My Prisoner

My Prisoner
Hilang



Evangeline pulang dengan raut muka kusut, persis seperti remasan kertas. Langkahnya yang menuju kamar harus terhalang karena mama berdiri di ujung tangga. Tatapan yang sulit diartikan dan tangan terlipat di depan dada.


"Aku putus sama Keanu." Ucap Evangeline tanpa mau menunda atau menutup-nutupinya lagi. Mama harus tahu secepatnya, agar mereka bisa mempersiapkan diri membayar ganti rugi yang tidak kecil.


"Apa maksudmu?" Sebelah alis wanita setengah baya itu terangkat tinggi-tinggi. Sejenis tatapan mengintimidasi yang sudah Evangeline hapal di luar kepala.


"Aku udah nggak punya hubungan apapun sama Keanu. Pernikahan batal. Kita harus mempersiapkan diri buat ganti rugi, Ma."


"Ganti rugi apa maksudmu?"


Dahi Evangeline mengernyit. Tatapan heran sekaligus geli dilayangkan kepada mamanya. Apakah wanita itu berusaha membodohinya?


"Atas semua yang udah keluarga Keanu berikan dengan sia-sia sama kita, tentu saja."


"Mereka nggak akan sia-sia, Alin. Mereka nggak akan menyesal pernah mengeluarkan banyak dana untuk kehidupan kita. Justru kamu yang akan dirugikan."


"Aku?" Evangeline menunjuk dirinya sendiri dengan tampang setengah tertawa. "Mama ngajak bercanda? Jelas-jelas uang yang mereka keluarkan untuk kita banyak, dan aku sudah memutus tali pertunangan. Itu artinya mereka dirugikan karena tawanan Tuan Muda Keanugrahan Samudera lepas dari genggaman. Apa yang bisa mereka pamerkan sekarang? Seluruh dunia bakal tau aku bukan milik Keanu lagi."


"Kamu salah kalau mereka bakal rugi, Evangeline." Mata mama mengerling ke lain arah. Mengucap sebuah kata yang akan membuat putrinya syok, bukan ide bagus jika menatap matanya secara langsung. "Justru ketika kamu lepas dari mereka, kamu dalam bahaya dan nggak ada yang bisa melindungi kamu, kecuali Keluarga Samudera. Kalau diumpamakan semut, kamu bakal cepat terinjak kalo nggak sembunyi."


"Pernahkah mama berpikir bahwa aku tersiksa, Ma? Cinta tanpa balasan itu sakit. Lebih sakit daripada aku yang terpaksa menjadi tawanan Keanu demi sebuah balas budi. Aku nggak bisa bersanding sama dia yang mencintai gadis lain!"


"Hentikan, Evangeline! Dalam bisnis tidak ada yang namanya kasih sayang dan cinta atau sejenisnya itu. Kamu berperan menyelamatkan keluarga kami dari krismon, dan kamu juga menyelamatkan dirimu sendiri dari bahaya seluruh dunia yang sedang mengintaimu sampai kamu mati. Bukankah kamu menyadari itu?"


Dada Evangeline tampak naik turun karena amarah. Wajahnya merah padam, berang sekali. Ia tidak suka jika harus diingatkan soal kehidupan yang menjadi tameng sekaligus duri baginya.


Keluarga Keanu sudah sangat baik mau membantunya, dan imbalannya juga cukup membuat mata dunia sedikit gentar untuk mengincar nyawanya. Tapi, apakah juga harus setimpal dengan cinta yang tak terbalas?


Sesakit inikah rasanya dicampakkan?


"Pokoknya aku nggak mau kembali ke rumah itu lagi! Kita harus mempersiapkan diri membayar ganti rugi."


"Serius kamu mau begitu? Padahal biayanya sampai bermilyaran. Papamu juga belum sadar dari koma."


"Aku tau papa sakit karena Mama!" Wanita setengah baya itu sedikit terhenyak dibentak tepat di depan wajah oleh putrinya sendiri. "Mama pernah bilang kalo semua ini rencana di atas kertas. Papa pernah menghancurkan bisnis mama, dan itulah yang mama lakukan sekarang dengan menjatuhkan bisnis papa. Iya, kan?"


"Ya. Tapi mama melakukannya demi keselamatanmu juga. Papa egois membiarkan nyawa anaknya dalam bahaya, sementara mama nggak boleh berbuat apa-apa karena mama udah nggak punya apapun lagi selain aset papamu. Harusnya kamu sadar betapa papamu setidak ingin itu melindungimu."


"Mama bohong!"


"Mama nggak bohong. Itulah kenapa mama sengaja membuat perjanjian dengan keluarga Keanu untuk melindungi kamu. Mereka nggak dapat apa-apa dari perjanjian itu selain kamu, Evangeline. Jadi, kalau kamu nggak mau pulang ke rumah Keanu sekarang, kamu bakal menyesal seumur hidupmu."


Evangeline menggeleng kuat-kuat. Bayangan tentang Keanu yang sering menorehkan luka membayang dalam benaknya. Apalagi tentang kejadian siang ini di sekolah. Akan ada ucapan sarkas apalagi yang cowok itu layangkan sekembalinya ia ke mansion?


"Lebih baik aku jatuh ke kandang serigala daripada kandang singa, Ma."


"Kamu bodoh atau apa? Seluruh dunia sedang mengincarmu, Evangeline!" Mama memegang kedua lengan putrinya, menggoyang-goyangkannya berusaha menyadarkan. "Pulanglah ke mansion sekalipun Keanu nggak membalas cintamu! Setidaknya jangan egois dengan membahayakan dirimu sendiri."


