
"Nona, Tuan Muda meminta saya memakaikan ini ke leher Anda. Permisi ya."
Evangeline menatap tanpa kata pemilik tangan terlatih yang tengah memakaikan kalung ke lehernya. Ia tatap bandul aquamarine itu. Indah, sangat memikat mata yang menatapnya. Kalau suasana hati Evangeline sedang baik, ia dengan suka cita menyukai kalung itu. Tapi, berhubung yang memberinya Si Bejat Alanzo, wajahnya tak jadi berseri.
Pelayan yang habis memakaikan kalung itu tersenyum menatap pantulan diri calon pasangan tuannya di cermin. "Anda sangat cantik, Nona. Pancarannya sama seperti Nona Sarah, sama-sama memikat."
Kedua alis Evangeline spontan mengerut mendengar nama asing itu.
"Siapa Sarah?"
"Nona Sarah adalah adik kandung Tuan Muda. Sayangnya, sudah meninggal."
"Meninggal?"
"Iya, Nona. Sewaktu Tuan Muda dan adiknya masih kecil, katanya."
Oh, pantas saja Evangeline tak pernah mendengar berita apapun tentang Sarah yang baru saja disebut pelayan Diego itu.
"Mari, Nona kita keluar. Tuan Muda sudah menunggu Anda di depan."
Irene menarik lembut siku Evangeline.
Sambil bangkit, gadis pemilik mata coklat terang itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Mini dress berwarna peach yang penuh dengan manik-manik, terlihat begitu mempesona di matanya. Punggungnya dibiarkan terbuka, dress bagian dada pun membentuk V yang mengekspos kemulusan kulit dadanya. Tali spagetinya dipenuhi manik-manik. Terlihat sangat berkilauan di bawah sinar lampu kamar mewahnya ini.
Setidaknya, hanya baju ini yang patut membuatnya senang. Evangeline tak punya apapun yang dapat ia banggakan di depan Diego.
Tanpa sadar, pelayannya pergi setelah membawa Evangeline ke hadapan Diego.
"Kamu sangat cantik, Baby." Puji cowok itu tanpa basa-basi. Tapi, hanya dibalas Evangeline dengan keterdiaman.
Diego lantas menarik tangan gadis itu, membawanya ke mobil yang sudah disiapkan tepat di depan rumah.
"Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita berdua, di Monte Carlo. Sehabis pesta, kita akan ke sana."
Tangan laki-laki itu mengelus surai lembut Evangeline. Mencermati tekstur tiap helainya dengan sesekali tersenyum.
"Jangan khawatirkan kehidupan sekolahmu. Aku akan menyekolahkanmu lebih tinggi di sana."
Evangeline masih setia bungkam. Mulutnya terkunci rapat hanya untuk Diego seorang. Untuk malam ini, akan ia biarkan laki-laki itu mengoceh sesuka hatinya. Tapi nanti, saat waktunya sudah tiba, akan ia robek habis-habisan mulutnya sampai tidak bisa lagi bersuara.
"Papamu sudah tahu kamu bersamaku, Evangeline. Dia akan menyusul kita ke Monte Carlo. Kemudian kita menikah di sana."
"Kita mengundang mantan kekasihmu juga. Dia tetap perlu tahu, kan kita menikah?"
Tangan Evangeline sontak menepis jemari Diego yang masih menari di atas rambutnya. Ia tatap datar laki-laki itu. "Jangan." Katanya.
Diego mengangkat alis, antara tak mengerti dan mengejek. "Kamu nggak akan masuk perangkapnya lagi, Evangeline. Kamu aman bersamaku."
"Keanu nggak butuh ngerti hubungan kita."
"Oh, jadi kamu sudah setuju?"
Gadis itu serta merta mengalihkan pandang ke depan lagi. Rasa mual langsung menghampirinya begitu Diego berkata dengan penuh percaya diri seperti itu.
"Evangeline, kamu tahu, di pertemuan kita yang ke berapa yang membuatku mencintaimu?"
"Nggak."
"Pertama kali." Diego bergerak menyandarkan kepalanya di bahu telanjang calon masa depannya. Membuat Evangeline berniat menghindar, tapi ia urungkan karena ingin sekali-kali mengikuti drama cowok bejat itu.
