My Prisoner

My Prisoner
Undangan



Sesuai ekspetasi.


Diego membawanya ke sebuah club mewah. Diisi oleh kalangan atas, terlihat dari pakaian gemerlap mereka, dan penjaga keamanan yang berpakaian lebih klimis. Evangeline mengira Diego akan membawanya jauh dari pusat kota, agar tidak kecolongan. Tapi, cowok itu ternyata tidak melihat sampai ke depan. Club ini seolah menjadi pintu keluarnya.


Jadi, habis ini Evangeline bisa lari. Semoga.


Kemungkinannya kalau gagal, Evangeline bakal dibawa ke Monte Carlo. Membayangkan besok pagi ia menikah di sana bersama orang yang sama sekali tak dicintainya saja, membuat hatinya sesak dan sangat sakit.


Mengapa pula sampai hari ini Keanu tidak menjemputnya? Padahal koneksi laki-laki itu di mana-mana. Apa yang dikerjakan olehnya selama ini? Apakah Keanu sudah melupakannya, dan sungguhan mengganti posisinya dengan Vita?


“Hei, Sayang. Ada apa? Kenapa matamu berkaca-kaca? Apa yang terjadi?”


Sentuhan dingin di kulit pipinya membangunkan alam bawah sadar Evangeline. Ia segera mengerjapkan mata, dan menatap hampa sosok laki-laki bermata sebiru samudera di depannya itu.


“Peduli apa lo? Kalo gue bilang yang sebenernya, lo juga nggak bakal ngelepasin gue, kan?”


Diego menghela napas. Kembali ia tegakkan tubuhnya. Dan menatap gadis berkalung aquamarine itu dengan sendu.


“Maaf. Bukannya aku kejam mengurungmu bersamaku. Tapi ini yang paling baik buat kamu, Sayang. Sekian tahun kamu tersakiti di tempat itu, dan sekarang aku nggak akan mengizinkan kamu kembali ke sana.”


“Kata-kata lo sama persis kayak Keanu. Dia bilang mau melindungi gue, tapi apa? Dia nyakiti gue juga. Dan elo, nggak beda dari dia.”


“Aku nggak akan pernah menyakiti kamu.”


“Berani bersumpah? Kalo sampe lo ingkar, berarti lo setuju buat ngubur mayat gue di depan rumah Keanu.”


Diego membalas dengan senyum. Sebelah tangannya mengacak rambut Evangeline, kemudian turun kembali untuk menggandeng tangan gadis itu.


Hingar bingar club terasa sedikit memusingkan bagi Evangeline. Selama di sisi Keanu, cowok itu tak pernah mengizinkannya ke tempat sejenis ini. Karena keamanannya selalu nomor satu. Tapi bersama Diego, laki-laki itu seolah membiarkannya terpapar. Ya, meskipun Evangeline yakin di dalam sini semuanya adalah teman.


Pura-pura teman maksudnya.


“Adam.” Sebuah sapaan hangat nan manja menyapa pendengaran pasangan cucu Adam dan Hawa itu. Mereka sontak menoleh dan langsung bertatapan dengan gadis pendek berambut blonde. Pakainnya terlihat sangat kekurangan bahan.


“Halo, Kenzie.” Diego membalas ramah. Ia bercipika-cipiki sebentar dengan gadis yang beberapa tahun lebih muda darinya itu. “Di mana Loren?”


“Lo tau kita nggak cocok.” Balas cewek itu sambil mengerucutkan bibir.


Diego membalasnya dengan kekehan. “Kembar seperti kalian memang merepotkan.”


“Lo pikir elo enggak?”


Otak Evangeline langsung memproses dengan cepat. Apa yang dikatakan gadis itu sedetik lalu terekam jelas dalam ingatannya. Siapa yang kembar?


“Diego.” Panggil Evangeline pelan, setengah berbisik. Laki-laki bermata sebiru lautan itu pun menoleh, seraya memamerkan senyum manis andalannya.


“Apa, Sayang?”


“Yang dibilang sama cewek itu–”


“Ah, nggak usah dipikirkan.” Diego menyela. Kedipan sebelah matanya ia lempar ke gadis blonde itu. “Kenzie suka sebercanda itu denganku. Iya kan, Ken?”


“Y-ya.”


