My Prisoner

My Prisoner
Flashback - Keanu



Laki-laki yang dikatakan oleh Brenda hadir hari itu juga. Tepat setelah satu minggu penyerangan Evangeline ketika perjalanan bersama keluarga ke villa. Di hari Senin, saat upacara bendera. Keanu dan Raymond berdiri bersisian untuk memperkenalkan diri mereka.


Satu minggu yang lalu Keanu menolak, hari ini laki-laki itu juga ingin menolak. Tapi ia penasaran dengan sosok yang digadang-gadang akan menjadi kawannya dalam menjaga Evangeline.


Sesungguhnya Gerald hanya tak suka Keanu dekat dengan Evangeline. Maka pria tua itu mengirim perintah untuk Raymond ikut menjaga putrinya.


Keanu tak heran. Jika Evangeline begitu memuja Raymond. Padahal laki-laki itu tak jelas asal usulnya, setidaknya di mata Evangeline. Karena Keanu sudah tahu siapa yang akan menjadi 'kawan'nya itu.


Raymond Elgahara. Putra tunggal Valir Elgahara, sang karyawan biasa di salah satu cabang perusahaan milik Gerald. Ibunya adalah wirausaha aksesoris dari daur ulang sampah. Keluarga yang terbilang sopan, baik, dan tidak neko-neko.


Tapi, Raymond istimewa. Dia berhasil diseret oleh Gerald karena ketahuan mencuri dompetnya. Kegesitannya membuat Gerald kewalahan. Sayangnya, pria tua itu berhasil melacak Raymond secepat memutuskan kehendak untuk mengirim Raymond mengawasi putrinya.


Raymond tangkas dan cerdik.


Walau bukan dari keluarga yang serba kekurangan, ia kerap melatih fisik dan mentalnya dengan mencopet. Tapi hasil dari keburukannya itu bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan.


Motivasinya berasal dari betapa banyak orang kaya yang tidak sudi memberikan sepersen pun untuk orang lain. Terutama untuk yang masih sangat kekurangan.


Raymond baik, hanya saja dengan cara yang berbeda.


Tapi, Keanu ingin memastikan. Seberapa pantas laki-laki itu menjaga Evangeline, sampai bisa dibanding-bandingkan dengannya.


"Rey, pulang sekolah nanti temenin ke toko buku yuk? Gue butuh referensi buat persiapan UN."


Evangeline diapit oleh dua laki-laki berbadan kekar. Raymond di sisi kanan dan Keanu di sisi kiri. Ia bicara sambil menoleh ke arah kanan.


Cowok berambut sedikit gondrong itu tersenyum sambil mengangguk. Dia seolah pasrah karena itulah hukumannya yang telah berani mencopet dompet orang penting.


"Saya selalu siap sedia menemani Anda, Nona." Balasnya, yang malah membuat Evangeline melirik gemas.


"Rey, gue udah bilang berkali-kali, jangan panggil gue pake sebutan itu. Nggak enak."


Raymond melirik Keanu yang berwajah kaku seperti biasanya. Tapi kali ini wajah itu terlihat berkali-kali lipat lebih kaku. Setelah mendengar ucapan Evangeline yang mungkin sangat menyinggung perasaannya.


"Maaf, Nona. Saya adalah bawahan Anda dan posisi saya sama seperti Keanu."


Langkah kaki cewek itu kontan berhenti. Tangannya bersidekap di depan dada. Menatap kedua laki-laki yang sangat berbeda jauh itu. Baginya, Raymond jauh lebih istimewa dibanding Keanu. Setidaknya cowok itu tak pernah diperbudak, hanya karena kesalahannya lah yang membuat Raymond harus menerima konsekuensi.


"Lo nggak sama kayak dia." Evangeline mengalihkan tatapan dari Raymond ke Keanu. "Kita sahabat, Raymond. Dan lo adalah pilihan papa, hadiah paling spesial buat gue."