Evangeline terisak kecil. Seharusnya ia tahu mama akan semurka ini dengannya. Sekarang, ia tahu, secara tidak langsung mama memaksanya kembali menantang maut.


"Oke. Aku pergi sekarang."


Evangeline berusaha melihat mata mamanya sebelum benar-benar melangkah pergi. Dalam tangisnya, dia tidak yakin bahwa pertemuan ini bisa diulang kembali.


Evangeline tidak mau kembali ke mansion, kalau Keanu masih bersikukuh mencintai si gadis OSIS. Ia tidak sudi terjebak dengan dukanya sendiri di sana.


***


Ketika mama melihat kepergian Evangeline dengan perasaan berbeda, ia segera menelepon orang suruhannya. Memerintahkan untuk membuntuti gadis itu kalau-kalau Evangeline tidak kembali ke mansion Keanu.


Beberapa jam berlalu, informan yang ia kirim untuk mengawasi Evangeline mengabarkan kalau gadis itu menghilang dalam pengawasan pada pukul sepuluh malam.


GPS Evangeline tidak terlihat radar, dan tiba-tiba saja semua orang tidak bisa melacak gadis itu.


"Tante."


"Keanu, syukurlah kamu datang. Kamu tahu Evangeline-"


Laki-laki bermata perunggu itu mengangguk-angguk. "Tim saya sedang mengerahkan tenaga untuk mencarinya, Tante."


Wanita pemilik surai cokelat itu memandang lurus ke depan, menerawang sesuatu yang tidak diketahui Keanu dari tempatnya berdiri.


"Tante curiga kalo dia menemui papanya."


Keanu mengernyitkan dahi. "Kalau begitu dia masih bisa dilacak, Tante."


"Tante baru sadar kalo Evangeline lebih pintar dari yang kita kira, Keanu. Dia tahu tante memiliki perjanjian di atas kertas sama kamu. Dia tahu bahwa papanya adalah kelemahan tante dan dia juga. Tapi Evangeline mungkin menggunakan kelemahan itu sebagai kekuatannya sekaligus. Entah bagaimana caranya dia bisa menjenguk papanya tanpa diketahui radar, dan bisa membawa pergi pria sekarat itu."


Keanu bergidik memikirkan hal itu. Tapi dia berusaha menyangkal kembali, "Tante, kalau memang Evangeline melakukannya tanpa sepengetahuan kita, pasti dia sudah memiliki aliansi. Evangeline pasti memiliki seseorang yang bisa membantunya."


Wanita setengah baya itu menggeram memikirkan kemungkinan yang mungkin dikatakan calon menantunya. Tangannya terkepal menahan amarah. Bagaimana bisa putrinya bertindak secerdik itu? Diluar dugaan dan tak terendus sama sekali?


"Percayalah, Keanu. Dia akan kembali kepadamu." Mama menepuk bahu Keanu sebelum melenggang pergi keluar ruangan.


Cowok itu merenung sendirian di ruang kerja mama Evangeline. Dia memikirkan sesuatu yang mungkin sempat tercium olehnya.


"Evangeline, apa bener yang gue pikir selama ini, kalo lo cinta sama gue?" Gumamnya.


Matanya mengerling, dan tertumbuk ke sebuah pigura di atas meja kerja. Foto Evangeline yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera.


Dulu Evangeline-nya selalu ceria. Dia adalah gadis paling merdeka di sepenjuru dunia. Karena seluruh pasang mata mengintainya setiap detik. Itulah yang membuatnya mengawasi Evangeline dengan berpura-pura menjadi anak tukang kebun.


Tapi gadis sombong itu tak tahu balas budi. Dia tak pernah sadar berapa kali Keanu menolong nyawanya yang hampir sekarat diserang musuh. Hingga suatu hari Keanu memberanikan diri menyatakan cinta yang sebetulnya tidak pernah dia rasakan, tepat di depan teman-teman Evangeline. Dan akibatnya ia dibully habis-habisan. Bahkan Evangeline mencemooh dirinya yang tak sesuai dengan kasta gadis itu.


Padahal niat Keanu hanya satu. Ia hanya ingin menyelamatkan Evangeline dari maut, untuk memenuhi kesepakatan Samudera dan Sonja terdahulu.


Pada akhirnya, Keanu memiliki kesempatan ketika mama Evangeline mengajukan sebuah kerja sama. Keanu menggunakan itu sebagai drama. Dia berperan sebagai seseorang yang membalas dendam, padahal hanya ingin menarik Evangeline secara paksa untuk menjadi milik, agar bisa ia jaga setiap detik.


Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa melindungi Evangeline, karena Keanu tak boleh melanggar janji. Mereka berdua harus bersatu, bagaimanapun caranya. Entah cinta atau tidak, yang penting harus bersatu, demi kejayaan aliansi mereka.


Sayangnya, mama Evangeline tidak membiarkan putrinya mengetahui rahasia apapun di antara dua keluarga. Evangeline tidak boleh tahu asal-usulnya, sebelum mentalnya siap menerima fakta.


Jadi, gadis itu betul-betul tidak memahami apapun tentang keluarganya, keluarga Keanu atau mengapa seluruh dunia mengincarnya. Seandainya Evangeline berhasil mengungkap fakta dengan mencari tahu dari mulut papanya, rencana mama Evangeline dan Keanu bakal gagal!


Sialan. Ini nggak boleh terjadi. Keanu harus bisa menemukan gadis itu sebelum mulut berbisa Gerald meracuni otak putrinya.


Gerald tidak boleh menghancurkan aliansi mereka dengan beralatkan Evangeline.