Kenzie menatap sekilas gadis yang tengah dirangkul Diego dengan mesra itu. Evangeline terlihat sangat cantik dengan mini dress berdada V. Rambutnya yang dikuncir kuda menambah kesan leher jenjang. Otomatis memperlihatkan tulang pipi tingginya secara jelas, menguatkan auranya yang tajam.


Keturunan mafia memang berbeda. Evangeline seolah punya aura menarik lawan. Berbeda dengannya ataupun Diego, yang notabenenya hanya orang biasa dan tidak berpengaruh apa-apa.


“Kenzie, sampaikan salamku pada yang lain. Aku akan membawa kekasihku bertemu dengan kapten terlebih dahulu.”


Gadis blonde itu membungkuk empat puluh lima derajat. Senyum jahilnya mengembang sedetik kemudian. Membuat Evangeline ingin menamparnya, menyadarkannya bahwa ia korban yang harus diselamatkan sekarang.


Ah, tunggu. Diego menyebut kapten. Satu lagi kata kunci yang harus Evangeline cari tahu.


“Ini club milikku, Evangeline. Kamu bebas ke sini kapan saja. Tapi, untuk satu atau dua bulan ke depan, kamu belum bisa mengunjungi tempat ini kembali. Karena kita sudah ada di Monte Carlo.”


“Gue nggak mau pergi sama lo.”


“Papamu menunggumu di sana.”


“Papa gue ada di sini.”


Diego memutar badan. Ia perhatikan lekat-lekat Evangeline dari samping. Gadis keras kepala itu sepertinya harus diberikan buktinya dulu agar percaya.


“Kita bertemu kapten dan kamu akan tahu kebenarannya.”


Evangeline menyilangkan tangan dengan pongah ketika Diego akan menggandeng tangannya kembali. Membuat cowok itu mengalah dan mengarahkan tangan kirinya ke depan, mempersilakan Evangeline berjalan lebih dulu menuju ruangan tempat ‘kapten’ berada.


“Sini, Evangeline.” Langkah kakinya sontak berhenti. Ia membalikkan badan dan melihat Diego sedang mengetuk pintu. Seketika rasa hangat menjalar di kedua pipinya, malu. Gara-gara cowok itu yang menyuruhnya berjalan duluan, membuatnya kebablasan seperti ini.


“Masuk.” Balas suara berat dari dalam ruangan berpintu hitam.


Kalau dilihat-lihat, pintunya memang berbeda dari kamar-kamar yang lain. Terlihat mencolok karena diapit oleh banyak kamar di kanan kirinya.


Batin Evangeline merutuk si pembuat kamar. Membuat ruangan pribadi di tengah kebisingan itu enak? Barangkali ada pemabuk yang tak sengaja masuk ruangan dan membuat insiden, kan?


“Selamat malam, Kapten.”


Evangeline menyempilkan tubuh rampingnya di antara kusen pintu dan tubuh atletis Diego. Matanya melirik isi ruangan yang tak jauh dari ekspetasinya, seperti ruang kerja pada umumnya. Kemudian, bola matanya bergulir ke pojok kiri, di mana seorang pria berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan langit gelap dan bangunan-bangunan tinggi di sekeliling gedungnya.


Tak berapa lama, tubuh pria berambut ubanan itu memutar ke belakang. Matanya yang menatap lembut ke arah Evangeline membuat gadis itu bergetar seketika.


Bukan karena mata itu yang memikat. Bukan pesonanya yang luar biasa tampan sekalipun kerutan di sekitar matanya terlihat semakin jelas. Bukan karena tubunya yang masih tegap di awal usia senjanya.


Tapi, warna mata itu. Dan senyum yang sangat ia kenali.


“Om Rei?”


***


“Gue tau lo siapa, Vita! Ngaku sekarang atau gue harus membunuh orang tua kandung lo dulu?!”


Gadis berperawakan tinggi semampai itu terengah-engah di atas kursi listriknya. Keringat membanjir deras hingga seragam sekolahnya basah. Tenaganya seolah sudah terkuras habis akibat listrik yang mengejutkan tiap syaraf tubuhnya.


“Aku Vita Arczhanka, Keanu. Harus berapa kali aku bilang.” Katanya dengan lemah.


Drrt.


Sekali lagi, kejut listrik itu mengenai permukaan kulit Vita. Membuatnya kejang beberapa detik dengan mata melotot. Bibirnya terasa kaku sekali, berwarna seputih kulit zombie.


