
Langit semakin gelap. Membawa semilir angin yang mampu membuat tubuh setiap cucu Adam dan Hawa bergidik menggigil. Semesta dihiasi dengan kegelapan. Namun, di langit tergambar banyak hiasan. Bulannya bersinar remang-remang, kontras sekali dengan bintang yang bergemerlapan cantik di sekitarnya.
Di daerah perbukitan seperti ini, Evangeline dengan suka cita memuji keindahan langit, terkagum melihat salah satu Karya Tuhan yang paling indah itu. Maklum, ia terbiasa hidup di perkotaan yang cahaya kendaraan dan gedung-gedungnya berbaur menjadi satu hingga mengalahkan cahaya bintang.
Ketika matanya melirik jam dinding yang bertengger di tembok seberang, ia melihat jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Berkali-kali ia menguap, sudah sangat mengantuk sebenarnya. Tapi, ia tak mau memberikan kesempatan seekor serigala untuk menerkamnya.
Evangeline takut kalau ia membuka mata esok hari, ia sudah ada di negara orang lain, kemudian menikah bersama orang yang sama sekali tidak dicintainya. Sontak, membayangkannya saja membuatnya merinding.
Keheningan di tengah malam seperti ini nyatanya membawa pengaruh cukup baik dan cukup buruk secara bersamaan. Evangeline bisa menikmati tontonan filmnya dengan tenang, tanpa ada suara berisik yang mengganggu. Tapi, secara bersamaan pula ia sesekali mengingat pertemuan singkatnya dengan sang ayah, dan fakta yang mampu mengusik relung kalbunya.
Sambil mengeratkan sweater baby bluenya, Evangeline menyesap coklat panas yang masih mengepulkan asap. Sedikit saja, ia merasa tenang hanya ditemani secangkir minuman yang menjadi salah satu favoritnya itu.
Barangkali minuman itulah yang bisa menghiburnya sekarang, akibat kenangan tak mengenakkan beberapa jam lalu di club.
***
"Om Rei?"
"Halo, Princess. Lama kita tidak bertemu."
Evangeline bergeming. Bahkan tidak membalas pelukan Reinaldi yang merengkuh hangat tubuhnya. Ia masih tak percaya bahwa pria itu tahu keadaannya yang disekap oleh putranya yang gila. Dan mungkin yang dikatakan Diego benar, kalau ayahnya juga tahu.
"Ayo masuk, Princess. Kita berpesta sebentar sambil menunggu ayahmu kemari, ya?" Pria setengah baya berambut abu-abu itu menarik lengan putri rekan bisnisnya ke sofa. Mendudukkannya di sana. "Kamu mau minum apa, Princess?"
"Eungg." Evangeline menggeleng, kemudian mengangguk. Membuat Reinaldi dan Adam serentak terkekeh geli.
"Stay there, sementara aku akan membuatkanmu minuman, ya?"
Akhirnya Evangeline mengangguk mantap. Meskipun kalau menolak, ia akan menyesal, karena kerongkongannya terasa sangat kering sekarang.
"Jadi, papa sungguhan kemari?" Tanya Evangeline sambil menumpukan kaki kanannya di atas kaki kiri.
Reinaldi menoleh cepat ke arah putranya. "Kamu tidak memberitahu calon istrimu, Adam?"
Sang putra yang enggan dipojokkan pun mencebikkan bibir. "Dia gadis keras kepala, Pa." Membuat Evangeline melirik sinis.
"Maafkan Adam, Princess. Dia sekurang ajar itu dengan orang lain." Ujar Reinaldi melawak. Diikuti ringisan ala kuda nil Diego. Tapi Evangeline tidak bereaksi apa-apa, dia menjaga ekspresi wajahnya yang sedatar lantai di ruang kerja pria setengah baya itu.
"Sayang, aku akan bertemu dengan teman-temanku dulu. Oke? Kamu baik-baik dengan kapten, ya?" Evangeline biarkan saja Diego yang berbuat sesuka hati -mengacak rambut dan mengecup punggung tangan- pada dirinya. Barangkali malam ini menjadi kesempatan terakhir cowok itu untuk mendekatinya.
Suara pintu yang ditutup rapat membuat Evangeline menoleh ke samping kanan, menatap sosok Reinaldi yang sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya di atas meja kayu. Telaten sekali, seolah sudah biasa menyentuh barang-barang yang umum di kalangan wanita itu.
"Evangeline nggak menduga kalau teman papa ternyata punya jabatan setinggi itu." Celetuknya sambil menopangkan dagu, mengundang senyum Reinaldi yang tak kalah manis dari putranya. Evangeline berspekulasi Diego delapan puluh persen mirip ayahnya.
"Padahal tidak benar." Hanya itu jawaban yang dilontarkan Reinaldi. Sungguh membuat Evangeline tidak puas. Tapi, ia mengerti. Karena fokus pria itu sepenuhnya pada jus warna hijau yang tengah ia olah sekarang. "Jus alpukat sangat baik untuk nutrisi tubuhmu. Om kira malam ini sedikit panas?"
Evangeline sontak tertawa. "Padahal tidak ada matahari, Om. Kenapa bisa panas?" Kelakarnya, yang mampu membuat Reinaldi tertawa sedikit keras.
"Mungkin karena suasana hati kita yang panas. Bukan matahari?"
