
Sudah sejak terakhir kali di rumah mama, Evangeline menolak ikut Keanu kembali ke mansionnya. Gadis itu kini tidak lagi dipaksa. Entah mengapa, muncul kelegaan dan kehampaan secara bersamaan.
Lega karena Keanu tidak lagi memaksanya, dan hampa karena kesepian tanpa cowok itu.
Kesepian?
Evangeline tak suka mengakui ini sebenarnya. Ketika Keanu menyerah untuk membuatnya bertekuk lutut. Membiarkannya bebas dan tidak ditawan seperti biasanya. Aneh memang, karena ia sudah sangat terbiasa dikekang laki-laki itu. Sekarang, 'dijauhi' oleh Keanu saja rasanya malah seperti luka.
"Heh, ngelamun aja lo! Kesambet tante baru tau rasa lo." Seloroh Ara yang datang entah dari mana. Evangeline tak terlalu memperhatikan karena sibuk dengan dunia alam bawah sadarnya.
"Tante siapa?" Tanyanya dengan alis mengernyit.
"Tante Kunti, lah!"
Evangeline berdecak malas. "Ada-ada aja, ah."
"Eh, tapi seriusan deh. Lo akhir-akhir ini banyak melamun. Kenapa, sih? Punya masalah sama tunangan lo ya?"
"Kepo."
"Aliinn, gue sebagai sahabat lo juga pengen bantu saat lo punya masalah."
"Tapi gue nggak butuh bantuan siapapun." Sergah Evangeline secepat kilat. Matanya menyiratkan ketidaksukaan yang jelas, membuat Ara sedikit menciut di tempat duduknya.
Gadis pemilik rambut pendek sebahu itu berdehem sebelum berbicara. "Terserah elo sih, Lin. Niat gue baik, kok. Nggak pengen macem-macem, cuma pengen bantuin aja."
"Hm."
Respon Evangeline yang singkat dan tak acuh seperti itu sudah biasa didengar Ara. Namun, kali ini entah mengapa rasanya lebih sakit. Ia hanya... merasa seperti tidak berguna untuk teman yang sudah ia kenal baik sejak kelas satu SMA ini.
"Eh, Lin!" Mata Ara yang jago jelalatan tiba-tiba saja melihat dua orang berjalan memasuki kantin. Cewek dan cowok, bergandengan pula. Si cowok memiliki aura dingin yang nyaris tak pernah hangat. Si cewek memiliki aura ramah dan selalu positif. "Itu pacar lo ngapain gandengan sama cewek lain?!"
Evangeline menoleh dalam sekejap. Matanya sampai harus mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Atau mengecek telinganya sekali lagi untuk memastikan tidak keliru mendengar ucapan Ara.
Dan... gadis itu memang benar. Keanu sedang bergandeng tangan dengan Vita.
Astaga!
"Sialan!" Desis kebencian berikut tatapan mata siap membunuh, dilayangkan kepada pasangan yang mungkin sedang dimabuk cinta. Ara sampai bergidik melihat tatapan yang baru kali ini ditunjukkan sahabatnya.
"Jadi ini kenapa lo sama Keanu jarang keliatan bareng? Lo... udah putus sama dia?"
Evangeline mendelik tajam menatap Ara. Omongan gadis itu kelewat ngawur.
"Putus simbah lo! Gue sama Keanu udah tunangan, lo tau itu. Mana ada kata putus!" Bentak Evangeline tak sabaran.
Ara menghela napas. Salah lagi, batinnya. Dirangkulnya pundak Evangeline, berusaha menenangkan.
"Sabar, Lin. Gue tau lo cemburu berat sekarang. Tapi-"
"Siapa yang cemburu?"
"Eh?"
"Gue cuma nggak suka dipermaluin kayak gini. Menurut gue, Keanu itu udah mencoreng nama baik dua keluarga. Gue nggak bisa terima itu."
Setelah mengucapkan serangkaian kata yang mungkin tak sepenuhnya benar, Evangeline langsung berdiri dan berjalan cepat menuju pasangan yang baru saja duduk. Tak memperdulikan teriakan Ara yang menggaung di belakang sana.
BRAK!
Seluruh pasang mata penghuni kantin memusatkan perhatian ke suara gaduh tersebut. Ada yang terang-terangan diabadikan untuk dipajang di mading sekolah sebagai berita hangat. Ada juga yang tertawa mengejek. Dan tentu saja ada yang menatap kasihan ke Evangeline.
Siapa, sih yang nggak tau acara pertunangan Evangeline dan Keanu yang diadakan beberapa hari lalu? Meskipun tidak satu pun warga sekolah menerima undangan itu, tapi mereka tahu dari televisi. Keluarga Keanu yang super kaya itu jelas menjadi sorotan publik.
