My Prisoner

My Prisoner
Forest



Rumah besar itu terasa sepi, hanya dihuni oleh beberapa orang. Lima pelayan, tiga penjaga, dua pengurus kebun, Evangeline, dan sang tuan rumah. Rasanya kosong, seperti Evangeline tinggal sendiri di villa ini. Sejak ia bangun beberapa menit lalu, tak ia temukan juga tanda-tanda kehadiran Adam. Mungkin laki-laki itu bekerja? Entahlah.


Cewek itu terbiasa dengan keramaian di mansion Keanu, yang dijaga oleh banyak bodyguard di tiap sudut, dan pelayan yang siap meladeninya kapanpun ia butuh. Sudah seperti di istana saja, apalagi mansion Keanu memang semewah itu.


"Nona Evangeline?"


Sang empunya nama langsung menegakkan tubuhnya yang bersandar malas-malasan di sofa ruang santai. Ia menatap maid yang sudah Adam tugaskan untuk menjadi pelayan pribadinya, sejak pertama ia kemari. Irene datang tidak dengan tangan kosong. Di tangan kirinya ia menenteng keranjang entah isinya apa, dan di tangan kanan ia menenteng tikar gulung.


Evangeline menatapnya penuh tanya. "Mau ngapain lo bawa tiker segala?"


Irene menunduk hormat. "Saya izin memetik buah di kebun belakang, Nona. Karena pelayan yang biasanya ditugaskan untuk itu sedang cuti. Soal tikar, saya membawanya untuk berjaga-jaga apabila diperlukan."


Cewek bersurai coklat gelap itu tampak berpikir sebentar. Kemudian ia menceletuk, "Gimana kalo gue ikut?"


Bola mata Irene sontak membulat. "Jangan, Nona. Kata Tuan Muda, Anda tidak diperbolehkan terlalu capek." Tolaknya halus.


"Kok gitu?"


"Kata Tuan Muda, Anda sedang mengandung, Nona. Jadi, Tuan Muda sangat mengkhawatirkan kondisi Anda."


Mulut Evangeline sontak menganga. Ia ingin tertawa keras, tapi seperti tidak etis. "Astaga! Serius amat, Tuan lo. Udah, gue nggak peduli, iya atau tanpa persetujuan Adam."


"Tapi, Nona-"


"Gue siapa lo sekarang?"


Irene menunduk. Nyalinya sedikit menciut ditatap setajam itu oleh calon istri tuannya. "Calon Nyonya Alanzo."


Meskipun geli dan tak suka, tapi Evangeline menjentikkan jari setuju. Untuk sementara ini, ia harus menjalankan drama yang ayahnya buat. Demi hasil yang sangat memuaskan.


"Lagian gue gabut nggak ada kerjaan."


"Mari, Nona."


Evangeline berjalan mengikuti Irene dari belakang. LorongĀ  villa yang mengarah ke belakang sedikit mengerikan baginya. Di siang bolong begini, lampu remang-remang dibiarkan menyala, menampilkan pendar cahaya yang tak banyak sementara tidak ada jendela sama sekali. Karena sisi kanan dan kirinya adalah ruang tidur para pelayan, dapur, dan ruang makan.


Dapur dan ruang makan ada di satu ruangan yang sama, hanya pemisahnya menggunakan tembok berpintu. Tidak ada yang spesial di ruangan itu. Sama seperti ruang belakang pada umumnya.


Kemudian matanya menelusuri sebelah kanan. Di mana terdapat kamar pelayan yang memiliki warna pintu seragam. Krem, yang kontras dengan dinding coklat batanya. Pembeda antara kamar satu dengan yang lainnya adalah nama yang terpajang di pintu. Terdapat sepuluh kamar, namun hanya lima yang terisi. Itu pun selang-seling, jadi masing-masing memiliki satu ruangan pembatas.


Kalau di sebelah kiri tidak ada yang menarik, kali ini matanya yang mulai terbiasa awas dan curiga menemukan sesuatu. Langkahnya kini sedang berjalan di depan kamar dengan nama 'Adelia'. Dua kamar berikutnya dari kamar Adelia, menggantung nama 'Irene'. Kemudian tepat di pojok, dekat kamar Irene, terdapat pintu dengan warna berbeda.


