My Prisoner

My Prisoner
Hurimba Geodesic Dome



Di dalam ruangan berbau khas obat, terbaring seorang pria yang tampak pucat di atas brankar rumah sakitnya. Rambutnya berubah warna menjadi abu-abu, seiring dengan semakin bertambah usianya.


Di sisinya, duduk seorang gadis cantik yang menopangkan dagu di atas sebelah tangannya. Mata gadis itu membaca dengan bosan salah satu berita kriminal di ponselnya. Sesekali juga melirik ke jam dinding yang seolah bergerak lambat di seberang ruangan.


CKLEK!


Tubuhnya sontak memutar ke belakang. Menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Luna, kita harus pergi sekarang." Kata orang itu sedikit tergesa. Dari suaranya, Luna dapat menghapal siapa pemiliknya. Evangeline barangkali tidak dikenali di balik balutan jaket gelap di tengah malam seperti ini, tapi suaranya tidak sukar dipahami.


"Lo dikejar?"


"Untuk sementara ini enggak. Tapi kita harus secepatnya sembunyi."


Luna mengangguk. Tangannya dengan telaten melepas semua peralatan medis yang menempel di tubuh papa Evangeline. Kemudian mengambil kursi roda untuk meletakkan tubuh pria itu di atasnya. Dia mengenakan kacamata coklat yang mampu menyamarkan mata hijau zamrudnya.


Mereka kemudian berjalan keluar ruangan tanpa banyak gerakan mencurigakan. Untungnya tiap lorong yang mereka lalui telah sepi. Evangeline dan Luna bisa leluasa membawa pria paruh baya itu tanpa tanda tanya.


"Clear?"


"Sangat aman, Lin. Gue udah menyamarkan radar lo di sini. Lo nggak bawa logam atau besi atau yang sejenisnya, kan? Karena mereka tetap bisa menemukan lo kalo lo bawa barang-barang itu."


"Nggak. Semuanya udah gue buang di kali."


"Sip. Mereka bakal susah mendeteksi di bawah air."


"Tapi gue nggak yakin kalo Keanu nggak bisa nemuin gue."


Si cewek pemilik mata hijau zamrud itu hanya mengedikkan bahu. Di depannya sedang ada sedikit keramaian, jadi ia harus waspada.


"Kita nggak tau di depan itu siapa. Hati-hati, mereka mudah tersamarkan."


"Gue tau."


Keanu pernah mengajarinya untuk waspada di tengah banyak orang. Dia dipaksa untuk awas dan tak gentar sekalipun badai sedang berputar di sekitarnya. Dipaksa untuk tidak lengah sekalipun matanya menyaksikan hal-hal yang tidak baik.


"Keanu udah ngajarin lo banyak hal ya?"


"Dia selalu merecoki gue dengan adanya banyak bahaya. Gue nggak mungkin tenang gitu aja."


"Hm. Kalian pasangan serasi sepanjang yang gue tau di dunia gelap."


"Cuma dia yang ada di dunia yang penuh ketidak manusiaan seperti itu, Lun. Gue enggak."


"Yakin lo? Jadi mama lo nggak ngejelasin lo siapa sebenernya?"


Evangeline menghentikan langkah untuk menghadap Luna sepenuhnya. "Lun, gue nggak akan mau repot-repot minta tolong elo kalo bukan buat nyari tau. Gue nggak mau denger dari siapapun. Cuma dari papa gue mau tau."


"Kenapa?"


Wajah Evangeline mendekat. Matanya memicing menatap teman seperjuangan semasa SMP itu. Keluarga Haven ada di kubu Keanu. Tapi Luna tidak menyukai laki-laki itu entah karena apa. Jadi, meskipun Evangeline yakin Luna tidak akan mengkhianatinya, tapi ia harus tetap waspada kan?


Keanu itu licik. Siapa tahu esok hari dia tahu siapa yang sudah membantu pelarian Evangeline, dan langsung menyergap Sebastian Haven untuk mengancam Luna. Kemudian... Evangeline bisa membayangkan dirinya yang kembali ditawan Keanu.


Ia tidak mau hal itu terjadi!


"Setiap orang bisa mengkhianati siapapun."


Luna tersenyum manis. Tahu maksud dibalik ucapan temannya. "Lo bener."


***


"Samuel! Apa yang kamu lakukan? Kejar mereka!"


Sang empunya nama bergetar di tempatnya berdiri. Takut akan tatapan tajam atasannya, Dean. Mereka berdua jelas melihat secara langsung wajah pucat nan kuyu Geraldanio Sonja. Tengah dimasukkan ke dalam mobil dengan beberapa orang berpakaian hitam.


"Kita nggak bisa membahayakan diri kita, Mr. Mereka ada banyak."


Dean tertawa sumbang. Tak menyangka kekuatannya diremehkan oleh bawahannya yang bahkan tak pernah disapa oleh Daraeus ataupun Keanu. "Mereka bukan siapa-siapa, bodoh! Kita bahkan lebih kuat."


"Tapi kita tidak bisa memastikan jika Nona Evangeline terlibat di dalamnya."


