
"Selamat bersenang-senang, Nona." Luna melempar senyum lebar yang terkesal menyebalkan.
Di tengah kegugupan yang melandanya, Evangeline hanya membalas senyum miring.
"Ini wilayah aman dari jangkauan Keanu, kan?"
"Ini kebun binatang, Lin. Keanu nggak sebodoh itu nyari lo di tengah kawanan gajah."
Evangeline terkekeh pelan. Matanya melirik ke luar jendela. Was-was kalau-kalau kebetulan Keanu sedang bertamasya bersama pacar barunya. Sekarang, kan weekend.
"Gue bakal dikasih ke siapa hari ini?"
Hanya gedikan bahu yang Luna berikan. Tatapan matanya juga kosong, tidak menunjukkan petunjuk apa-apa di sana.
Evangeline mendesah lelah. "Gimana kalo ternyata nggak ada yang ngenalin gue di sini? Gue bakal mundur lagi, dong?"
Gadis cantik di sampingnya itu menggembungkan pipi. Keningnya berkerut, berpikir. "Gue tunggu lo di sini. Kalo dalam dua jam nggak ada pergerakan musuh, kita pergi ke tempat lain yang lebih rawan."
"Itu butuh pertimbangan juga, Lun. Nggak mungkin, kan kita ke mall dan gue keburu ditangkap Keanu sebelum musuh bisa deketin gue?"
Luna menepuk keras sebelah bahu temannya, kemudian memamerkan senyum yang lagi-lagi menyebalkan. "Itu keberuntungan lo, Nona. Pada akhirnya lo juga bakal balik ke Keanu."
Evangeline tampak gelisah menggigit bibir bawahnya. "Gue perlu membuktikan sesuatu, Lun." Katanya menyuarakan rasa bimbang itu.
Sejenak, Luna mencoba menerka apa yang dimaksud temannya.
"Lo pengen bukti kalo Keanu masih peduli sama lo?" Evangeline mengangguk mantap menjawabnya. Desahan napas lelah Luna membuat si pemilik nama Princess Dvorak melirik ragu. "Lagi-lagi nggak ada bedanya. Dia deket sama lo karena udah takdir, Lin. Mau dia nggak cinta sama lo, dia bakal tetep lindungi lo. Karena keluarganya hutang budi banyak banget sama keluarga lo."
"Beda, Lun! Dia mungkin nyari gue sekarang karena takdir konyol itu. Tapi pas dia mutusin gue di kantin, dia nggak peduli sama perasaan gue. Sekarang gue mau tau, dia beneran peduli atau enggak."
"Astaga, Alin! Udah jelas Keanu mutusin lo aja seenak udelnya. Masa lo masih perlu pembuktian kalo dia masih peduli?"
"Karena Keanu nggak pernah gini, Lun!" Mata Evangeline menyala-nyala menatap temannya. Kemarahan tampak jelas di sana, nyaris meruntuhkan pertahanan Princess Haven. Tapi Luna menelan kuat rasa takutnya dengan menatap balik Evangeline, lebih berani. "Dia tiba-tiba deketin Vita, ninggal gue sama sopirnya, dan mutusin pertunangan kami gitu aja."
"Terus apa gagasan lo?"
Evangeline menelan ludah secara kasar. Kepalanya menengadah, ia benturkan berkali-kali di kepala kursi mobil. "Bagusnya, kalo ternyata Keanu menyusun rencana buat menjatuhkan musuh lewat Vita. Paling buruknya... Keanu emang udah jatuh cinta sama Vita."
Suasana hening sejenak. Evangeline sibuk menghalau air mata yang berkali-kali ingin keluar dari persembunyiannya, menyebalkan memang. Sementara Luna mengerutkan alisnya dalam-dalam, serius memikirkan dua kemungkinan yang baru saja dikatakan Sang Putri Patah Hati.
"Lo bener, Lin. Lo perlu memastikan sesuatu tentang Keanu. Kalo dia beneran masih peduli, dia bakal turun tangan langsung buat nyelamatin lo. Tapi kalo ternyata dia lewat anak buahnya buat nyelamatin lo, berarti lo harus siap nerima fakta kalo Keanu beneran jatuh cinta sama Vita."
Mau tak mau, suka tak suka, siap tak siap. Evangeline mengangguk meng'iya'kan. Dia sedang memantapkan hati sekarang, sebelum benar-benar terjun ke tempat peraduan di mana nyawanya akan dipertaruhkan.
"Lun, gue pengen ngucap makasih banget sama lo. Gue tau lo anak buahnya Keanu, tapi gue nggak tau kalo lo bakal jadi penyokong gue selama dua minggu ini."
Kedua tangan Luna direntangkan ke samping, menarik teman masa SMPnya untuk masuk ke pelukannya.
"Kita teman sejak SMP, Lin. Gue lebih kenal elo dibanding Keanu. Keluarga Haven mungkin pendukung setia Keanu, tapi gue bersedia mendukung lo. Lagian, gue muak sama semua dramanya. Apa-apaan nutupin identitas di depan gue dan yang lain, untung aja gue orangnya curigaan."
"Lo juga jahat kalo gitu. Masa udah tau duluan tapi nggak ngasih tau gue."
"Bukannya gue mau diem aja, Lin. Gue udah nyoba ngasih tau lo pas malam pertunangan itu, tapi Keanu dateng dan gagalin rencana gue."
