
Suara dering alarm mengganggu aktivitas tidur kedua manusia yang masih bergelung di atas kasur. Keanu bangun paling dulu karena tubuhnya terbiasa merespon secara cepat. Sedangkan Evangeline tampak ogah-ogahan, bahkan mengeratkan selimut di tubuhnya.
"Sialan." Umpat cowok itu seraya memegang kepala. Matanya menatap jam alarm digital dengan sedikit berkunang-kunang, hasil dari sampanye yang ia teguk bergelas-gelas semalam.
"Keanu, turn off the alarm, please. My ear hurts." Erang Evangeline dengan kerut-kerut di dahi.
Dengan sedikit gemetaran karena pusing yang belum reda, Keanu meraba letak tombol turn off yang sudah ia hapal. Kemudian membanting benda digital itu ke bawah, sebagai representasi dari rasa muak dalam dirinya.
Evangeline menyadari kegaduhan itu. Dia tambah kesal. Bukannya bisa terlelap alih-alih mengacuhkan, dia justru bangun dan menatap Keanu sejengkel-jengkelnya.
"Gue udah bilang semalem, don't hangover! Bukannya bahaya buat keselamatan kita berdua di jalan, tapi juga ngrepotin gue, tau nggak."
Keanu tidak memuntahkan kata-kata apapun. Ia menelan kemarahan Evangeline bulat-bulat, tanpa sanggahan. Namun yang semenit kemudian terjadi adalah cowo itu memuntahkan isi perutnya. Membuat Evangeline tidak lagi mengomel tapi juga betul-betul marah.
"Lo bener-bener ngrepotin gue, Keanu. Lain kali bakal gue bakar tubuh lo kalo berhasil minum minuman kayak gitu lagi."
Keanu tersenyum miring. Matanya mengawasi pergerakan Evangeline yang turun dari ranjang tanpa mengenakan piyama atasnya. Sedikit saja, Keanu merasa panas di kedua pipinya, merambat sampai bawah telinga. Memorinya memutar ke kejadian semalam. Di mana ia dengan brutal merusak piyama atas Evangeline, sampai meninggalkan jejak keunguan di kulit gadis itu. Dibawah pengaruh alkohol, Keanu tampak menikmati siksaannya untuk Evangeline.
"Gue tau lo khawatir sama gue. Makasih ya." Katanya percaya diri. Membuat Evangeline hanya melirik sekilas. Aktivitasnya sedang disibukkan melepas selimut dari tubuh Keanu yang sudah kotor karena muntahan cowok itu.
"Kenapa gue larang elo buat nggak minum minuman kayak gitu, ya ini. Sekarang hari Senin, waktunya kita sekolah. Tapi kondisi lo nggak fit. Gimana lo mau belajar di sekolah, hm? Atau lo mau istirahat aja di rumah?" Nada suara Evangeline perlahan melembut. Selimut sudah ia letakkan di keranjang kotor. Sekarang ia tengah menggantinya dengan selimut baru.
Usai sudah, bokongnya ia dudukkan di sebelah Keanu dan mengecek suhu tubuh cowok itu dengan punggung tangannya. Panas menyengat menjalari tangannya, kontras dengan hawa dingin yang dirasakan Evangeline. Membuat gadis itu merinding saja.
"Lo nggak boleh ninggalin gue, Lin." Kata Keanu parau.
"Gue cuma sekolah, Keanu. Lo harus istirahat karena lo nggak cuma pusing doang, tapi demam." Balas Evangeline. Sambil melangkah mendekati nakas, menarik laci dan meraih kotak P3K dari dalam sana. Matanya dapat menangkap sebuah benda pipih persegi panjng, termometer.
"Nggak ada yang ngerawat gue di sini."
"Ada bonyok lo, ada pelayan juga. Lo bisa sambat ke mereka."
Keanu mengerucutkan bibirnya. "Gue nggak mau minta tolong ke mereka. Mereka nggak bener-bener ikhlas ngerawat gue."
"Seenggaknya pelayan-pelayan itu menjalankan perintah tuannya."
