
Markas 3 penuh dengan orang-orang berseragam hitam. Hilir mudik sesuai tugas mereka. Markas itu adalah suaka teraman sejak tahun pertama berdiri. Tak ada siapapun yang berusaha membobol pertahanan atau menyerang. Baru hari ini, setelah sehari Evangeline hilang, Markas 3 diserang oleh sekelompok bersenjata.
Beberapa menit lalu serangan mendadak meluncur. Mengenai beberapa skuadron yang berjaga di baris terdepan, hingga menewaskan beberapa orang. Tapi Keanu, sang pemimpin berhasil membalik nasib. Beberapa orang yang menyerang berhasil ditangkap dan siap diinterogasi.
Sementara beberapa anak buahnya sibuk mengamankan tempat, Keanu duduk sendirian berteman bir di kamar utama. Kakinya dinaikkan ke atas meja, gaya angkuh yang seringkali dicibir oleh Evangeline.
Mengingat wanita itu, tiba-tiba saja memunculkan getar dalam dada. Keanu masih ingat wajah sembab Evangeline, dan kata-kata terakhir gadis itu di sekolah. Baru kemarin dia menikmati balasannya untuk Evangeline, tapi sekarang dia harus menerima fakta jika gadis itu berhasil pergi tanpa jejak.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk."
Daraeus Samudera memasuki ruang pribadi putranya dengan wajah setenang air danau. Meskipun beberapa helai rambutnya kini mulai beruban, tapi ia tetap terlihat awet muda berkat tubuh berorot tanpa lemak. Matanya juga masih setajam biasanya, dengan aura dominan yang sangat kentara.
Namun, Keanu menyadari sesuatu. Seolah ada yang bicara di mata papanya. Pria itu terlihat seperti kecewa ketika menatap sang putra.
"Papa mau bicara sama kamu, Keanu."
"Silahkan." Keanu mengedikkan dagu ke kursi di depannya. Sambil menurunkan kaki agar kelihatan sopan sedikit di depan pria angkuh itu.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan sampai membuat Evangeline pergi seperti itu?"
"Membuat si pemain di balik layar bertekuk lutut di hadapanku."
"Kamu tau kalo hal itu akan membahayakan nyawa Evangeline? Dan kamu juga melanggar ikatan nenek moyang kita."
"Cuma ini satu-satunya cara, Pa. Supaya orang-orang itu keluar dari kandangnya. Interogasi ini aja bahkan nggak cukup, bedebah itu nggak akan bilang siapa tuannya. Mereka udah pasti sumpah setia. Lagian cuma sebentar, aku juga nggak suka membiarkan gadis itu menikmati kesenangannya tanpaku."
Daraeus mengusap wajah frustasi. Sedetik kemudian terkekeh sumbang. "Jadi lagi-lagi kamu membuat drama, Keanu?"
"Ya, Papa. Aktris di balik layar itu harus keluar. Mereka bakal segera tau Evangeline nggak di tanganku lagi. Saat itu juga kita bakal menyergap mereka."
"Bagaimana kalau musuh kita ternyata teman kita sendiri?"
"Kemungkinannya juga ada. Tapi kita belom tau. Kita nggak boleh asal menuduh kalo nggak mau aliansi kita sendiri justru bubar."
Mata setajam elang yang mirip milik Keanu itu menatap putranya dalam hening. Rahangnya bergerak-gerak seolah akan mengatakan sesuatu. "Papa tunggu permainanmu." Tapi hanya itu yang dikatakannya.
***
Evangeline menatap memo kecil bersampul coklat usang dengan pandangan kosong. Buku berisi sejarah hidupnya, sejak dalam kandungan mama sampai ia sedewasa ini. Papa yang melukiskan kisah sedemikian panjang itu di dalam buku ini.
Awalnya Evangeline sangat berterima kasih, karena akhirnya ia akan tahu segalanya. Tapi, sesuatu membuatnya mengurungkan niat barang sebentar.
Satu pertanyaan yang selalu terbesit dalam pikirannya hanya satu. Benarkah yang ia lakukan ini? Tidakkah salah, ketika ia mengingkari janji untuk percaya hanya pada mama? Bisa saja buku di tangannya ini memuat kebohongan.