"H-hai, Evangeline. Ka-kamu mau makan di sini juga? Biar aku pesenin baksonya sekalian ya?"
Evangeline melempar tatapan menusuk ke gadis pemilik suara lembut tapi berhati medusa itu. Membuat tatapan ramah Vita berubah sedikit saja.
"Nggak usah! Gue nggak mau ngerusak suasana kalian berdua." Tekan Evangeline di bagian terakhir.
Keanu menghela napas melihat kemarahan gadisnya. Evangeline adalah gadis cerdik dengan sifat yang tidak bisa dipahami secara langsung. Butuh bertahun-tahun untuk Keanu menjerat gadis itu ke pelukannya. Hingga acara pertunangan itu dilakukan untuk memaksa Evangeline tetap tinggal di sisinya.
"Lo mau apa, Lin?" Tanyanya putus asa. Ia sudah sangat sabar ketika Evangeline menolaknya pulang ke mansion.
"Lo mau jujur sama gue sekarang, di depan anak-anak, atau kita bisa bicara berdua di luar?!"
"Jujur tentang apa?"
"Nggak usah sok bodoh. Lo harusnya inget status kita berdua, bukannya malah mengganti status gue sama dia!" Tunjuk Evangeline tepat sasaran. Vita hanya menunduk diperlakukan tak sopan seperti itu, meski hatinya berontak ingin melawan.
"Siapa yang mengganti status lo? Sejak awal gue bilang buat lo ngerti. Tapi bukannya sok tau kayak gini."
"Terus ini apa, Keanu?! Kalian berdua gandengan kayak orang buta. Lo bahkan nggak nyamperin gue ke kelas kayak biasa." Mata Evangeline terasa panas, seperti terbakar. Air matanya sudah mengambang di pelupuk, siap tumpah.
"Tapi enggak dengan cara memacari wanita lain di belakang gue kan, Nu? Ini namanya pengkhianatan."
Keanu mendengus. "Jangan ungkit pengkhianatan kalo lo aja mencintai cowok lain."
"Tau apa lo tentang perasaan gue? Sekarang nama lo udah tercoreng. Nama keluarga lo bakal anjlok di depan publik!"
Keanu serta merta berdiri. Aura tajam yang sudah ia pajang selama bertahun-tahun, kini bertambah tajam seolah siap memenggal kepala tunangannya. Semua pasang mata yang melihat sontak melotot harap-harap cemas.
Mereka berharap Keanu tidak melayangkan pisau kantin ke leher Evangeline sekarang.
"Tau apa lo tentang nama keluarga gue?! Gue minta lo ngerti, Lin. Tapi lo nggak bisa ngerti. Lo itu plin-plan, sok tau."
Mata Evangeline memanas. Air mata siap tumpah membasahi dua pipinya. Tapi ia tahan mati-matian di depan laki-laki yang sudah berkali-kali menyakitinya. Terlebih lagi, ia tak mau dicap lemah oleh teman-temannya.
"Cukup, Keanu. Lo nggak pantes nge-judge gue kayak gini. Sedangkan gue emang nggak tau maksud dari semua ini apa. Maksud lo tiba-tiba gandengan sama gadis medusa itu. Atau-"
"Mulut kotor lo bahkan nggak berhak menyebut nama suci Vita Arczhanka kayak gitu!"
Evangeline melongo. Tidak bisa berkutik, menyanggah, atau bertanya. Keanu berbeda. Laki-laki itu seolah berubah seratus delapan puluh derajat sekarang.
"Jangan permalukan keluarga kita, Keanu."
"Terus apa mau lo sekarang, hah?!"
Sebelah tangan Evangeline terangkat untuk menutup matanya. Karena air matanya mulai meleleh tak terkendali. Keanu benar-benar kejam kali ini.
"Gue udah pernah bilang, kan? Gue udah ngasih lo kesempatan. Saat itu gue bilang, kalo lo mau pergi, ya silahkan. Tapi lo bersikeras nggak mau pergi, dan malah pengen tetep di sisi gue yang jauh dari kata baik ini. Sekarang, lo tau apa akibatnya kan?"
Tangis Evangeline betul-betul meledak. Ia sesenggukan dan tak bisa menahan bobot tubuhnya lagi. Nyaris saja ia terjatuh, tapi seseorang berhasil memegang kedua lengannya. Menahannya supaya tetap berdiri tegak, meski hati sudah luluh lantak tak bersisa.
"Cukup, Keanu! Lo nggak gentleman, tau nggak?! Lo ngata-ngatain pacar lo di depan temen-temen. Lo malu-maluin diri lo sendiri!"