"Keanu nutupin identitas di depan calon anak buahnya karena buat perlindungan diri. Gue kalo jadi dia, juga nggak mau secara gamblang nunjukin gue siapa. Cuma, nasib kita beda. Saat gue lahir aja udah jadi inceran semua orang."
Luna melepas pelukan. Kekhawatiran yang sejak kemarin sore ia pendam kembali muncul ke permukaan. Menimbulkan rasa mual di pucuk lambungnya. Matanya mencoba merekam baik-baik keadaan Evangeline saat ini. Siapa tahu nasib yang jauh lebih baik diberikan Tuhan membuat mereka tidak akan bertemu lagi di kemudian hari.
"Kita nggak tau di dalam sana lo bakal ketemu siapa aja. Ada yang kanibal, ada yang psiko, atau cuma menggertak lo aja. Pokoknya tetep jaga diri, oke? Ada orang gue di dalam, mantau CCTV dan nunggu perintah dari gue."
"Lun, gue kan udah bilang nggak usah bantuin gue."
Evangeline tersenyum haru. Sejarah akan mencatat dengan baik perbuatan Luna selama beberapa hari ini padanya.
***
Berpenampilan mencolok adalah tujuan utamanya. Evangeline tidak boleh menutupi aset wajahnya yang paling berharga, demi menarik musuh agar cepat mengenalinya. Dia juga berpakaian minim, khas Evangeline sejati.
Satu jam lebih tiga puluh menit berlalu. Sudah tikungan ke dua puluh semenjak pertama kali ia masuk dan langsung menjumpai kawanan burung di dalam kandang. Kini ia sampai di kawasan karnivora. Tidak seperti di kawasan burung, tempatnya ramai dan nyaris berdesak-desakan. Di sini lebih lengang dan membuat Evangeline leluasa duduk sambil mengamati baik-baik singa di depannya.
"Sendiri, Nona?"
Dengan penuh kehati-hatian, Evangeline menoleh. Sosok laki-laki bertubuh jangkung, pemilik senyum paling hangat yang pernah Evangeline kenal. Diego Alanzo.
"Diego, kebetulan banget kita ketemu di sini." Sapa Evangeline ramah. Sembari bergeser dan memberi kesempatan laki-laki itu duduk di sebelahnya.
"Om gue kerja di sini. Awalnya cuma bantu bentar, terus gue nyoba keliling. Nggak taunya lo juga ada di sini."
Evangeline terkekeh. Satu, karena menertawai kebetulan macam apa yang membuatnya bisa bertemu dengan si manis Alanzo. Dua, menertawai nasibnya yang mungkin tidak berjalan sesuai rencana, karena ternyata dia bertemu dengan teman baru.
"Gue bosen."
"Gue tau. Sebagai incaran dunia, sejauh ini lo udah kuat banget ngadepinnya. Belom lagi Keanu mutusin pertunangan kalian, kan? Berita kepergian lo dari rumah juga masih ada sampai sekarang. Sebenernya lo ke mana akhir-akhir ini?"
"Gue pergi sama papa."
Diego tampak terkejut. Ia membulatkan kedua mata. "Om Gerald udah sembuh?"
"Apa papa nggak ngasih tau temen-temennya?" Tanya balik Evangeline.
"Buktinya gue nggak tau dari mulut bokap."
"Oh, kalo gitu papa masih merahasiakan keberadaan kami."
Diego mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Evangeline?"
Ia tatap sebentar mata biru laut milik Diego. Papa mereka mungkin bersahabat, tapi Evangeline tidak mengenal baik Diego selain di beberapa pesta yang mereka hadiri.
"Gue cuma nyari ketenangan sama papa, lama kita nggak ketemu bikin gue rindu. Lagian, seseorang yang patah hati butuh penenang kan?"
Di balik wajah manisnya, Diego melempar tatapan yang sulit diartikan.
"Kalo gitu, gue boleh ngasih sesuatu ke elo?"
"Apa?"
"Eemm, nggak istimewa, sih. Tapi semoga bisa mengobati luka lo." Dengan senyum yang merekah, Evangeline mengangguk mantap. Ia tak mau membuat teman barunya kecewa. "Oke. Lo tunggu di sini ya? Gue mau ambil sesuatu itu dulu."
Tidak ada jawaban apapun dari Evangeline, karena Diego keburu melesat pergi dengan setengah berlari.
Namun, tak lama setelah itu. Baru saja Evangeline akan menolehkan kepala ke depan lagi, seseorang berhasil menutup matanya hingga pandangannya menggelap. Bibirnya dibekap erat, membuatnya tak mampu berteriak lebih kencang.
Orang-orang itu menyeretnya ke suatu tempat. Jauh dari keramaian, jauh dari kecurigaan.
Dalam hatinya, Evangeline hanya perlu berharap sehabis ini semoga Tuhan masih melindungi nyawanya. Ia hanya ingin kembali ke tempat takdirnya, dan membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri.
Sementara di sisi lain, Diego baru saja kembali. Kepalanya celingukan ke sana ke mari. Mencari-cari sosok gadis yang baru beberapa menit lalu ia tinggalkan di depan kandang singa. Sekarang sosoknya sudah tak tampak, seolah hilang ditelan bumi.
Ia tatap kosong bingkisan di tangan kanannya. Apakah takdir selalu mempermainkannya seperti ini? Membuatnya seolah lelaki paling mengenaskan karena selalu ditinggal oleh gadis yang ia sukai.