
"Alin."
"Hm."
"Look at me, please."
Gadis itu tak menghiraukan panggilan di sampingnya. Matanya masih sibuk menelusuri angka-angka yang tersusun rapi di atas buku. Guru Matematika galak itu memberinya tugas tambahan gara-gara ketahuan berbohong.
Jadi, sepulang sekolah ini Evangeline langsung melesat ke perpustakaan, mengerjakan tugas itu secermat mungkin. Sampai tak menghiraukan kehadiran sang tunangan yang sejak tadi menemaninya dengan tampang bosan.
"Lo berani sama gue, Lin sekarang." Ujar Keanu sambil meletakkan kepala di atas bahu gadis itu. Berusaha menarik perhatiannya barang sebentar.
"Soal ini sulit, Keanu. Gue harus konsen buat ngerjain."
"Lo kesusahan tapi nggak mau minta bantuan."
"Gue nggak mau ngrepotin siapapun."
Keanu menarik buku catatan Evangeline. Matanya jelalatan ke atas-bawah, ke segala arah. Entah betul-betul mengoreksi atau hanya penasaran dengan tulisan indah gadis itu.
Tapi sepertinya Keanu memang berniat membantu. Cowok itu meraih bolpoin dari tangan Evangeline, kemudian menorehkan tintanya di atas kertas putih itu.
"Keanu, gue bisa sendiri." Evangeline berusaha merebut kembali dua benda itu dari tangan Keanu. Namun secepat kilat cowok itu menghindar.
"Gue nggak bisa tinggal diem lo kesusahan kayak gini."
Evangeline menghela napas sebentar. Matanya menatap lekat cowok kelewat tampan di depannya. Ia tahu kenapa Keanu susah payah mengalihkan atensinya, bahkan repot-repot mengerjakan soal Matematika yang bahkan tidak pernah disukainya sejak dulu.
"Nilai Matematika lo selalu di bawah tujuh puluh, Keanu. Bukan tanpa alasan lo jadi 'sok' suka Matematika gini."
Wajah dingin cowok itu tiba-tiba menyunggingkan senyum semanis madu. Evangeline tertegun melihatnya.
"Gue nggak nyesel milih lo jadi pendamping hidup gue, Lin. Lo bakal cocok sama gue yang nggak suka teka-teki."
Wajah Evangeline mendekat. Kedua matanya memicing. "Gue nggak pernah sudi kerja sama lo. Jangan samain arti pendamping hidup menurut gue dan elo, Keanu. Sekarang bilang, apa yang lo mau dari gue. Sampe mau repot ngerjain Matematika gue."
Keanu menyerah. Buku dan bolpoinnya ia letakkan kembali di hadapan Evangeline. Tubuhnya memutar ke samping, menghadap sepenuhnya ke gadis itu.
"Dengar, Evangeline. Detik ini lo masih bisa congak kayak biasa. Karena ada gue yang melindungi lo. Tapi gue selalu cemas tiap waktu, kalo lo nggak bisa sombong lagi kayak biasa."
"Setiap detik gue bernapas, pikiran gue nggak pernah lepas soal maut dan bahaya, Keanu. Seluruh mata dunia nggak pernah lepas dari gue. Meskipun gue nggak tau sebenernya gue alat siapa dan untuk apa, tapi gue sadar gue adalah senjata kalian semua."
"Bagus lo sadar sejauh ini. Biar gue kasih tau, Alin. Gue perlu membersihkan sesuatu yang mengganggu di luar sana. Sepulang sekolah, gue minta sopir pribadi gue jemput lo."
Kedua alis Evangeline sontak mengernyit. "Lo mau ke mana?"
Senyum Keanu kembali terbit. Kali ini bukan senyum mengejek seperti tadi. Lebih lembut dan malah terkesan senyum pedih.
"Ada perjanjian yang mengharuskan gue memilih. Gue harap lo ngerti."
Evangeline hanya diam. Bibirnya enggan berkomentar atau bertanya sedikit pun. Keanu penuh misteri dan ia selalu tahu cowok itu tidak akan membuka rahasia di depannya sekarang.
Baiklah. Evangeline akan menunggu jawaban sambil menurut layaknya anjing majikan.
"Oke."
