My Prisoner

My Prisoner
Secret?



"Ran!"


Evangeline tak bisa menahan gerak kakinya. Ia berlari tak sabaran menuju ranjang Rano.


Langsung menghambur memeluk laki-laki itu. Lega luar biasa melihat Rano dalam keadaan baik-baik saja, tanpa luka. Meski masih terselip khawatir karena cowok itu ternyata dikurung di sini.


"Kenapa lo bisa tau gue di sini? Lo sama siapa ke sini, Lin?" Rano membalas pelukan gadis itu. Tangannya mengusap kepala Evangeline setelah mendengarnya terisak pelan.


Berbagai macam pertanyaan menggelanyut dalam benak Evangeline. Tapi tak satu pun kalimat tanya itu mampu ia lontarkan sekarang. Melihat Rano dalam keadaan baik-baik saja sudah cukup untuknya.


"Lo sama siapa ke sini, Lin?" Rano mengulang pertanyaannya. Kali ini pelukannya ia lepas, memandang lekat ke belakang Evangeline, yang kemudian diikuti gadis itu.


Keanu tidak ada di belakangnya. Tepatnya, laki-laki itu menghindar dari Rano.


Sebenarnya apa, sih yang direncanakan Keanu? Kenapa menipunya begini? Rano tak terlihat sakit atau berdarah-darah seperti yang ia bayangkan semalaman.


"Ran, lo baik-baik aja, kan?" Evangeline justru balik bertanya. Tatapannya menelisik dari atas sampai bawah tubuh Rano.


Benar-benar tanpa cacat. Masih seperti Rano yang biasanya. Padahal semalam Evangeline bisa melihat dengan jelas motor Rano hampir delapan puluh persen rusak tertabrak truk. Dengan mata kepalanya sendiri juga ia mengenali rambut hitam cepak Rano.


Tapi sekarang, semuanya terlihat berbanding terbalik. Seolah yang ada di depannya kini hantu Rano.


Evangeline menggeleng tak percaya. Keanu berhasil membuat drama yang sama sekali tidak Evangeline duga. Entah berapa juta yang laki-laki itu habiskan untuk membuat gadisnya kapok.


"Lo apaan, deh, Lin natap gue segitunya. Gue masih sehat, tau."


"Rano, apa yang terjadi semalem?"


Rano mengernyitkan kedua alisnya heran. Menatap Evangeline penuh tanya. Tapi lekas ia jawab pertanyaan gadis itu.


"Nggak ada. Habis jenguk mama bentar, gue langsung pulang."


"Kenapa lo bisa di sini, Ran?"


"Harusnya gue yang tanya gitu ke elo, Lin." Rano tersenyum miring.


"Jawab, Ran." Kata Evangeline tegas. Tak mempedulikan kalimat Rano yang mampu memojokkannya.


"Tadi pagi bokap gue nyuruh gue ke sini."


"Ngapain?"


"Nggak tau juga gue."


"Lo tau ini tempat apa, Ran?"


"Gue sering ke sini, kok."


Rahang bawah Evangeline serasa jatuh. Matanya membola terkejut.


Bagaimana mungkin?


"Ran, lo nggak bohong kan?"


"Buat apa, Lin? Gue emang sering ke sini bantuin bokap. Tapi dari tadi pagi gue sampe, gue malah disuruh istirahat di sini. Tumben juga bokap nyuruh pas gue sekolah."


"Izin lo sakit, Ran."


"Ya pantes aja. Urusan bokap, kan rahasia, Lin. Emang kenapa, sih? Keliatannya lo cemas. Dan kenapa lo bisa tau gue ada di sini?"


Evangeline ingin memberitahu yang sesungguhnya. Tapi, sepertinya bukan sekarang waktunya. Ia harus mendengar jawaban Keanu dulu. Mengapa laki-laki itu tega membohonginya sedemikian kejam. Mempermainkan keadaan sampai ia seperti orang dungu.


"Ran." Kedua tangan Evangeline menangkup pipi Rano. Memposisikan wajah manis itu sejajar dengannya. "Gue janji bakal ngasih tau. Tapi nggak sekarang. Oke?"


"Lo mau kemana?" Seolah menyadari tindak-tanduk Evangeline, saat gadis itu perlahan bangkit dari kasur.


"Gue harus pulang. Gue kesini cuma mau mastiin lo baik-baik aja."


Rano tertawa sangsi. "Nggak lucu tau, Lin. Tiba-tiba dateng entah tau dari siapa, dan ninggalin gue dengan alasan paling nggak masuk akal. Kita teman bukan, Lin? Ayo cerita sama gue."