Keanu lantas menoleh. Ingin ia menatap tajam, tapi hanya senyum samar yang ia tunjukkan. Coba nanti lihat, siapa yang bisa bertahan sampai napas terakhir untuk menjaga Evangeline.


"Anda hanya akan mengajak Raymond, Nona?" Tanya Keanu memastikan.


"Iya. Lo urus aja kebun rumah, keburu nggak kerawat entar. Lagian gue yakin, Raymond bisa jagain gue jauh lebih baik dari elo."


Keanu mengepalkan kedua tangannya. Posisi Raymond seolah setinggi itu, sampai dikhususkan oleh Evangeliene. Padahal cewek itu baru mengenal hari ini.


Ia tidak menjawab apapun lagi. Fokusnya langsung teralih melihat kedatangan Luna dari dalam kelas. Cewek bermata zamrud itu tersenyum ke arah Evangeline, mendekat kemudian merangkulnya untuk dibawa masuk ke dalam kelas.


Selepas koridor lengang, hanya sedikit lalu-lalang murid-murid, Keanu berjalan pelan sambil menahan lengan Raymond. Membuat laki-laki yang menjadi 'kawan'nya itu menghentikan langkah.


"Kenapa, Nu?" Tanyanya penasaran. Saat berdua begini, rasanya Raymond tak harus bersikap formal dengan Keanu.


"Gue suka sama Evangeline."


Sebelah alis Raymond terangkat. Kemudian tawanya meledak.


"Kenapa bilang sama gue?"


"Karena lo orang pertama yang bisa menghalangi perjuangan gue."


"Oh ya? Atas dasar apa?" Raymond mendekat, wajahnya menampilkan seringai menyebalkan. Mengejek secara terang-terangan. "Apa karena Evangeline lebih suka gue, dibanding elo? Ah, kayaknya dia juga jatuh cinta sama gue."


Tangan Keanu refleks menarik kerah seragam Raymond. Sampai membuat kerumunan dadakan beberapa siswa yang tak sengaja lewat.


"Gue bakal buktiin kalo gue jauh lebih pantas dibanding elo."


"Pantas dalam hal apa maksud lo? Derajat?"


Keanu sudah akan melayangkan bogem mentah tepat di wajah laki-laki sok tampan yang sialnya memang tampan itu. Tapi ia urungkan, saat sadar kini dirinya tengah menjadi tontonan banyak orang.


"Lo nggak lebih baik dari gue, Raymond Elgahara. Inget kalo gue pernah bilang begini sama lo. Karena suatu saat, cuma kata-kata ini yang lo inget saat detik terakhir lo hidup."


"Lo ngancem gue?"


"Keliatannya gitu."


Raymond melepas paksa tangan yang masih bertengger meremas seragamnya itu.


"Gue tunggu hari itu."


Selepasnya ia pergi menyusul Evangeline ke dalam kelas. Disusul Keanu dengan wajah penuh kebulatan tekad.


***


Satu minggu sudah semenjak Evangeline untuk pertama kali mengucapkan kalimat istimewa untuk Raymond. Mereka berdua kemudian menjadi lengket seperti lem dan kertas. Selain karena sudah tugas Raymond untuk menjaga majikannya, tapi juga karena pengaruh cowok itu untuk Evangeline.


Keduanya kerap berjalan bersama, tanpa ada Keanu. Ia hanya akan ada di sisi Evangeline ketika gadis itu bersekolah. Di luar jam sekolah, Evangeline hanya meminta Raymond untuk menjaganya. Tapi walaupun begitu, Keanu tak pernah lengah untuk mengawasinya. Ia selalu mengawasi walau dari jauh.


Kesempatan itu tidak pernah disia-siakan Keanu. Ketika Evangeline tidak membutuhkannya, ia otomatis bebas untuk menjamah dunia gelapnya. Waktunya luar biasa lengang untuk dunia yang sudah ia kenal sejak bayi itu.


"Tuan Muda, saya mendapat informasi bahwa Nona Evangeline pergi ke pantai bersama Tuan Raymond."