***
Sesuai yang dikatakan Keanu, mereka berdua pulang sendiri-sendiri. Cowok itu belum terlihat batang hidungnya setelah mereka berpisah di depan pintu perpustakaan. Namun, Evangeline masih setia menunggu di halaman depan sekolah bersama sopir pribadi Keanu.
Dia penasaran, apa sebenarnya yang akan dikerjakan Prince Demon.
"Aku berterima kasih sekali sama kamu, Keanu. I don't know apa yang bakal terjadi selanjutnya kalo kamu nggak menolong aku."
"Jangan sungkan, Vita Arczhanka. Papamu mencetak nama baik di perusahaan kami. Sudah sepantasnya aku membantumu sekarang."
Mata Evangeline memicing tajam. Penglihatan dan pendengarannya masih sangat normal. Tapi, sungguh dia tidak salah dengar?
Keanu dan Vita Arczhanka -ketua OSIS tersohor dalam sejarah SMA mereka- berjalan beriringan menuju Maserati Granturismo milik Keanu. Mereka bahkan tidak sungkan untuk memanggil nama satu sama lain dengan 'aku-kamu' seolah sudah sangat dekat.
Evangeline jadi curiga. Jangan-jangan perjanjian yang dimaksud Keanu adalah mengencani gadis itu.
Melalui ekor matanya, Keanu dapat melihat tunangannya menatap penuh selidik. Tapi dia pura-pura tidak tahu dan melajukan mobil bersama gadis cantik di sisinya.
"Nona ingin pulang sekarang?" Pertanyaan dari sang sopir mampu menghentikan pemikiran liar Evangeline. Baru ia sadari mobil tunangannya sudah tidak tampak di depan mata.
"Ya, Pak. Sebelumnya kita mampir ke toko bunga dulu, habis itu ke rumah mama. Saya kangen sama beliau."
"Baik, Nona."
Tangan cekatan sang sopir membuka pintu mobil penumpang. Evangeline bergegas masuk dan benaknya merasa tak sabar bertemu mama.
Ada banyak hal yang akan ia tanyakan pada wanita paruh baya itu. Sudah cukup ia diam selama ini. Berlagak bodoh dan tidak tahu apapun padahal ia peka dengan keadaan sekitar.
Evangeline sadar ada sesuatu yang disembunyikan mama beserta keluarga besar Keanu. Bukan suatu kebetulan Keluarga Samudera tiba-tiba datang dan menawarkan bantuan. Ah, bahkan Evangeline tak yakin mama bisa setega itu menyerahkannya pada Prince Demon.
Meskipun Evangeline jarang menghabiskan waktu berdua dengan mama, tapi ia bisa membayangkan ada di posisi wanita itu. Sejatinya, seorang ibu tidak akan pernah tega membiarkan anaknya terluka. Artinya, mama tidak akan membiarkannya terjebak dalam masa lalu, kalau bukan untuk tujuan lain.
Sekarang, misi Evangeline hanya satu. Apa tujuan mama menyerahkannya pada Keluarga Samudera, selain karena butuh uang untuk menopang hidup mereka.
***
Sensor di atas pintu kaca itu memindai tubuh Evangeline layaknya ancaman. Padahal gadis itu sudah sering ke sini, bahkan bertahun-tahun menghabiskan waktu di sini. Sepertinya akan ia minta saja mama untuk mengubah sensor khusus dirinya.
"Mama?" Evangeline berjalan dengan sebuket bunga di kedua sebelah tangannya. Langkah kakinya mengarah ke ruang kerja di pojok barat.
Insting anak dan ibu nyatanya tak pernah salah. Evangeline dapat dengan mudah menemukan wanita yang sudah melahirkannya itu di sana. Sedang duduk membelakangi pintu, dengan sebelah tangan terangkat, dan bibir mengeluarkan kata-kata bahasa asing.
Mama pasti tidak menyadari Evangeline datang.
"If you can't do it, I will handle it."
"No, Daraeus. I know everything will get worse in the end. All of Gerald's assets will fall and we can control everything like before."
"Trust me, everything will be fine. Everyone has been waiting for our rise and fall of Gerald."
Mama menyeka keringat yang mengalir di dahinya, sebelum mematikan telepon dengan mengucap goodbye pada seseorang bernama Daraeus di seberang sana. Apakah itu Om Ares?
