My Prisoner

My Prisoner
Flashback - Evangeline



“Ma, Keanu udah gila! Aku nggak mau pacaran sama dia.”


“Kenapa? Keanu adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia bisa melakukan apapun untuk melindungimu."


“Dia nggak selevel sama kita, Ma. Dia cuma tukang kebun di rumah kita. Lagi pula aku mencintai Rey.”


“Jaga ucapan kamu, Evangeline. Kamu pikir ada di posisi Keanu itu mudah? Harusnya kamu berterima kasih dengannya, yang mau terluka demi kamu.”


“Pokoknya aku nggak akan pernah sudi jadi pacarnya! Aku cinta Rey.”


“Terserah kamu, Evangeline. Suatu hari nanti, kalau kamu ada di bawah, jangan berharap orang lain mau menolongmu.”


“Aku punya papa yang super kaya dan punya mama yang hebat. Aku nggak akan pernah kekurangan sedikit pun.”


Brenda tak mengacuhkan ucapan putrinya lagi. Ia hanya menatap Evangeline yang keluar kamarnya dengan kaki menghentak kesal ke lantai.


“Eve.”


“Rey? What are you doing here?”


Saat Evangeline membuka pintu kamar Brenda, gendang telinganya langsung menangkap panggilan khusus dari seseorang. Raymond berdiri di sisi sebelah kiri, padahal laki-laki itu ia titahkan untuk mengerjakan tugas di kamarnya.


“Kamu lama banget di kamar Mamamu. Sedangkan aku kesulitan ngerjain soalnya, jadi aku nyusul kamu ke sini.” Ucap Raymond dengan nada merajuk. Membuat Evangeline tersenyum geli, lalu menggandeng tangan cowok itu untuk ikut pergi bersamanya.


“Bilang aja kalo kangen. Karena aku nggak akan pernah percaya kalo kamu bisa kesulitan ngerjain soal. Kamu jenius, Rey Sayang.”


“No. Kamu lebih jenius. Aku bahkan bisa membayangkan kalo kita punya anak suatu hari nanti, dia pasti sangat jenius kayak kamu.”


“Rey, jangan merayuku.”


“Kenapa? Kamu spesial buatku.”


Rona merah muncul di kedua pipi Evangeline. Bohong kalau dia tak tersipu. Sekalipun Rey tak pernah menyatakan isi hatinya, tapi perlakuan cowok itu saja sudah cukup membuat Evangeline percaya diri.


“Nona Evangeline?”


Langkah kaki keduanya berhenti sejenak. Secara tepat, Evangeline berhadapan dengan Keanu yang datang dari arah berlawanan. Laki-laki itu terlihat mengenakan sarung tangan dan membawa pot bunga krisan di tangan kiri. Seperti biasa, wajahnya yang kaku menampilkan senyum tak kalah menawan dari Raymond.


“Kenapa?” Tanya Evangeline cuek.


“Anda ingin saya menanam bunga ini di mana?”


“Udah gue bilang di bawah, kan?”


“Bisa Anda tunjukkan tempatnya, Nona? Saya kurang memahami letak sebenarnya.”


Evangeline memutar kedua bola matanya malas. Ingin membantah, tapi tangannya dielus oleh Raymond. Cowok itu seolah meminta Evangeline menemani Keanu ke lantai satu.


“Ikut gue.” Evangeline menoleh ke arah Raymond. “Rey, kamu kerjain dulu sebisanya, oke? Aku urus sebentar si manusia ngribetin ini.”


“Oke, Eve. Selamat bersenang-senang.”


“Rey.” Dengus Evangeline dengan mata memicing tajam. Membuat Raymond terkekeh.


Keanu mencetak senyum lebar sambil mengikuti langkah pendek Evangeline.


Hingga sampailah mereka di halaman belakang yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola. Terdapat sebuah rumah khusus untuk para pelayan beristirahat di sebelah kiri. Salah satu kamarnya ditempati Keanu, tapi tidak ada yang boleh menjamahnya selain dirinya sendiri.