"Biarkan mereka menikmati waktu yang masih bebas ini, sebelum aku memenggal kepala salah satunya." Balas Keanu cuek. Sambil menyesap kopi hitam yang masih tampak mengepul.


"Tapi, Tuan, kamera kami menangkap adegan ini."


Orlando menyerahkan beberapa lembar foto dengan berbagai adegan. Keanu segera menyahutnya dengan penuh penasaran.


Di foto pertama, Evangeline tampak memeluk Raymond di atas pasir tepi pantai. Wajah gadis itu terlihat sendu, seolah sedang bersedih.


Di foto ke-dua, Raymond memegang kedua pipi Evangeline dengan mulut terbuka. Seolah sedang membicarakan sesuatu untuk menenangkan majikannya.


Lalu di foto ke-tiga, dada Keanu seolah dihimpit batu rasanya. Sesak bukan main. Bukan karena cemburu, tapi karena saking murkanya.


Mereka berdua berciuman seolah tidak ada siapapun di sekitarnya. Tanpa malu, dan dengan kepolosan anak usia 15 tahun.


"Raymond Elgahara." Desisnya bagai ular. Matanya menatap bengis sosok laki-laki yang dengan kurang ajarnya melanggar batas antara majikan dan bawahan.


Raymond juga sudah kurang ajar menganggap remeh ancamannya, tanpa berpikir panjang akan seperti apa kedepannya. Laki-laki itu sekarang bisa menikmati keindahan senyum manis Evangeline, tanpa peduli pada Keanu yang seminggu lalu telah mengancamnya dengan serius. Tapi, lihat saja nanti. Keanu akan benar-benar membuktikan perkataannya.


"Orlando, menurutmu aku harus bagaimana kalau jatuh cinta dengan seorang gadis?"


Kaki tangan yang setia mengikuti ke manapun Keanu pergi itu mendanga. "Anda harus menyatakan cinta padanya, Tuan." Balasnya tanpa ragu. Seorang pria sejati harus mau menjalankan keputusan dan menerima resiko, kan?


Keanu tersenyum simpu mendengar jawaban yang sangat memuaskan itu.


"Besok pagi aku akan mengejar gadisku."


Mungkin Keanu gila. Awalnya ia hanya ingin membuktikan kepiawaiannya dalam menjaga Evangeline. Menunjukkan pada semua orang bahwa ia jauh lebih baik dari Raymond. Tapi, gadis itu saja tidak menginginkannya sejak awal. Bagaimana bisa ia membuktikan keyakinannya?


Mau tak mau Keanu harus membuat rencana gila. Mungkin ia akan sedikit melibatkan perasaan, agar lebih mendalami drama yang bisa membuat Evangeline jatuh bertekuk lutut padanya. Agar ia dilihat secara nyata oleh gadis itu. Dan agar ia mendapat penghargaan dari sang ayah, yang sudah sangat mengidam-idamkan ia bersama Evangeline.


Malam ini juga, Keanu menganggu waktu beberapa pelayan toko bunga untuk merangkai bunga paling istimewa yang akan ia berikan untuk Evangeline besok pagi. Ia secara rendah hati meminta bantuan teman-teman sekolahnya untuk ikut menyukseskan rencana. Hampir semua warga sekolah yang sudah ia kenal beberapa hari ini ia mintai pertolongan. Keanu harus terlihat meyakinkan bukan? Agar seluruh orang mengira bahwa ia benar-benar mencintai Evangeline.


***


"Evangeline Sonja, maukah kamu menjadi kekasihku? Aku berjanji, apapun yang kamu mau akan aku kabulkan. Aku akan setia menjagamu. Aku berani berkorban, berani kehilangan nyawaku asalkan tidak kehilangan kamu. Aku harap kamu bersedia menerimaku."


Suasa lapangan basket kala itu ramai sekali. Seluruh orang bersorak-sorai menyerukan semangat untuk Keanu. Mereka membawa bunga untuk ditaburkan secara sia-sia untuk calon pasangan yang sedang berdiri di tengah lapangan itu.