"Maaf, Om. Hatiku malah sedang berbunga-bunga. Karena aku dibuatkan jus alpukat oleh orang sebaik Om Rei." Kata Evangeline tanpa ada nada bercanda. Ia sungguhan memang. Berhari-hari dikurung Diego membuat emosinya naik, dan jarang tertawa atau tersenyum. Tapi setelah bertemu Reinaldi, hatinya membaik dalam sekejap. Seolah pria itu punya daya magnet positif untuk orang-orang di sekitarnya.
Perhatian Reinaldi padanya sejak dulu sampai sekarang juga masih sama. Bahkan, entah mengapa Reinaldi bisa lebih hangat dibanding papanya. Hah, bagaimana bisa pria selembut itu memiliki seorang putra yang edan seperti Diego.
Tahap terakhir, Reinaldi tampak memasukkan sedotan ke dalam jus alpukatnya. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Evangeline, dan menyodorkan minuman segar itu dengan senyum lembut.
"Kamu memiliki aura positif yang mampu menenangkan hati siapapun, Evangeline. Tadi sebelum om kemari, om sempat kesal dengan Adam karena dia minta waktu om secara mendadak. Tapi setelah om melihat kamu, om merasa seolah punya penyejuk. Yah..., tidak heran kalau putraku langsung jatuh cinta denganmu."
Reinaldi beranjak duduk di samping Evangeline. Matanya menatap lurus ke depan, seolah menerawang ke dalam bingkai foto Diego. Membuat Evangeline refleks mengarahkan pandang ke sana juga.
Gadis itu tak mengerti mengapa di ruangan ini tidak terpajang bingkai keluarga, tapi hanya terpajang foto Diego seorang. Umm, cowok itu bilang kalau ini club pribadinya. Mungkin saja ruangan ini bukan milik Reinaldi, tapi milik Diego.
"Evangeline juga merasakan hal yang sama seperti Om." Sambil ia sesap minuman dingin itu, ia pelototi terus-terusan potret Diego yang sedang tersenyum tulus ke arah kamera. Memandang lekat-lekat seolah tatapannya mampu melubangi kaca dan membakar kertasnya. "Berhari-hari aku dikurung dan kehidupanku seolah berubah jadi monokrom. Sampai detik ini, aku masih nggak ngerti kenapa Diego menculikku."
Helaan napas berat terdengar dari bibir Reinaldi. Sembari ia sandarkan punggung tegapnya ke sofa. "Adam mencintaimu sejak pertemuannya yang pertama denganmu, di pesta rekan kerjaku dan ayahmu beberapa tahun silam. Adam yang dulunya tidak suka berbasa-basi, bahkan tertutup sekali, dan jarang tersenyum. Sejak dia bercerita sehabis ketemu kamu, dia berubah seperti bukan Adam. Om sampai bingung membedakan dia dengan adik kembarnya. Lucunya baru pertama kali itu om bingung membedakan mereka."
Reinaldi tersenyum di kalimat terakhirnya. Geli dan gemas mengingat kenangan menyebalkan itu.
Tapi berbeda dengan Evangeline. Ia tak mampu mengukir senyum, karena mendadak seluruh bagian tubuhnya terasa kaku. Telinganya masih sangat normal, dan ia yakin Reinaldi juga tidak salah mengucap. "Jadi, Diego itu ada dua?" Tanyanya to the point. Membuat Reinaldi menoleh sambil mengerutkan dahi, ia jadi ikut bingung sekarang.
"Kenapa kamu masih tidak bisa membedakan Adam dan Diego, Princess? Padahal kamu sebentar lagi menikah dengan Adam. Kan nggak lucu kalau kamu memanggil Diego dengan sebutan 'sayang' juga." Pria berambut abu-abu itu terkekeh-kekeh. Menertawai leluconnya sendiri. Sedangkan Evangeline masih bertahan dengan wajah syoknya.
"Aku baru tahu sekarang kalau Diego ah- maksudku Adam, ada dua."
"Selama kamu bersama Adam, dia memalsukan namanya ya?" Cewek itu hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata. Reinaldi lantas menepuk dahi sambil mengumpat manis, "Oh, Adamku yang keren."
Kedua tangan Evangeline sontak mengepal erat. Pandangannya ia pakukan ke bawah, menatap kosong lantai marmer itu. Di manapun ia berada, ia selalu dibohongi. Bahkan oleh orang yang mengaku sangat mencintainya.
CKLEK!
"Sayang!"
Tiba-tiba terdengar suara berat setengah berteriak yang menggema di sepenjuru ruangan, bersamaan dengan suara handle pintu yang diputar. Evangeline dapat mendengar suara langkah kaki pria yang mustahil tidak ia kenali, sedang berjalan sedikit tergesa ke arahnya. Sedetik kemudian tubuhnya direngkuh pria itu. Erat sekali, seolah Gerald tak mau kehilangan putrinya untuk yang kesekian kali.
"Papa khawatir sekali sama kamu." Ucapnya, sembari mengecup berkali-kali pucuk kepala putri semata wayangnya.
Namun, Evangeline tidak menggubris. Tidak juga membalas pelukan. Ia bergeming tanpa kata. Amarahnya sedang menggelegak sekarang, gara-gara tahu papanya juga membohonginya, sama seperti mama.