"Gue nggak punya apa-apa, Diego."
"Kamu punya. Sikap lembutmu saat menolongku yang hampir terkena tumpahan jus dari pelayan, membuatku jatuh cinta saat itu juga. Papamu sering menggembor-gemborkan sifat baikmu di hadapanku, dan beliau berharap kita bisa menjadi sepasang kekasih sampai mati."
"Jangan terkecoh sama bokap gue. Dia emang suka jadi mak comblang. Sebelum elo, dia udah jodohin gue juga sama anak sahabatnya. Akirnya apa? Cowok itu mati di tangan Keanu." Senyum Evangeline langsung tersungging, bangga. Ia merasa berhasil menggertak, padahal Diego hanya tersenyum manis menanggapinya.
"Aku nggak akan pernah mati di tangan mantanmu itu, Evangeline. Aku berjanji akan hidup hanya untukmu."
Responnya mengecewakan, jujur. Tapi, Evangeline menghibur diri sendiri dengan senyum tipis. Malam ini bukanlah akhir dari segalanya. Ketika Diego berhasil membawanya ke publik, ia akan dengan senang hati menyelinap keluar untuk menghubungi jaringan Keanu ataupun Luna.
"Gue nggak cinta sama lo."
"Maka aku akan membuatmu jatuh cinta hanya padaku."
"Gue rasa, lo bukannya cinta sama gue. Tapi terobsesi."
"Apa bedanya dengan Keanu? Dia terobsesi membalaskan dendam, sementara aku masih lebih baik dari dia. Dia menyakitimu, tapi aku tidak."
Evangeline sontak menggeser duduknya sampai menempel ke pintu mobil, menyebabkan Diego nyaris limbung karena sandarannya mendadak hilang.
"Jangan sok tau, Diego! Seenggaknya Keanu nggak pernah mengkhianati gue. Sedangkan elo? Gue kira lo temen gue, ternyata musuh."
Sepintas Evangeline dapat melihat kilat kesal di mata laki-laki pemilik mata sebiru samudera itu. Tapi, ekspresi Diego secepat kilat dirubah menjadi setenang air.
"Kamu bilang Keanu bukan pengkhianat. Lantas apa berita yang tiap hari aku dapat di televisi? Tentang dia yang memacari salah satu gadis populer di SMAnya. Siapa namanya? Vita? Ah, dia memang jauh lebih cantik daripada kamu, Sayang."
PLAK!
"Gue kenal Keanu nggak dari kemaren sore. Kita saling memahami hampir tiap detik. Dan elo." Evangeline mengacungkan jari telunjuk kanannya tepat ke hadapan Diego. Sampai kukunya berhasil menyentuh hidung laki-laki itu, lantas lanjut berkata, "nggak bakal mempan mempengaruhi gue kayak gini. Segala cara yang lo buat biar gue lupa sama Keanu, nggak akan berhasil."
"Bagimu dan bagi pengikut-pengikutmu ataupun Keanu, kalian memang ditakdirkan bersama. Tapi apakah pantas, seseorang sebaik kamu bersanding sama dia yang sejahat itu? Orang awam pun tahu kalian nggak seharusnya bersama, Evangeline. Keanu akan menyakiti kamu lebih dari sekarang."
Evangeline menggeleng kuat. Hatinya terasa sakit mendengar kemungkinan itu. Jantungnya bertalu kian cepat, wujud dari emosi yang menggumpal di relung hatinya. Matanya pun terasa pedih, seolah siap meluncurkan rudalnya. Tapi Evangeline masih bisa menahannya.
"Kalo emang gue nggak pantes buat dia, nggak ada yang bisa memisahkan kami kecuali Tuhan. Dan elo, bukan malaikat yang diutus Tuhan buat menjauhkan gue dari Keanu. Lo nggak sespesial itu bagi Tuhan, sampe diutus buat ditakdirkan sama gue."
"Terserah kamu mau bilang apa, Evangeline. Tapi aku nggak akan biarin kamu kembali ke sana. Papamu sangat mengkhawatirkanmu kalau kembali."
