontak menggeleng. "Terus kenapa pacar lo ke pesta sama Keanu? Mereka bahkan berciuman mesra di depan publik."


Laki-laki bertubuh sama persis dengan Adam itu menghela napas sejenak. Matanya menatap serius mata coklat Evangeline. Ia ingin jujur, tapi Adam juga memaksanya berbuat demikian, untuk menggugurkan perasaan Evangeline kepada Keanu.


Sang Raja Iblis pun juga memintanya dengan sepenuh hati, untuk membuat Evangeline melupakannya. Untuk menguji kesabaran dan rasa cinta sejatinya, tentu saja.


Cewek itu terdiam sesaat. Matanya tampak berkaca-kaca dan memerah. Dengan sedikit iba, Diego menepuk bahu Evangeline layaknya seorang sahabat yang tengah menguatkan.


"Lin, mungkin ini cara Tuhan membalikkan perasaan lo. Mungkin ini petunjuk kalo Keanu nggak pantes buat lo. Gue nggak mau ngomong apa-apa tentang Keanu karena gue nggak bener-bener kenal dia. Tapi, lo sesakit ini liat dia memperjuangkan cintanya. Gue malah kasihan kalo lo lebih sakit saat lo maksa cinta lo buat dia.


"Gue sebagai pacar Vita marah. Nggak suka pacar gue disentuh orang lain. Tapi Vita emang pantas diperjuangkan oleh siapapun, dan gue nggak berhak menghentikan siapapun. Termasuk calon suami yang udah dipilihkan orang tuanya, gue nggak ada hak buat menghentikan orang itu. Gue juga nggak ada hak buat menghentikan Keanu. Bukannya gue pasrah tanpa usaha, tapi gue lebih yakin ketetapan Tuhan itu nggak pernah salah. Kalo emang Vita buat gue, orang sehebat Keanu atau calon suaminya aja bakal kalah."


Tangis Evangeline pecah. Di hadapan Diego, mendengar seluruh perkataan cowok itu, ia langsung menjadi sosok gadis yang lemah tak berdaya. Dapat ia rasakan tubuh tegap laki-laki itu merengkuhnya, mengelus punggungnya bagai seorang sahabat.


"Gue nggak mau nyerah, Diego! Gue harus pulangggg. Gue nggak mau Keanu sama siapa-siapa."


"Lo nggak bisa ambil langkah penuh resiko. Coba buka pintu hati lo buat Adam. Mungkin dia laki-laki yang udah dipilih Tuhan buat menggantikan Keanu. Karena mungkin Adam jauh lebih baik dari Keanu."


"Nggak!!! Hikss, gue nggak mau Keanu jadi milik orang lain. Gue nggak mau nikah sama Adammm!"


Tanpa aba-aba, Evangeline mendorong tubuh besar Diego sekuat tenaga. Emosi yang meletup-letup membuatnya kuat seketika. Tekadnya yang bulat untuk kembali kepada Keanu, membuatnya mampu berlari menuruni undakan dan menuju gerbang utama. Jauhnya sekitar 500 meter.


"Evangeline! Berhenti! Kamu nggak boleh pergi!"


Cewek itu tak menghiraukan. Pendengarannya seolah tuli, tertutup dengan bisikan-bisikan akan janji manis Keanu padanya. Janji bahwa laki-laki itu akan setia di sisinya, menjaganya, dan berani bertarung demi dirinya. Janji bahwa Keanu itu adalah miliknya, dan dia adalah milik Keanu.


Sekarang janji itu seolah hilang, lenyap tak berbekas, bagi Keanu. Bagi Evangeline, semua janji yang pernah mereka buat adalah kenyataan yang pantas diperjuangkan, dan tak boleh dilupakan.


Tiba-tiba saja, jarak yang semula terasa dekat berubah menjadi sangat jauh. Bukan karena jalannya mendadak memanjang, tapi karena langkahnya kian lama kian pelan, letih tak terkira. Akibat emosi, dan sesuatu yang merambat tak nyaman dalam perutnya.


Rasanya seperti diremas. Sakit sekali. Sampai Evangeline kembali menangis dan menggigit bibir menahan jeritan. Kemudian, terasa seperti benda cair yang mengalir di sela-sela pahanya. Ketika ia menunduk, cairan itu dapat terlihat dengan jelas. Rok di atas lutut itu mampu membuat cairan berwarna merah pekat terlihat sempurna.