“Identitas lo di keluarga Arczhanka palsu.”


“Ka… mu… dijebak.”


Walau sulit, tapi Vita memaksakan bibirnya tersenyum. Senyum mengejek yang mampu menyulut emosi Keanu kembali.


“Siapa Tuan lo?!”


“Langkahi mayatku dulu, Sayang. Baru aku beritahu.”


Tanpa belas kasih, Keanu menarik keras rambut panjang gadis itu ke belakang. Sampai jerit kesakitan Vita memekkan telinganya. Tapi ia puas, itu artinya Vita sedang diambang kematiannya.


“Oke kalo itu mau lo. Gue dengan senang hati membunuh lo hari ini juga.” Keanu melepas tarikannya secara kasar. Ia beralih menoleh ke anak buahnya. “Charles, bawa belatiku kemari!”


“Baik, Tuan.” Balas pria berseragam hitam itu, kemudian berlalu keluar ruangan.


Keanu mengusap peluh yang membanjiri wajahnya dengan frustasi. Tak ada gunanya mempertahankan Vita. Gadis itu bersumpah setia pada tuannya.


Sambil duduk di kursi seberang, Keanu mengamati gadis itu yang sama letihnya seperti dirinya. Kata-kata Vita tentang ‘dijebak’ terngiang-ngiang dalam kepalanya. Apa tujuan Si Pengendali Vita sebenarnya? Perusahaannya, atau Evangeline-nya?


Tapi, Keanu tidak bisa mendapat info apapun dari gadis itu. Mau disengat berapa kali pun, Vita sudah sumpah setia dengan tuannya dan tidak akan pernah menjawab pertanyaannya.


Sial.


“Keanu!”


Cowok itu menoleh malas ke sumber suara. Luna berlari tergopoh-gopoh masuk ruangan. Wajahnya cemas dan pucat, seolah berita yang dibawanya terdengar sangat mengerikan.


“Gue tau apa yang mau lo bicarain.” Kata Keanu mendahului. Membuat Luna menatapnya bingung.


“Ini masalah serius, Keanu.”


Setelah dinyatakan kawan –dalam misi pencarian Evangeline- oleh Keanu, Luna kembali dengan kebiasaan lama. Menyebut nama laki-laki itu tanpa gelar. Untungnya Keanu tak lagi peduli.


“Di luar aja.” Putus cowok itu sambil lalu. Luna mengekor di belakangnya.


Markas kedua ini cukup besar. Masih resmi menjadi milik Daraeus. Kegiatan di dalamnya tak hanya mencakup kegiatan pelatihan prajurit saja. Tapi juga administrasi dan perbisnisan. Persisnya, Keanu tak tahu apa-apa saja yang dikerjakan ayahnya di sini.


“Nu, gue udah ketemu sama Quiin.”


“Siapa?”


“Ck, yang gue bilang sodaranya Vita.”


“Oh. Gue udah tau identitasnya dipalsu.”


“Hah? Vita sendiri yang ngomong?” Keanu mengangguk. “Terus dia ngaku yang sebenernya nggak?”


“Ngggak. Dan sekarang gue bener-bener muak sama dia.”


“Lo jangan macem-macem sama dia, Keanu. Kakak-kakaknya memegang peran penting di organisasi kita.”


“Kalo perlu, gue bunuh sekalian keluarganya.”


“Jangan!”


“Lun, gue nggak butuh anak buah seorang pengkhianat kayak dia. Vita termasuk orang yang melenceng. Dia udah terpengaruh sama musuh, otaknya udah ducuci dan kita nggak bisa benerin lagi.”


Luna tampak berpikir sejenak.


“Gue kira keluarganya nggak tau hal ini, Keanu. Lo masih aman kalo mau melepas Vita sekarang.”


Keanu menatapnya tak percaya. Senyum miringnya lantas tersungging, mengejek. “Lo pikir gue takut? Pengkhianat tetap harus dihukum, Luna. Tau atau nggak tau, keluarganya harus nerima konsekuensi kayak gini.”


“Tapi masalahnya orang tuanya nggak tau kelakuan anaknya.”


“So stupid.”


“Gue nggak peduli!”


Keanu serta merta bengkit berdiri. Ia berjalan cepat memasuki ruangan pengap itu. Tapi, yang ia temukan bukan Vita yang sedang kesakitan di atas kursi listrik seperti beberapa saat lalu ia meninggalkannya.