"Sayang, ini papa membawa sweater untukmu. Papa tahu kamu suka pakai pakaian minim, apalagi di acara hura-hura seperti ini. Karena itulah papa tidak mau kamu kedinginan." Gerald mengurai pelukan. Ia menyodorkan sweater yang baru saja ia ambil dari paperbag. Namun, Evangeline masih menatapnya tak acuh dan membisu.
Gerald pun menyerah dan meletakkan outwear itu di pangkuan Evangeline.
"Kenapa Papa menjebakku?" Suara Evangeline setelah sepersekian detik terdiam. Ia mendongak, menatap lekat wajah lelah papanya. Lelah karena apa, ia tak tahu, dan tak mau tahu.
Pria setengah baya yang dipanggil 'papa' itu menunduk sejenak. Ia menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan sang putri, kemudian mengusap pipi tirus itu penuh sayang.
Lantas, pandangannya beralih sebentar ke Reinaldi, dengan tatapan penuh pengertian. Membuat teman yang sudah ia anggap keluarga itu mengangguk paham, dan melenggang keluar ruangan. Kini menyisakan ia dengan putri satu-satunya.
"Papa sayang sekali denganmu, Evangeline. Papa tidak ingin kamu kembali ke neraka itu. Sudah cukup papa diam selama bertahun-tahun dan tidak tahu apapun tentangmu. Sekarang papa tidak ingin kejadian itu terulang kembali."
"Papa membuatku tertekan." Sahut Evangeline lirih. Tapi masih mampu didengar baik oleh papanya. "Aku nggak bahagia, Pa." Lanjutnya disertai mata sendu.
"Sayang...." Gerald mendesah putus asa, kentara sekali letih. Elusannya di pipi Evangeline beralih ke surai coklat gadis itu. Mahkota yang mengingatkannya dengan Brenda, wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya sampai hari ini. "Awalnya memang tidak nyaman, tapi papa yakin kamu akan terbiasa. Kamu hanya perlu tahu kalau Adam sangat mencintaimu dan dia bisa menjagamu lebih dari dirinya sendiri."
"Menjagaku? Dengan cara apa?" Gadis itu malah mencemooh. Senyum sinisnya tercetak. Tak ia sangka Gerald sedangkal itu dalam mengukur kebahagiaan putrinya.
Masih ia ingat jelas, kala dulu Gerald bahkan nyaris tak pernah menghabiskan banyak waktu untuknya. Ketika ada waktu, pria itu selalu mengajaknya ke pesta. Hanya itu kebersamaan mereka di akhir pekan.
Wajar ia heran sekarang. Papa seolah tahu apa-apa saja keinginan dan kebahagiaannya yang sejati. Padahal, enam puluh persen hidup pria itu diabadikan untuk bekerja dan menghancurkan aliansi mama -mungkin.
"Dengan caranya sendiri yang jauh lebih baik dari Keanu."
"Serius, Pa?" Tangan Evangeline mengibas, berlagak pongah. "Bagiku Keanu sudah yang paling baik dalam menjagaku. Dia sangat protektif, aku akui lebih protektif daripada mama atau papa. Tapi, aku tahu sebenarnya dia peduli dan menyayangiku. Dan dengan cara itulah dia menjagaku. Sedangkan Adam? Baru beberapa kali mengobrol denganku saja sudah berani membawaku ke tempat terbuka seperti ini."
"Bukankah kamu tidak bahagia dengan Keanu, Sayang? Kamu pernah mengeluhkan betapa protektif sifatnya, yang membuatmu tidak nyaman. Lantas kenapa sekarang kamu berubah pikiran? Apa karena Keanu sudah menghasutmu?"
Evangeline menatap sedikit nyalang. "Jangan sok tau, Pa." Ia bahkan tak peduli lagi kalau kata-katanya terdengar kurang ajar. "Keanu nggak punya apapun yang membuatku menggilainya. Aku mencintainya tulus dari hatiku, bukan karena alasan apapun."
"Masih kamu percayakan hatimu padanya?" Tanya Gerald bernada tak percaya. "Dia sudah melukaimu dengan hebat, Evangeline. Sadarlah. Sekarang dia sedang menikmati waktu santainya bersama kekasih barunya, kekasih yang akan mendampinginya dalam memimpin kerajaan. Sudahkah kamu mendapat undangannya, Sayang?"
Cewek itu membuang muka. Tak mau air mukanya yang berubah muram diketahui papa. Selama beberapa hari ini ia berusaha mati-matian membangun pertahanan untuk percaya hanya pada Keanu, bukan orang lain. Ia tahu sebenarnya ada yang disembunyikan cowok itu. Lagipula, Keanu punya hati beku yang sulit dicairkan. Cowok itu tak akan mungkin cepat menyadari sudah punya perasaan khusus dengan Vita, sementara mereka baru beberapa kali bertemu.
"Segala ucapan kalian nggak akan mempan untuk mempengaruhiku. Aku kembali hanya untuk Keanu, bukan yang lain kalau itu yang Papa khawatirkan."
Gerald menggeleng-gelengkan kepala. Ia enggan disudutkan.
"Justru itu yang papa khawatirkan, Sayang. Papa tidak mau Keanu merubahmu menjadi buruk dan membawamu dalam bahaya. Dia adalah pemuda ambisius dan monster terkejam yang pernah papa kenal. Kamu lebih pantas bersanding dengan orang sebaik Adam, dibanding dengan iblis mengerikan seperti Keanu, Evangeline."