Tapi, Evangeline merasa risih. Lagi pula ia sudah menjatuhkan perasaan untuk Raymond. Teman, sahabat, dan orang terkasih. Hanya saja mereka memang belum resmi berpacaran, karena Raymond tidak pernah mengungkapkan perasaan sesungguhnya.


"Jangan bikin gue malu, Keanu." Katanya setajam bilah pisau. Tangannya meremas buket bunga yang diberikan Keanu padanya.


"Aku nggak membuat malu siapapun. Bukankah cinta yang tulus pantas diperjuangkan?" Keanu terus menampilkan senyum bodohnya. Mendramatisir keadaan agar Evangeline sudi menerimanya.


Tapi gadis itu tampak tak peduli. Ia meremas dan menghancurkan bunga-bunga yang dirancang sangat cantik untuknya. Kemudian ia lempar benda yang sudah berkurang nilai keindahannya itu tepat di depan dada Keanu.


Telunjuk kanannya menempel di dada laki-laki itu. "Gue nggak akan pernah sudi jadi pacar lo. Inget posisi lo yang nggak pantes bersanding sama gue. Bahkan dibanding-bandingin sama Rey aja lo nggak pantes."


Suara ramai yang semula menggema memenuhi lapangan tiba-tiba saja berubah sunyi dalam beberapa detik. Kemudian disusul dengan sorakan atas tingkah sombong Evangeline, dan gumaman penuh nada kasihan untuk Keanu, yang mirip dengung tawon.


Sedangkan cowok itu masih tersenyum rapi. Ia hanya menyendukan matanya sedikit.


"Hahaha, tuan sok manis, mending pacaran sama pembantu gue aja. Dia sama cantiknya kayak Evangeline, kok. Cuma ya sama derajat kayak elo juga."


Suara kurang mengenakkan itu datang dari Anggi, disusul Luna. Sementara Evangeline hanya menatap sinis, kemudian pergi meninggalkan Keanu yang berdiri sambil menatap kecewa ke arahnya. Beberapa meter di depan sana, di barisan paling depan, berdiri sosok Raymond yang menyambut kedatangan Evangeline dengan senyum menawan.


Mereka berdua kemudian berangkulan, sambil menuai tawa yang menimbulkan banyak komentar positif dan negatif. Tak hanya itu perbuatan yang bisa melukai hati Keanu. Tapi juga lirikan mereka yang sinis.


Keanu tetap berdiri sambil menahan rasa ingin membunuhnya. Evangeline berani menolak, dan Raymond berani meremehkannya.


Akan ia buat perhitungan untuk mereka berdua. Evangeline harus mampu melirik ke arahnya, dengan apapun cara itu. Agar Keanu cepat-cepat bersanding dan menuntaskan kewajibannya untuk Si Sialan Evangeline.


Untuk Raymond, Keanu akan pikirkan lagi nanti.


Pokoknya fokus Keanu hanya kepada Evangeline. Gadis itu harus mampu melirik ke arahnya sedikit saja. Dan mengalihkan pandangan seutuhnya dari Raymond.


***


To My Beloved Readers....


Haiiii, I'm comeback!!! Aku berharap cerita ini tambah asyik dan tambah yoi, wkwk. Jangan dibuat spaneng lah bacanya, karena lebih spaneng aku sang author, hehe.


Buat kalian yang mengaku orang baik dan berbudi pekerti unggul, tolong apresiasinya ya. Aku bukannya maksa. Tapi, masa ya kalian yang katanya orang baik, mampu membaca tanpa mau ngucap terima kasih? Hehe.


Terima kasihnya dengan apa? Like, comment, kritik, saran, votes, dan bintang. Ayolah, jangan pelit. Aku tau ngeklik semua itu nggak sesulit ketika aku membuat cerita ini.


Oh iya, aku ucapkan terima kasih juga, untuk kalian yang masih setia membaca ceritaku sampai detik ini. Big hug for u guysss :*