"Mama, are you fine?"
Tubuh wanita itu tampak sedikit terlonjak di atas kursi putarnya. Serta merta berbalik dan sedikit melotot melihat Evangeline sudah ada di depan mata.
"Oh, Sweetheart." Mama sedikit tergesa menghampiri putri semata wayangnya. Memeluknya menyalurkan rindu. "Mama kangen banget sama kamu."
"Ya, itu kenapa aku ke sini ketemu Mama."
"Keanu mana?" Mama mengurai pelukan dan menatap ke belakang Evangeline. Berharap menemukan seseorang yang ia tanyakan.
Evangeline tersenyum kecut sambil meletakkan buket bunga secara acuh di atas meja. Pantatnya ia dudukkan sembarangan di atas kursi. "Nyari mangsa baru mungkin."
Mama mengernyit mendengar jawabannya. Tapi Evangeline tak peduli. Ia memejamkan mata tak mau melihat ekspresi berlebihan mamanya.
"Apa maksudmu, Alin?"
"Mama tau seorang anak konglomerat nggak akan cukup sama satu wanita. Aku bukan seseorang yang dicintainya, Ma. Keanu pantas memilih wanita manapun yang pantas mengisi hatinya."
Tangan lembut mama menyentuh pucuk kepala Evangeline. "Keanu hanya belum bisa menerima semua ini, Sayang. Dia hanya berkewajiban membantu kita. Tapi tidak untuk mempercayakan hatinya padamu."
"Ma, aku cinta dia." Evangeline membuka mata. Sorotnya putus asa. Kepedihan bercampur jadi satu di sana. Bulu kuduk mama sontak berdiri ditatap seperti itu. "Aku naif waktu merengek sama Mama kalo aku nggak sudi sama Keanu. Aku cuma penasaran kenapa Mama bisa nyerahin aku ke iblis macam dia tanpa memahami perasaanku."
"Sayang, hanya dia yang bisa membantu kita."
"Evangeline tahu. Bahkan ketika semuanya mencemaskan aku, aku tahu kalian semua berperang memperebutkan aku. Kalian menarik perhatianku. Dan Keanu sangat beruntung berhasil membuatku jatuh cinta. Itu juga yang sekarang dilakukan orang-orang di luar sana, yang berusaha mengejarku, memanfaatkan kelemahanku.
"Entah dengan cara apa mereka bisa mendapatkanku kali ini, Ma."
Mama mendekap erat kepala Evangeline ke dadanya. Erat sekali. Seolah menyalurkan rasa takut yang sudah bertahun-tahun menghantuinya.
"Jadi bener, semua ini adalah rencana di atas kertas?"
Wanita setengah baya itu mengelus kepala putrinya penuh perhatian. Evangeline belum pantas mengetahui semua ini sekarang. Tapi, nyawa gadis itu lebih berbahaya jika tetap menutup mata.
"Sayang, dengar." Mama menarik kepala Evangeline untuk menghadapnya. Mata gadis itu refleks bertumbuk, bersiap mencermati setiap kata yang akan diucap mama. "Kami merencanakan semua ini untukmu. Keselamatanmu. Mama sudah menduga semua ini akan terjadi. Di mana kamu menjadi tameng 'mereka'. Tapi sekarang mama lebih tenang karena mama yakin Keanu menjagamu lebih dari dirinya sendiri."
"Ma, aku nggak paham maksud Mama."
"Percayalah, Sayang. Mama melakukan semua ini demi kebaikanmu. Mama nggak akan tega menjebloskan anak semata wayang mama ke dalam bahaya. Itulah kenapa mama memilih Keanu sekalipun dia pernah berbuat tidak baik padamu. Jadi, mau kamu percaya juga sama Keanu dan keluarganya?"
"Hm, itu bisa diatur. Tapi, Evangeline masih nggak paham dengan semua ini, Ma. Sebenernya apa yang mereka incar dariku?"
"Mama nggak bisa ngasih tau kamu sekarang, Sayang. Karena rencana sesungguhnya belum dimulai. Yang harus kamu percaya adalah kamu bukan senjata kami, bukan senjata Keanu. Hanya orang-orang bodoh itu yang ingin menjadikanmu senjata.