"Papa sama seperti Adam!" Raung Evangeline sambil berdiri. Ia berjalan mendekat ke jendela besar, menatap bulan yang setengahnya tertutup awan kelabu, mendung. Sama seperti hatinya yang kelam. "Kalian mengukur pantas atau tidaknya calon pasangan hidupku. Padahal kalian bukan Tuhan, kalian tidak boleh bertindak sesempurna itu."
Tubuh Gerald bergerak duduk di atas sofa. Dalam benaknya sudah terbayang akan seperti apa masa depan putrinya bersama seorang monster.
Keanu adalah pemuda yang masih berumur delapan belas tahun. Tapi dia mencetak banyak sekali pengalaman mengerikan yang membuatnya langsung ditakuti. Kisah-kisah itu membuatnya mendapat julukan pembunuh berdarah dingin, tak kenal ampun, monster, iblis, dan masih banyak lagi yang jelek-jelek.
"Papa tahu yang terbaik untukmu, Evangeline. Keanu bukan laki-laki baik untukmu. Itulah kenapa papa selalu melarangmu kembali. Tapi kamu melanggar kata-kata papa." Jeda sebentar. Untuk Gerald menghela napas dan mengambil sebatang rokok dari dalam saku celananya. "Menikahlah dengan Adam dan dia akan menjagamu lebih dari Keanu menjagamu."
Sudut bibir Evangeline tertarik ke atas, membentuk senyum miring. Alur hidupnya dibuat sama persis dengan alur hidup mama dan papa. Ketika papa dulu berjanji akan menjaga mama, tapi malah menghancurkannya. Sama persis dengan sekarang, ketika Adam berjanji akan melindunginya sepenuh hati, tapi malah akan meruntuhkan semua yang sudah nenek moyangnya bangun sejak awal.
"Papa berbicara seolah-olah tahu aku lebih dari diriku sendiri. Padahal sebagian besar hidup papa tidak pernah digunakan untuk memahamiku."
"Papa sangat memahamimu, Evangeline! Itulah kenapa papa sangat ingin kamu menuruti kata-kata papa."
"Papa tidak pernah memahamiku dan nggak akan pernah bisa memahamiku!" Bentak Evangeline keras. Ia benci ada di situasi sulit seperti ini. Ketika segalanya yang ia inginkan bisa ia dapat dengan satu jentikan jari di masa kecil, sekarang berubah jadi sekelumit masalah.
"Evangeline...."
"Aku tahu papa sengaja membentuk alur yang sama persis dengan mama di hidupku. Sadarkah, Pa? Apa yang Papa lakukan itu salah. Papa berniat menghentikanku, yang mencintai Keanu sepenuh hatiku." Evangeline memutar badan ke samping. Matanya menajam, bersamaan dengan hidungnya yang mengerut akibat bau asap rokok. "Coba kalau dulu Papa juga disuruh begitu oleh orang tua Papa. Apakah Papa mau?"
"Papa mencintai Mamamu sepenuh hati papa. Tapi, papa nggak pernah setuju sama apa yang dia lakukan di belakang papa. Papa merasa terkhianati dan terpaksa melenyapkan dunia gelap mamamu sedikit demi sedikit. Demi keselamatannya sendiri, Evangeline."
"Kalau Papa memang tulus mencintai mama, seharusnya Papa sudah tahu resikonya sejak awal. Seharusnya Papa mampu menanggung semua beban yang Papa rasakan ketika bersedia sehidup semati dengan mama. Itulah kenapa aku nggak mau berhenti mencintai Keanu, karena aku tulus mencintainya apapun keadaannya, Pa. Bahkan ketika suatu hari nanti aku tahu hal-hal yang masih dia sembunyikan, aku nggak yakin cintaku bisa lenyap begitu saja."
Sambil menghisap nikotin dalam-dalam, Gerald menatap putrinya. Ia tidak tahu sebesar apa cinta Evangeline untuk Keanu. Ia hanya harus tahu bagaimana caranya agar Evangeline bisa melupakan Keanu. Demi ketentraman hidup putrinya sendiri, dan keturunan-keturunannya yang berhenti diusik.
"Tahukah kamu, mengapa papa melakukan semua ini untukmu? Karena papa sudah cukup menderita melihatmu selama ini, Sayang. Dulu semasa kamu kecil, kamu kerap kali menjadi percobaan pembunuhan atas nama balas dendam, tapi selalu gagal. Papa selalu menyaksikanmu kesakitan di atas ranjang rumah sakit, menangis tersedu-sedu melihat betapa banyak darah yang keluar dari tubuhmu. Kamu takut, Sayang.
"Dan papa mengerti ketakutanmu itu. Papa tidak ingin, apa yang pernah terjadi padamu, terjadi juga pada cucu-cucu papa dan calon keturunan papa yang lain. Kamu tidak boleh kembali ke dunia gelap itu. Tolong, Evangeline. Demi keturunan-keturunan Sonja."
Kedua mata Evangeline terasa memanas. Kerongkongannya juga terasa kelu untuk meneguk ludah. Pertahanannya sudah nyaris runtuh.
"Papa dan mama sama aja, tau nggak. Sama-sama membohongiku demi kepuasan batin kalian sendiri. Mama berbohong demi menepati pernjanjian konyol itu, sementara papa berbohong agar aku merampungkan monarkiku sendiri." Evangeline menarik napas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan.