Yang duduk di atas kursi penyiksa itu adalah sosok laki-laki bermata sebiru samudera yang sedang tersenyum mengerikan ke arahnya.


Kepalanya menoleh ke sana kemari. Menatap tak percaya pada anak buahnya sudah terkapar tak berdaya.


“Luna!”


Gadis itu muncul. Tapi tidak sendirian. Luna datang bersama seorang pria berpakaian serba hitam dengan perlindungan penuh di seluruh tubuhnya. Kedua tangan gadis itu diborgol ke belakang, dan mulutnya disumpal kain.


Kemudian, di belakang gadis itu datang pasukan-pasukan lain dengan pelindung yang lengkap pula. Mereka seolah mengambil alih wilayah Keanu. Sampai salah satunya berani menodongkan senjata di kepalanya. Membuat Keanu mengangkat tangan.


Markas 2 dikepung.


Lagi-lagi.


“Anda tahu tidak baik menyekap seorang gadis malam-malam begini, Tuan Muda Arvid.” Laki-laki bermata biru itu bersuara sambil berdiri. Dia berjalan menghampiri Keanu, tapi tetap dalam jarak aman. “Apalagi berniat membunuhnya dengan belati?”


Keanu melotot melihat belati kesayangannya ada di genggaman laki-laki itu. Berwarna coklat di bagian genggamannya. Logamnya tampak berkilauan di bawah sinar lampu temaram. Ia yakin pahlawan Vita itu membaca rencananya, dan sudah memblokade tempat ini sejak awal.


Kalau tidak, mana mungkin dia bisa masuk ke sini? Padahal Daraeus sudah meletakkan penjagaan ketat di setiap sudutnya.


Benar kata Orlando, gadis itu sudah mengendus rencana ini.


“Gue nggak punya urusan apapun sama lo.”


“Siapa bilang?” Laki-laki itu memutar-mutar belati di tangannya. Ia tersenyum remeh menatap Keanu. “Anda punya banyak kasus di pengadilan. Saya kira sekarang waktunya Anda bertanggung jawab.”


“Berani lo bawa gue ke sana sekarang, besok pagi kepala Vita mampir di kamar lo!”


Bukannya takut, laki-laki itu malah tertawa sumbang. Badannya berbalik, berjalan menuju kursi penyiksaan. Meraba kursi itu, seolah sedang merasakan betapa sakit gadis kesayangannya meregang nyawa di sana.


“Anda akan tetap melakukannya bahkan sebelum saya menyerahkan Anda ke pengadilan.”


“Itu lo tau. Masih ragu, ya sama malaikat maut ini?” Kini berganti Keanu yang tersenyum remeh. Matanya menari-nari ke seluruh ruangan. Menerka berapa titik yang bisa meledak jika ia mau. “Tuan Asing, lo tau ini wilayah gue. Lo nggak ada hak berkuasa di sini. Lo nggak bodoh, kan dengan pura-pura nggak tau ada berapa bom di sini?”


Sontak, suara berisik senjata yang diangkat terdengar begitu nyaring. Secara bersamaan pula pelatuknya ikut ditarik. Dari ekor mata Keanu saja, ia bisa melihat betapa banyak anak buah laki-laki asing itu yang mengarahkan senjata ke arahnya.


“Terima kasih atas sanjungan Anda, Tuan. Tapi, jika Anda berkenan, saya ingin mengajukan syarat sebelum Anda meledakkan tempat ini.”


“Katakan.”


“Saya akan pergi tanpa meninggalkan atau membawa bekas apapun, asal Anda mengizinkan saya membawa Vita Arczhanka.”


Keanu meludah sembarangan. Mungkin sampai mengenai salah satu sepatu prajurit keamanan di sekitarnya.


“Gadis bodoh itu nggak berguna lagi buat gue. Tapi, dia tetap harus dihukum.”


“Anda bisa masuk penjara sekarang kalau begitu.”


“Lo nggak akan bisa menjebloskan gue ke tempat haram itu!”


Laki-laki bermata biru laut itu melemparkan belati milik Keanu ke sembarang arah. Kakinya kembali melangkah mendekati Keanu. Penawaran apapun akan ia lakukan jika memang bisa membuat Vita-nya kembali.