"Jagalah dirimu dengan baik, Sayang. Mama janji nggak akan biarin kamu jatuh ke tangan mereka. Janjilah juga untuk percaya hanya pada mama, bukan yang lainnya."
"Kalau semua ini demi keselamatanku, apakah itu berarti dengan mengorbankan papa?"
Wanita bergaya sosialita itu tercekat. Bibirnya serasa kelu. Bahkan ketika sang putri menatap penuh selidik, ia tak mampu mengucap sepatah kata. Ia harus berhati-hati. Salah sedikit bisa salah paham berkepanjangan.
"Dengan Mama mencelakakan papa, itu artinya aku punya kesempatan bersama Keanu sampai saat ini. Apakah papa setidak pantas itu untuk menjagaku, Ma? Sampai Mama lebih percaya Keanu ketimbang suami Mama sendiri?"
"Evangeline, kamu nggak ngerti!"
Evangeline lantas berdiri. Rasa muak tiba-tiba hadir begitu saja. Bertahun-tahun ia menjalani misi rahasia mama tanpa tahu sama sekali alasan dan tujuannya.
"Aku emang nggak pernah ngerti! Itu kenapa aku sekarang ada di sini, tanya sama Mama tentang semuanya. Rahasia Mama dengan Om Ares atau bahkan Keanu, tentu saja. Mama nggak akan pernah menduga, kan kalo ketidaktahuanku ini bisa menjebloskan anak Mama ke dalam bahaya?"
"Apa maksudmu?"
"Mama orang tuaku. Sudah seharusnya Mama mengerti dan paham tentang masa depanku. Jadi, tolong sebelum merahasiakan sesuatu, berpikirlah akan seperti apa kedepannya."
"Jangan menggurui mama, Alin. Papamu lebih dari hebat untuk hidup sendiri."
"Apa?"
Bingung. Marah. Sedih. Wanita itu bisa melihat semuanya di mata putrinya. Sorot yang selalu bisa menggoyahkan hatinya. Tapi, di saat bersamaan juga bisa menguatkannya untuk terus melindungi Evangeline. Anak tunggal, harta satu-satunya di dunia ini.
"Mama dan papa menikah karena terpaksa." Langkah kaki mama berjalan menjauhi titik berdiri Evangeline. Menjauhkan ekspresi wajah yang enggan ia tunjukkan di depan putrinya. "Papamu pernah berjanji menolong mama, melindungi mama dari bahaya. Tapi papamu bohong. Bisnis mama malah dihancurkan olehnya. Mama tentu nggak bisa bertahan dengan hal itu. Itulah kenapa mama berusaha menghancurkan papa sekarang."
"Dan bergabung dengan Om Ares untuk memulai bisnis baru?"
"Ya."
"Kenapa papa setega itu?"
"Mama nggak tahu."
"Tapi papa tentu nggak segila itu, Ma. Kenapa papa mau menghancurkan bisnis mama sementara papa punya segalanya?"
Pertanyaan Evangeline di luar dugaan.
Wanita itu kira putrinya masih sepolos dulu. Ternyata... Evangeline lebih peka dari yang ia tahu.
"Karena bisnis mama tidak pada umumnya, dan papamu tidak suka itu."
"Apa yang Mama lakukan?"
Mama menghadap Evangeline sepenuhnya. Dari jarak satu meter, Evangeline dapat melihat rambut kecoklatan yang wanita itu wariskan padanya, berkilauan di bawah sinar matahari. Keemasan, sedikit menyilaukan mata.
Sedetik kemudian, mama menggeleng mantap. Dia beringsut mendekat dan memegang kedua bahu putrinya.
"Mama janji akan mengungkap semuanya, Sayang. Bersabarlah hanya untuk mama dan dirimu sendiri. Tolong, jangan gegabah meskipun kamu merasa dibohongi. Tapi sebenarnya mama sedang menyelamatkan kamu."
Bibir Evangeline terbuka. Sepatah atau dua patah kata hampir keluar. Namun, suara ketukan pintu berhasil mengurungkan niatnya.
"Siapa?" Teriak mama sambil berjalan lambat ke arah pintu.
"Maaf mengganggu, Nyonya. Saya hanya menyampaikan pesan dari Tuan Muda Keanu. Beliau sedang menunggu Nona Evangeline di ruang tamu."