"Lo itu sahabat gue, Ran. Tapi kenapa lo nggak ngerti posisi gue sekarang?"


"Ya gue nggak paham kenapa lo tiba-tiba di sini dan nggak mau ngasih tau apa yang sebenernya terjadi. Tempat ini rahasia. Cuma sang pemilik dan antek-anteknya yang tau. Dan elo... bukan antek-antek Keluarga Arvid." Rano memicingkan mata. Tampak tak percaya dengan sesuatu yang terlintas sebentar di pikirannya. "Gue nggak pernah tau siapa pewaris asli Keluarga Arvid. Jangan-jangan itu elo?"


Keluarga Arvid?


Ngawur sekali Rano.


"Bukan, ih apaan sih. Pokoknya gue jelasinnya besok-besok lagi."


Rano melihat tubuh Evangeline yang mulai lenyap dari hadapannya. Menyisakan tanda tanya sedemikian besar yang terang-terangan ia ucap. Tapi enggan dijawab oleh gadis itu, setidaknya sekarang, katanya.


Tangannya mulai mengubek-ubek isi ponsel. Menscroll nama seseorang yang bisa memberikannya informasi mengenai hal ini. Namun, tampaknya seseorang berhasil mengubah isi ponselnya.


Rano mengacak rambutnya frustasi.


Ada yang sengaja mengendalikan ini semua.


Dan Evangeline terlibat.


Sial. Ada apa sebenarnya?


***


Evangeline menoleh pada seorang pria yang sempat dipanggil Keanu sebelum ia masuk ruangan Rano.


"Charles."


Pria bertubuh tinggi berbadan berotot itu tidak menjawab. Hanya menunduk empat puluh lima derajat memberi hormat. Evangeline mendecih melihat perlakuannya yang sangat berbeda dengan Keanu.


Hah, tentu saja. Semua orang 'dalam' tahu ia adalah tawanan Keanu. Tidak ada penghormatan yang sama antara tuan dan piaraannya.


"Di mana Keanu?"


"Tuan Muda menunggu Anda di mansion, Miss."


Evangeline menghentakkan kakinya kesal. Baru beberapa menit mereka sampai di sini, dan Keanu tega meninggalkannya begitu saja.


"Miss–"


"Aku-ingin-calon-suamiku-yang-menjemputku-sekarang."


Charles sedikit terhenyak. Sekalipun terkejut akan fakta yang harusnya ia pahami, ia lebih terkejut dengan pengakuan gamblang Evangeline. Seolah gadis itu ingin mempertegas statusnya.


Segera saja ia menunduk sebelum melenggang pergi menelepon Keanu, tentu saja. Atau malah pada asisten pribadi Keanu, karena nadanya tidak menunjukkan penghormatan sama sekali. Evangeline tak begitu memperhatikan, ia sibuk menatap jaring laba-laba yang bertengger di sana sini.


Markas besar ini dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai rumah tak terawat. Apapun pekerjaan Keanu di sini, Evangeline berhasil dibuat merinding karenanya. Otak cerdasnya mengarah ke perkerjaan gelap Keanu.


Karena, untuk apa modifikasi sekeren ini jika bukan untuk mengelabuhi orang lain. Iya, kan?


"Anda diminta menunggu di ruangan Tuan Muda, Miss. Mari saya antar."


Sebenarnya kalau dia punya pilihan, ingin sekali membalikkan badan dan menunggu Keanu di dalam ruangan Rano. Tapi, rasa penasarannya mungkin tidak bisa membuat keadaan jadi stabil. Malah ia takut akan hilang kendali di depan laki-laki itu.


Jadi, ia turuti saja langkah kaki Charles. Melewati lorong-lorong remang-remang dan berdebu. Menambah kesan mengerikan. Apalgi si pemilik bangunan adalah seorang demon.


Hingga mereka tiba di sebuah ruang persenjataan. Di sana tampak komplit. Senjata berjajar rapi dengan berbagai tipe dan merk, tapi berdebu, seolah sudah puluhan tahun tak disentuh. Namun, Evangeline yakin Keanu atau entah yang setara dengan posisinya sering menyentuh benda ini. Hanya saja diberi 'topeng' agar tak terlihat jejak mereka.


Charles terlihat memutar sebuah balok di rak selatan nomor 3 dari atas. Balok itu tak bisa tergapai dengan tubuh pendek Evangeline.


