
Embun pagi ini, terasa dingin namun menyejukkan. Tanpa rasa, tapi menenangkan. Tanpa warna, tapi menyenangkan.
Evangeline terbangun di atas ranjang empuk yang sama dari beberapa hari ini menghuninya. Setiap pagi, dia selalu terbangun dengan mimpi-mimpi semu. Segala angan dan warna yang pernah ia impi-impikan telah lenyap, seiring dengan fakta yang semakin hari semakin merongrongnya bagai hantu hidup. Hidupnya terasa abu-abu, hampa, sunyi.
Aneh. Padahal dulu ia memuja kesempatan semanis ini, saat masih dalam kungkungan Keanu. Namun sekarang, ia mengharapkan untuk dapat kembali ke pelukan cowok dingin itu.
Dulu Evangeline hanya belum menyadari esensi Keanu dalam hidupnya. Sekarang ia telah membuka mata lebar-lebar. Bahwa Keanu adalah segalanya. Cowok itu mampu melindunginya dari apapun meskipun dengan cara yang tak wajar.
Adam? Dia memang bisa. Tapi, entah mengapa dia tidak merasa aman di dekat cowok itu. Atau mungkin karena hanya beberapa kali mereka dekat?
"Selamat pagi, Sayang."
Refleks kepalanya menoleh, dan matanya langsung terarah pada sosok yang menatap ngantuk di sisinya. Adam memang sudah beberapa kali menginap di kamarnya. Sejujurnya takut dan kesal, tapi ia tak bisa berbuat apapun ketika Adam membuat pintu penghubung di antara kamar mereka. Untungnya, cowok itu tak mencoba cari mati dengannya. Sejauh ini ia tahu Adam adalah laki-laki baik, yang tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
Hanya saja, obsesi cowok itu yang membuatnya mencari-cari kesempatan.
"Lo ngantor?"
Belakangan, Evangeline tahu Adam bekerja di perusahaan keluarganya. Menjadi CEO di kantor pusat, dan ayahnya -Reinaldi- menjadi Direktur Utama. Terkadang Evangeline bingung, bagaimana Reinaldi bisa membagi waktunya untuk beberapa pekerjaan yang sangat penting?
Pria itu adalah pembisnis sukses, komandan militer, dan pemegang kendali keamanan negara. Di usia senjanya pula, Reinaldi tak pernah terlihat letih atau stres. Beberapa kali Evangeline bertemu dengannya di rumah ini, Reinaldi selalu menyapa dan berbincang hangat dengannya. Tak pernah sekalipun pria setengah baya itu memperlihatkan emosinya yang meninggi.
Adam tersenyum sambil memejamkan matanya kembali, kemudian menggulingkan tubuhnya membelakangi Evangeline. Punggungnya yang polos tak berbusana terlihat sangat liat dengan warna kecoklatannya. Dengan bias matahari dari jendela, punggung itu terlihat seperti batang tembaga. Kalau saja Evangeline tidak pernah mengenal Keanu, ia mungkin akan jatuh cinta dengan Adam.
Cowok itu bahkan lebih gagah dari Keanu. Sungguh. Mungkin karena didikan dari ayahnya, dan membuatnya menjadi pria bertubuh tegap nan kuat layaknya pasukan militer.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Kenapa, sih?"
"Kamu nggak pernah bertanya begitu."
Evangeline berdecak. Ia menurunkan kakinya di atas lantai marmer kamarnya. Wajahnya ia hadapkan langsung ke sinar matahari. "Gue pengen masak buat sarapan."
Tubuh Adam langsung berbalik secepat kilat, menimbulkan bunyi berisik antara gesekan tubuhnya dengan kasur. "Oh, ke mana pembantuku? Apa mereka cuti? Kenapa nggak izin sama aku dulu?" Cercanya tanpa bernapas dengan baik. Dari tempatnya saja, Evangeline bisa mendengar napas cowok itu yang sedikit tersengal.
"Pembantu lo masih ada di sini dan mereka nggak cuti apapun. Gue cuma pengen masak aja kok." Katanya sejelas mungkin. Ia harap Adam mengerti.
Tiba-tiba saja, ia merasakan sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Disertai dengan hembusan napas hangat cowok itu di punggung dinginnya. Menggelikan, sampai ingin sekali Evangeline melepasnya. Namun, Adam mengeratkan pelukan.
"Aku tau kamu mencoba jadi istri yang baik. Makasih, Sayang."
"Gue cuma gabut. Geer amat lo." Balas cewek itu sedikit sewot. Seraya menarik sedikit kuat tangan yang masih melilit perutnya bagai lintah. Tapi, tak juga berhasil. "Lepas, Adam."
"Kamu mau aku lepas?"
"Ya iyalah. Gue mau ke kamar mandi, keburu ngompol nih!"
"Ada syaratnya dong."
"Apa?"
"Cium dulu."
Evangeline mendelik horor. Ia cubit kencang-kencang tangan keras itu. Sampai Adam mengaduh dan menyerah. Membuatnya berhasil menghilang ke kamar mandi, tanpa ditahan cowok itu lagi.