“Apa yang harus saya lakukan agar Anda berkenan melepas Vita?”


“Si Bodoh itu berjasa banget ya buat lo?”


“Anda tidak perlu tahu.”


Keanu menunduk sebentar. Ia tengah memikirkan berbagai kemungkinan, untung dan rugi apabila melepas Vita sekarang. Namun, rasanya untung dan rugi saja tidak cukup kalau belum bisa bertemu Evangeline.


“Katakan tujuan utamamu menjebakku.”


“Anda yakin tawaran itu yang Anda ajukan? Karena kita hanya punya satu tawaran.”


Cowok bermata perunggu itu mendanga. Menatap garang sosok bertubuh jangkung di depannya.


“Gue tau lo berusaha mengacaukan perusahaan buat mengalihkan atensi gue. Lo ajuin tawar menawar itu, lo minta Evangeline. Gue udah kasih, kan? Sekarang apa? Lo berusaha jebak gue dengan cara ini, kan?!”


“Saya tidak tahu tentang gadis yang Anda sebutkan.”


“Sialan! Lo tau, Bodoh! Kalo lo nggak tau, lo nggak mungkin ke sini.”


Cowok itu mengulurkan tangan kanan, memamerkan tanda di bawah gelang warna maroon. Sebuah inisial D, yang entah apa maksudnya. Diukir menggunakan tato permanen.


“Saya Diego, Tuan Muda. Saya hanya orang biasa, yang diutus oleh seseorang yang ingin sekali meminta pertanggungjawaban Anda.” Cowok itu membungkuk empat puluh lima derajat. Ia kembali menegakkan tubuh dengan senyum ramah namun mematikan, khas seorang agen negara. “Saya kemari karena Anda adalah pelaku kriminal negara.”


“Gue nggak bodoh. Lo adalah pasukan pilihan kapten lo. Dan kalian punya tujuan, buat ambil Evangeline..”


Laki-laki pemilik nama Diego itu membuang napas asal. Baginya percuma berkelit dengan mafia kelas kakap macam Keanu. Cowok itu tetap tahu yang mana benar dan yang mana bohong.


“Kami akan mengizinkan Anda bertemu dengannya. Tapi masih dengan satu syarat yang sama.”


“Si Bodoh Vita itu?”


“Ya. Dan jangan pernah usik hidupnya lagi setelah ini.”


“Cih. Gue bisa membalaskan dendam ke keluarganya. Ambil aja kalo mau.”


Diego menatap Keanu dengan mata memicing. Dasar pria licik.


“Kalau begitu Anda tetap terdakwa.”


“Gue persilakan lo buat tanya dulu sama Evangeline.”


Pria yang mengaku sebagai agen keamanan itu sedikit melotot. Membuat Keanu terkekeh menggelikan.


Tapi, tawa itu surut tak lama kemudian. Ketika sebuah undangan mendarat tepat di bawah kakinya. Berwarna silver dengan ukiran tinta navy. Sederhana namun elegan.


Dua nama yang tertera di sana terbaca terbalik dari posisi Keanu sekarang. Tapi, ia tetap bisa mengenali huruf depan dari salah satu nama.


Tak sabar, Keanu meraih undangan itu. Ia baca baik-baik tulisan timbul itu.


WE INVITE YOU TO CELEBRATE OUR WEDDING


Evangeline Sonja & Adam Diego Alanzo


Saat itu juga, rasanya dunia Keanu seperti berhenti. Lama sekali ia tatap serangkai kalimat itu, berusaha mencernanya baik-baik. Berkali-kali pula matanya mengerjap, barangkali nama yang ia baca salah ejaan. Namun, semuanya masih sama ketika ia membuka mata. Nama gadis yang bertahun-tahun menemaninya itu terukir apik di atas kertas, bersanding dengan nama laki-laki yang mirip dengan si pengamat keamanan.


Ketika Keanu menyadarinya, ia segera mengalihkan pandangan, mencari-cari cowok pemilik senyum mengerikan itu. Tapi, tidak ada. Entah bagaimana bisa ia tidak menyadari kepergian Diego beserta anak buahnya.


“Keanu.” Panggil Luna dengan lirih. Air mukanya tak terbaca, tapi Keanu yakin gadis itu tengah iba padanya. “Kenapa semuanya serumit ini?”


“Luna….”


“Ya?”


“Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Keluarga Alanzo.”


“Oke.”


“Sterilisasi juga tempat ini, jangan tinggalkan bekas apapun. Papa pasti setuju.”


“Berapa pemicu?”


“Dua puluh di bagian barat, enam puluh di bagian timur, lima puluh di pusat administrasi, lima belas di ruang penyekapan, dan tujuh puluh di selatan maupun utara.”


Markas 2 akan diledakkan. Luna harus cepat-cepat menyampaikan informasi ini ke anak buah Keanu.


Namun, sebelum ia keluar dari ruangan penyekapan, ia tatap sejenak wajah datar Keanu. Sekalipun dingin seperti biasa, tatapan matanya tetap tidak bisa bohong. Ada sejuta kesedihan yang terajut di sana. Lagaknya saja Keanu kuat. Cowok itu bahkan masih bisa tersenyum walau samar ketika salah satu anak buahnya menanyakan kondisinya.


“Keanu.”


“Hm.”


“Evangeline cinta sama lo. Dia nggak akan pernah bahagia sama pernikahan ini.”


“Tapi pernikahan ini nggak bakal terjadi kalo Evangeline menolak. Dia gadis yang sangat keras kepala, Luna. Dia pandai menolak.”


“Tapi dia tertekan, Keanu! Sadarlah sama posisinya. Sulit buat Evangeline berulah, apalagi dia sadar dalam keadaan nggak aman.”


“Selama gue tawan, dia berkali-kali mencoba meloloskan diri dan pernah berhasil, tapi gue nemuin dia nggak sampe dua jam. Sekarang Kenapa dia nggak nyoba lari sementara dia pasti bisa?”


Dengan gemas, Luna mendekati Keanu. Kedua alisnya mengerut kesal.


“Lo itu bodoh atau apa? Jelas suasana pas sama lo dulu dibanding sekarang sama si penculik itu beda. Evangeline udah mikir penuh pertimbangan, Keanu. Apalagi dia berkeyakinan kalo lo bakal jemput dia.”


“Udah telat, kan? Dia udah mau jadi istri orang.”


Luna menggeleng. “Nggak ada yang telat, Keanu. Dia masih nungguin lo. Gunain hari pernikahan itu sesingkat dan sebaik mungkin. Gue bakal bantu.” Sambil melempar senyum, Luna menjotos dada laki-laki berwajah dingin itu. “Jangan galau lah. Masa pembunuh berdarah dingin kayak lo cengeng, sih. Buktiin lo bisa bersanding sama Evangeline.”


Keanu berbalik menatap Luna. Gadis itu terlihat positive. Padahal ia tahu Luna sebenci apa pada dirinya, gara-gara kematian ibu kandung cewek itu. “Lo emang sahabat baik, Lun. Evangeline pasti bangga punya temen kayak lo.”


“Evangeline juga pasti bangga punya cowok super baik kayak lo.”


Pelototan Keanu membuat Luna tertawa nyaring. Ucapannya memang selucu itu ya? Padahal benar.


“Nggak lucu, Lun.”


“Gue tau, kok selama ini yang lo lakuin itu bukan sekadar main-main. Lo udah melakukan yang terbaik demi orang-orang yang lo sayang. Kalo gue jadi elo, gue juga bakal melenyapkan nyawa siapapun yang berani mengusik hidup gue atau papa.”


Keanu akhirnya tersenyum. Tulus sekali. Senyum paling ikhlas yang baru kali ini Luna lihat dalam sepanjang hidupnya mengenal Keanu, walau baru sebentar.


“Lo dan Evangeline itu sama. Cuma kalian berdua yang nggak nganggap gue monster.”


“Lupain. Omongan orang-orang itu nggak penting. Sekarang yang harus lo pikirin cuma Evangeline. Gue yakin sebenernya lo juga cinta, kan sama dia?”


“Gue?” Keanu membeo sambil menunjuk dirinya sendiri. Membuat Luna mengangguk antusias. Tapi, Keanu malah mendengus tak percaya. “Deg-degan aja enggak.”


Senyum Luna pudar seketika. Dasar cowok berhati batu. Mau sampai kapanpun nggak bakal peka kalo belum kena imbasnya.


Liat aja entar. Keanu bakal nangis darah gara-gara Alfonso atau siapa itu berhasil ngucap ijab kabul. Batin Luna bengis.