Keanu tersenyum miring melihat pahlawan kesiangan Evangeline hadir menolong, dengan kata-kata kelewat bijak yang bisa menjatuhkan Keanu. Sayangnya, Keanu tak suka dikalahkan. Bahkan oleh calon asisten pribadinya, Elrano Mahendra.
"Apa peduli lo? Gue udah muak sama semua media yang memberitakan kami. Gue muak pura-pura mesra sama dia. Padahal, gue nggak pernah cinta dia sama sekali! Kita tunangan itu cuma buat relasi bisnis. So, mulai sekarang, elo-elo semuanya yang suka ngerekam kita, stop! Nggak ada gunanya, ngerti?!"
Muncul berbagai pertanyaan yang semakin lama mirip desisan ular. Evangeline dapat mendengar satu atau dua kata menyakitkan keluar dari mulut teman-temannya. Hatinya sakit, sangat sakit. Tak pernah ia sangka Keanu bisa sekejam ini.
Evangeline membuka matanya. Meski buram, ia dapat melihat Keanu berdiri dengan tatapan pongah di depannya. Secara sadar dan penuh kepastian, ia melepas cincin yang melingkar di jari manisnya. Kemudian melemparnya tepat di dada Keanu.
"Gue nggak mau melihara cincin palsu itu lagi." Evangeline mengusap air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Senyumnya ia ukir secerah mungkin. "Hubungan kita sampai di sini aja. Nanti gue bilang sama mama buat batalin kontrak perjanjian, dan gue sanggup membayar semua kerugiannya."
Evangeline beringsut mendekat. Memeluk Keanu layaknya masih seperti sepasang kekasih. "Gue selalu suka aroma tubuh lo, Keanu. Gue nggak bakal lupa kalo lo pernah mewarnai hidup gue. Makasih buat semuanya. Gue janji bakal jaga diri kayak apa yang lo pesenin." Bisiknya lirih. Agar tidak ada orang lain yang bisa mendengar.
"Bagus." Balas cowok itu tanpa nada. Tanpa repot-repot membalas ucapan -mantan- tunangannya juga.
Isakan lolos begitu saja dari bibir Evangeline. Ia segera mundur dan menjauh dari hiruk-pikuk kantin yang sudah mirip pasar malam. Dalam jarak satu meter, ia dapat mendengar Keanu berteriak di tengah keramaian.
"Mulai sekarang, gue resmi mengumumkan hubungan gue sama Vita yang udah berjalan selama satu minggu. Mulai sekarang juga, nggak boleh ada siapapun yang mengungkap masa lalu gue dan hubungan gue yang sekarang. Kalian harus izin sama gue kalo pengen upload."
Evangeline tidak bisa menahan gejolak dalam dadanya lagi. Marah, benci, kesal, sakit. Keanu bahkan tidak sudi menyebut masa lalu dengan namanya.
Dan setelah dipikir-pikir, satu minggu Keanu pacaran dengan Vita itu artinya waktu yang sama ketika Keanu dan dirinya tunangan. Masih ia ingat jelas kata-kata laki-laki itu yang menawarkannya sebuah kebebasan, tapi ia tolak karena sudah yakin dengan kepastiannya.
Tapi ternyata, semua itu jauh dari angan. Keanu malah mencampakkannya sekarang, sebelum Evangeline benar-benar membuktikan bahwa ia bisa mengubah sifat laki-laki itu.
Evangeline menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi sekolah. Matanya merah dan sembab. Jejak basah masih terlihat di kedua pipinya.
Jadi, begini cara Keanu membalaskan dendam? Begini cara Keanu membalas persis seperti apa yang dilakukannya bertahun-tahun silam? Dipermalukan, dihina, dicaci.
Evangeline mengerjap. Ia menyadari sesuatu hal.
Baru beberapa hari lalu ia melihat kemesraan Keanu dan Vita di depan mata. Dan sekarang ia sudah kehilangan cowok itu secara cepat.
Bukankah ini seperti sebuah kejanggalan? Mengapa Evangeline merasa ada yang salah?
Sebenarnya apa yang direncanakan Keanu?
"Gue harap lo ngerti."
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinga Evangeline. Bagai hantu bernyanyi.
Apapun rencana Keanu, cowok itu sukses membuatnya merasa benci. Luar biasa benci! Akan ia ingat baik sejarah hari ini. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk senjata laki-laki itu sendiri.
Hah, Evangeline kan tidak sebodoh itu! Mana mau dia menyerah kalah dan lemah tak berdaya.
Senyum miringnya terbit. Sekelebat bayangan tentang masa depan hadir di depan mata.
"Liat aja, Keanu. Gue nggak akan tinggal diem. Biar lo rasain yang namanya senjata makan tuan!"