
"Sialan!"
Keanu meremas kuat ponsel dalam genggamannya. Sebelum akhirnya ia lempar benda pipih itu secara kasar ke tembok seberang. Menghasilkan bunyi 'prang' yang cukup kuat. Sampai membuat ayahnya yang sedang ingin masuk ruangan, bergegas membuka pintu sambil terperangah.
"Apa yang terjadi, Keanu?" Tanyanya seraya melempar pandang ke sebuah benda yang sudah tak berbentuk dekat dari tempatnya berdiri.
"Minggir, Pa! Aku mau mencari Orlando. Di mana dia?!" Tanpa sopan santun, Keanu sedikit mendorong tubuh ayahnya ke samping. Nyaris membuat pria paruh baya itu terjatuh.
"Tenangkan dirimu, Keanu."
"Di mana Orlando?" Tanya Keanu sekali lagi. Tak puas dengan kalimat penenang ayahnya.
Daraeus menghela napas sebentar. Putranya selalu berhasil menguji kewarasannya.
"Dia sudah berangkat ke Paris satu menit yang lalu."
"Apa?!" Sentaknya sekali lagi. Tubuhnya serta merta berbalik, untuk menatap mata yang mirip dengannya setajam belati. "Kenapa Papa selalu menyuruh dia di luar kendaliku? Papa, kan sudah punya kaki tangan sendiri."
"Papa membantumu, Keanu. Tidakkah kamu mengerti?"
Sedikit saja, ketajaman matanya meluntur. Begitu pula kekakuan wajahnya. Ia sadar, papa telah mengirim Orlando ke Paris untuk memata-matai musuhnya.
"Seseorang mengirim rekaman CCTV ke emailku, Pa." Daraeus masih diam, menunggu putranya melanjutkan bicara. "Aku butuh Orlando untuk melacak siapa pengirimnya."
Ada sebuah kejanggalan dalam ucapan putranya. Daraeus melangkah maju sedikit. Mengamati wajah putranya yang serta merta memucat. "Kamu nggak perlu melacak kalau memang nggak penting." Singkat dan penuh makna.
Maknanya jelas. Keanu harus bicara yang sejujurnya. Padahal membayangkan amarah papanya saja berhasil membuat nyalinya menciut. Apalagi kalau ia bicara yang sebenarnya.
"Keanu." Panggil pria itu dengan suara berat yang khas.
"Evangeline diculik."
"Bagaimana bisa?!"
"Tapi kita masih perlu membuktikan kebenaran rekaman itu, Pa."
"Papa nggak akan pernah memaafkanmu, Keanu, kalau sampai rekaman itu benar. Kamu sudah membiarkan dia lepas, dan sekarang kamu gagal mengejarnya."
Pria berperawakan tinggi tegap itu melangkah maju. Entah ke mana ia akan pergi. Tapi, Keanu tidak mengikutinya. Tidak ketika papa sedang dikuasai amarah dan siap membunuhnya kapan saja.
Bagi Daraeus, Evangeline adalah aset berharga. Gadis itulah satu-satunya pemersatu antara dua keluarga mafia paling berkuasa di seluruh dunia. Kalau sampai Evangeline mati, Daraeus tentu tak punya harapan apa-apa lagi untuk bisa membalas semua kebaikan keluarga Dvorak.
Tiba-tiba saja panas menjalar di kedua pipi Keanu. Ia merasa malu. Entah karena alasan apa.
"Stop it, Keanu. Lo harus nyari siapa pengirim rekaman CCTV itu." Katanya berbisik pelan, nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri.
Lantas kakinya segera membawa pergi dirinya keluar rumah, mengemudikan mobil secepat kilat, untuk menemui seseorang lagi kepercayaannya.
***
Sudah dua menit yang lalu, sejak Evangeline merasa lapar setelah sekian lama terbaring di atas ranjang super empuk entah milik siapa. Berapa jam dia terbaring?
Empat jam? Atau enam jam? Entahlah. Pokoknya saat Evangeline memaksa matanya menyesuaikan cahaya lampu kamar, ia melihat langit sudah gelap di luar sana. Berarti sudah berlalu selama lebih dari tiga jam sejak terakhir kali ia di kebun binatang pukul dua sore.
Evangeline mencoba bangun dari tidurnya yang seperti orang mati. Rasa pusing seketika mendera kepalanya, memaksanya untuk kembali berbaring.