"Apa maksudmu? Lima menit yang lalu Tuan Muda menghubungi kita untuk memantau Nona Evangeline dan ayahnya. Siapa lagi yang memiliki akses rumah sakit itu jika bukan Nona Evangeline sendiri?"


"Tapi yang saya takutkan jika Nona Evangeline ternyata diculik. Lalu kepergian ayahnya juga pengalih perhatian. Kita harus fokus ke Nona Evangeline, kan? Bukan ke ayahnya?"


Dean tampak berang di tempatnya berdiri. Dia menatap frustasi mobil yang platnya tertutup sehingga sulit untuk dilacak.


"Terserah kamu, Samuel! Kalau Tuan Muda tahu kita meloloskan mereka, kepalamu akan sampai di kakiku besok pagi!"


Samuel gentar di bawah tatapan Dean. Tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti logikanya. Meskipun ia sedikit ragu.


***


Evangeline dan Luna sampai di pelosok hutan tepat tengah malam. Mereka memarkirkan mobil jauh dari pusat tujuan. Bukan karena jalan yang dipenuhi pohon-pohon liar, tapi karena radar tidak boleh mendeteksi logam di area bersih yang disebut oleh Luna sebagai Lapangan Hurimba.


Evangeline belum tahu lapangan itu mewujud apa. Ia bahkan menganggap bisa saja Luna mengantarkannya pada hunian di tengah hutan. Karena Evangeline dan ayahnya diharuskan menetap di sana selama beberapa hari.


Namun, begitu kedua gadis itu sampai di tempat yang dimaksud, Evangeline sama sekali tidak melihat lapangan. Padahal Luna berkali-kali bilang kalau tempat itu adalah lapangan.


"Ini emang lapangan, Lin...." Luna menunjuk ke arah depan untuk yang ke sekian kalinya. Kemudian dibalas Evangeline dengan kerlingan mata.


Sebuah suara berisik datang dari belakang. Suara langkah kaki yang menginjak ranting atau daun kering hasil guguran pohon. Evangeline spontan sigap dan menatap Luna untuk bertindak awas. Tapi gadis bermata hijau itu terkekeh pelan seolah tidak akan ada bahaya.


"Maaf lama menunggu, Nona Muda." Suara lembut itu mengagetkan Evangeline. Serta merta menoleh dan mengendurkan kewaspadaannya. Setidaknya ia tahu, gadis di sampingnya ini anak buah Luna.


"Nggak papa, Grace. Tolong segera aktifkan Hurimba."


"Baik, Nona."


Gadis yang seumuran dengan mereka berdua itu mengeluarkan benda pipih kecil dari dalam saku. Memencet sesuatu di atas layar hingga muncul bunyi 'klik'.


Seketika itu juga Evangeline merasa sedikit goncangan di bawah kakinya. Hampir saja ia terjatuh. Tapi untungnya ada sebuah pohon yang menjulang di dekatnya, sehingga tubuhnya bertumpu ke barang pohon itu.


Tanah yang bergoncang hebat seperti gempa bumi itu dikarenakan sesuatu keluar dari dalamnya. Sebuah kubah yang terbuat dari kaca. Karena Evangeline bisa melihat berbagai macam furnitur layaknya rumah yang tampak dari ruang tamu.


"Kami memiliki hunian di dalam geodesic dome itu. Meski kelihatannya rawan karena musuh dapat melihat secara langsung letak kita, tapi kubah itu juga masih memiliki kubah. Sebuah pelindung berupa sinyal yang bisa mendeteksi logam dalam jarak berkilo-kilo.


"Selagi elo berlindung di sini sambil mempersiapkan diri buat pertempuran, musuh nggak akan bisa mengendus jejak lo. Karena kubah pelindung kasat mata dari radar."


Evangeline melongo mendengar fakta itu. Tak pernah ia sangka Luna akan meminjamkan fasilitas terbaiknya hanya untuk dirinya.


"Lun, gue nggak tau mau ngucap makasih kayak gimana lagi sama lo. Tapi semua ini rasanya harus ada imbalannya, kan?" Belajar dari Keanu, Evangeline tahu tidak ada yang gratis.


Tapi Luna hanya tersenyum menanggapinya. "Gue nggak butuh imbalan apapun, Lin. Gue seneng banget wilayah ini bisa menjadi tempat perlindungan lo dari bahaya. Ciptaan nyokap berguna banyak buat elo."


Mata Luna menerawang ke atas. Ke bintang-bintang di langit yang jarang mereka lihat di perkotaan.


"Tapi sayang, sebelum nyokap bisa menikmati hasil karyanya, bokap udah bunuh dia duluan."


Evangeline sontak menutup mulut. Baru kali ini ia mendengar Luna mengungkap kebenaran tentang kematian mamanya yang tiba-tiba. Dulu sewaktu mereka SMP, Luna menutup-nutupinya. Tak mau berucap jujur, membuat Evangeline dan teman-teman mereka yang lain bertanya-tanya.


"Sori." Evangeline memeluk Luna. Tangannya mengelus punggung gadis itu, menenangkan.