Evangeline pura-pura memejamkan mata. Kepalanya ia sandarkan pasrah di jendela mobil. Bukan hanya hatinya yang akan sakit mendengar semua kata-kata Diego, tapi juga telinganya.
Ia tak akan membiarkan laki-laki gila itu membuatnya minim pendengaran di usia dini.
CIIITTTTT!
"El, ada apa?"
"Tuan, tenang. Saya akan keluar menghadapi mereka."
Baru saja Evangeline mau menenangkan diri. Sekarang sebelum ia berhasil menjemput ketenangan itu, mobil yang ditumpanginya mengerem mendadak. Menyebabkan tubuh rampingnya terpental ke depan, keningnya terantuk kepala kursi pengemudi.
Evangeline berusaha pelan-pelan mengangkat kepalanya. Ia menatap Diego yang juga menatapnya.
"Kita harus keluar sekarang." Putus cowok itu sambil membuka pintu milik Evangeline. Karena pintu itulah yang paling dekat dengan tepi jalan, dan Diego bisa mendahulukan gadis itu apabila terjadi sesuatu di belakangnya.
Sambil mencoba menenangkan degup jantungnya yang menggila, Evangeline bergerak keluar dari mobil. Dan tanpa diduga, tangannya terulur ke dalam, membantu Diego untuk ikut keluar bersamanya.
Laki-laki bermata biru laut itu menatap sejenak tangan lentik gadis yang ia cintai. Inilah mengapa Diego sangat mencintai Evangeline. Sifat lembut gadis itu tak pernah berubah. Padahal, yang gadis itu tolong adalah musuhnya.
"Diego, kenapa diem sih? Ayo keluar. Keburu ada yang liat." Sentak Evangeline sambil menarik ujung jas Diego.
Tapi, Diego keburu menarik Evangeline untuk berlari bersama. Menjauhi tempat pertempuran sejauh mungkin.
Bagi Evangeline, tak ada yang lebih mendebarkan dibanding malam ini. Keanu tidak tahu di mana dirinya sekarang. Cowok itu juga tidak tahu ia sedang diserang bersama musuh. Ia pun menyadari Diego adalah musuhnya, tapi ia tak bisa berbuat apapun untuk lari sendirian. Setidaknya, Evangeline harus mencari tahu yang sebenarnya mengapa Diego menculiknya.
Sementara sudut hati Evangeline yang paling dalam membenarkan niat itu. Ia mengenal Diego sebagai orang yang ramah dan baik di beberapa pesta. Evangeline tak akan tega membiarkan Diego terluka sendirian.
"Rumah itu." Diego berucap sambil telunjuknya mengarah ke sebuah gubuk di tengah hutan. Tanpa cahaya dan hanya ditemani cahaya remang-remang bulan, mereka harus berhati-hati berjalan ke arah sana.
"Bukannya beresiko? Musuh pasti tau kita sembunyi di sana." Sanggah Evangeline sambil melepas high heelsnya. Ia tak suka berjalan di tanah tak rata seperti ini menggunakan sepatu berhak.
"Aku bakal mengalihkan perhatian mereka. Kamu masuk dulu ke sana."
Evangeline ingin berkata, menyuarakan opsi lain. Namun, suara berisik dari arah belakang membuatnya tak punya pilihan lain lagi selain menuruti kata-kata cowok itu. Sebelum tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam gubuk, ia toleh sebentar sosok Diego yang tengah berlarian ke lawan arah. Seolah menantang maut.
Saat tubuh cowok itu benar-benar tak terlihat lagi, Evangeline masuk sepenuhnya ke dalam gubuk. Ia duduk di atas tanah padat bersandarkan kursi reot. Ia raba seluruh tubuhnya. Dan tangannya langsung bisa menyentuh tonjolan di bawah dadanya. Alat perekam yang beberapa waktu lalu ia temukan di kamar ada di sana, bersembunyi tanpa sedikitpun kelihatan.