Sialan. Entah siapa orang itu, yang berhasil membuatnya hilang kesadaran menggunakan obat berbahaya. Kalau Evangeline sudah bertemu orang itu nanti, ia akan bicara untuk lain kali jangan merangsang alam bawah sadar seseorang menggunakan obat mematikan.
Ruangan yang Evangeline tempati saat ini terlihat sangat luas. Bed yang ia gunakan ini saja berukuran king size, muat untuk dua orang. Warna cat temboknya putih pucat, mengingatkannya dengan tembok rumah sakit papa. Ah, bahkan tembok rumah sakit papa lebih nyaman dipandang, berwarna putih sehangat matahari.
Terdapat dua pintu di sisi kanan dan kiri tempat tidurnya. Entah apa isinya, Evangeline belum berniat melirik. Semoga saja ia sudah dibawa Keanu pulang, sebelum sempat melongok ke dalam sana.
Di seberang tempat tidur, terdapat lemari besar dengan kaca yang menyelimuti sepanjang pintunya. Dari tempatnya berbaring, Evangeline bisa melihat sebuah lukisan yang bertengger tepat di atas kepalanya dari kaca itu. Sedangkan di sebelah kanan tempat tidurnya terdapat nakas. Di sebelah kirinya terdapat meja rias.
Kalau Evangeline tidak salah menilai, ruangan ini belum ditempati siapapun sebelumnya. Dilihat dari betapa bersih dan rapi setiap sudutnya. Kacanya pun tampak berkilauan, seperti tak pernah terkena debu. Ah, bisa jadi pembantu rumah ini rajin membersihkan ruangannya.
Entahlah. Rasa pusing membuat Evangeline merasa lelah berpikir dan berniat memejamkan mata kembali. Bahkan mengesampingkan pemikiran betapa baik si penculik, mau memberinya tempat senyaman dan semewah ini. Evangeline pikir ia bakal dikurung di ruang pengap seperti gudang. Barangkali penculiknya ini memiliki sifat seperti Keanu, suka mengurung tawanannya di sangkar emas.
Namun, suara berisik yang berasal dari perutnya membuatnya kembali membuka mata lebar-lebar.
Menghalau rasa pusing yang semakin tak terkendali, Evangeline perlahan bangkit untuk duduk sebentar, menetralkan degup jantung dan denyut di kepalanya yang terasa menggila. Setelah merasa terbiasa barang sedikit, Evangeline menurunkan kedua kakinya. Membiarkan hawa dingin menyambut telapak kakinya yang telanjang.
Sekali saja, ia terjatuh karena rasa pusing yang luar biasa. Benar-benar sialan. Akan ia maki habis-habisan si penculik itu nanti.
TOK! TOK! TOK!
"Nona, saya masuk ya?"
CKLEK!
"Astaga, Nona! Biar saya bantu."
Dari sudut matanya, Evangeline dapat melihat seorang maid berseragam khas pelayan berjalan tergesa ke arahnya. Ia lebih dulu meletakkan nampan entah berisi apa di atas nakas, kemudian membalikkan badan membantu Evangeline berdiri.
"Terima kasih." Ucap Evangeline setelah ia berhasil didudukkan di atas ranjang dan menahan sekuat tenaga gejolak dalam perutnya.
"Bukan apa-apa, Nona." Ujar maid itu pelan. Sambil tangannya meraih sebuah mangkok berisi bubur dan duduk tepat di sisi tawanan tuannya. "Apakah Nona ingin berbaring lagi?" Tanyanya sebelum menyuapi Princess Dvorak.
Hanya gelengan kepala yang Evangeline berikan. Maid itu pun mengerti dan segera menyuapkan suapan pertama ke mulut Evangeline. Tapi, gadis itu langsung menahan tangannya, kemudian menatap matanya serius.
"Siapa namamu?"
"A-ah, Irene, Nona." Jantung pelayan itu hampir copot karena tiba-tiba Evangeline menatap sangat serius. Ia kira gadis itu mau apa, ternyata hanya menanyakan nama.
"Irene, siapa bosmu?" Kalau yang ini, Irene sudah menduga. Jadi ia bisa menjawab dengan lancar.
"Nona ingin bertemu dengan Tuan?" Kedua mata Evangeline tampak mengerjap. Tak ia percaya maid di depannya menawarkan sebuah tawaran yang menggiurkan. Seakan tahu apa yang tawanan tuannya pikirkan, maid segera menjawab, "Tuan sedang makan di bawah. Tuan juga mengizinkan Anda untuk menemaninya makan, Nona."