"Sesungguhnya tidak pernah ada niat untuk papa membohongimu, Sayang. Semua ini papa lakukan demi kebaikanmu dan masa depan keturunan-keturunan Sonja. Harus berapa kali papa meyakinkanmu?"
Evangeline menggeleng lemah. Bibir bawahnya ia gigit kuat, untuk meredam amarah yang sekali lagi ingin meledak.
"Masalahnya bukan soal percaya atau enggak, Pa. Kalian hanya nggak sadar kalau kalian sudah mengajariku secara nggak langsung, tentang hancurnya masa depanku sendiri gara-gara keegoisan kalian. Mau sampai kapan, Pa begini? Dengan aku menikah bersama Adam, dia akan leluasa meluluh-lantakkan monarkiku. Aku juga akan melakukan sesuatu dengan Adam, seperti yang mama lakukan sekarang dengan papa. Bayangkan mau sampai kapan hal itu terjadi, Pa? Sampai berapa turunan?"
"Kamu hanya belum paham, Evangeline."
"Lantas beritahu aku mana yang harus aku pahami!" Sentaknya lepas konyrol. Emosinya sudah di ubun-ubun, sudah mustahil diredam dengan bisikan 'sabar' dari dalam hati. "Aku nggak akan pernah mematuhi aturan siapapun, baik mama atau papa. Karena kalian sama aja, sama-sama memuaskan hasrat dan ego kalian sendiri. Aku tetap akan kembali, hanya untuk Keanu."
"Pernikahanmu sudah disiapkan, Alin. Jangan macam-macam atau papa betulan mengurungmu di bawah ruangan berjeruji." Ancam Gerald dengan suara setengah ngos-ngosan. Bicara pada orang keras kepala nyatanya membutuhkan banyak tenaga ekstra.
"Papa nggak akan pernah bisa memenjarakan aku! Keanu akan datang menjemputku, aku yakin."
Tawa sumbang terdengar nyaring dan janggal dari bibir papanya. Membuat Evangeline mendengus tak suka. "Keanu sudah tahu undangan pernikahanmu." Gerald menatap lekat mata putrinya. Tergambar sorot luka yang jelas di sana. "Dan dia nggak akan pernah datang untukmu."
Tubuh Evangeline terasa limbung seketika, tapi tangannya berhasil menggapai kusen jendala dan membuatnya mampu bertahan. Seolah menikmati, Gerald menatap ketidakseimbangan putrinya tanpa berniat menolong.
"Papa egois! Kenapa nggak sekalian Papa hancurkan dunia gelap mama sekarang?! Kenapa harus aku yang maju untuk menghancurkan dinastiku sendiri? Selalu aku yang dikorbankan!"
"Karena kamu senjata mamamu. Ketika papa berhasil menarikmu untuk tetap tinggal, mamamu nggak akan menggunakan kesempatan apapun lagi untuk menarikmu kembali." Gerald bangkit dari duduknya. Ia meraih pinggang Evangeline dan menarik putri semata wayangnya itu ke atas sofa. "Papa hanya ingin kamu aman, Evangeline. Tolong pikirkan lagi, demi masa depan anak-anakmu kelak."
Kini mata indah itu berhasil memuntahkan lavanya. Evangeline menangis tanpa bersuara. Lelehan air matanya cukup deras, sampai kepalanya terasa pening. Pipinya otomatis menjadi jalan anak sungai itu.
Ia benci menangis. Ia benci terlihat lemah di depan orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Tapi kondisi hatinya yang sekarang membuatnya tak mampu menahan sakit lebih lama lagi.
Pada akhirnya, ia selalu membenarkan perkataan Keanu. Ia tak butuh hidup untuk kedua orang tuanya.
"Aku mau mengajukan satu penawaran." Ujarnya sambil susah payah memperbaiki intonasi suara. "Aku nggak akan kembali."
Tanpa bisa dicegah, senyum lebar Gerald terukir sempurna. Pria setengah baya itu seketika menepuk-nepuk kepala Evangeline, bangga.
"Asalkan aku dinyatakan negatif sampai hari pernikahanku tiba." Lanjutnya lancar. Kali ini senyumnya yang mengembang puas, bersamaan dengan surutnya senyum di wajah Gerald. "Kalau aku positif, aku berhak kembali ke tempatku yang seharusnya."
"Apa maksudmu, Evangeline?"
Gadis itu berdecak kesal. "Aku tahu Papa mengerti. Jadi, nggak ada yang dirugikan, kan sekarang? Aku ambil kesimpulan kalau Papa setuju." Sambil meraih sweater baby blue pemberian papanya, ia melanjutkan berkata, "Makasih sweaternya, Pa. Padahal cuaca sedang sepanas suasana hati Papa. Iya, kan?"
Evangeline sengaja mengejek, dan sepertinya ia berhasil. Ia dapat menikmati dengan puas ekspresi papanya yang sedikit melotot ke arahnya. Lagipula, siapa suruh menyogok. Evangeline tahu betul apa motif papa yang tiba-tiba perhatian dengan memberikan sweater hangat itu.
Papa sudah mengetahui keinginan putrinya yang mendamba kasih sayang orang tua. Dan papa memberikan itu malam ini. Namun, dengan syarat yang memualkan.