Karena di dalam kamar itu, terdapat berbagai macam alat elektronik dan senjata perlindungan diri. Tentu saja ia membutuhkan semua itu ketika Evangeline sedang jauh dari jangkauannya.


Sedangkan di sebelah kanan, tepat di seberang rumah para pelayan, terdapat gudang dengan dua pintu. Pintu sebelah utara tersegel rapat, sementara pintu sebelah selatan masih berfungsi untuk keluar-masuk semua orang.


Halaman super luas itu langsung mengarah ke kebun bunga yang terawat rapi berkat tangan-tangan lihai tukang kebun, kecuali Keanu.


Langkah kaki Evangeline yang otomatis diikuti Keanu mengarah ke sana. Memasuki kawasan penuh bunga. Ada perpustakaan mini di tengah-tengah kebun. Bangunan transparan, namun kedap suara. Evangeline dan Brenda menyukai tempat asri. Jadi, keduanya terkadang menghabiskan waktu bersama di ruang itu.


Selain untuk membaca, beberapa teman Evangeline yang datang mengerjakan tugas bersama sering ada di tempat itu. Terkadang Evangeline tak menyukai ketika kamarnya berantakan sehabis mengerjakan tugas kelompok.


“Krisannya ditaruh di situ. Terus yang di atas diganti sama Begonia.”


Keanu melaksanakan perintah Evangeline. Sebagaimana tukang kebun pada umumnya, ia berlagak memilah tanaman begonia mana yang kelihatan segar. Sambil sesekali matanya mengawasi Evangeline yang kini berjalan memasuki perpustakaan mini.


“Keanu!”


“Ya, Nona?” Dengan tergopoh-gopoh ia mendekati sumber suara yang memanggil namanya itu.


“Siapa yang suruh kamboja masuk ke ruangan ini? Gue nggak suka bunga kuburan itu ada di sini.”


“Lalu Anda ingin menggantinya dengan apa, Nona?”


Alis Evangeline menukik, matanya bergulir ke berbagai arah. Tapi setelah sekian detik berpikir, tak ada satu pun nama atau wujud bunga yang terbayang dalam otaknya.


“Terserah elo. Pilihin yang paling bagus.”


“Baik, Nona.”


Evangeline menutup pintu dan meninggalkan Keanu yang tengah melebur bersama tanaman-tanaman hias lainnya. Tanpa gadis itu tahu, bahwa Keanu sedang menyusun rencana emas.


Pot berwarna silver adalah yang paling mencolok di antara pot warna gelap lainnya. Keanu sengaja memesan pot itu secara pribadi, agar bisa membedakan yang mana karyanya dan karya orang lain. Karena karyanya istimewa, ada kamera tersembunyi yang berbaur bersama warna daunnya yang hijau.


CKLEK!


“Nona, saya membawa tulip untuk Anda.”


“Taruh di sana.” Balas Evangeline sambil menunjuk samping rak kayu rendah.


“Saya juga sudah selesai dengan begonia pesanan Anda. Bisakah saya antar sekarang?”


Evangeline hanya mengangguk. Ia meletakkan kembali buku yang sempat ia sentuh ke tempat semula. Kemudian berjalan mendahului Keanu yang membawa begonia cantik berwarna kuning itu.


“Nona.”


“Hm.”


“Saya serius dengan ucapan saya.”


“Yang mana?”


“Tentang Anda yang menjadi pacar saya.”


“Perasaan, gue udah jawab nggak mau. Tapi kayaknya lo budeg ya?”


“Kalau begitu biarkan saya membuktikan ucapan saya, Nona.”


“Dengan apa, heh?”


“Jangan bepergian bersama Raymond, Nona. Saya cemburu.”