"Kalo gitu lo harus menjalankan perintah tuannya juga, kan?" Keanu menaikkan alis. Memelintir kata-kata Evangeline. Membuat gadis itu mengerang kesal.
"Oke. Gue bilang sama Mama lo buat surat keterangan kita berdua."
"Makasih, Sayang." Balas Keanu dengan nada datar. Ia menggulingkan tubuhnya miring ke arah tunangannya. "Ah, ya, Alin Sayang, lo nggak mungkin keluar kamar cuma pake itu doang kan?"
Pipi Evangeline sontak merona. Panas menjalar dari pipi kemudian turun ke seluruh tubuhnya. Tanpa menggulirkan mata ke bagian tubuh yang dimaksud Keanu, ia langsung beranjak dan berjalan tergesa ke lemari, mengambil kaos besar milik Keanu.
***
Ruby mengecup dahi putra semata wayangnya penuh kasih. Sebelum melangkah pergi meninggalkan cowok itu di kamarnya bersama Evangeline.
"Maaf mama nggak bisa jaga kamu, Boy. Mama harus ke Rusia siang ini."
"It's okay. Ada Evangeline yang setia menjagaku."
Ruby melempar senyum ke calon menantu kesayangannya. Tangannya mengelus rambut gadis itu, kemudian mengecup pucuk kepalanya lamat-lamat.
"Mama titip Keanu ke kamu ya, Sayang? Mama akan kembali satu minggu sebelum kalian menikah. I'm promise."
Evangeline mengangguk antusias. Berbeda dengan Keanu yang melengos tak mau menatap. Cowok itu sudah terlalu sering merasakan rumahnya yang hampa. Sudah sangat sering malahan, jarang diberi kasih sayang yang umumnya diberikan orang tua di luar sana.
"Ya sudah, mama pergi dulu. Jaga kesehatan kalian berdua. Hal seperti ini nggak boleh terjadi untuk yang kedua kalinya."
"Iya, Ma." Balas Evangeline sambil mengecup kedua pipi calon mertuanya.
Keanu menatap kepergian mama tanpa mengucap sepatah kata pun. Tidak akan berharap juga wanita itu akan kembali dalam waktu dekat, bahkan saat pernikahannya tiba. Wanita workaholic yang gemar berpolitik seperti Ruby bukan tempat untuk mengharap kasih sayang yang pas. Apalagi papanya, Daraeus Samudera yang keras tak kenal ampun.
"Sini, Lin." Keanu menepuk kasur sebelahnya. Meminta tunangannya tidur di sana.
Seperti yang sudah-sudah, Evangeline menuruti Keanu. Tanpa diperintah dua kali, dia juga memeluk tubuh cowok itu. Menyalurkan kehangatan yang mustahil dirasakan Keanu saat demam tinggi seperti ini.
"Tante Ruby bilang, Om Ares udah pergi ke Florida dua jam lalu. Sama mama gue, of course."
"Gue udah tau." Ucap Keanu tak acuh. Lantas membalas pelukan Evangeline. "Itulah kenapa gue nggak mau lo ninggalin gue."
"Maaf."
"Lo udah di sini sekarang."
"Maaf karena gue sering salah soal elo." Evangeline menyelam ke dalam manik coklat Keanu. Kesepian, rapuh, dan keputusasaan bercampur di sana.
Keanu sering memakai topeng. Berlagak kejam dan keras demi memikat kawan dan mengancam lawan. Tidak ada yang tahu sehancur apa dalam diri Pangeran Iblis. Kasih sayang yang ia impi-impikan sudah terenggut sejak belasan tahun lalu. Tidak ada harapan yang berarti dari orang tuanya.
"Apa?"
"Lo kejam, bengis, nggak tau aturan, kasar, pembunuh–"
"Nggak ada yang terlahir sebagai pembunuh, Evangeline. Bahkan ketika gue terpaksa jadi salah satu orang paling berdosa itu, hati gue nggak pernah terima. Gue pengen jadi baik, berubah jadi normal. Tapi papa udah merenggut semua kebaikan itu dari diri gue sejak dulu."