Tanpa sepatah kata, Evangeline berjalan meninggalkan papanya. Berdansa sebentar di lantai bawah mungkin bisa sedikit menenangkan hatinya yang berantakan, gara-gara fakta tentang Si Kembar Alanzo dan ambisi papa yang gila.
Sedangkan di sisi lain, Gerald tengah meremat tangannya satu sama lain dengan perasaan dongkol. Hal terakhir yang dikatakan putrinya ada di luar rencana. Ia tentu tak pernah menduga bakal secepat ini.
"Gerald, sudahkah kamu beritahu dia mengenai rencana kita?"
Pria setengah baya itu mendongak, menatap rekan kerja sekaligus sahabatnya dengan gamang. Bisakah ia beritahu pada Reinaldi perihal Evangeline sekarang?
"Aku yakin Adam sudah memberitahunya lebih dulu." Balasnya sambil memijat kening. Migrainnya langsung kambuh, hanya karena memikirkan satu orang yang berpengaruh besar terhadap masa depan keturunannya.
"Dia harus segera dibawa pergi dari sini, Gerald. Sebelum anak buah istrimu dan aliansinya yang lain menemukanya."
"Masalahnya dia sedang hamil!"
"APA?!"
***
Tangan Evangeline terangkat, menempel tepat di perutnya yang masih rata. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana, belum. Tapi, ia yakin suatu hari Tuhan akan memberikan kuasaNya. Mengisi sesuatu dengan gumpalan bernyawa di tempat yang diidam-idamkan wanita pada umumnya.
Ia elus pelan-pelan perut datarnya itu, sambil menatap malas film di depannya. Sambil berharap calon keturunannya benar-benar berkembang di sini. Karena hanya itulah harapannya sekarang, agar bisa kembali.
"Evangeline, kenapa belum tidur?" Suara menyebalkan itu tiba-tiba datang, melenyapkan alam bawah sadarnya yang menari-nari tak tentu arah.
Tanpa menjawab dan seolah dianggap angin lalu, Evangeline menarik selimut tebalnya ke atas. Ia bungkus seluruh tubuhnya dengan selimut itu.
"Udah jam satu. Nggak baik buat kesehatan kamu." Ucap suara itu lagi. Kali ini lebih dekat. Evangeline yakin Adam sudah ada di sisi ranjangnya.
"Ngapain lo ke sini?!"
"Nemenin kamu tidur."
"Ogah! Bukan muhrim."
"Kalo gitu halalin dulu, dong."
"Iihhh, jijik deh guee."
"Hahaha."
Evangeline menyibak selimut sampai sebatas dagu. Ia tatap dengan pandangan kesal sosok menyebalkan itu. "Lagian lo kenapa bisa masuk, sih? Ini, tuh privasi orang, tau. Seenak udel aja lo ganggu ketenangan gue." Gerutunya, yang malah membuat Adam tertawa lagi. "Ketawa mulu lo. Kayak kunti."
"Aku yang punya rumah ini, Sayang. Aku punya banyak cadangan kunci. Emangnya kamu nggak nyadar aku masuk sini?"
"Nggak!"
"Pas aku masuk tadi, aku liat kamu lagi menggali lubang."
Gadis itu menatap bingung. "Hah? Gali lubang apaan?" Adam menunjuk hidung bangirnya, kemudian mempraktikkan yang ia maksud. Seketika menuai jeritan histeris Evangeline. "Gue nggak mungkin gitu, ya! Ngawur aja lo, Singa."
"Hahaha, bercanda, Sayang."
"Nggak lucu."
"Ih, jangan ngambek, dong."
"Suutt diem. Gue mau bobok. Mending lo keluar sekarang, deh."
Bukannya menurut, Adam malah menjatuhkan tubuhnya tepat di samping kanan calon istrinya. Demi menghindari hal yang tidak-tidak terjadi pada wajah tampannya, ia membelakangi gadis itu.
"Aku nemenin kamu, ya? Kalo nggak ditemenin, kamu pasti nggak mau tidur."
"Ahhh, Singa! Pergi looo!" Dengan ganasnya Evangeline menendang bokong tampan laki-laki menyebalkan itu. Kuat sekali. Tapi ternyata tak mampu menggulingkan Adam, cowok itu masih betah di posisinya. Seolah tubuhnya sudah dipaku secara permanen di situ. "Addaammmm, pergi nggak?! Gue nggak sudi, ya tidur sama lo. Alergi."
"Hah? Sejak kapan kamu alergi? Tadi aja kamu pegang tanganku pas di hutan nggak apa-apa, tuh." Serius, cowok itu jadi bingung sekarang, Dan responnya berhasil membuat Evangeline jadi ilfeel.
"Bodoh, kok dipanen."
"Apa, Sayang?"
"Suuutt, diem." Adam dapat mendengar suara 'klik' yang berarti televisi telah dimatikan. Kemudian suara krasak-krusuk yang berarti Evangeline tengah membetulkan letak tidurnya. "Kalo lo mau di sini, ya terserah. Tapi jangan ganggu gue."
Mata Adam membola terkejut. Padahal ia cuma bercanda, tapi dianggap serius oleh Evangeline. Ya, nggak apa-apa lah, bonus bisa tidur sama pujaan hati.