Mendengar kata terakhir maid itu, Evangeline langsung muntah betulan. Selain karena sudah tidak tahan dengan gejolak yang menderanya sejak tadi, juga karena memikirkan kepercayaan diri majikan sang maid. Mengizinkan bahkan sebelum Evangeline sudi untuk berjumpa. Cih.
Tubuh kecil wanita muda itu bangkit berdiri, lantas membersihkan kotoran yang dibuat Evangeline secepat kilat.
"Apa yang Nona rasakan? Saya akan memanggil dokter."
"Aku bisa sembuh kalau sudah makan."
Maid pemilik nama Irene itu tersenyum lembut. "Maag Anda kambuh ya, Nona?"
Seketika wajah datar Evangeline jadi cemberut. "Salahkan Tuanmu yang membuatku pingsan pakai obat berbahaya. Bagaimana kalau aku ternyata mati? Kalian bukan hanya repot karena memanggilkan dokter untukku, tapi juga repot mengerjakan pemakamanku dan menutupi kematianku."
Bukannya kesal, Irene justru terkekeh pelan. Menyebabkan Evangeline melotot kepadanya.
"Maaf, Nona. Saya akan memanggil Tuan dulu untuk menyelesaikan masalah ini."
Evangeline mendesah lelah. Jujur saja, selain kesal, ia juga deg-degan. Bagaimana kalau yang menculiknya laki-laki tua berumur, yang tergila-gila dengan kekuasaan Dvorak saja? Atau laki-laki psiko yang ingin memamerkan organnya kepada media, sebagai bukti bahwa penerus satu-satunya Dvorak sudah tiada? Kenapa rencananya jadi semenakutkan ini?!
Ah, memikirkannya terus juga membuat Evangeline kembali mual. Sepertinya kelaparan selama berjam-jam benar-benar membuat perutnya bermasalah. Gara-gara bius sialan itu!
CKLEK!
Tidak. Evangeline tak berani mendongak. Ia hanya memakukan pandang ke lantai di bawahnya. Menahan emosi, sambil menahan gejolak yang kembali ia rasakan di lambungnya.
"Evangeline Sonja, senang bertemu denganmu kembali."
Suara itu.
Kenapa sangat mirip?!
Perlahan... tapi pasti. Evangeline mendongak. Slow motion itu nyatanya begitu menyiksa. Tapi ia harus sabar sambil menjernihkan pikirannya, sebelum benar-benar menatap sosok pemuda bertubuh tinggi di depannya.
"W-what?"
Keterkejutannya hanya berupa bisikan lirih. Tapi ekspresinya sangat menghibur si penculik.
"Maafkan aku sudah membuatmu pingsan selama berjam-jam, dan menyebabkan maagmu kambuh. Mari kita makan bersama di bawah?"
Evangeline tidak menggubris ajakan laki-laki itu. Rasa kesalnya akibat dibuat pingsan sampai pusing saja belum reda. Ditambah fakta bahwa laki-laki yang sangat dikenalnya adalah dalangnya. Amarah langsung bergejolak dalam dada. Kepalan tangannya siap melayang. Tapi, sebelum terjadi, tubuhnya keburu limbung ke samping.
Evangeline kembali hilang kesadaran setelah tak mampu lagi menahan mual di perut.
Laki-laki berpostur tubuh tinggi dan pemilik mata sewarna samudera itu, lantas membenarkan letak tidur Princess Dvorak. Menyelimutinya sampai sebatas dagu. Kemudian meraba garis tulang wajahnya, mengamati lekukannya mulai dari dahi hingga dagu. Tidak ada yang berubah semenjak terakhir kali mereka bertemu di pesta rekan ayah mereka beberapa tahun silam. Malahan, Evangeline tambah cantik.
"Papamu akan bangga kalau kamu jadi milikku, Sayang. Tinggallah dan jangan pernah kembali ke tempat itu lagi." Katanya lirih. Tepat di samping telinga kanan gadis yang sudah berhasil mencuri perhatiannya.
"Irene!"
"Ya, Tuan?"
"Panggil Brandon kemari dan sembuhkan kekasihku segera. Aku akan pergi, dan pulang tengah malam nanti. Kalau kekasihku bangun, paksa dia makan dan minum obatnya."
"Baik, Tuan."