Sejak ia menginjakkan kaki pertama kali di lorong ini, kelihatannya semua pintu memiliki warna yang sama. Namun, ternyata pintu di pojok itu memiliki pintu yang sedikit berbeda. Sama-sama krem, tapi lebih terang. Atau mungkin karena pantulan cahaya dari pintu yang terbuka lebar?


Ketika langkahnya tepat di depan kamar tanpa nama itu, Evangeline merasa aneh melihat betapa bersih pintunya. Nyaris tak ada debu yang menempel. Tidak seperti kamar-kamar kosong lainnya yang pintunya dibiarkan sedikit berdebu. Bahkan handle pintu pelayan dan ruang kosong lainnya memiliki bercak coklat, yang mengindikasikan adanya pengkaratan.


Tapi, kamar pojok itu 'berbeda'. Handlenya bahkan terlihat mengkilap. Seolah sudah berkali-kali dirawat dengan baik.


"Nona?" Sialnya, panggilan Irene mampu membuyarkan konsentrasinya. Membuatnya melanjutkan langkah. Kali ini di sisi pelayan itu.


"Siapa penghuni kamar tanpa nama di sebelah lo?"


"Sebelah mana?"


"Paling pojok."


"Itu memang kosong, Nona."


"Ada penghuni sebelumnya?"


Irene menggeleng. "Sejak saya ditugaskan di sini, kamar itu sudah kosong." Gadis belia itu kemudian menoleh, menatap penasaran nona mudanya. "Kenapa Anda menanyakan ini?"


Evangeline menggeleng samar. "Kira-kira gue boleh nggak ya pindah ke kamar itu?"


"Anda merasa tidak nyaman dengan kamar yang sekarang, Nona? Nanti saya sampaikan kepada Tuan Adam."


"Nggak. Kayaknya asik gitu bisa tidur sandingan sama lo. Kayak ada temennya."


"Oh, iya. Nanti coba saya sampaikan kepada Tuan Adam."


Evangeline membentuk senyum samar. Ia berbohong, tentu saja. Supaya dia bisa mendapat sesuatu di kamar itu, apabila diperbolehkan pindah. Karena Evangeline mencurigai sesuatu, dan instingnya mengatakan ia harus melakukan sesuatu.


"Ini masih jauh?" Sejauh mata memandang, Evangeline belum melihat adanya tanda-tanda kebun. Di depan sana yang terlihat adalah padang rumput hijau, dengan kandang sapi dan kuda di tepian.


"Kebun apel ada di balik sungai, Nona." Evangeline mengikuti arah tunjuk Irene. Lantas matanya membola kaget. Sejauh itu ternyata. "Ini serius? Jauh amat."


"Itulah kenapa saya tidak memperbolehkan Anda. Kalau Tuan Adam tahu, saya bisa dipecat."


Tangan Evangeline menyingsing lengan kaos kebesarannya, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi, menunjukkan betapa ia kuat menggunakan ototnya yang kecil. "Jangan remehin gue, dong. Gue nggak bakal kenapa-kenapa, dan Adam nggak akan mecat elo."


Refleks, Irene tersenyum menertawai tingakah unik calon istri tuannya.


"Anda tampak sangat bahagia hari ini, Nona."


Dikatakan begitu bukannya menyangkal, Evangeline malah menepuk-nepuk dadanya bangga, sambil tersenyum selebar-lebarnya.


"Ngelupain masa lalu itu lebih baik, tau. Gue kesel juga terus-terusan galau."


Irene ikut tersenyum lebar, sambil menyodorkan jempolnya meskipun sulit karena kedua tangannya penuh barang.


***


"Bolos lagi?"


Cowok itu mengedikkan bahu tak acuh. Kemudian melempar tas punggungnya ke luar pagar.


"Nu, gue bisa kok bantuin. Tapi apa nggak mendingan lo bicara yang sebenernya aja ke sekolah, misalnya mau urusan apa kek gitu. Daripada gini, menimbulkan kesalapahaman loh."