"Saat gue umur 6 bulan, di saat bayi seusia gue masih menikmati tangis, bermanja sama orang lain, dan merangkak, gue digembleng jauh dari itu. Gue nggak boleh nangis, nggak boleh manja, dan gue dipaksa buat bisa jalan. Gue nggak diberi kesempatan sedetik pun buat menikmati hidup layaknya bayi."
"Kalo ada orang di luar sana yang ngerasa nggak berguna dan capek, lebih buruk mana dibanding gue? Nggak ada kasih sayang, nggak ada toleransi, nggak ada yang peduli, Lin. Dunia gue, dunia keluarga gue beda sama kalian semua. Kita dituntut buat memenuhi kepuasan pribadi, tanpa mikirin orang lain."
"Cuma sama lo, Lin gue ngerasa waras."
Sebelah tangan Evangeline yang digunakan untuk memeluk cowok itu, meregang di balik punggung, mengusap ke atas-bawah. Berusaha meredakan emosi yang seketika naik.
"Sekarang apa masih ada harapan buat lo bisa pergi dari hidup gue, Lin?"
Evangeline menggeleng. Sebenarnya harapan itu tetap ada. Tapi pikiran dan hatinya sudah tertanam nama Keanu. Entah detik ke berapa dia mulai merasa bahwa sebuah kewajiban, menemani Keanu sampai akhir hayatnya. Bukan karena terikat janji bertulis tinta di atas kertas. Tapi karena tulus dari sanubarinya.
Cintanya tidak butuh balasan apapun. Seterluka apapun ia karena Keanu, hatinya tetap bisa memaafkan. Setakut apapun ia dengan masa lalu yang masih menghantui hingga sekarang, ia tetap berprinsip teguh untuk tidak meninggalkan Keanu seorang diri.
Karena nyatanya, laki-laki itu jauh lebih rapuh dari yang ia kira. Entah keburukan apa saja yang sudah dilaluinya di masa lalu.
"Gue nggak akan pernah ninggalin lo, Keanu. Gue udah janji."
Keanu mengulum senyum. Tangannya yang sehangat mentari, mengelus pipi mulus tanpa cacat milik tunangannya. Evangeline masih cantik. Sekarang jauh lebih cantik. Jauh lebih terawat dan berisi. Karena dirinya. Sejenak, Keanu merasa bangga. Tapi sedetik kemudian kepuasan itu lenyap begitu kenangan-kenangan yang sudah mereka lalui bersama. Luka-luka yang sudah ia toreh untuk memenuhi hasrat balas dendan dan keharusan yang sudah ditetapkan untuk Evangeline.
"Sekarang gue kasih lo kesempatan, Lin. Kalo lo pengen pergi, gue persilakan pergi. Sebelum acara sakral itu mengikat kita berdua sampai ujung napas."
Evangeline tercengang. Tentu saja. Pintu yang semula terkunci rapat sekarang tampak terbuka lebar di depannya. Keanu memberikan tawaran yang mustahil membuatnya tak tergiur.
Tapi, melihat mata hampa itu sekali lagi, Evangeline meragu. Dia sudah berjanji untuk tidak pergi sejengkal pun dari Keanu. Tapi dia sangat mengidam-idamkan hari ini, di mana Keanu bersedia melepasnya.
"Kenapa lo tiba-tiba luluh? Apa yang membuat lo mau tawar-menawar sama gue? Apa yang harus gue kasih?"
"Nggak ada."
"Kenapa gue curiga?"
"Lo nggak perlu curiga atau apapun. Gue beneran. Gue pikir gue udah terlalu sering membuat lo terluka. Maaf kalo gue terlalu kejam."
Napas yang semula tersendat kini beralih lancar. Evangeline menghela sebelum pikirannya membayangkan beberapa hari ke depan, di mana dia sangat bebas tanpa Keanu. Kembali ke kehidupan lamanya. Tanpa harta?
