
"Jangan temui dia, Evangeline!"
"Papa nggak bisa larang aku sementara Keanu punya hak atas anaknya."
"Papa nggak mau kamu dalam bahaya. Kalo kamu kembali, musuh kalian bakal tau dan mereka bisa membahayakan kamu."
"Keanu nggak akan pernah biarin itu terjadi, Pa."
"Keanu sudah bahagia dengan Vita."
"Enggak!"
Gerald mencengkeram pergelangan tangan putrinya. Matanya menatap nyalang. Gadis keras kepala seperti Evangeline memang harus digertak kejam.
"Jangan kembali atau papa nggak segan membunuh anak itu."
"Papa!"
"Dia anak Keanu, anak seseorang yang nggak papa suka. Papa bisa melakukan apapun untuk melenyapkan darah dagingnya."
"Papa jahat! Ini juga darah dagingku, calon cucu Papa."
"Kalau kamu nggak mau anakmu tewas, turuti kata-kata papa."
Evangeline memuntir tangannya ke segala arah, melepas paksa cekalan ayahnya. Raut wajahnya tidak dapat dikatakan bersahabat, terlihat marah luar biasa. Hati anak mana yang rela bahwa ayahnya berniat membunuh sang calon cucu.
"Aku pengen sendiri." Katanya tanpa nada, tanpa menatap papanya. Kosong menatap ke depan.
Gerald tidak membantah. Pria itu melenggang keluar kamar rawat inap putrinya. Biarlah Evangeline mengatainya kejam, yang penting putrinya aman. Gadis itu hanya belum tahu siapa yang sungguh-sungguh menyayanginya.
Selepas ia keluar, ia berpapasan langsung dengan Adam yang menunggu di kursi rumah sakit. Wajah pemuda itu kelihatan kecewa, tapi dipaksakan untuk tersenyum, agar terlihat baik-baik saja. Gerald mengerti perasaan calon menantunya itu.
"Jangan khawatir, Nak. Evangeline sudah kuperingatkan untuk tidak kembali."
"Terima kasih, Tuan Gerald."
Pria setengah baya itu terkekeh pelan. Membuat Adam mengernyitkan dahi tak mengerti. "Sebentar kali kamu akan jadi anakku. Jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku 'papa', sama seperti kamu memanggil ayahmu."
Adam tersenyum tipis sambil mengangguk sekilas. "Baik, Pa."
"Sekarang cepat kamu temui calon istrimu. Dia sangat membutuhkanmu."
Adam tidak menjawab. Namun, ia lantas mengikuti kata calon mertuanya. Kakinya melangkah lebar-lebar ke dalam ruangan Evangeline.
Dapat ia lihat gadis itu tengah berbaring membelakangi pintu. Napasnya kelihatan teratur. Apakah sudah tertidur? Tapi, sepertinya mustahil. Baru saja ia dengar Gerald berbicara dengan Evangeline sebelum pria itu keluar kamar.
"Sayang, udah tidur?"
Tidak ada jawaban. Namun, Adam terus berjalan mendekat. Sesampainya di belakang gadis itu tepat, tak ada pergerakan ataupun suara sedikitpun. Tubuhnya yang bergerak naik-turun secara konstan menandakan napasnya bergerak lancar, tidurnya mungkin juga lelap.
Tapi, entah kenapa Adam merasa curiga. Tidak mungkin seseorang bisa tidur secepat itu, tepat setelah pembicaraan yang penuh dengan teriakan itu berakhir beberapa menit lalu. Adam tidak bisa mendengar jelas apa yang anak dan ayah itu katakan, tapi ia tahu Evangeline emosi.
Perlahan, Adam berjalan memutari ranjang rumah sakit. Ia ingin memastikan Evangeline benar-benar tertidur.
"Sayang?!" Pekiknya kaget. Segera kakinya mendekat dan mengecek suhu tubuh Evangeline. Normal.
Wajah gadis itu basah oleh air mata yang terus mengalir dari mata cantiknya. Tapi tidak ada suara isakan satupun yang keluar dari bibirnya. Matanya hanya terus menatap ke depan, tanpa berkedip. Seolah raganya kosong tanpa jiwa.