Sedangkan Adam tertawa kecil. Ia menggulingkan tubuhnya hingga berbaring telentang. Tak pernah ia rasakan hidup seberwarna ini, setelah adik kandungnya mati di tangan seseorang.
Seseorang yang sudah ia tahu identitasnya. Namun, Adam belum punya waktu untuk mengurusnya sekarang. Waktunya lebih berharga untuk Evangeline seorang. Gadis itu harus bisa dekat dengannya, agar terbiasa dengan keadaan yang tiba-tiba berubah ini.
Satu hal lagi. Ia ingat sosok Keanu. Laki-laki itu beberapa hari lalu memaksa untuk melepaskan Evangeline. Tapi, tentu tidak semudah itu ia menyanggupi permintaan Keanu. Mereka berkali-kali melalui obrolan alot yang sejujurnya tak terlalu penting.
Kemudian, hari ini Keanu minta bertemu sebelum benar-benar melepas miliknya ke tangan Adam. Dan mereka berdua membuat kesepakatan untuk tidak membawa senjata, alat, atau seseorang pun yang mengikuti.
Hal yang penuh pertimbangan untuk Adam. Terakhir kali ia meminta Vita untuk menyanggupi permintaan Keanu, laki-laki itu melancarkan siasat balas dendam yang sayangnya sudah ia curigai lebih dulu.
Kira-kira, apakah malam ini laki-laki itu akan melanggar kesepakatan? Mereka akan bertemu dalam keadaan bersih dan untuk menjalin kesepakatan damai. Adam meyakinkan dirinya sendiri, kalau Keanu hanya ingin memastikan Evangeline aman bersamanya.
Hanya itu. Iya, kan?
***
Selepas sarapan pagi yang rutin mereka lakukan, Adam mengajak Evangeline untuk berjalan-jalan di taman kota, sebelum cowok itu benar-benar pergi bekerja.
Evangeline juga merasa senang karena akhirnya ia menjemput keramaian yang mungkin -lagi- bisa menolongnya. Cewek itu membawa karpet, beberapa toples kecil berisi camilan aneka rasa, dan dua botol minuman ukuran besar. Sudah persis seperti mau piknik saja.
Sesuatu yang menarik perhatian Adam, hingga cowok itu berniat membujuk.
"Kita nggak akan lama, Sayang. Kamu nggak perlu membawa semua ini." Rayunya untuk entah yang ke berapa kalinya.
"Ntar kalo sisa, bisa lo bawa kerja." Kata Evangeline kembali menyanggah. Sambil tangannya memasukkan karpet ke dalam bagasi.
Adam mengerutkan alis mendengarnya. Serius mau dibawa kerja? Seperti anak TK, dong. Apa kata pegawainya nanti?
Evangeline setengah mendelik mendengar penolakan itu. "Ya udah, kalo gitu gue boleh bawa, dong."
"Ya, tapi di sana kita bukan untuk piknik, Sayang. Kita cuma menghabiskan waktu buat melepas penat kamu aja."
"Kalo gue nggak boleh bawa ke taman, lo harus mau bawa ini ke kantor." Ujar Evangeline tajam dan penuh penekanan. "Gue udah capek-capek ngemas, masa mau dibawa pulang? Lo mau menyia-nyiakan usaha calon istri lo ini?"
Sekalipun mau muntah mengucapkan gelar itu, namun Evangeline harus mampu membuat Adam mengambil keputusan. Enak aja cowok itu ngelarang ini-itu kayak Keanu. Yang boleh melarangnya banyak hal, kan cuma Keanu. Karena Keanu-lah pemilik segalanya yang ada dalam dirinya.
"Iya, iya, Sayang. Kamu boleh bawa ke taman."
Tanpa bisa dicegah, Evangeline tersenyum sangat lebar.
***
"Jadi, nyokap lo sekarang di Fontvieille?"
Adam mengangguk sambil menyeruput jus wortelnya. "Oma emang udah sakit-sakitan jadi mama harus setia menjaga."
"Pantesan gue nggak pernah liat nyokap lo."
"Kamu bisa ketemu dia kalo kita nikah di Monte Carlo."
Cewek itu sontak memelankan kunyahan marshmallownya, seiring dengan angin yang berembus semakin kencang. Matanya menatap kosong ke depan, tepatnya menerawang ke masa depan.
"Kita jadi nikah, ya?" Tanyanya tanpa nada. Sudah berkali-kali harapannya pupus. Tapi tetap saja fakta yang sedemikian penting ini mengejutkannya, seolah mampu menjungkirbalikkan dunianya dari ketinggian beratus kilo meter jauhnya.
"Tentu saja. Lusa kita bisa berangkat ke sana. Papa sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Sayangnya, harus tertunda sebentar karena berita kehamilanmu."
"Gimana kalo gue emang hamil?" Evangeline menoleh menatap Adam. Memicing tajam, seolah ingin menciutkan laki-laki itu. Tapi, Adam bersikap tenang seperti Reinaldi, dan malah terkesan menyebalkan.