Keanu mengerling. Ceramah Luna tak ada gunanya di saat seperti ini.


"Lo jadi mau ikut berburu nggak?"


Luna menggembungkan pipinya kesal. Sejak ia pindah ke sekolah Keanu atas permintaan Daraeus, ia seringkali direpotkan oleh cowok itu.


Keanu tidak satu atau dua kali membuat onar sekarang. Tiap ia disenggol orang lain saja, emosinya langsung naik dan menjotos orang itu tanpa ampun. Membolos di pertengahan hari seperti ini juga sudah biasa ia lakukan.


Lelah. Sangat.


Daraeus memintanya mengawasi dan 'menjaga' Keanu. Segala tindak-tanduk cowok itu yang pasti menarik perhatian media, ia bersihkan dengan bakatnya memanipulasi jaringan. Merepotkan sekali.


Tapi lagi-lagi demi orang lain, Evangeline. Luna dan Daraeus sepakat untuk tidak membiarkan Evanveline tahu apa-apa saja berita buruk Keanu, sekalipun cap monster itu tidak bisa hilang. Tapi, bisa saja berita-berita itu mengandung fakta yang keliru. Termasuk berita pernikahan Keanu dan Vita, misalnya.


Meskipun Luna merasa sangsi. Mana mungkin Evangeline diperlakukan dengan baik oleh penculiknya. Walau katanya, sang penculik mencintai gadis itu.


"Luna! Malah bengong lo. Jadi ikut nggak?"


Cewek itu tersentak dan menatap Keanu yang sudah nangkring di atas tembok pembatas, siap terjun. "Jadi, dong!" Balasnya heboh.


Tak sampai lima menit kemudian, tubuh kecilnya sudah ada di sisi Keanu dan mereka berdua siap meloncat ke bawah. Tapi, suara 'ckrek' dari belakang membuat mereka serentak menoleh.


Laki-laki yang habis memotret itu melenggang pergi begitu ditatap oleh sang predator sekolah. Kalau dilihat dari tubuhnya yang kecil dan memakai kacamata, dia pasti anak media dan kutu buku. Dia sudah pasti menyukai konten yang bakal ditulis di mading.


"Lakuin tugas lo kayak biasa, Lun."


"Tau gue."


***


Kawasan Markas 3 memang dibangun di tepi hutan. Suaka nyaman yang hampir mirip dengan Geodesic Home milik Luna. Kamar-kamar di sini dibiarkan berjendela besar yang menampilkan pemandangan hutan secara langsung. Bahkan dari kamar yang ditempati Luna saja, ia bisa melihat air terjun dari celah-celah pohon dengan jarak puluhan meter.


TOK! TOK! TOK!


Luna berjalan meninggalkan kasur empuknya ke pintu. Ia putar handlenya dan dapat ia lihat sosok Keanu sudah siap dengan seragam latihannya. Serba hitam, sama seperti dirinya.


Tanpa kata, mereka berjalan beriringan keluar gedung melalui pintu samping, yang langsung menghadap pada arena latihan seluas dua kali lapangan sepak bola. Namun, Keanu tidak akan mengajaknya ke sana.


Karena cowok itu mengajak berburu sungguhan di hutan.


Kebiasaan itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru sangat semangat. Karena dulu semasa kecil, ia kerap kali diajak kakeknya berburu rusa di Hutan Arkansas, Amerika Serikat.


"Gue kira hutan ini bersih." Ujar Luna membuka topik bicara. Sembari tangannya menyingkap tanaman liar yang tumbuh menjalar ke mana-mana.


"Ini wilayah gue. Gue bebas memelihara apapun, buat kesenangan kami di sini."


"Ya, ya, ya, coba kita lihat apa yang nanti kita temukan."


Tidak sampai lima puluh meter dari Markas 3, mereka berdua langsung melihat sepasang rusa. Betina dan jantan. Keanu langsung mengarahkan busur panahnya ke sana. Refleks, Luna ikut siaga di tempat.


Fokus mereka tak terpecah sama sekali, tetap membidik secara tepat ke target. Namun, ketika Luna menarik bowstring dan bersiap melecehkan anak panahnya, Keanu menjatuhkan panahnya sampai menimbulkan bunyi berisik. Kemudian rusa-rusa itu pergi. Membuat Luna mendesah jengkel.