Evangeline takut sebenarnya. Sejak kecil ia tak pernah benar-benar dekat dengan orang tuanya. Mereka sibuk bekerja dan memanjakan Evangeline dengan segala kemewahan yang ada. Ketiadaan kebersamaan keluarga itu membuat Evangeline gundah ingin percaya pada siapa.
"Evangeline, kamu mau menemani papa ke ruang baca? Kita sepertinya belum pernah menghabiskan waktu bersama untuk membaca buku, kan?"
Evangeline tersenyum tipis mendengar suara serak dan berat yang sangat ia rindukan itu. Tubuhnya segera berbalik, menghadap papa sepenuhnya yang memakai kursi roda.
Tidak bangun selama berbulan-bulan membuat kaki itu dinyatakan lumpuh sementara. Papa harus sering berlatih berjalan setelah ini.
"Ayo, Pa." Tangannya segera memegang pegangan kursi roda. Ia dorong benda bertulang besi itu ke selatan, ke sebuah ruangan di ujung lorong.
"Untuk sementara ini papa akan merepotkanmu, Sayang. Maaf ya?" Ujar Gerald sambil matanya melirik kedua kakinya. Wajahnya terlihat lebih banyak bersalah.
"Nggak papa, Pa. Lagian aku nggak ada kerjaan lain selain jagain Papa."
"Jadi, bagaimana dengan kehidupanmu tanpa papa?"
Evangeline harus memutar otak. Mencari kata-kata yang pas supaya membentuk kalimat sendu. Harus ia katakan semiris apa hidup dengan mama, biar papa menunjukkan respon aslinya.
"Ya... seperti itu, Pa. Papa, kan tau mama terkadang jadi orang pemaksa. Aku nggak suka tinggal sama keluarga arogan itu, tapi mama selalu memaksa."
Telapak tangan kanan papa terangkat ke atas ketika mereka baru sampai di perpustakaan. Isyarat berhenti yang membuat Evangeline langsung menurutinya.
Gadis itu beralih duduk di sofa, persis depan papa. Akan ia lihat ekspresi macam apa yang papa tunjukkan.
"Jauh hari sebelum papa masuk rumah sakit, papa sudah menduga mamamu akan melakukan semua ini. Menjebloskan papa ke rumah sakit, membuat berita palsu tentang kebangkrutan perusahaan papa, bahkan menjebakmu ke kandang singa itu."
Evangeline lebih menarik atensi dengan menyenderkan kepalanya di pangkuan papa. Kedua tangannya melingkar di perut terbentuk laki-laki itu. Ia siap merajuk.
"Sebenarnya mama kenapa bisa begitu, Pa? Evangeline pernah nakal, ya sama kalian?"
Gerald memberikan respon mendengar kalimat bernada sendu itu. Sebelah tangannya yang bebas terangkat, mengelus rambut putrinya penuh kasih.
"Nggak, Sayang. Mamamu hanya punya dendam sama satu orang. Itu papa. Tapi dia juga melampiaskan ke kamu, mengorbankan kamu."
"Memangnya Papa pernah berbuat salah apa sama mama?"
Jeda sebentar. Evangeline hanya mendengar deru napasnya yang bersahutan dengan napas berat papa.
"Kamu mau tau rahasia apa yang mamamu nggak pernah sampaikan ke kamu?"
Kepala Evangeline langsung terangkat begitu papa sudah mulai membuka kuncinya. Matanya berbinar penuh ingin tahu.
"Mama bahkan pernah bilang kalo papa menghancurkan perusahaan mama." Evangeline berkata jujur. Wajahnya masih memainkan peran dengan apik, mempertahankan drama sedihnya.
"Mamamu sudah membuka rahasia itu ternyata." Kata papa diiringi senyum miring.
Evangeline menggeleng tegas. "Mama hanya bilang tentang tindakan Papa untuknya, bukan alasan di baliknya."
Terdengar helaan napas panjang sebelum papa membuka bibir, siap bicara.
"Mama dan papa menikah di atas kertas kerja sama. Papa menolong perusahaannya sewaktu nyaris kolaps dan dia nggak bisa berbuat apapun lagi. Mamamu kemudian merasa harus membalas budi. Dia berkali-kali menanyakan hal itu, tapi papa berulang kali bilang kalo nggak perlu kebaikan itu terbalas. Sungguh Evangeline, karena papa sangat mencintainya, papa jadi mengajukan imbalan itu.
