My Prisoner

My Prisoner
Flashback - Keanu



"I'm the winning of my heart." -Keanugrahan Arvid



source : Pinterest


Langkah kaki pemuda itu berjalan sedikit tergesa ke arah sebuah ruangan. Berpintu kaca dan dijaga oleh dua penjaga di kanan-kirinya. Mereka semua berpakaian serba hitam, beremblem di bagian kiri.


Emblem yang menyatakan tugas masing-masing sesuai dari keluarga mana mereka berasal. Dari tempat Keanu berdiri, matanya bisa menangkap dua badan berotot beremblem bintang tiga. Keluarga Arczhanka, penyumbang bodyguard terbanyak untuk menjadi ajudan setia aliansi Arvid.


Mereka tidak hanya menjadi ajudan Keluarga Arvid, namun setia kepada siapa saja yang setia sehidup semati untuk Arvid Alliance.


Dua penjaga lainnya adalah dari keluarga Hilyanos, emblem bulan sabit. Keluarga ini memegang beberapa peran penting dalam aliansi Arvid. Pengedar barang ilegal, pengawas, dan pembunuh.


Saat kakinya sampai di depan pintu, bahan yang terbuat dari kaca itu otomatis terbuka. Menampilkan interior mewah khusus untuk rapat. Meja dan kursi tersusun rapi, lampu chandelier menggantung di atasnya, dan ruangan itu kedap suara. Transparan tapi orang lain tidak bisa mendengar informasi sekecil apapun dari rapat yang sedang diselenggarakan.


Ada sebuah pintu di sisi kanan dan kiri. Masing-masing pintu dijaga oleh satu penjaga. Seorang penjaga beremblem bulan sabit mengangguk sekilas dan membuka pintu. Gesturnya terlihat secara gamblang memberitahu Keanu bahwa orang yang akan ia temui ada di balik pintu.


"Anda sudah ditunggu oleh Tuan dan Nyonya." Kata pria yang sedikit murah senyum itu. Ya, setidaknya lebih ramah dibanding bodyguardnya yang lain.


"Aku tahu." Balas Keanu singkat.


Kakinya melangkah masuk tanpa pikir panjang. Langsung ditemuinya dua sosok yang sudah duduk manis di atas sofa empuk. Ruangan itu berdinding kaca, menampilkan keindahan laut yang membentang di bawahnya.


Keanu ada di wilayah pusat kendali Arvid Alliance. Bukan di Markas Besar, tapi di kantor pusatnya. Tempat administrasi untuk dunia bawahnya dan dunia atasnya.


Tempat ini bisa menjadi neraka untuk orang-orang yang mencoba mengusik dunia gelap Arvid. Tapi, juga bisa menjadi surga untuk orang-orang yang menempatkan kepercayaan sepenuhnya kepada Arvid Alliance, kelompok mafia tersohor di dunia.


Bangunan ini terletak jauh dari pusat kota. Tepat di pinggir pantai terabaikan. Kawasan laut yang sudah dikuasai oleh Arvid Alliance dan tidak ada satu pun orang yang bisa merebutnya. Jauh dari hiruk-pikuk. Sekaligus jauh dari otoritas berkedok peduli.


Dan itulah yang Keluarga Arvid sukai.


"Bagaimana kondisi Evangeline?"


Keanu menatap seorang wanita bersanggul dengan riasan tebal. Tapi riasan itu tidak membuatnya terlihat menjijikkan, justru apik dan menjadi penghias sempurna untuk wajah cantiknya.


Sekalipun usianya terbilang tidak muda lagi, tapi wajahnya masih segar seperti berusia dua puluhan. Dialah Liliana Ruby Arvid. Nama marga aslinya Liliana Ruby Delion. Berasal dari keluarga bangsawan, namun menjadi anak terasing karena dia lahir tanpa diinginkan keluarganya.


Keluarga Delion adalah bangsawan penguasa pasar internasional, mulai memperluas jaringannya di Benua Eropa karena dari situlah mereka berasal, Italia. Pemegang kendali tahtanya murni laki-laki, bukan perempuan. Itulah mengapa Liliana Ruby tak pernah diinginkan dalam keluarganya. Keluarga Delion lebih memilih Alexis Forree -anak yang lahir di luar pernikahan- untuk menjadi ahli warisnya, daripada Liliana Ruby sang anak dari pasangan yang sudah terikat pernikahan.


