My Prisoner

My Prisoner
Evangeline Plan 1



Sudah dua minggu sejak pelarian diri Evangeline dari rumah mamanya. Hilangnya gadis itu juga masih menjadi tanda tanya di lingkup sekolah. Banyak sekali gosip yang tersebar, dan dikait-kaitkan dengan kejadian terakhir ketika Keanu memutuskan pertuanangan di kantin.


Tak jarang Evangeline mendengar berita di televisi atau media sosial tentang kepergiannya yang sama sekali tak meninggalkan jejak. Dan untuk menghibur kegelisahan hati yang tiap kali melanda sehabis mendengar berita itu, Luna mengajaknya berlatih bersama.


Ketika Evangeline sadar bahwa dia adalah anak dari mafia, keturunan satu-satunya yang tengah dipertahankan mati-matian oleh mama, dan diincar sampai berdarah-darah oleh musuh. Dia langsung berniat berlatih menjaga fisik. Bukan karena mengabdi kepada mama dan keluarganya, tapi semata-mata menjaga diri dari serangan musuh yang tiba-tiba.


"Lo latihan giat banget, Lin. Gue acungi jempol kalo niat lo sebesar ini buat kembali."


"Kembali?" Evangeline membeo sambil memicingkan mata. Fokus dengan busur panah di tangannya.


Luna mengedikkan bahu tak acuh. "Gue nggak bermaksud menyinggung. Kembali buat balas dendam, mungkin?"


Spontan Evangeline menurunkan busur panahnya untuk tertawa. Kedengarannya sumbang, tapi Luna ikut tertawa karena sadar sudah bicara konyol.


"Gue mungkin benci karena mereka udah bohong selama ini. Tapi gue kembali bukan buat balas dendam."


"Terus?" Perhatian Luna sepenuhnya ke gadis di sisinya. Busur panahnya sudah ia letakkan di bawah kakinya sejak beberapa menit lalu ketika giliran Evangeline berlatih. Ditatapnya cewek cantik mantan tunangan Keanu itu.


"Demi Keanu."


Luna mau tak mau terkekeh ringan. Tampaknya ucapan Evangeline seperti lelucon, hiburan semata. Tapi tatapan serius gadis itu ketika menatapnya, membuatnya mau tak mau bungkam.


"Keanu udah punya Vita. Lo tetep mau merjuangin cinta lo yang konyol itu?"


"Gue ngerasa bersalah, Lun. Sekarang gue dikasih karma sama Tuhan, gara-gara kelakuan gue waktu itu sama dia."


"Tapi Keanu juga bohong, Evangeline. Kita sama-sama nggak tau dia siapa. Kalo emang niat asli dia ngiket lo ke hubungan ini buat balas dendam, dia bodoh, tau nggak. Karena buang-buang waktu dan bukan tipe Keanu banget."


Luna bertahan di tempat untuk tidak menghambur menepuk pipi temannya, menyadarkan betapa kelirunya Evangeline.


Alih-alih kesal akibat ucapan terakhir Luna yang menusuk, Evangeline malah menahannya dengan menarik bowstring dan melecutkan anak panah hingga menembak tepat sasaran. Kemudian menghela napas kasar, seolah latihan yang baru saja berhasil menguras tenaga ekstra. Padahal bukan karena itu. Evangeline frustasi memikirkan perasaannya.


"Gue tau alasan sebenernya dia berdrama pake alasan balas dendam, Lun. Tapi dari kebohongannya waktu itu, gue jadi sadar kalo Keanu lagi menilai. Lo tau, kan kalo seseorang bisa 'jatuh' saat buat kesalahan sekecil apapun itu?"


Luna hampir-hampir mendengus lagi. Kedua tangannya bergerak aktif memutar-mutar anak panah. Pandangan matanya dialihkan ke depan, ke tempat di mana Evangeline melecutkan anak panah di sana.