Cowok itu mendengus terang-terangan. "Percuma kamu mengulur waktu, Evangeline. Kamu akan tetap menikah denganku di Monako. Papamu sudah mewasiatkanmu padaku."
Evangeline membuang muka. Marshmallownya yang tinggal satu gigitan terpaksa ia buang karena tak lagi bernafsu.
Ucapan Adam praktis mengingatkannya pada kejadian kemarin sore. Di mana Gerald memaksa Evangeline menggunakan testpack untuk membuktikan kebenaran ucapan putrinya. Dan hasilnya negatif.
Tak lama kemudian disusul dokter keluarga atas usulan Adam. Barangkali cowok itu berniat mempermalukannya. Karena hasilnya juga pasti negatif dan tidak ada tanda-tanda kehamilan sama sekali.
Evangeline ingin menangis kemarin sore. Ia masih ingat, berjam-jam mengurung diri di kamar mandi untuk meredakan emosi yang membeludak parah. Niatnya berhasil dibaca secepat itu. Padahal di lain sisi, ia juga sangat berharap akan ada kehidupan di dalam rahimnya. Manusia mungil yang senantiasa mengingatkannya dengan Keanu, dan satu-satunya ikatan antara dirinya dengan sang ayah jabang bayi.
Tapi, sudah ia katakan berkali-kali, kan? Harapannya lagi-lagi pupus. Namun, kali kemarin lebih menyakitkan. Seolah Tuhan benar-benar menyetujui tindakan Gerald untuk memisahkannya dengan Keanu.
"Gue mau beli gorengan di sana."
"Aku temenin."
"Nggak perlu!"
Adam mengerti hanya dari nada membentak pujaan hatinya itu. Ia kembali duduk dan membiarkan Evangeline pergi sendiri di seberang jalan sana.
"Bang, tahu petisnya dua puluh ribu ya. Pedes spesial."
"Siap, Neng. Tunggu sebentar ya?"
Evangeline mendudukkan diri di atas kursi plastik Si Abang Tahu Petis. Ketika kepalanya menoleh menyisir keramaian lalu lintas, matanya tak sengaja melihat kawanan anak-anak seusianya dengan seragam lengkap mereka. Sedang berjalan berombongan menyusuri trotoar.
Mendadak, hatinya dilanda nyeri yang dahsyat. Kawanan siswa SMA itu tersenyum gembira di sela langkah riang mereka. Tampak tak ada beban sama sekali. Merdeka. Dan punya masa depan cerah yang bisa mereka impikan dari sekarang.
Sedangkan dirinya? Diperebutkan ke sana-kemari tanpa esensi yang jelas. Ia rindu masa-masa gembiranya di sekolah. Banyak bertukar cerita dengan teman, baik dari angkatannya atau dua angkatan lain. Ia ingat Rano dan Ara. Dua orang yang sangat berarti di kelas. Tanpa mereka, Evangeline mungkin tak akan bisa tersenyum sepanjang hari di bawah tekanan Keanu.
Andaikan hari itu dia tidak gegabah dengan pergi bersama ayahnya. Ia yakin sekali semuanya tidak menjadi serumit ini.
Sebenarnya, ia tak tahu mulai dari mana tepatnya Tuhan membawanya ke naskah ini. Saat Keanu memutuskannya di kantin, saat ia membawa pergi papanya, atau malah ketika dulu mamanya memutuskan menikah dengan papa?
"Neng? Kok malah melamun. Ini tahunya udah jadi, Neng." Suara nyaring tukang tahu petis itu berhasil membuyarkan lamunan Evangeline.
Cewek itu segera merogoh uang di saku celananya. Tapi, ia lupa sesuatu. Ia tak pernah memegang uang semenjak bersama Adam.
Kepalanya sontak menoleh, menatap sosok Adam yang juga menatapnya sambil masih menikmati jus wortelnya. Ia singkirkan ego yang setinggi langit itu. Lantas tangannya melambai, meminta cowok itu mendekat.
Tak sampai dua menit, cowok itu sudah sampai di sisinya. Seolah mengerti, Adam segera mengeluarkan dompet dan merogoh uang lima puluh ribu dari sana.
Adam maupun Evangeline berdiri menunggu uang kembalian tanpa sepatah kata. Hingga tukang tahu petis bertopi itu berceletuk, "Den, kalo punya masalah dibicarain baik-baik. Tuh liat, Enengnya bengong sampe nangis." Sambil menyerahkan uang berjumlah tiga puluh ribu kepada Adam.
Cowok itu tersenyum tipis seraya berujar 'terima kasih'. Dan ketika badannya berbalik ingin merangkul Evangeline, cewek itu sudah tidak ada.
Evangeline sudah berjalan lebih dulu sambil mengusap kasar air matanya. Adam mungkin belum melihat air matanya, sehingga si tukang tahu petis menyadarinya lebih dulu. Atau mungkin Adam sudah tahu, tapi memang tak berniat memastikan.
Kedua-duanya mungkin.
Dasar cowok gila!