Adam terkejut, bagaimana bisa Evangeline menangis tanpa isakan seperti itu. Bahkan napasnya sangat teratur.
Adam menarik sebuah kursi untuk ia dekatkan ke ranjang sang calon istri. Kemudian tangannya terangkat, mengelus rambutnya dengan sayang.
"Hei, kenapa? Kamu mau cerita?"
Hening. Evangeline masih tak mau membuka bibir. Sakit di hatinya tidak ada yang bisa mengerti, kecuali ia dan Tuhan. Adam tak akan mengerti. Apalagi Gerald yang hatinya sudah mati.
Atau bahkan, Keanu juga tidak akan peduli? Bahkan ketika cowok itu tahu ia mengandung anaknya? Keturunan Arvid. Evangeline ingat sekali, dulu Keanu pernah mengatakan bahwa dia tidak siap menjadi seorang ayah. Lantas bagaimana kalau dia kembali ke hadapan laki-laki itu dengan perut berisi?
Akankah Keanu menerimanya dan calon anak mereka?
Air mata Evangeline mengalir lagi, hanya saja lebih deras. Dia cuma memikirkan itu saja, tapi mampu membuat hatinya seolah disayat. Apakah ini artinya ia harus menggunakan kesempatan yang diberikan Tuhan?
Menikah dengan Adam, laki-laki lembut yang hanya tahu cara mendapatkannya, sekalipun dengan cara tak wajar.
Ia tatap laki-laki yang duduk di depannya itu, dengan tangis yang masih mendera. Namun, Adam sedang menunduk, sambil terus menciumi punggung tangannya.
"Adam."
"Yes, my love?" Kepala cowok itu sontak mendongak. Matanya yang semula khawatir berubah sedikit cerah. Ia senang akhirnya Evangeline mau membuka suara. "Kenapa? Ada yang sakit?"
Bukannya menjawab, Evangeline malah tambah menangis. Kali ini suaranya ikut keluar, sebagai refleksi atas duka di hatinya. Adam refleks bangkit, nalurinya menuntun untuk memeluk tubuh bergetar Evangeline.
"Hei, Sayang, ada aku. Jangan sedih, jangan takut." Ia ciumi kepala gadis itu, berusaha menenangkan.
Evangeline tidak membalas pelukan itu, tidak juga membalas ucapannya. Hanya terus menangis sesenggukan di dada bidang Adam.
Laki-laki itu pun membiarkannya, sampai Evangeline benar-benar tenang.
CKLEK!
"Permisi, Tuan, Nona. Saya mau memeriksa keadaan Nona Evangeline, sebelum diperbolehkan pulang."
"Oh, iya. Silahkan."
Adam bangkit, memberi ruang untuk dokter dan perawat memeriksa keadaan Evangeline. Gadis itu sebisa mungkin menahan tangis, tak mau dukanya diketahui orang lain. Sekalipun jejak basah itu sangat kentara di pipi tirusnya.
Sebenarnya apa yang dikatakan Gerald sampai membuat putrinya seterluka itu?
"Tuan Adam, bisa kita bicara di ruanganku?"
Adam menatap Evangeline sejenak. Entah hanya perasaannya atau memang benar adanya, Evangeline tampak menggeleng samar. Tapi, setelah matanya mengerjap berusaha membenarkan penglihatan, Evangeline sudah menoleh ke arah lain.
"Mari, Dokter." Katanya tanpa menoleh lagi ke calon istrinya. Kemudian berjalan keluar, dan diikuti oleh tenaga medis yang merawat Evangeline.
***
Ujian nasional akan segera berlangsung beberapa minggu lagi. Pada umumnya, seluruh siswa akan belajar mati-matian demi mendapatkan nilai memuaskan. Rela begadang sampai jatuh sakit.