Perut Evangeline serasa digelitik. Pendengarannya cukup normal untuk menyimak ucapan konyol Keanu baru saja. Sumpah, baru kali ini ada seseorang yang sangat tidak tahu diri terus mengejar cintanya.


“Terus apa urusan gue?” Tanyanya sarkasme.


“Anda belum pernah melihat saya cemburu, Nona.”


“What? Terus gue harus takut gitu?”


“Anda akan terus menyanggah saya kalau kejadian itu belum terjadi.”


“Kejadian apa yang lo maksud? Jadi pacar lo? Cihh, sampai kapan pun juga gue nggak sudi.”


“Bukan. Suatu hari nanti Anda akan tahu siapa saya.”


Evangeline benar-benar tertawa sekarang. Baginya Keanu sudah benar-benar gila. Terobsesi entah karena wajahnya, kepintarannya, atau karena hartanya. Tapi yang ke-tiga adalah yang paling mungkin.


“Gue nggak mau denger omong kosong lo lagi ya, Keanu. Cukup lo sadari bahwa kita nggak akan pernah mungkin bisa bersama. Gue mencintai Rey, dan dia juga mencintai gue. Harusnya setelah hari itu lo sadar kalo lo harus mundur, tapi gue salut karena ternyata lo bener-bener ngemis sama gue. Ya, gue nggak heran kalo harta gue lebih menggiurkan dari segala apapun yang gue punya. Iya, kan?”


Keanu ingin menolak pembenaran itu. Tapi urung ia lakukan, karena perdebatannya tak akan bisa ia menangkan sebelum Evangeline tahu siapa dia sebenarnya.


“Anda adalah kekasih saya mulai hari ini, Nona.”


“Dasar gila.”


***


Hari-hari berikutnya, hidup Evangeline serasa seperti di neraka. Keanu benar-benar menepati ucapan yang seolah janji itu.


Hari ini saja, Keanu berani melarang Raymond untuk tidak mengikuti Evangeline ketika berbelanja di mall. Gadis itu tentu marah, mengancam Keanu. Tapi, entah kenapa Raymond tampak takut sehingga benar-benar menuruti Evangeline.


"Nona, ingin berbelanja apa lagi?"


"Nothing."


"Kalau begitu biar saya yang mengajak Anda ke restoran Jepang di sini."


Namun Keanu tersenyum menanggapinya. "Saya serius, Nona. Sebagai kencan pertama kita."


Evangeline mendengus geli. Tapi tak urung ia tetap mengikuti langkah lebar Keanu. Ia ingin melihat, seberapa mampu Keanu dalam membayar semua pesanan mereka.


Wait!


Kenapa Evangeline berjalan di belakang cowok itu? Hell!!!


"Lo ngapain, sih di depan gue. Sini dong belakang." Katanya sinis. Membuat Keanu menghentikan langkah dan membiarkan Evangeline melangkah menyejajarinya.


Bukannya ada di belakang cewek itu, Keanu malah ada tepat di sampingnya. Awalnya Evangeline ingin protes, tapi hari ini busa dalam mulutnya sudah keluar terlalu banyak. Tenaganya juga sudah terkuras hanya karena terus mengoceh tak berguna pada Keanu.


"Mau pesan apa, Nona, Tuan?" Salah seorang waiters menghampiri meja Evangeline dan Keanu yang terletak di pojok.


"Onigiri, Udon, Sup Miso. Dessertnya yang istimewa."


"Minumannya?"


"Aku enggak." Balas Evangeline sambil melirik sebotol air mineral yang segar dalam penglihatannya. "Lo mau pesen apa?" Tanyanya tanpa menatap Keanu.


"Ramen saja. Minumannya Aojiru dan Matcha Latte Ice."


"Baik, saya akan mengulangnya. Onigiri, Udon, Sup Miso, Aojiru, kesemuanya berjumlah satu porsi. Kemudian minumannya Aojiru dan Matcha Latte Ice, berjumlah satu. Kemudian dessert paling istimewa di restoran kami adalah Anmitsu dengan Mochi dan es krim."