"Papa melamar mamamu. Awalnya dia keberatan. Karena dari yang papa dengar, mamamu nggak suka terikat. Lagipula, mamamu dulu pernah menjalin hubungan dengan Daraeus, papanya Keanu. Jadi papa pikir, mustahil mamamu akan menerima lamaran papa. Tapi ternyata, mamamu menerima dengan mengajukan persyaratan."
"Menceraikan papa setelah kamu lahir."
Papa lantas menatap mata Evangeline yang melotot kaget. "Mama setega itu, Pa?" Tanya putrinya tak percaya.
"Ya, dan papa menolaknya. Sebagai gantinya, papa berniat menjaga perusahaan mamamu. Tapi...."
"Papa mengingkari janji papa, kan?"
Pria berambut abu-abu itu menggeleng-geleng seperti anak ayam yang tak mau disalahkan.
"Awalnya papa betul-betul membantu perusahaannya, Sayang. Tapi, itu sebelum papa tahu perusahaan bawah tanah mamamu."
"Perusahaan bawah tanah?!"
Gerald menarik napas berat. Suaranya seakan kelu untuk mengucap rahasia yang tak sepantasnya ia ungkap. Sepantasnya yang memberikan cerita asli ini adalah Brenda, mama Evangeline. Namun, ia lihat sebuah sinar dalam mata putrinya, sebuah harapan. Evangeline tentu sudah bertahun-tahun memendam rasa penasarannya.
Dan sekarang, kalau bukan dari mulutnya, dari siapa lagi Evangeline bakal mendengar cerita aslinya?
Gerald malah takut kalau ia dan Brenda menunda cerita, maka Evangeline lebih nekat mengungkap rahasia keluarganya dari orang lain. Orang asing yang bisa saja berniat membunuh gadis tak bersalah itu.
Gerald tak mau!
"Jadi, mamamu berasal dari keluarga dunia gelap. Mafia paling kuat di zamannya yang bernama Dvorak. Nenek moyangmu memiliki andil besar dalam mengembangkan klubnya bersama Arvid. Mereka juga menjadi tameng Arvid. Seperti mamamu yang menjadi tameng Daraeus, sampai hari ini. Kemudian untuk membalas jasa Dvorak yang tidak kecil, Arvid mengajukan penawaran balas budi.
"Bahwa setiap keturunannya yang akan lahir akan dijodohkan dengan keluarga Arvid. Papa kurang paham mamamu ada di generasi ke berapa, sehingga dia dijodohkan dengan Daraeus. Tapi karena papa meminangnya, rencana keluarganya dan Arvid batal."
"Jadi, Keluarga Arvid itu keluarga Keanu?"
"Ya, Sayang. Kamu baru tahu sekarang, ya?"
"Aku nggak pernah tahu siapa sebenarnya orang-orang itu. Ternyata tunanganku sendiri."
"Karena rencana mamamu dan Daraeus batal, akhirnya mereka berdua membuat rencana gila ini. Mengikatmu dan Keanu, yang sekaligus memperkuat aliansi Dvorak dan Arvid.
"Dan satu hal, kenapa papa berusaha melenyapkan perusahaan bawah tanah mamamu meskipun hanya seujung kuku, karena papa sangat mencintainya. Papa ingin dia keluar dari dunia hitam itu. Meskipun berkali-kali mamamu bilang kalau keluarganya sudah ditakdirkan menjadi seperti itu, tetap saja papa mau yang terbaik untuknya dan masa depanmu."
"Lalu yang mama katakan tentang takdirku bersama Keanu itu benar?"
Gerald menatap putrinya. Sebelah tangannya terjulur ke depan, meraih sebelah pipi Evangeline, kemudian mengelus lamat-lamat. Seolah ingin menghapal tiap pori yang dimiliki putrinya.
"Papa khawatir mamamu bilang kalo kamu adalah takdir Keanu sepenuhnya."
"Memang, Pa."
Papa melepas elusannya secepat kilat. Sekelebat bayangan mengerikan tentang putri tunggalnya di masa depan menari-nari bagai lidah api. Melalap ketenangan batin serta jiwanya yang lama terlelap.
Kalau bibir Brenda sudah memutuskan, mustahil untuknya bisa menggagalkan rencana wanita itu.
"Kalau begitu papa melarangmu untuk kembali, Evangeline." Ujarnya berat, disertai tatapan tegas tak ingin dibantah. "Pernikahan kalian nggak boleh terjadi. Papa nggak mau kamu ikut dalam dunia hitam Keanu, seperti mamamu."