Tidak cukup hanya satu aliran saja. Dan itu mampu membuyarkan pandangan. Syok tak terkira.


Seolah letih telah memburunya bertubi-tubi, tubuhnya seketika limbung dengan kesadaran yang makin menipis. Diliputi rasa sakit luar biasa di area perutnya.


Ia terjatuh tak sampai menyentuh tanah, karena Adam datang menahannya. Laki-laki itu langsung mempobongnya dengan setengah berlari, mungkin kembali ke dalam rumah.


Namun, perkiraan Evangeline salah. Saat di sela-sela kesadarannya yang makin menipis, ia melihat tubuhnya dimasukkan secara perlahan ke dalam mobil. Adam sempat berbicara 'rumah sakit' yang artinya ia akan dibawa ke sana.


Dalam perjalanan yang terasa sangat lama, Evangeline samar-samar mengingat sesuatu. Datang bulannya sudah lewat lebih dari dua minggu. Itu artinya ada sesuatu yang berhasil berkembang di dalam rahimnya, membuahi sel telurnya dan membentuk embrio. Segumpal darah yang akan berisi nyawa suatu hari nanti.


Walau hatinya porak-poranda, tapi bibirnya masih sanggup tersenyum. Tuhan mendengar doanya beberapa waktu lalu. Ia harap ini sungguhan.


Ia harap anaknya dengan Keanu benar-benar tumbuh di rahimnya.


"Evangeline, Sayang, kuatkan dirimu. Oke? Kamu pasti selamat, aku janji." Itu adalah kalimat yang ia dengar dari Adam, sebelum kegelapan berhasil merenggutnya.


Sebelum kesadarannya seratus persen hilang, Evangeline dapat merasakan kecupan ringan jatuh di atas keningnya, dan tak berselang lama suatu cairan basah menetes ke pipinya. Adam menciumnya sambil menangis.


Hati siapa yang tidak ikut porak-poranda melihat keadaan Evangeline selemah ini? Bahkan Adam melihat jelas bagaimana gadis yang ia cintai itu menatap kecewa ke layar televisi, sehabis mendengar berita tentang laki-laki pujaannya.


Adam juga kecewa dengan Evangeline. Gadis itu tidak bisa melihat ketulusan cintanya. Bahkan mengambil kesempatan saja enggan. Siapapun tahu bahwa cinta Evangeline sejatinya untuk Keanu.


Tapi, Adam adalah manusia biasa yang penuh harapan. Ia tetap memperjuangkan Evangeline sebagaimana mestinya. Dengan sangat baik hati, Keanu bahkan memberikan kesempatan untuknya bisa membahagiakan Evangeline. Sampai pada waktu di mana Evangeline dinyatakan masih setia mencintai Keanu.


Adam menolehkan kepalanya ke jendela, menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang di tepi jalan, demi menghilangkan kegelisahan di hatinya. Ia tidak bodoh untuk mengerti apa yang sedang dialami Evangeline sekarang. Gadis itu mengandung anak Keanu, yang juga akan menjadi anaknya suatu hari nanti.


Meskipun masih menjadi keraguan. Apakah sungguhan?


Tapi, bukan itu yang membuatnya khawatir.


Adam tak mau kebersamaannya dengan Evangeline lenyap secepat ini. Ia tak ingin Keanu tahu, dan tak akan pernah ia biarkan Evangeline membocorkan kehamilannya kepada orang lain. Jangan sampai berita kehamilan -yang mungkin benar- ini sampai ke pihak Keanu.


Kalau sampai hal itu terjadi, Keanu akan mengambil tindakan untuk merebut gadis itu.


Adam akui, ia memang egois. Apalagi menyangkut gadis yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Tapi, ini demi keselamatan Evangeline juga.


Bagaimana kalau bahaya dari pihak musuh Keanu atau musuh Evangeline mengincar calon bayi yang tak berdosa itu? Bukan hanya Evangeline yang celaka, tapi juga masa depan si calon bocah.


Adam mengepalkan tangannya. Bertekad kuat untuk menjaga Evangeline, merahasiakan kehamilannya, paling tidak sampai anak itu lahir dengan selamat.