Tubuhnya serta merta berbalik. Menatap baik-baik wajah cantik Evangeline. Mata gadis itu sudah terpejam erat, tapi Adam yakin Evangeline belum tidur sepenuhnya.
"Selamat tidur, My Lovely Evangeline. Dan..." Tiba-tiba Evangeline dapat merasakan sebuah telapak tangan besar menempel di atas perutnya. Ingin sekali ia sepak si pemilik tangan yang sudah berbuat tidak sopan. Tapi, ia urungkan karena laki-laki yang baru ia sadar bukan Diego itu berkata, "Selamat malam, Calon Anakku."
Evangeline mematung di tempat. Ia memberanikan diri membuka mata, menatap Adam yang juga menatapnya sambil tersenyum. Namun, entah mengapa ia rasa senyum itu berbeda. Senyum Adam terlihat lebih kosong, tanpa harapan. Seolah yang baru saja cowok itu katakan tidak bisa dirasakannya dengan tulus.
Adam tidak rela, tentu saja.
Dan memang betul. Adam kecewa, setelah fakta yang diucapkan oleh Gerald beberapa jam lalu. Tapi, ia masih sedikit waras untuk tidak menyimpulkan secara gamblang. Ia tahu maksud Evangeline bukan begitu.
Tanpa diduga, Evangeline menumpukan tangannya di atas tangan Adam. Ia gerakkan tangan besar itu di atas perutnya, seolah ingin Adam ikut merasakan apa yang ia rasakan sekarang.
Untuk saat ini, Evangeline merasa sangat berterima kasih atas kehadiran cowok itu. Adam datang di saat pikirannya sedang gundah dan kehabisan harapan. Ketika Adam mengucapkan sesuatu yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya, Evangeline merasa lega luar biasa. Setidaknya orang lain -yang bersangkutan dengan masalahnya- tahu ia akan menghadapi apa.
Setidaknya, feeling mereka sama sekarang. Entah akan ada atau tidak, Evangeline ataupun Adam sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan baik buruknya.
"Kenapa lo pura-pura jadi Diego?" Tanyanya memecah melodrama. Membuat Adam menghembuskan napas lega.
Ia sendiri bahkan lupa kalau sedang menahan napas, gara-gara menanti reaksi Evangeline atas topik sensitif yang ia singgung.
"Karena aku juga Diego, kan?"
"Tapi nama lo ada 'Adam'nya. Sedangkan kembaran lo enggak, Emang lo mau entar pas kita ketemu terus gue lebih klepek-klepek sama adik lo, ketimbang elo?"
Adam menggelengkan kepala kuat-kuat. "Kita beda, Evangeline."
"Ya, buat gue yang baru beberapa kali ketemu, susah bedainnya. Mata kalian sama, suaranya juga sama, sifatnya juga. Apanya yang beda, coba?"
"Sifat kami sangat jauh berbeda." Evangeline memiringkan tubuh, menghadap Adam sepenuhnya. Tatapannya penuh minat, seolah ia tahu cerita semenarik apa yang akan dikatakan Adam. "Dulu."
"Kata bokap lo, lo berubah sejak ketemu gue. Bener?"
Tanpa sadar, rona merah menjalar di wajah Adam. Membuat Evangeline terkikik sebentar. "Jangan geer kamu. Aku berubah karena aku ingin."
"Alahh, bilang aja yang sejujurnya. Gue nggak bakal ketawa. Janji."
Antara ingin tapi malu. Adam bimbang sekarang. Wajahnya ikut merepresentasikan perasaannya, dahinya mengerut dalam.
"Sejak kematian adikku, Sarah, aku merasa nggak berguna jadi kakak. Aku menyesali perbuatanku yang membiarkan dia sendirian di taman belakang villa ini. Waktu itu aku sedang membantu papa memperbaiki mesin mobil, dan kami nggak tahu kalau bahaya sedang mengintai kami."
Air muka Adam berubah. Matanya menyendu. Membuat Evangeline menepuk pundaknya menenangkan. "Ceritanya lain kali aja, deh kalo lo udah mendingan."
"Enggak. Kamu juga harus tahu kenapa aku berubah." Evangeline hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Aku kemudian disuruh papa ambil obeng di gudang belakang, ya udah aku ambil. Nggak taunya, aku liat kejadian paling nggak aku inginkan sepanjang hidupku. Umurku baru empat tahun dan adikku dua tahun. Dia suka berteriak, tapi anehnya ketika perutnya ditusuk, dia nggak teriak."
"Lo ngeliat adik lo kebunuh?" Tanya Evangeline tak percaya.
Gila, sih. Kalau Evangeline jadi Adam, dia udah ngejar si pembunuh itu dan membalaskan dendam tanpa ampun. Tapi, umur empat tahun, kan memang belum tahu apa-apa.
"Iya, dan aku langsung teriak. Saat papa datang, pembunuh itu udah melarikan diri. Itulah kenapa aku takut banget waktu membunuh pengincar kamu di hutan. Tapi, aku lebih sayang kamu daripada egoku sendiri. Aku nggak mau kelalaianku yang kedua kalinya bikin aku kehilangan lagi orang yang aku sayang. Andai aja waktu itu aku bisa menjaga adikku, aku bakal bawa dia ke depan sambil bantuin papa."