Gadis berambut coklat terang itu mengangguk-angguk mantap, sembari melempar senyum manis.


"Itu saja."


"Apakah tidak ada lagi yang perlu Anda minta, Nona, Tuan?"


"Tambahkan Manju." Timpal Keanu yang langsung ditulis oleh sang waiters. "Sudah itu saja."


"Baik. Silahkan menunggu hidangan kami sambil menikmati tamu kami malam ini."


Evangeline hanya mengangguk. Matanya lantas menatap ke depan, tepat ke atas panggung. Sumber suara dari lagu apik yang dinyanyikan dengan merdu.


"Evangeline."


"Hm?"


Keanu mengangkat senyum miring mendengar sahutan Evangeline. Saking berkonsentrasinya gadis itu dengan sang penyanyi di depan sana, ia sampai tak menyadari bahwa Keanu memanggil tanpa embel-embel.


Memori Keanu lantas berputar ke bayangan masa depan. Di mana ia akan dengan bebas memanggil nama Evangeline tanpa embel-embel. Menikmati wajah gadis itu lebih dekat dari sekarang.


Meskipun hatinya jengkel karena sifat sombong Evangeline, tapi Keanu juga tidak memungkiri bahwa menatap wajah Evangeline adalah secuil kedamaian untuknya.


Gadis itu seolah menenangkan kalau diam seperti ini. Sementara akan jadi neraka apabila sudah membuka mulutnya.


"Aku ada yang nggak bisa sama mapel di sekolah."


"Hm? Apa itu?"


"Matematika. Kemaren kamu tau sendiri aku dapet nilai 5. Sekarang aku pengen diajarin sama kamu. Boleh kan?"


Antara sadar dan tidak, Evangeline menoleh dengan mata mengerjap. Lantas mengangguk dan tersenyum.


"Kapan gue bisa ngajarin lo?"


"Besok malem aja. Malam ini kamu udah capek banget kayaknya."


"Oke."


Tanpa Evangeline ketahui, Keanu memanjangkan tangan kanannya yang tertekuk di atas meja. Menyampirkannya di atas punggung kursi Evangeline. Sambil mengamati keadaan di sekitar, barangkali ada seseorang yang berniat kurang baik lagi. Sesekali juga mengarahkan pandang pada wajah manis Evangeline.


"Gue boleh nanya sesuatu sama lo nggak?"


Tiba-tiba saja, gadis itu menoleh. Dalam jarak dekat seperti ini, Keanu sampai bisa mencium wangi stroberi yang menguar dari bibir Evangeline.


"Boleh." Dalam keterkejutan yang mampu tertutupi, Keanu menjawab bimbang.


Kiranya apa yang membuat gadis itu bersikap sedikit sopan dalam bertanya. Padahal kalimat sarkas yang biasa ia tunjukkan.


"Gue sering jahat sama lo, kenapa lo bisa suka sama gue?"


"Emang kalo suka harus liat sifatnya dulu? Aku juga nggak tau kenapa bisa jatuh cinta sama cewek sombong kayak kamu."


Bukannya marah, Evangeline malah terkekeh pelan. Membuat Keanu tertegun barang sejenak.


"Tapi gue nggak cinta sama lo, Keanu. Gue cinta sama Rey."


"Lalu?"


"Gue nggak bisa ngasih apa-apa."


"Kamu bisa."


Mata yang biasa terlihat teduh itu entah mengapa berubah menjadi setajam elang. Tangannya bahkan sedikit mencengkeram pundak Evangeline.


"Maksud kamu?" Cewek itu takut. Tentu saja. Aura Keanu terlihat berbeda sekarang.


"Jauhi Raymond dan kamu bisa membalas cintaku."


"Aku nggak mau!"


"Kenapa? Karena aku miskin?"