Ibu Keanu masih terlihat sehat dan segar sampai hari ini. Meskipun sering tekanan batin dengan saudara tirinya, tapi tak membuatnya menjadi wanita lemah. Justru Liliana Ruby sering berusaha menggulingkan kekuasaan keluarganya sendiri, dengan bantuan jaringan mafianya bersama sang suami.


"Ma, santailah dulu." Keanu mencium tulang pipi ibunya. Lantas tersenyum lembut menatap mata teduh wanita itu.


"Mama mengkhawatirkan calon menantu mama, Keanu. Evangeline sudah lebih dari cukup menanggung kebingungannya selama ini. Jangan sampai kecelakaan hari ini membuatnya gila." Wanita itu terlihat sangat khawatir. Cara Liliana Ruby menyayangi Evangeline, membuat Keanu sering cemburu. Ibunya tidak tahu saja bagaimana sifat buruk Evangeline.


"Sayang, jangan berlebihan seperti itu. Brenda tidak pernah memberikan secuil kunci pun kepada putrinya. Evangeline tidak pernah kebingungan, tidak akan pernah kalau sampai ada seseorang yang berhasil menyentilnya."


Daraeus menginterupsi, memberikan penenang yang bisa membuat mimik wajah Ruby berubah sedikit.


Wanita itu mengelus tangan sang suami yang melingkar di perutnya. Sambil mengulas senyum tipis. "Aku tahu. Hanya saja, aku selalu berpikir bahwa ada satu atau dua orang yang berhasil menyuntikkan kata-kata padanya tanpa sepengetahuan kita. Ada banyak orang yang harus kita curigai, Sayang."


"Aku mencurigai semua orang, Ruby."


Keanu berdehem. Menjawab pertanyaan Ruby saat pertama ia menginjakkan kaki di sini. "Dia masih belum sadar dan butuh beberapa jam untuk dokter menanganinya. Tapi, aku sudah tau siapa yang sudah berani memasukkan racun ke dalam makanan Galen."


"Katakan siapa orang itu, Keanu."


"Mantan anak buah Dvorak. Aliansi mereka sudah porak-poranda sekarang, dan semakin banyak yang ingin mencelakai Evangeline. Mirisnya, Galen berasal dari keluarga yang pernah menjadi anggota Dvorak Alliance. Tapi dia anak yang terbuang gara-gara menentang aturan keluarganya sebagai mafia. Ayahnya tahu bekal itu untuk Evangeline dan dia dengan akal busuknya mencampurkan bahan kimia berbahaya ke makanan Galen.


"Padahal aku kira Galen bekerja sama dengan seseorang dan benar-benar berniat mencelakai Evangeline. Ternyata ide membawa bekal adalah dari keduanya untuk memperbaiki hubungan yang sempat tidak baik."


"Sialan. Brenda harus tahu hal ini secepatnya. Kita harus membantunya."


"Itu adalah kewajiban kita, Sayang. Itulah kenapa sekarang Brenda menggantungkan harapan pada kita. Semua kawannya berubah jadi musuh dan berniat ingin memegang alih tahta Dvorak, setelah tahu kerugian sebesar apa yang ditimbulkan suami Brenda. Padahal kita semua tahu hanya Evangeline yang berhak, dan mereka tidak bisa menerima hal itu sampai kapan pun."


"Mama benar. Masalah musuh yang menjadi korban dan berniat menjatuhkan tahta Dvorak saja belum selesai, apa lagi sekarang aliansi Dvorak sendiri berontak dan ingin mengambil alih."


Pria setengah baya berambut abu-abu itu bergegas menelepon temannya. Seseorang yang akan menjadi besannya. Seseorang yang dulu pernah mengisi ruang kosong di hatinya. Boureeneda Dvorak.


"Aku sedang dalam perjalanan ke tempatmu, bersabarlah. Empat belas menit lagi sampai, Ares." Suara itu langsung menyambutnya. Tanpa basa-basi, khas seorang Brenda.


"Kami sudah menemukan informasi mengenai siapa pelakunya."


"Aku juga sudah, tapi masih kurang konkret. Kamu tahu kawananku pecah dan tidak ada yang benar-benar bisa kupercaya satu pun sekarang."