Tapi tidak dengan seseorang dari keluarga mafia seperti Keanu. Hidupnya seolah bebas, dan tak terikat oleh apapun. Ia sudah berjaya. Lantas apalagi yang membuatnya harus melakukan kegiatan merepotkan itu?
Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan senjata dan dokumen tentang perusahaan maupun wilayah undergroundnya, daripada harus memahami soal-soal sulit yang tidak ada artinya itu. Toh, dia sudah cerdas sejak lahir. Mana mungkin bisa memimpin aliansi mafianya di usia muda begini, kalau tidak punya otak mumpuni.
Pagi ini ia harus pergi ke sekolah seperti biasa. Kendatipun tidak menginginkan belajar, tapi ia harus terlihat seperti siswa normal pada umumnya. Sibuk membaca buku di perpustakaan, alih-alih membaca laporan dari ponsel yang ia sembunyikan di balik bukunya.
Ditemani sebuah earphone, ia membaca dengan teliti laporan keuangan perusahaan. Tak berapa lama kemudian, laporannya sudah berganti dengan keuangan undergroundnya. Gara-gara serangan dari pihak Adam beberapa waktu lalu, markas utama harus dibangun ulang dan mengurangi pendapatan. Meski hanya beberapa persen, karena asetnya luar biasa banyak.
Kesibukannya itu sampai membuatnya tak menyadari seseorang yang duduk di sampingnya. Padahal biasanya Keanu menyadari pergerakan sekecil apapun di sekelilingnya. Tapi, manusia berperawakan tinggi berambut cepak itu seperti hantu, memiliki pergerakan tak kasat mata.
"Gue akui lo emang hebat. Mampu memegang kendali dunia atas dan dunia bawah. Tapi, gue tetep nggak suka kalo lo sampe nggak peduli sama mantan tunangan lo."
Keanu serta merta menoleh. Meskipun telinganya tersumpal earphone, ia tetap bisa mendengar seseorang dengan suara beratnya berkata dari samping kanan.
"Apa urusan lo?" Tanyanya ketus, setelah mengendalikan dirinya gara-gara kaget.
"Dia cewek baik sepanjang gue kenal semua cewek di dunia ini. Cewek paling lembut meski hatinya nggak bisa dikatakan selembut itu. Lembut dalam artian menjaga orang lain." Kata cowok pemilik nama Rano itu.
"Lo lebih tau dia ternyata." Keanu mengungkapkan kebenaran. Dibanding dirinya yang suka menyakiti Evangeline, bahkan sekarang membiarkan gadis itu ada dalam genggaman musuh, Rano memang lebih mengerti Evangeline.
"Semua orang tau, kok sifat dia. Kecuali elo, mungkin."
Keanu menghentikan kegiatan membacanya. Ia melepas kacamata dan menutup buku dengan satu gerakan. Pandangannya fokus ke depan, sambil menyesap kopi yang ia beli beberapa menit lalu di kantin.
"Dia nggak pantas terlahir dalam keluarga mafia. Itu sebabnya seluruh orang nggak boleh ungkap jati dirinya."
"Termasuk jati diri gue?"
Keanu menoleh. Ingatan cowok itu lantas memutar ke sebuah kesepakatan, di mana Rano tidak boleh mengetahui siapa dirinya. Siapa tuannya.
"Sebelum gue mengangkat seseorang buat jadi bagian penting dalam memimpin underground, gue lebih dulu awasin dia sampe dia dinyatakan mampu."
"Cih, kalo boleh milih, gue lebih suka kerja sama calon tunangannya Vita. Daripada sama elo, kaku."
Keanu terkekeh. Rano memang benar. Tapi, sayangnya takdir cowok itu sudah ditentukan sejak ia lahir. Takdir yang sama seperti anak-anak mafia lainnya, aliansinya.
"Emang lo tau dia di mana?"
Mata cowok calon bos mafia itu malah memicing. Dia seperti menyadari sesuatu yang mencurigakan. Dengan lancang, telunjuknya terjulur tepat di depan hidung Rano. "Lo nggak buka email gue? Hasil rapat udah gue send." Tuduhnya.