Evangeline termangu. Selama ia mencemooh Keanu yang bekerja sebagai tukang kebun sementara di rumahnya, ia belum pernah mendengar cowok itu berkata tentang salah satu faktanya. Seperti ditampar, Evangeline kontan menoleh ke lain arah.


"Lo bisa nyari cewek yang lebih baik dari gue, Keanu. Gue jahat kan sama lo? Itu artinya gue nggak pantes buat lo."


"Emang kamu tau aku sebaik apa? Atau kamu tau kamu sehebat apa, sampai-sampai bisa bilang pantas atau enggaknya kamu denganku? Aku cinta sama kamu nggak peduli apapun yang kamu lakukan, Evangeline."


"Tapi gue nggak cinta sama lo, Keanu. Bukan karena apa yang lo punya."


"Tapi?"


"Karena gue lebih dulu cinta sama Rey."


"Hah." Keanu membuang napas asal. Punggungnya ia senderkan sejenak di sofa. "Kamu cinta sama cowok asing itu di saat kamu udah kenal aku lebih dulu."


"Tapi nyatanya Rey lebih berarti ketimbang elo. Rey juga pilihan papa, dia udah dipercaya sama bokap gue."


"Oh, hahaha." Evangeline menatap kaget bercampur penasaran mendengar tawa bebas itu. "Kamu lebih percaya sama orang yang mungkin bisa menghancurkan masa depanmu."


"Jaga omongan lo, Keanu! Lo nggak tau apa-apa tentang bokap gue."


Keanu mengangkat kedua tangannya ke atas, menyerah. Tapi sedetik kemudian tawanya merebak lagi, seolah sedang bercanda.


"Mau cinta atau enggak kamu sama aku, aku bakal tetep jadiin kamu pacarku. Dan kamu harus berani menjauhi Rey demi aku."


"Lo bukan siapa-siapa gue, Keanu! Jangan sembarangan ngasih titah yang gue nggak suka."


"Aku nggak memaksamu untuk suka. Aku cuma memaksamu untuk tinggal di sisiku dan mencintaiku sepenuh hatimu."


"Tutup mulut lo!"


"Ingat, Evangeline. Sebentar lagi kamu akan melihat apa saja yang bisa aku lakukan buat mendapatkan kamu."


Bulu kuduk Evangeline meremang seketika. Ucapan Keanu seperti backsound horor dalam film berhantu. Terus membayangi bahkan sampai makanan sudah tersaji, dan membuatnya tidak betah makan sampai tandas.


Akhirnya, ia keluar dari restaurant lebih dulu. Tanpa sepatah kata dan membiarkan Keanu menyelesaikan pembayaran sendiri. Membuat cowok itu sedikit tergopoh-gopoh menyusulnya yang hampir mencapai basement.


"Tunggu." Tangannya segera mencekal lengan Evangeline. Membuat gadis itu berhenti tanpa menoleh.


Mereka berdua sudah sangat mirip seperti sepasang kekasih. Dengan si cewek yang tengah merajuk.


"Duitnya kurang?"


"Bukan. Aku mau ngajak kamu ke toko perhiasan. Kamu harus punya tanda supaya nggak semua orang bisa mendekatimu."


"Hah?"


Belum sempat Evangeline mencerna dengan baik, tangan Keanu sudah lebih dulu menariknya. Sampai langkahnya sedikit terhuyung dengan pikiran masih ngeblank.


Ketika Keanu memakaikannya sebuah anting dengan berlian merah darah, Evangeline baru menyadari bahwa maksud dari 'tanda' adalah ia yang memakai perhiasan dari Keanu.


Awalnya Evangeline hanya menganggap remeh harga anting berbandul merah itu. Tapi, saat sang kasir menyebutkan nominal dan Keanu menyerahkan sebuah black card, jantung Evangeline rasanya seperti ingin berhenti.


Bagaimana bisa laki-laki macam Keanu memiliki black card yang hanya dipunyai oleh beberapa persen manusia beruntung di bumi ini?