Daraeus mengukir senyum samar. Walaupun murni dari keluarga mafia, Brenda tetap memiliki hati lembut layaknya wanita pada umumnya. Dia mudah percaya dan mudah tersinggung. Lalu ketika diberi cobaan seberat ini, dia langsung berubah drastis.


"Jangan khawatir. Kami membawa informasi sangat konkret. Salah satu mantan kawanmu memang berniat membunuh Evangeline. Dia adalah Harry Oslen. Seperti yang kamu ketahui juga, dia memasukkan obat perusak sistem tubuh ke makanan putranya. Karena dia tahu makanan itu sebenarnya untuk siapa."


"Akan kubunuh dia." Geram suara di seberang sana.


"Kami pikir cukup masuk akal. Karena Galen adalah anak pembangkang, berandal bebas, dan dia jarang bertemu keluarganya. Layaknya kita, dia bisa rindu dengan kelurganya. Maka tidak ada satu kecurigaan pun dalam dirinya ketika ayahnya tiba-tiba datang ke apartemennya untuk memberikan pelukan hangat."


"Terima kasih, Ares. Kamu selalu menjadi sahabatku yang paling setia."


"Aku selalu memegang janjiku."


"Sampai bertemu nanti."


Sambungan telepon langsung terputus begitu Daraeus meletakkan teleponnya kembali di atas meja. Bersamaan dengan itu, Ruby bangkit berdiri sambil menenteng tas mahalnya.


"Klienku sudah menunggu." Ujarnya sembari melirik arloji yang melingkar di tangan kiri. "Sampaikan salamku untuk sahabatku tercinta."


"Aku melarangmu pulang sampai larut, Sayang."


"Tenang saja. Aku akan segera pulang untuk menjenguk calon menantuku."


Keanu sedikit melotot. "Mama akan menyamar menjadi siapa?"


Tawa ringan hadir di bibir Ruby. "Putraku tersayang, jangan dipusingkan. Mama punya seribu cara untuk bisa berjumpa dengannya tanpa dia curiga. Mungkin suster?"


"Maaa, plis." Keanu memutar bola matanya malas. Membuat mama dan papanya hanya tertawa.


"Sudah, sudah, waktu mama jadi berkurang dua menit hanya untuk obrolan tak penting ini."


"Pintu selalu terbuka lebar untuk Mama."


"Terima kasih sudah mengingatkan, Putraku."


Setelah itu sosok wanita sosialita beserta wangi tubuhnya yang khas sudah tidak terendus lagi. Ruangan seketika dihiasi keheningan panjang. Daraeus sibuk dengan ponselnya, sesekali tersambung dengan beberapa panggilan. Sementara Keanu memejamkan mata dengan bosan.


Untung saja suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali berhasil memecah keheningan itu. Fokus kedua pria itu teralihkan pada sosok wanita yang baru saja masuk dengan wajah super datarnya.


Boureeneda Dvorak datang bersama asisten kepercayaannya. Bukan untuk menemaninya bicara bersama Daraeus, tapi membantu membawa beberapa paperbag yang sudah pasti sebuah oleh-oleh. Sekitar sepuluh paperbag.


"Belanjamu banyak sekali." Kata Daraues sembari melirik tak minat isi paperbag yang sudah ia hapal isinya.


"Diamlah, Ares. Istrimu cerewet sekali memintaku membawakan semua ini untuknya. Padahal dia bisa membeli sendiri beserta toko-tokonya."


"Hei, Ruby lebih menyukai pemberian orang lain daripada pembeliannya sendiri."


Keanu berdecak mendengar perdebatan tak penting itu. Ibunya memang suka meminta banyak hal pada Brenda. Bukan karena ibunya tak mampu, tapi karena ibunya adalah sosok wanita manja dan dia mungkin rindu dengan kehangatan keluarganya. Jadi, salah satu orang paling dekat dan paling aman yang bisa membantunya melepas rindu adalah Boureeneda Dvorak.


"Kapan rencana penangkapanmu?"


"Aku ingin bermain-main sebentar, Ares. Dia harus merasakan penderitaan putriku. Dia harus mati secara perlahan."


"Galen murni tidak bersalah."


Brenda melempar tatapan pada Keanu. "Kamu yakin, Keanu?"