Selagi Diego tidak ada di sisinya, Evangeline merasa aman untuk mengotak-atik alat itu. Pertama-tama, ia tekan tonjolan kecil di sebelah bawah benda pipih itu. Kemudian layar menyala, menampilkan menu yang terdiri dari tiga ikon. Sayangnya, kesemuanya tidak Evangeline pahami. Karena ikonnya hanya berupa simbol aneh. Seperti angka buatan alien.
Evangeline mencoba membuka satu per satu. Sampai ikon yang ke-tiga, ia berdecak keras. Setiap ikon yang ia buka selalu menampilkan simbol yang sama, beberapa detik kemudian ia akan dibawa pada sebuah kolom yang harus diisi dengan kode.
Kalau begini caranya, Evangeline tidak akan pernah bisa mengirim sinyal ke siapapun.
BRAK!
Jantungnya nyaris copot saat pintu gubuh yang sudah reot menjeblak ke dalam. Untung saja tubuhnya jauh dari pintu itu, sehingga tidak terpental. Saat matanya menatap jengkel Diego, umpatan yang hampir ia keluarkan ia urungkan dalam sekejap. Melihat wajah berdarah cowok itu membuatnya segera berdiri menghampirinya.
"Apa yang-"
BRUK.
Tiba-tiba Diego menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Evangeline. Dagunya ia jatuhkan dengan lemah di atas bahu Evangeline. Kedua tangannya bergerak merengkuh tubuh ramping cewek itu. Sedikit lama terdiam dengan posisi itu tanpa sepatah kata, tubuh besaranya terasa bergetar di pelukan Evangeline. Ia menangis.
Serius?
Evangeline berusaha membuktikan pemikirannya. Pelukannya ia uraikan, untuk menatap Diego yang tampak memejamkan mata sambil menggigit bibir. Sekalipun mata birunya disembunyikan di balik kelopak mata indahnya, Evangeline tetap bisa melihat lelehan air mata itu mengalir sampai membasahi kemejanya.
"Duduk dulu." Evangeline menarik lembut tangan laki-laki itu. Membawanya ke sebuah kursi reot, mendudukkannya secara hati-hati di sana.
Dengan sedikit penasaran, Evangeline mencoba beranjak untuk melirik keluar. Apa kiranya yang membuat Diego terluka parah dan menangis seperti bocah.
Tapi, belum sempat kakinya melangkah, tangan besar Diego keburu mencekalnya. Membuatnya mengurungkan niat dan menatap lekat cowok itu.
"Lo mau gue obatin nggak?"
"Jangan ke mana-mana, Lin. Temenin gue, plis."
"Tapi luka lo harus diobati, Diego. Lo nggak-"
"Nggak ada yang perlu diobati, Evangeline." Diego serta merta membuka mata, menampilkan iris samuderanya dengan janggal. Bukan tatapan ramah yang biasa Evangeline lihat, atau tatapan menyebalkan yang sering membuat Evangeline risih. Tapi, tatapan rapuh dan hampa. "Ini darah orang lain."
Evangeline mengamati tangan Diego yang mengusap wajahnya secara kasar. Membuat noda berwarna merah itu menjadi rata di atas wajah tampannya. Diego seperti bayi baru lahir saja.
Kalau diamat-amati lebih lanjut, memang tidak ada apapun yang menjadi sumber keluarnya darah itu. Diego bahkan tak kelihatan sakit sama sekali. Cowok itu hanya terus menatap kosong ke arahnya.
Dengan hati-hati, Evangeline mengusap tiap bagian wajah Diego, ingin membuktikan sendiri kalau matanya tak salah. Dan memang tidak ada lecet atau bekas luka apapun yang dirasakan kulit tangannya.
Fakta itu membuatnya berjengit dan sontak mundur beberapa langkah. Membuat Diego semakin hampa menatapnya. Tangisan cowok itu juga semakin kuat. Air matanya meleleh hampir tiap detik.
"G-gue nggak tau mau ngomong apa. Ta-tapi, gue udah tau yang sebenernya."
"Hiks."
Diego menangis makin kuat. Tubuhnya sampai terbungkuk saking sakitnya luka di hatinya. Tubuhnya baik-baik saja, bahkan tidak tersentuh sama sekali oleh musuh-musuh itu. Tapi, hatinya sakit luar biasa mengetahui fakta mengerikan yang telah ia lakukan.