Bulu kuduk Evangeline sontak berdiri. Tiba-tiba merasa ngeri membayangkan kejadian pembunuhan ada di depan mata. Sekalipun Keanu pernah memberikan simulasi tentang bagaimana mengontrol diri dari kesalahan semacam itu, tapi tetap saja ia ngeri. Apalagi yang terbunuh keluarga sendiri.
"Adik lo sekarang udah bahagia di sana."
"Kamu bener. Dan setelah itu aku jadi terus menyalahkan diriku sendiri. Aku nggak berhenti mencelakai diriku sendiri saat ingat kejadian di mana adikku terbunuh. Di dalam kamar, saat aku sendirian, aku berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Sampai mama dan papa tahu, kemudian membawaku ke psikolog. Tapi katanya aku nggak bisa disembuhkan, karena penyakit kejiwaanku sudah mendarah daging.
"Kemudian di suatu hari, Tuhan memperlihatkan kasih sayangNya. Aku yang biasanya nggak suka pesta dan keramaian semacam itu, tiba-tiba mau ikut pas papa ngajak ke anniversary perusahaan temannya. Kebetulan, seseorang yang Tuhan kirimkan untukku ada di sana. Masih aku ingat, dia cantik sekali malam itu. Melebihi dewi manapun yang pernah aku lihat. Dan yang membuatku bergetar adalah, dia punya aura mirip dengan Sarah."
Rasanya Evangeline tak pantas merona akibat bualan dari orang yang ia anggap musuh itu. Tapi, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa kata-kata Adam mampu membuatnya tersipu. Perlakuan cowok itu juga, entah hanya drama atau sungguhan, tapi ia merasa sangat disayangi.
"Berarti yang datang ke pesta-pesta selanjutnya itu Diego? Atau elo?"
"Diego mungkin pernah mengunjungi pesta sebelum aku. Setelah ketemu kamu, aku jadi sering ke pesta dengan harapan kamu ada di sana juga. Aku nggak berani mendekat, karena aku sadar kamu siapa. Kamu seolah permata di bukit hitam, Evangeline. Seluruh orang mengincarmu, dan aku tidak punya apa-apa buat menarik atensimu. Bahkan sampai sekarang, aku masih nggak berani mendekati kamu, seandainya aku nggak ambil kesempatan itu."
Kening Evangeline mengerut. "Kesempatan apa?"
"Aku dan Diego punya satu tujuan yang sama, yaitu membebaskan orang yang kami cintai. Dari kandang yang sama juga."
"Maksudnya?"
"Umm, apakah nggak apa-apa membuka rahasia?"
Evangeline terkekeh. Bagaimana bisa seseorang yang mengaku mampu menjaganya ini memiliki kepercayaan diri yang minim? Adam bahkan tidak punya banyak keberanian seperti Keanu. Cowok itu seolah kepompong yang mewujud manusia. Polos sekali.
"Nggak ada gunanya lo main rahasia-rahasiaan. Toh, kalo gue gunain kuncinya, gue nggak bakal bisa lari jauh. Selagi papa ikut terlibat, gue nggak bisa bergerak. Karena gue juga nggak mau dicap anak durhaka kayak Maling Kandang."
"Malin Kundang, Evangeline."
"Ya itulah pokoknya. Cepetan mau cerita apa? Keburu merem, nih mata."
"Kamu tau Vita Arczhanka, kan? Dia adalah anak dari seorang pemegang penting dalam perusahaan Keanu, dan dia adalah sahabat dekat Diego. Seperti kamu, dia dijodohkan oleh orang tuanya, dengan anak rekannya yang psikopat. Diego mencintai Vita, dan aku mencintai kamu. Kemudian kami sama-sama ambil kesempatan. Kami mengobrak-abrik perusahaan Keanu, membuat dia kewalahan. Dan aku mengirimkan satu tawaran padanya.
"Aku nggak akan pernah mengganggunya lagi dan nggak akan pernah mengganggumu juga, asal dia bersedia melepas kamu selama yang aku mau. Di sisi lain, Diego meminta Vita untuk mengganggu hubungan kalian juga. Ternyata sebelum dia menjalankan misi, Keanu malah sudah mengincarnya duluan untuk memanas-manasimu. Kamu pergi, dan Keanu mulai curiga pada satu hal. Identitas Vita palsu."
"Palsu gimana?"
"Kami sengaja memalsukan identitasnya. Kami membuat data dirinya bukan keturunan Arczhanka. Supaya Keanu tidak bisa mengendus jejak peristiwa Vita. Tapi seperti yang kita semua tahu, dia memang cerdas. Keanu mengintimidasi Vita demi mencari informasi siapa anonim pengganggu perusahaan dan apakah ada kaitannya dengan penculikanmu sekarang."
"Keanu tahu yang sebenarnya?"
"Kami nggak bisa membocorkannya sebelum dia datang ke pernikahan kita."
Evangeline terdiam untuk waktu yang lama. Dalam kepalanya sedang terjadi hitung-menghitung yang sedikit memusingkan. Tentang untung dan rugi, peluang apa saja yang ia punya sekarang.
Tapi, lagi-lagi mustahil. Ia tahu Gerald ikut menyusun rencana ini. Pria itu yang mengusulkan agar ia memiliki hubungan dengan Adam, seseorang yang berpotensi bisa menghancurkan dinastinya. Entah apa yang Adam dan keluarganya miliki, sehingga berani mengemban tanggung jawab sebesar itu untuk menjaga sekaligus menghancurkannya.