"Iya, Tante. Kita sempat mencurigainya tadi pagi. Tapi ternyata ide membawa bekal adalah dari keduanya. Tidak ada paksaan untuk Evangeline atau sebaliknya, dan murni untuk memperbaiki hubungan mereka yang retak."


"Kalau begitu kita bisa memutar balik tembakan senjatanya. Harry bisa mencelakai putriku melalui putranya, dan aku bisa mencelakainya melalui putranya juga."


"Kita bisa membuat nama Harry buruk di mata putranya sendiri. Pada dasarnya Galen anak baik, oleh karena itu dia membangkang. Itu artinya, kita bisa mengungkapkan niat jahat ayahnya untuk mantan kekasihnya."


"Itu terlalu beresiko, Keanu. Galen bisa tahu siapa Evangeline. Padahal aku belum ingin siapapun tahu putriku, kecuali yang sudah pernah secara langsung atau tidak langsung berkaitan denganku."


"Betul juga." Keanu menggosok pipinya yang tak gatal. Harry membuat masalah yang belum sempat selesai menjadi runyam.


"Tenanglah. Ini baru permulaan. Kalau sampai Harry memiliki pergerakan baru, kita lancarkan aksi balas dendam. Sampai waktu itu tiba, kita berpikir pelan-pelan. Seperti biasa, mafia sejati selalu menomorsatukan ketelitian tanpa tercium sedikit pun."


"Aku setuju denganmu, Brenda."


"Sekarang aku memiliki rencana baru."


"Katakan. Kami sebisa mungkin membantumu."


"Putriku belum sadar, dan kita memiliki kesempatan untuk menyusun langkah."


"Ada apa setelah putrimu terbangun?"


"Karena aku akan memberitahu jati dirinya, walau seinci."


Daraeus tidak bisa menahan pekikannya. Ia sampai sedikit tersedak kala minum vodka favoritnya.


"Kamu bercanda, Brenda?"


"Aku serius. Itulah kenapa aku ingin merencanakan semua ini denganmu, Ares."


"Katakan, Tante. Aku pribadi akan membantu semampuku." Balas Keanu ringan, seringan menepis debu. Brenda tersenyum manis mendengarnya.


"Aku akan membuat dia curiga dan bergerak mencari tahu kepada siapapun. Tapi tetap media dan seluruh orang akan aku kerahkan untuk menutupinya. Dia hanya boleh tahu tentang jati diri yang sesungguhnya dariku, bibirku.


"Tujuannya adalah supaya dia bisa membentuk kewaspadaannya sendiri dengan lingkungan sekitar. Aku semakin khawatir setelah yang terjadi hari ini. Dan aku ingin pertunangan Keanu dengan Evangeline dipercepat. Mengingat semakin banyak saja musuhku bertebaran. Keanu akan sangat membantuku menjaga Evangeline."


"Bukankah aku masih berperan menjadi seorang pembantu?"


"Tante akan memasukkan kamu ke sekolahnya. Supaya kamu bisa menjaganya secara langsung dan tanpa dia curigai."


"Tunggu, Brenda. Keanu belum pernah memasuki wilayah rawan disorot publik."


"Pa, siap atau tidak siap aku harus siap. Saat bersekolah di senior high school nanti aku juga akan menghadapi banyak tantangan. Ini adalah kesempatanku membalas budi kebaikan Keluarga Dvorak, aku harus melindungi calon istriku dan bersedia berkorban."


Brenda tersenyum bangga. Sebelah tangannya menepuk-nepuk pucuk kepala Keanu. "Tante sangat bangga dengan kebesaran hatimu, Keanu."


Laki-laki itu hanya tersenyum simpul, menyembunyikan senyum jahatnya. Brenda ataupun ayahnya tidak tahu niatnya yang sebenarnya. Membantu adalah sebagai kedok. Niat aslinya untuk memberi pelajaran atas sikap kurang ajar Evangeline kepadanya selama ini. Gadis itu harus merasakan apa yang pernah dirasakan orang-orang yang ia injak.


"Tidakkah Tante melenyapkan bisnis Om Gerald juga?"


"Tante sudah punya rencana, Keanu."