"Apa yang lo lakuin, Keanu?!" Sengalnya tak sabar.


"Jangan hewan."


"Hah?" Luna menatap tak mengerti. Lantas untuk apa cowok itu mengajaknya berburu kemari dan mengarahkan panahnya ke rusa? "Ngajak ngelawak ya lo?"


"Gue punya feeling aneh." Jawab Keanu sambil memegang dadanya, berlagak nyeri.


Refleks Luna mengernyitkan dahi, tambah tak mengerti. "Elo yang aneh, bukan feeling lo."


"Gue nggak tau kenapa. Tapi gue tiba-tiba nggak tega memburu mereka."


"Gila ya lo."


Luna langsung beranjak pergi meninggalkan Keanu. Kesenangannya yang beberapa menit lalu meletup-letup kini lenyap sudah, hanya karena alasan tak masuk akal cowok itu. Padahal, beberapa hari lalu Keanu baik-baik saja.


"Luna!"


"Culun lo, balik aja ke markas. Gue mau berburu sendiri."


"Lo nggak diperbolehkan atas nama pemilik hutan ini."


Langkah kaki Luna sontak terhenti. Ia memejamkan mata berusaha meredam emosi.


"Jangan permainkan gue, Keanu."


"Hah."


Seumur hidup mengenal Keanu, Luna tak pernah mendengar cowok itu menghela napas lelah seperti itu. Pasti ada sesuatu, yang membuat pikirannya tiba-tiba kalut dan berbeda dari biasanya.


"Kita balik ke markas." Putus Luna, langkahnya berbalik. "Gue laper, mau makan."


"Kita semua tahu siapa calon pendamping Evangeline. Bakal beresiko kalo gue maju."


Kali ini langkah kaki Luna tak hanya berhenti, tapi juga melemas hingga ia terduduk di atas batang kayu yang sudah tanggal. Ia tatap sosok Keanu yang berdiri tak jauh darinya. Sudah beberapa hari mereka tidak membicarakan masalah ini, sampai Luna terlena dan melupakan sejenak tugasnya.


"Gue juga belom nyari jalan terang gimana caranya nerobos keamanan negara itu. Kapten Fillaes bukan hanya ketua dari tim militernya, tapi juga pemegang kendali seluruh keamanan negara. Jujur, gue sedikit kesusahan."


Keanu ikut duduk di di atas kayu tak jauh dari Luna. Matanya menatap kosong ke depan. "Nggak cuma elo. Gue lebih merasakan kesulitannya."


"Kita buat terowongan bawah tanah aja di pesta pernikahan mereka nanti. Selagi gue menyerang, lo menyusup ke kamar Evangeline."


"Gue capek, Lun."


"Evangeline juga capek, Keanu. Dia nungguin lo sejak berminggu-minggu lalu, dan lo masih anteng aja di sini."


"Bukannya gue nggak peduli. Tapi gue pikir, Evangeline bakal lebih aman di tangan cowok itu buat sementara ini."


Luna berdecih. "Jadi lo beneran nyerah?"


"Kita menunggu waktu paling tepat, Lun. Seenggaknya sampai dunia segan sendiri sama Evangeline, karena dia udah jadi bagian Keluarga Fillaes."


"Gue pikir yang berdrama itu cuma dunia kita."


"Kemanan negara tetap butuh topeng."


Tangan Luna menepuk-nepuk bahu bidang Keanu. Menyemangatinya sambil tersenyum hangat. "Evangeline selalu nungguin elo."


Keanu diam tak menjawab. Keyakinan Luna sudah cukup menggambarkan bagaimana Evangeline setia di seberang sana. Entah sampai kapan dia bisa menjemput gadis yang baru ia sadari esensinya itu.


"Biarin aja mereka bersenang-senang dulu, sambil kita menyusun strategi merebut Evangeline kembali. Lusa kita harus rapat, ada hal penting yang menjadi pertimbangan kita selama Evangeline di tangan musuh. Gue harap lo datang."


"Sudah pasti, Tuan Muda."