"Gue tau tentang lo aja baru semalem. Ya, gue mana peduli lo ngirim email. Gue kira nggak penting."
Keanu menatap tajam. Calon bawahannya, mengapa seperti ini?
"Buka sekarang."
"Males ah."
"Elrano Mahendra."
Cowok manis itu pun menurut. Sambil berdecak, ia merogoh hpnya di saku celana. Dengan tak ikhlas, ia membuka email dan mengecek kiriman Keanu.
Matanya membaca jeli, tanpa terlewat satu pun. Hingga pada beberapa kalimat yang mampu membuat matanya mendelik.
"Gila ya lo!"
"Ssuuutttttt." Suara-suara mendesis itu berasal dari penghuni perpustakaan yang terang-terangan terganggu dengan pekikan Rano. Disertai tatapan tajam ala Keanu.
"Nu, lo sadar nggak sih apa yang lo lakuin itu salah? Evangeline emang udah mantan, tapi mau nggak mau kalian harus tetap bersatu. Lagipula, apa kata aliansi? Mereka bakal pergi kalo tau kalian bener-bener nggak ada hubungan apa-apa lagi, karena militer kita murni dari keluarga Evangeline."
"Lo harus belajar taktik yang betul sama bokap gue."
"Bertahun-tahun gue kerja sama bokap lo, dan gue kira itu betulan. Tapi ternyata gue kerja sama lo. Jadi salah lo sendiri yang nggak pernah ngajarin gue."
"Belom ada kesempatan."
"Ini maksudnya apa, sih?"
"Kita biarin Evangeline di tangan musuh dan kita dapetin Gerald."
Mata Rano membola kaget. "Kok gitu? Om Gerald itu baik, kenapa kita jadiin target?"
Keanu mendecih mendengar pujian itu. Faktanya, Gerald sangat licik.
"Lo nggak tau sifat aslinya dia. Dia nggak akan pernah berhenti memperalat Evangeline kalo cewek itu belom berhasil nikah sama musuh."
"Maksud lo, Om Gerald menggunakan musuh buat nyerang kita?"
"Ya."
"Terus kenapa malah lo kasih Evangeline ke mereka? Om Gerald tambah girang, dong."
"Udah gue bilang. Musuh kerja sama bareng kita."
"Kok gitu? Asliiii, gue nggak paham."
Keanu tersenyum maklum. Rano memang belum pernah secara langsung terjun ke dunia bawah. Cowok itu hanya sering berkutat dengan komputer, menghack data musuh adalah keahliannya.
"Gerald punya masa lalu sama Keluarga Alanzo. Gue pake kesempatan balas dendam Alanzo buat menghancurkan Gerald. Kita nggak usah terjun langsung buat menghancurkan tua bangka itu, Keluarga Alanzo udah mewakili kita."
"Masa lalu?"
"Gue kirim ke email. Di sini nggak aman."
Tidak sampai satu menit, Keanu telah berhasil mengirim dokumen yang dimaksud ke surel Rano. Lantas memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, bangkit berdiri, dan bersiap pergi sambil menenteng buku.
Tapi sebelum itu, ia menyempatkan menepuk bahu Rano sedikit keras. "Good luck, asisten pribadi. Setelah lo tau siapa diri lo dan apa tugas lo, lo harus setia di samping gue."
Setelahnya Keanu benar-benar pergi, meninggalkan Rano yang tampak mengusap wajah frustasi.
Baru semalam ayahnya memberitahukan tentang jati dirinya yang asli, sekarang saja kepalanya sudah mau pecah. Apalagi kalau nanti dia sudah terjun langsung ke underground.
Karena selepas ia tahu, ia otomatis menjadi sorotan. Lantaran mengikuti Keanu kemanapun laki-laki itu pergi. Secara, kan Keanu sorotan dunia atas dan dunia bawah.
Jadi, ia juga pasti menyiapkan mental dan fisik dengan baik mulai sekarang. Ia tak tahu tangan siapa yang berusaha menariknya agar berhenti berkecimpung bersama Keanu. Kalau perlu, Rano akan membalas dengan pukulan telak.