Sebentar saja, Evangeline memikirkan itu. Papa sedang dirawat di rumah sakit. Masih banyak biaya yang dibutuhkan untuk memulihkan kondisi pria itu. Mama juga pasti mengundurkan diri melihat kesempatan terbuka lebar di depan matanya. Otomatis, tidak ada penghasilan di keluarga mereka. Lantas bagaimana mereka mencukupi kebutuhan dan untuk menyembuhkan papa?
"Keanu, lo bakal menyesal udah mengucap ini."
"Nggak akan, Lin. Gue udah berpikir matang jauh sebelum hari ini. Sumbangsih lo sama nyokap lo nggak akan pernah gue lupain."
"Terus gimana sama pertunangan kita?"
"Gampang. Tinggal sebar berita palsu. Sebar berita di mana gue jalan sama calon tunangan baru demi politik."
Perut Evangeline melilit-lilit memikirkan betapa bahagia hidupnya beberapa pekan ke depan. Tanpa Keanu. Tanpa belenggu. Tanpa penjara.
"Lo yakin, Keanu? Bukannya lo masih pengen balas dendam sama gue?"
"Pertunangan ini udah menyulitkan lo, Alin. Sekian bulan lo sama gue, gue udah mastiin lo terluka. Meskipun masih besar luka gue di masa lalu. Tapi, itu cukup."
"Keanu, kenapa gue ragu?"
Keanu menatap dalam mata Evangeline. Lekat-lekat, menguncinya, tak membiarkannya berpaling.
"Kenapa?"
Evangeline tidak menjawab. Ia justru menyerukkan kepala ke lekukan leher Keanu. Menempelkan pipinya di garis tulang belikat cowok itu. Menyemburkan napas panas yang anehnya terasa dingin di tubuh Keanu, membuatnya merinding.
"Karena gue udah janji."
Bohong.
Jelas bukan itu kebenarannya.
Keanu tahu Evangeline takut kalau ia sedang bersiasat diam-diam.
Tapi, sesungguhnya bukan itu yang Evangeline takutkan.
Keanu sudah bilang sendiri bahwa dia merasa waras selama ini karena Evangeline masih di sampingnya. Apabila Evangeline lepas dari pandangan semenit saja, gadis itu tidak yakin akan jadi seperti apa dunia yang sekarang ia tempati. Keanu bisa lebih kejam dari sebelum-sebelumnya. Mencetak angka kriminalitas, rela dikejar anjing pembau demi menarik perhatian seluruh orang.
Seluruh orang yang tidak cukup memenuhi keinginan laki-laki itu.
Lebih dari itu, Evangeline enggan membunuh rasa yang sudah menjadi kembang di hatinya. Jauh dari Keanu, ia harus rela melupakan cowok itu sebagaimana jarak yang memisahkan. Membayangkannya saja Evangeline tidak sanggup.
Evangeline tidak mau menjauhi Keanu. Bahkan demi kelegaan yang ia damba-dambakan sejak lama.
Ia hirup dalam-dalam udara melalui cela di antara kulitnya yang bersentuhan dengan Pangeran Iblis.
"Gue nggak akan pernah jauh dari lo, Keanu. Gue tegaskan sekali lagi. Gue nggak peduli masa lalu lo kayak apa, masa lalu kita, duka gue selama ini. Gue janji mau merubah lo jadi baik."
"Kalo gue bisa dirubah."
"Pasti bisa."
"Kalo ada penyembuh."
"Itu gue."
"Lo nggak punya resep."
"Bakal gue temuin setiap menit sama lo."
Keanu dan Evangeline sama-sama tersenyum mendengar komitmen mereka. Keanu membutuhkan Evangeline untuk melegakan dahaganya, menjaga kewarasannya. Meskipun hal itu sesungguhnya hanya untuk menutupi kenyataan sejati, tentang janji yang mustahil diingkari.
Evangeline juga sama. Dia membutuhkan Keanu untuk menentramkan hatinya. Menjaga Keanu semata-mata karena sebuah rasa yang tidak bisa ia tolak lagi. Kewajiban yang ia pikul suatu hari nanti sampai akhir hayat mereka bersama.