Daraeus tersenyum miring mengingat rencana yang sudah diungkapkan Brenda beberapa waktu lalu. "Katakan, Brenda. Putraku perlu mengerti taktik penting dalam permainan."


"Tante akan melumpuhkan Gerald, sementara perusahaan tetap berjalan sebagaimana mestinya."


"Lalu apa tujuan Tante melumpuhkan Om Gerald?"


"Sabar, Son." Keluh Gerald mendengar ketidaksabaran putranya.


"Supaya acara pertunanganmu dengan Evangeline berjalan lancar tanpa sebuah gangguan dari Gerald. Suamiku tidak akan pernah setuju kalian menikah. Itulah kenapa tante melumpuhkan dia.


"Pertama, kita buat pemberitaan palsu tentang perusahaannya yang kolaps. Kita buat semurni mungkin supaya Evangeline tidak curiga. Dan kalian akan datang pada kami, menawarkan bantuan. Dengan satu syarat, Evangeline harus mau menikah bersama Keanu. Katakan bahwa aku jaminannya. Kalau dia berani berontak, katakan bahwa nyawaku terancam."


"Bagaimana kalau ini gagal?"


"Kita punya seribu cara. Sekarang yang paling penting adalah menjaga Evangeline, memperkuat aliansi kita bersama, dan menghancurkan musuh terbesarku, Gerald. Hanya inilah cara paling mudah supaya Evangeline mau terikat dengan Keanu tanpa adanya kecurigaan."


"Kecurigaan? Bagaimana dengan aku yang notabenenya keluarga tukang kebun bisa beralih menjadi keluarga kaya?"


"Jangan pusingkan hal itu, Keanu. Evangeline mungkin akan berpikir bahwa ini hanya jebakan. Kamu yang tiba-tiba menjadi tukang kebun untuk merebut kekayaan kami. Dia pasti berpikir kamu ambil kesempatan memanfaatkan kelemahannya karena tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan.


"Buatlah dia benci denganmu. Supaya otaknya tidak memiliki ruang untuk memikirkan kecurigaan identitas asli kalian. Akan lebih baik kalau kalian membuat adegan seapik mungkin di depannya seolah-olah kami sangat menderita."


"Kami mengerti, Tante."


"Semoga dengan diberitakannya kebangkrutan Gerald membuat aliansiku kembali. Mereka mungkin tidak bisa mengendus sampai dalam, karena Arvid Alliance begitu kuat pengaruhnya."


"Percayalah, Brenda. Informasi sekecil apapun akan aman di tangan kami."


"Terima kasih, Ares."


"Bagaimana, Son? Setujukah?"


Keanu menatap mata Daraeus yang berbeda dengan suara penuh harapnya. Mata itu terlihat tajam dan menuntut, memaksa.


Namun Keanu tak bisa menentang apapun yang sudah menjadi kebijakan ayahnya. Ia dididik dengan keras sejak kecil, agar menjadi pribadi yang bisa membanggakan sang ayah, dan menjadi pahlawan untuk banyak orang.


Terutama Kelurga Dvorak yang sudah banyak membantu Kekuasaan Arvid selama ini.


Lagi pula, Keanu tidak merasa dirugikan sama sekali. Ia malahan berterima kasih. Karena rencana ini, ia jadi leluasa memberi pelajaran pada gadis sombong itu.


Evangeline harus tunduk di bawahnya. Gadis itu harus merasakan apa yang pernah orang lain rasakan ketika ia injak-injak.


Miskin selama beberapa hari mungkin tak bisa langsung membuka matanya. Namun, tertekan di bawah kendali seorang Pangeran Arvid mungkin bisa menyadarkannya sampai titik paling bawah. Membuatnya enggan merasa pongah lagi.


"Aku bersedia, Pa."


"Terima kasih, Sayang."


Keanu bisa merasakan kecupan basah yang membuatnya risih di pipi kanan. Tempat di mana Brenda mendaratkan kecupan tepat di sana.


***


Plis, buat kalian yang berhati baik dan budiman, juga berakal sehat. Setelah membaca sebuah karya, tolong dong biasakan untuk menghargai. Aku tau klik vote, like, dan ngasih bintang itu gak sesusah ketika aku membuat karya ini 🙃


Atau gak usah update lagi aja, hehe. Soalnya kayak pada kurang minat sih sama novel ini. Hm.