Mama dan Evangeline lantas bertatapan. Masing-masing memiliki ekspresi yang berbeda. Jika mama memasang wajah geli, Evangeline malah memasang wajah jengkel seperti biasa.
Ah, Evangeline, kan selalu sensi dengan tunangannya.
"Sayang-"
Belum sempat mama bicara, Evangeline sudah lebih dulu membuka pintu dan keluar ruangan sambil menghentakkan kaki. Sudah pasti langkahnya menuju ke calon suami yang setia menunggu di bawah sana.
"Gue mau nginep di sini!" Serunya sesampainya di pertengahan tangga. Tak mau repot mendekat dan bertatapan secara langsung dengan tunangannya.
"Lo bakal ganggu Mama lo kerja, Lin." Balas Keanu tak acuh. Tampak tak masalah dengan jarak jauh yang diciptakan tunangannya.
"Mama nggak sibuk, tuh."
"Alin, ayo pulang."
"Pulang ke mana?"
"Rumah."
"Rumah gue di sini."
"Rumah gue."
"Kenapa lo nggak ngajak cewek baru lo itu, hah?"
Keanu mengernyit. Dari batas pandang Evangeline, ia tetap bisa melihat wajah yang dibuat kebingungan itu. Evangeline sontak berdecih.
Halah, padahal Keanu sudah pasti tahu maksudnya.
"Alin-"
"Gue kangen sama mama, dan jangan ganggu gue, Keanu."
Cowok bermata perunggu itu terdiam. Gurat wajahnya menyiratkan berpikir keras. Sekalipun yang ditampilkan adalah ekspresi dingin seperti biasa, tapi Evangeline menghapal setiap gelagat laki-laki itu.
"Oke. Gue nggak maksa."
Kedengarannya janggal. Tapi Evangeline bersyukur akan hal itu. Jika hanya malam ini ia diberi kesempatan bebas, setidaknya Keanu sudah berbaik hati membiarkannya menenangkan diri.
"Mau makan malam sekalian, Keanu?"
Cowok itu tersenyum menanggapi ucapan calon mertuanya. "Nggak usah, Tante. Saya langsung pulang aja. Masih banyak tugas."
"Oh, iya. Salam juga buat Papa dan Mamamu ya?"
"Iya, Tante. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Malam, Tante. Malam, Evangeline."
"Malam, Keanu."
Evangeline menatap punggung kokoh Keanu yang perlahan menjauh dari ruang tamu. Kemudian tak tampak lagi barang sekelebat bayangnya di balik pintu penghubung.
Ia tahu Keanu kecewa. Tapi, toh sudah biasa cowok itu dibuat murka karenanya. Hanya saja, persetujuan Keanu beberapa menit lalu memunculkan tanya tanya dalam benaknya.
Sekalipun ia kerap menolak, tapi Keanu tak pernah menyerah membujuk. Laki-laki itu terus memaksa hingga ia mampu bertekuk lutut karena ancamannya. Tapi malam ini, entah mengapa hanya sebuah alasan klise saja, Keanu mau menyetujuinya.
Apakah karena... ketua OSIS itu sudah berhasil merebut perhatian Keanu? Hingga ia sudah tidak menginginkan Evangeline lagi?
Entah mengapa, memikirkannya saja membuat dada Evangeline berdenyut sakit. Memikirkan masa depan Keanu seperti yang ia bicarakan dengan mama tadi, membuatnya tak sanggup. Sekalipun tak suka, Evangeline harus mengakui fakta bahwa ia tak rela Keanu-nya bersama gadis lain.
Hah! Seharusnya Evangeline tidak usah memusingkan itu lagi. Apa pedulinya jika suatu hari nanti Keanu bersama gadis lain? Ia malah bisa bebas, kan?
Sekarang, yang jadi masalah adalah rahasia mama. Evangeline harus mencari tahu sendiri sebenarnya apa bisnis mama, kenapa papa berniat menghancurkannya. Dan mengapa mama melindunginya dengan cara seperti ini.
Hari ini, ia seolah sudah mendapat kata kuncinya. Kalau mama tidak mau membocorkan rahasianya, maka Evangeline sendiri yang akan mencari tahu.