"Jadi, lo berusaha rebut perhatian dia lagi? Lo berusaha buat Keanu yakin buat milih lo, gitu? Lo berpikir kalo sifat lo yang waktu itu bikin dia jadi ilfeel sama lo, gitu?"


"Gue nggak pernah tau kriteria cewek yang dia suka kayak apa, Lun. Tapi pas dia nembak gue dulu, dia lagi menjalankan misi mama. Misi itu juga yang jadi kesempatannya buat menilai gue. Sekarang gue ngerti, kenapa dia keliatan nggak yakin saat gue bilang pengen punya anak sama dia suatu saat nanti.


"Karena Keanu udah ngeliat masa depan ini. Di mana dia bakal kehilangan gue karena sifat angkuh dan keras kepala gue sendiri. Dan saat itu juga... gue mungkin nggak akan balik lagi. Dia udah ngeliat semua ini jauh-jauh hari. Terus gue mau, pas gue balik nanti, gue pengen dia ngerti kalo gue selalu pulang buat dia."


Tepukan halus Evangeline rasakan di bahu kirinya. Berikut remasan pelan yang tegas, khas Luna.


"Apa yang membuat lo tiba-tiba berubah tujuan?"


"Emang gue pernah bilang tujuan asli gue balik ke mansion?"


"Enggak. Gue pikir karena lo baru disakiti sama Keanu, jadi mau balas dendam sama dia."


Evangeline mendengus sambil mendaratkan bokongnya di atas rumput buatan. Rasanya kaku, aneh, dan menusuk bokongnya layaknya paku. Tapi Evangeline sadar diri tempat ini hanya suaka buatan. Ibu kandung Luna membangun bukan untuk pamer betapa subur tanaman yang dipelihara, tapi karena tempat ini hanya untuk berlindung.


"Bukannya Keluarga Dvorak terlahir sebagai pahlawan?" Kepala gadis berambut coklat gelap itu menoleh ke arah Luna, untuk melempar senyum singkat, kemudian menoleh ke depan lagi. "Gue nggak mau memposisikan calon pendamping hidup gue dalam bahaya. Seenggaknya kalo Keanu mati, dia harusnya mati di tangan gue, bukan demi gue."


"Kita sama-sama tau kalo masing-masing dari kita payah dalam berbohong, Lin. Jadi kayaknya bukan cuma itu lo mau mengubah misi."


"Papa mau ngejauhin gue dari Keanu, Lun." Evangeline membalas secepat kilat. Enggan mendengar celotehan panjang Luna tentangnya.


"Gue bakal biarin musuh-musuh itu nangkap gue."


Mata Luna yang bulat tambah bulat karena pelototan kagetnya. Selama ini dalam mengenal Evangeline, belum pernah ia menghadapi sifatnya yang senekat ini. Luna jadi khawatir kalau sifat Evangeline berubah karena kekejaman Keanu semasa di mansion.


"Lo mau mati, Lin?!"


"Cuma ini cara Keanu bisa nemuin gue."


"Gue bisa ngasih dia jalan ke sini, Evangeline. Enggak dengan cara kayak gini, gue nggak setuju."


Evangeline menatap tajam teman semasa SMPnya itu. Gemeletuk giginya sampai terdengar di telinga Luna, pertanda kesal.


"Gue nggak butuh persetujuan siapapun. Semua orang bilang gue penerus satu-satunya Keluarga Dvorak, keluarga pahlawan, jadi gue harus berani."


"Ternyata harga diri lo setinggi itu sampe-sampe berani pake topeng Dvorak."


Tanpa disangka-sangka, tangan Evangeline mencengkeram rahang gadis itu. Kuat sekali, sampai nyaris mematahkan giginya yang berjejer rapi di dalam sana.


"Dalam bisnis, gue nggak memandang lo sebagai teman atau sahabat, Luna Haven. Kita hanya teman yang sama tujuan, bukan begitu? Lo bahkan anak buah Keanu, Keluarga Arvid, bukan Keluarga Dvorak. Jadi jangan sok tau tentang gue."