Terbukalah pintu rahasia. Menampilkan sebuah lorong yang menuju ke beberapa pintu. Charles membukakannya pintu nomor 2 dari tempat mereka berdiri, sebelah barat.


Ruang kamar bernuansa klasik. Ornamen di dindingnya terlihat mahal dan antik. Secara praktis, kamar itu lebih mewah dari mansion Keanu yang sekarang ditempati Evangeline. Terdapat jendela besar yang menampilkan pemandangan hijau khas hutan.


Kicauan burung terdengar sampai ruangan ini. Dapat ia lihat juga beberapa tumbuhan nakal merambat menjadi penghias alami jendela.


Evangeline mengira, kamar ini ada di bagian paling belakang. Ia tidak tahu pasti berapa yang berjaga di area pribadi sang tuan rumah. Memikirkan suatu saat Keanu dapat tertembak mati saja membuat darahnya berdesir. Antara bahagia dan sedih.


"Do you miss me?"


Suara menyebalkan itu hadir menyentak lamunan Evangeline. Ia tak akan heran kenapa dalam waktu kurang dari 10 menit raganya sudah sampai di sini. Keanu bisa saja baru berjalan 2 kilo saat Charles menghubunginya.


Tubuhnya segera berbalik dan menatap datar sosok tampan yang berdiri menjulang di depannya.


Tampilan cowok itu masih sama seperti saat mereka ke sini. Dibalut kaos v-neck berwarna hitam ketat, menampilkan tubuh berototnya hasil olahraga teratur. Bawahan jins warna senada.


Terlihat simpel tapi....


Refleks, Evangeline beringsut mendekat. Tak tahan untuk mengendus aroma Keanu dan merasakan otot liatnya.


"Lo jahat, Keanu."


"Lo selalu tau itu."


"Gue berhasil syok karena ini."


"Gue emang sengaja. Biar elo bisa bayangin seandainya kejadian itu nyata."


"Cukup. Jangan Rano yang jadi korban."


"Kenapa? Nggak mau cinta kalian berujung sama kayak elo dan Raymond, ya?"


"Stop, Keanu."


"Maaf."


"Buat apa?"


"Untuk semua keegoisan gue sama lo."


"Halah, udah biasa."


"Lin, gue serius."


"Cinta itu nggak perlu balasan, Keanu."


"Maksudnya?"


"Udah gue duga lo nggak bakal ngerti." Evangeline mendongakkan kepala. Rasa penasarannya masih menggebu. "Gue mau tanya sama lo."


"Gue tau apa yang mau lo tanyain. Tapi, sebelum gue ngasih tau, one kiss huh?"


Evangeline menjauhkan wajahnya dari dada bidang Keanu. Kakinya berjinjit dan tangannya berpindah melingkar di leher laki-laki itu.


Saat napas hangat Keanu mulai terasa di wajahnya, Evangeline mulai menutup mata. Dengan naluri, ia menggerakkan bibirnya dengan lihai, tanpa keliru.


Evangeline tersenyum sambil melepas pagutan mereka. Ia jauhkan wajahnya dan memandang mata gelap di depannya dengan senyum jahil.


"One kiss, huh?" Beo Evangeline. Meyakinkan sekaligus mengejek.


"One more, please." Dapat gadis itu dengar nada memohon dalam kalimat kekasihnya. Membuat Evangeline menahan tawa setengah mati.


"No, My Demon. You promised and you must keep."


"Alin... you see this."


Evangeline mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Keanu dengan dagunya. Sontak ia menutup mata. Membuat Keanu menahan geraman, gemas melihat tingkah imut gadisnya.


"Marry me and you enjoy mine." Suaranya dibuat selembut sutra dan manja. Seolah permintaannya bukan sesuatu yang sakral.


Keanu segera mendekap Evangeline dan membawanya berguling bersama di atas ranjang. Gadis itu ia posisikan di atas tubuhnya. Membiarkan napas hangat Evangeline menyapu lehernya.


Keanu memejamkan mata sejenak. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang mulai menggila. Ia mencoba fokus dengan pembicaraan mereka.


"Mau gue cerita dari mana?"


Berbeda dari nada bicaranya yang biasa. Kali ini Keanu bertanya lembut. Tubuhnya bahkan ikut mendramatisir keadaan. Tangannya menyelipkan helai-helai rambut yang menjuntai, mengganggu keindahan wajah Evangeline di belakang telinganya


"Dari awal gue ngasih tau lo kalo mau ke cafe."


"Okey, let's go hear."