Kepala gadis itu tertunduk. Rasa sakit tiba-tiba menjalar dari dalam dadanya. Larangan papa adalah hal mutlak sejak dulu. Tapi menyangkut Keanu, rasanya Evangeline sangat sanggup melawan perintah tegas itu.
Sekalipun Keanu menyakitinya berkali-kali, tapi Evangeline masih sangat mencintainya.
"Sebenarnya kenapa keluarga mama dan Om Ares berpikir bahwa tali persaudaraan harus dijaga? Pernikahan bukan satu-satunya cara kan, Pa? Aku pikir kerja sama aja cukup."
"Keluarga mamamu bukan mafia sembarangan. Nenek moyangnya menjadi militer tangguh. Karena itulah sejak awal bergabung, Keluarga Arvid meminta kerja sama dengan Keluarga Dvorak, untuk keamanan Arvid. Mungkin kamu pernah melihat beratus-ratus senjata api di markas Keanu, itu adalah pasokan dari Dvorak secara turun-temurun.
"Karena keluarga mamamu yang menjadi 'pembunuh' untuk Keluarga Arvid, musuh pun tahu siapa yang harus mereka perangi untuk membalas dendam. Saat mamamu masih muda, dia kerap diserang. Hingga nyaris terbunuh, kemudian perusahaannya kolaps dan papa datang membantu. Sekarang, kamu mengalami yang serupa, Sayang. Kamu menjadi objek balas dendam mereka. Dan yang paling penting, mereka senang kalau aliansi Dvorak dan Arvid batal."
Evangeline dapat melihat pancaran sedih di mata papa. Pria itu pasti sangat mengkhawatirkannya.
AKhirnya Evangeline paham. Mengapa mama memaksanya menikah dengan Keanu. Karena kesepakatannya sudah dibuat demi memperkuat aliansi, membalas budi jasa Dvorak yang tidak sedikit, dan berganti melindungi keluarga Dvorak dari ancaman musuh.
Persis seperti yang dikatakan Keanu. Bahwa cowok itu akan melindunginya sampai berani mati.
Tapi, kenapa Keanu malah membuatnya menjauh? Apa sebenarnya yang direncakan cowok itu? Apakah Keanu sendiri yang akan memutus aliansi demi melindunginya?
"Gimana supaya musuh nggak mengincarku, Pa? Dan mengincar mama, tentu saja."
Mata segelap badai itu mengarungi mata coklat terang putrinya. Ketakutan tercipta di sana, meski Evangeline sudah sekuat tenaga memasang topeng.
"Jangan kembali, Evangeline. Tinggallah bersama papa. Setelah itu papa akan membuat klarifikasi bahwa kamu sudah tidak menjadi putri mamamu lagi."
"Kemudian kamu buat klarifikasi kalau kamu tidak mencintai Keanu, dan tidak akan pernah menikahinya."
"Dengan begitu, papa menjamin seratus persen kamu tidak akan pernah dikejar musuh lagi. Mamamu juga hidup tentram dengan kita, seperti dulu."
Evangeline menutup mulut menahan keterkejutan. Jantungnya bertalu kian cepat, melawan topeng yang ia buat serapi mungkin untuk menutupi kelemahannya.
Saat papa berpaling ke arah lain, Evangeline langsung mengambil kesempatan untuk bicara, "Aku ambil air untuk kita, Pa." Bersamaan dengan itu, ia langsung bangkit dan melangkah keluar perpustakaan.
Keanu.
Memikirkan namanya saja membuat dadanya sakit berkali-kali lipat. Bukan karena kenangan terakhir mereka yang menyakitkan, tapi tentang kebersamaan manis yang sudah tercipta beberapa kali dan harus berakhir dengan takdir yang tidak sejalan.
Senyum sinis laki-laki itu, tawa sumbangnya, sikap manisnya saat gundah, atau kelembutannya ketika menyentuh Evangeline di beberapa malam mereka bersama.
Sekarang, kenangan yang memberi warna dalam hidupnya itu akan hilang tak lama lagi. Tidak akan terulang kembali, tidak akan pernah.
Demi dirinya sendiri, dan mama.
Evangeline juga tak mau Keanu terluka karena melindunginya.
"Keanu... hiks, I miss you. I want to go back home."