Evangeline membuang muka. Tampak enggan mengatakan kalimat berikut. Atau karena takut bakal terdengar papa?


"Gue nggak mau papa dalam bahaya karena kecerobohan gue. Jangan sampe mama atau Keanu salah sangka sama kepergian gue. Dan gue mau ini terjadi secara alami. Papa hanya harus tau kalo gue hampir celaka di tangan orang lain, dan Keanu lah pahlawannya."


Luna mengangguk patah-patah. Sorot matanya berharap Evangeline melepas cengkraman.


"Jadi, kapan gue bisa bantu lo keluar dan gampang keliatan musuh?"


"Besok pagi."


"Hah?"


"Lebih cepat lebih baik, Luna."


"Gue bisa nemenin lo lawan mereka, Lin."


"Jangan. Keanu bakal curiga kenapa lo tiba-tiba ada di deket gue. Jangan sampe ada yang tau lo udah bantuin gue, kecuali bokap lo."


Luna tersenyum kecil memikirkan ayahnya. Seorang pahlawan pelindung yang baik. Jauh dari penilaiannya selama ini.


"Lo tau, Lin? Papa bahkan sangat mendukung gue buat bantuin lo. Malam itu gue pergi nggak bilang, karena abis ditelepon papa buat cepet pulang sebelom Keanu nemuin gue. Papa bener-bener no problem. Malah berterima kasih karena mau meminjamkan suaka peninggalan mama. Dia masih melindungi gue sampe hari ini."


Evangeline ikut menyunggingkan senyum. Hatinya turut menghangat melihat keakraban yang mulai terjalin kembali antara Tuan Haven dan putrinya. Sebelah lengannya terangkat untuk merangkul Luna.


"Sekarang lo nggak perlu takut lagi, kan? Kalo papa lo bakal membunuh lo kayak beliau membunuh mama lo?"


Tidak ada jawaban dari Luna. Tapi Evangeline dapat melihat kelegaan dalam sorot matanya. Secercah harapan turut serta di dalamnya.


Luna sudah menemukan akar dari permasalahan batinnya, sekaligus obat yang membuat hidupnya kembali tenang. Sekarang, Evangeline harus membuat keadaan membaik seperti saat sebelum ia lahir ke dunia ini. Sebelum semua orang mengincarnya, demi membalaskan dendam atas kematian orang-orang terkasih karena keserakahan Dvorak di masa lalu.


Langkah pertama, Evangeline harus membuat sekutu Dvorak kembali bersatu. Meskipun ia tak tahu pasti kebenarannya seperti apa, karena mama tak pernah membagi kisah. Tapi perkiraannya nyaris tak pernah meleset. Bertahun-tahun papa berusaha menghancurkan aliansi Dvorak, dan sudah pasti sekutu-sekutunya kocar-kacir karena yakin Dvorak tidak bisa dipercaya lagi. Mereka sekarang mungkin bagai kutu, menggerogoti pusat tubuh untuk mencari sesuatu yang tak seberapa, atau malah yang dahsyat.


Evangeline tak akan menampik. Sebab itulah yang akan ia lakukan seandainya menjadi sekutu Dvorak. Apalagi yang perlu dipertahankan ketika penopangnya saja sudah bobrok? Yang tersisa hanya puing-puing, dan dari situlah mereka bisa membangun aliansi baru, sendiri-sendiri.


Memikirkannya saja membuat Evangeline bergidik. Keluarga Dvorak dibangun susah payah oleh tangan-tangan penakluk sejati, tentu ia tak akan biarkan darah dan dagingnya hanya diam di tempat tanpa tahu malu. Ia harus berbuat sesuatu, sebagai Evangeline sang pahlawan Keluarga Dvorak. Bukan putri kedua orang tuanya, yang tak tahu malu mendompleng di kehidupan orang lain, rela dikerangkeng dalam kamar mewah Keanu.