"Nyokap adalah agen intelijen negara. Dia ditugaskan menangkap penjahat kelas kakap dan penjahat dunia gelap. Itulah kenapa mama menikah sama papa. Awalnya demi sebuah misi, tapi mama malah jatuh cinta sama papa, dan misinya dinyatakan gagal.


"Identitasnya selama belasan tahun sama sekali nggak diketahui bokap. Dan sialnya, seseorang berhasil melacak identitas mama, terus lapor ke papa. Lo tau siapa orang itu?"


Evangeline hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Dia Keanu." Kedua mata Evangeline sontak melongo. Walaupun ia sudah biasa menghadapi sifat 'ajaib' Keanu, tapi tetap saja, mendengar kesaksiannya dari mulut orang lain membuatnya syok. "Laki-laki sialan itu bilang kalo dia liat mama jalan bareng sama teman intelijennya yang lain, dan membuktikannya dengan membuntuti. Kalo aja saat itu gue tau Keanu bukan sembarang orang, udah gue bunuh dia. Sayangnya identitas Keanu juga masih tertutup, demi keamanannya sendiri. Saat papa tau mama begitu, dia nggak segan membunuh. Karena papa merasa dikhianati."


"Kalo denger cerita lo, gue jadi inget nyokap. Dia bahkan mencelakakan papa demi merebut kembali haknya. Padahal gue tau papa melakukan semua ini demi kebaikan kami. Papa gue nggak mungkin membiarkan gue celaka di tangan orang lain kan, Lun?"


Luna melepas pelukan. Matanya menatap serius lawan bicaranya Evangeline terlihat putus asa. Tatapan mata yang belum pernah gadis itu tunjukkan sepanjang hidupnya. Ya, sebelum jatuh ke tangan Keanu.


"Gue nggak bisa jawab apa-apa. Gue nggak kenal watak papa lo kayak apa. Tapi gue minta satu hal. Saat lo udah bisa bicara sama papa lo nanti, lo jangan lama-lama sembunyi. Oke? Karena setelah lo tau kebenarannya, lo harus menyelesaikan masalahnya, Lin. Lo harus sadar kalo sekutu lo nggak ada. Gue nggak bisa terus berpihak sama lo, karena Keanu bakal segera tau. Gue nggak mau papa gelap mata dan mengincar kita berdua."


Evangeline berusaha tersenyum meski wajahnya terasa kaku sehabis mendengar jawaban itu. Kesadarannya kembali muncul karena dia memang bukan orang yang berpengaruh. Dia hanya incaran semua orang, senjata, pion.


"Makasih atas bantuan lo, Lun."


"Sekarang lo masuk, terus temui papa lo di dalam. Dia udah mengunggu."


Evangeline membelalakkan kedua mata sumringah. "Papa udah sadar?"


"Papa lo nggak kenapa-kenapa. Dia cuma dikasih obat pingsan dalam jangka waktu yang lama sama mama lo. Seolah-olah dia koma."


Jantung gadis itu nyaris berhenti. Satu lagi fakta yang tidak ia ketahui. Mama ternyata setega itu. Tapi daripada ia memikirkan mama yang wataknya saja tidak mencerminkan seorang wanita terhormat, ia lebih mementingkan sosok pria yang sudah menunggu di dalam sana.


Apakah mungkin papa akan tersenyum senang begitu melihatnya?


Sementara Evangeline masuk diantar oleh asisten pribadinya, Luna mengetik sesuatu di atas ponselnya. Kemudian, tak lama terdapat panggilan masuk. Dari papa. Sedikit gemetar, ia angkat panggilan itu.


"Pulang, Luna! Papa tau kamu di mana."


Luna mematung di tempat. Ia tak akan menduga papa tahu secepat ini. Tapi, dari nada suaranya terdengar khawatir. Apa Luna salah mengenali?


"Ma-maaf, Pa."


"Dramamu di rumah saja. Cepat pulang sebelum Keanu menemukanmu!"


Luna mencerna sebentar ucapan papanya. Kenapa papa kelihatannya tidak marah? Dia malah seperti khawatir kalau putrinya lecet di tangan manusia iblis itu.


"Luna! Kenapa diam saja?! Cepat pulang dan jangan gunakan mobilmu. Tinggalkan benda rongsokan itu di sana, nanti papa suruh anak buah papa buat ambil. Kamu dan Grace akan dijemput di utara, tapi kalian harus lewat bantaran sungai. Mengerti, Luna?!"


"I-iya, Pa."


Tut. Tut. Tut.


Luna menatap horor pada asisten pribadinya yang baru saja keluar dari Hurimba. Grace langsung mengerti dan bergegas menggandeng nona mudanya menjauhi Hurimba. Setelah sebelumnya Grace memencet tombol yang membuat Hurimba tenggelam kembali ke dalam tanah.


Tapi sebelum Hurimba benar-benar tenggelam, Luna menulis secara cepat sesuatu di atas kertas. Sekalipun tulisannya tidak dapat terbaca jelas karena goncangan yang membuatnya tidak dapat menulis dengan baik.


'Jangan mati dan tetap jaga diri. Maaf atas gempa yang tiba-tiba.'