"Lo bilang kalo mau ngibulin mereka. Tapi, gue nggak nyangka kalo maksud lo adalah membunuh mereka." Ucap Evangeline tanpa bergetar. Matanya menatap tajam sosok yang sekarang masih menangis tersedu di depannya.
Hah, untuk apa pula Diego menyesali perbuatannya? Bukankah cowok itu juga sudah paham konsekuensinya?
"Jangan katakan aku seperti itu, Evangeline. Aku mohon." Cowok itu berujar lirih sekali. Sampai Evangeline nyaris tak mendengar.
Tapi begitu telinganya menangkap dengan baik maksud Diego, Evangeline berdecak dan menarik lengan cowok itu, memaksanya berdiri tegak.
"Nggak usah nangis. Kalo lo masih cengeng, gue bakal ninggalin lo sendirian di sini. Biar lo membusuk tanpa ada yang tau, sementara gue pesta pora sama Keanu." Evangeline menatap wajah Diego yang perlahan berubah. "Lo mau itu terjadi?" Diego sontak menggeleng kuat.
"Jangan pernah bermimpi seperti itu, Sayang."
"Cih. Cowok idaman gue itu yang pemberani, kayak Keanu. Bukan elo yang baru membunuh sekali aja cengengnya minta ampun."
Diam-diam, Diego menyimpan kepalan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Kalau Evangeline bukan wanita dan seseorang yang dicintainya, ia pasti sudah melayangkan tinju telak ke cewek itu. Kata-kata Evangeline sangat merendahkannya.
"Ayo lanjut." Kata Diego setelah keberaniannya yang ia paksakan muncul kembali.
Membuat Evangeline mengangkat sebelah alis tak percaya. "Lo mau ke pesta dalam kondisi yang kayak gini?"
"Ini masalah kecil. Yang penting kita harus datang ke pesta itu. Teman-temanku harus tahu kamu sudah menjadi milikku."
Evangeline diam saja. Untuk saat ini tak ada gunanya melawan, selain membuatnya emosi dan naik pitam. Ia bahkan tak pernah menduga kalau papanya sudah tahu perihal penculikannya, kalau saja Diego tak menyebut-nyebutnya di dalam mobil tadi.
Diego membawanya ke jalan yang berbeda dari kedatangan mereka kemari. Evangeline langsung tahu sebabnya.
"Lo tusuk pake apa?"
"Pisau."
"Woah, berani banget lo bawa sajam kayak gitu."
"Bukan aku. Tapi mereka."
"Oh, lo tusuk di mana?"
Mata Diego terpejam barang sesaat. Kenangan mengerikan itu datang, kembali mengoyak pertahannya. Kalau Evangeline tak ada di sisinya sekarang, ia sudah pasti menangis. Tangannya diciptakan untuk menolong orang lain, bukan untuk membunuh. Tapi, karena orang-orang tak dikenal itu mengincar Evangeline-nya dan berniat menghancurkan gadis itu, membuatnya hilang kendali dan langsung merebut pisau secara brutal.
Masih segar dalamĀ ingatannya, bagaimana tangannya dengan kekuatan penuh mengayunkan pisau sepanjang lima senti menter ke segala arah. Sampai darah orang-orang asing itu muncrat mengenai wajahnya.
"Tutup mulutmu, Evangeline. Jangan katakan apapun tentang malam ini pada siapapun. Tidak ada yang boleh satu pun yang tahu rahasia kita, kecuali aku sudah memberitahunya sendiri."
Evangeline mengedikkan bahu mendengar Diego memutar manuver.
"Rahasia lo kali. Gue, kan nggak membunuh."
"Terserah kamu, Evangeline. Harusnya kamu berterima kasih kepadaku. Karena mereka nggak berhasil membunuhmu di dalam gubuk itu."
Cewek itu membisu. Ia tahu maksud Diego.
Seketika rasa terima kasih yang tak terkira ia ucap dalam hati untuk cowok itu. Ya, ia juga bisa membayangkan apa jadinya kalau musuh sampai berhasil menyentuh helai rambutnya.