Dapat ia bayangkan, hidupnya yang semula tenang dan damai, akan berubah menegangkan tak lama lagi. Sifatnya yang riang dan blak-blakan harus diubah demi nama baik. Wajahnya yang murah senyum harus diubah menjadi lebih dermawan, atau bahkan kaku seperti Keanu.
Ah, kenapa Rano selelah ini hanya memikirkannya? Ia tak perlu menjadi orang lain, tapi keadaan sangat memaksanya menjadi demikian.
Dan siapapun yang memusuhi tuannya, akan menjadi musuhnya juga.
Padahal, dulu Keanu lah yang ia anggap musuh. Hanya karena sifat semena-mena cowok itu pada Evangeline.
"Rano."
Cowok itu refleks mendanga. Luna Haven berdiri tepat di sampingnya. Tubuhnya seolah bersinar hanya karena matahari menyinari jendela dari belakang Luna.
Dia adalah siswi baru yang suka mengekori Keanu kemanapun laki-laki itu pergi. Lantas mengapa sekarang masih di sini? Padahal Keanu sudah lama pergi.
"Hai. Nyari Keanu ya?" Tanya Rano ramah. Mumpung takdirnya belum merenggut keceriaannya.
"Nyari elo."
"Huh?" Rano mengangkat sebelah alis tak mengerti. Tapi tak ayal ia menggeser duduknya, mempersilahkan Luna duduk di bangku panjang itu.
"Makasih." Katanya dengan wajah yang setia datar.
"Kenapa nyari gue?" Tanya Rano tak mau basa-basi. Ia sedang malas diajak pedekate. Semua fansnya yang baik bin budiman saja ia tolak, apalagi Luna yang berwajah kaku seperti Keanu.
"Gue nggak pernah liat elo di publik, tapi gue tau nama lo sering jadi perbincangan di wilayah kami. Gue nggak menyangka kalo asisten pribadi Keanu sedungu ini."
Bibir Rano sontak terbuka lebar. Melongo. Tak percaya dengan yang ia dengar barusan.
Cewek aneh. Nyari gue cuma buat nyacat.
Tapi, kenapa Rano menyadari sesuatu yang aneh?
"Kenapa lo tau jabatan gue? Lo stalker ya?" Tuduhnya yang terkesan pede. Membuat Luna melirik sinis.
"Bukan. Gue anak tunggal Keluarga Haven. Keluarga mafia urutan ke-empat di aliansi Arvid."
"Ke-empat?"
"Pemalsuan jaringan."
Ah, Rano baru mengerti sekarang. Kalau urutan anggota aliansi Arvid menyatakan pangkat mereka. Lantas, ia ada di urutan ke berapa?
"Kenapa nyari gue?"
"Kita satu tim buat target selanjutnya."
"Om Gerald?"
"Bukan. Seseorang dari kalangan bangsawan, yang tervonis penjara selama 25 tahun. Tapi, sekarang bebas secara misterius."
"Hm? Musuh Keanu?"
Luna menoleh. Kenapa asisten pribadi Keanu sedungu ini?
"Ya iyalah. Ngapain ngurusin dia kalo bukan musuh Keanu."
"Santai aja, Mbak." Sindir Rano tak suka.
"Entar malem di Markas 3. Gue tunggu di ruangan pribadi gue."
"Kenapa harus ke kamar lo? Khilaf gue entar."
Sumpah. Luna ingin sekali memutilasi manusia dungu ini. Padahal Rano sudah memiliki akses di Markas 3 sejak lama, hanya saja baru sekarang cowok itu tahu kebenarannya. Tapi, masa tidak paham dengan fungsi tiap ruangan yang merangkap jadi kamar itu?
"Karena kamar gue jadi pusat jaringan. Paham lo?"
"Oh. Iya."
Tanpa sepatah kata apapun lagi, Luna segera pergi meninggalkan Rano. Cuek saja dengan cibiran cowok itu tentangnya.
"Dasar lampir. Mati aja gue kerja sama bareng dia."