My Prisoner

My Prisoner
Interogasi 2



Malam semakin larut, langit ditemani bintang yang bertengger cantik di sana. Keanu berjalan sempoyongan menuju mansionnya. Habis dua botol whisky membuatnya sesekali limbung, tapi anak buahnya dengan sigap menolong.


"Tuan Muda, mau saya siapkan air panas?" Seorang maid datang dari arah dapur. Sedikit tergopoh-gopoh mendekati tubuh loyo tuan mudanya.


"Orlando, saya butuh bertemu Luna." Keanu berkata pada informannya, tak mengacuhkan pelayan yang masih berdiri sambil menundukkan kepala di depan sana.


"Mari saya antar, Tuan. Nona Luna dan ayahnya masih di ruangan Tuan."


"Mereka sudah diberi makan?"


"Semua perintah Anda sudah kami laksanakan."


"Bagus."


Keanu mengulurkan lengan kanannya, untuk merangkul Orlando, menumpukkan tubuhnya ke laki-laki yang empat tahun lebih tua darinya.


"Habis ini istirahatlah, Orlando. Kamu langsung menemaniku ke Markas 3, padahal tubuhmu pasti sangat lelah sepulang dari Paris."


Laki-laki bersurai hitam legam itu tersenyum ala kadarnya. Hatinya cukup menghangat mendapati perhatian yang jarang sekali Keanu berikan untuk orang lain.


"Tuan Muda tidak usah khawatir. Saya hanya memastikan Anda aman."


Keanu hanya menepuk-nepuk bahu asisten pribadinya, wujud terima kasihnya yang tak bisa lagi ia ungkapkan dengan kata-kata. Orlando sudah ia anggap lebih dari informan pribadi. Laki-laki itu sudah seperti kakak, yang selalu melindungi adiknya dari bahaya apapun.


"Orlando."


"Ya, Tuan?"


"Kamu tahu Evangeline, kan? Ya meskipun kalian jarang sekali berjumpa."


Tanpa disangka-sangka, Orlando terkekeh sampai memperlihatkan gigi putih rapinya. Keanu spontan menoleh dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi.


"Ehm, maafkan saya, Tuan. Setahu saya, Anda memang tidak pernah mengizinkan Nona Evangeline untuk bertemu dengan anak buah Tuan. Kalau saya boleh menebak, karena Anda cemburu."


Wajah Keanu seperti tertampar rasanya. Kepalanya sontak menoleh, menghindari tatapan Orlando yang berubah jahil. Ia tak akan mengelak, yang dikatakan detektifnya memang sangat benar.


"Menurutmu kenapa Evangeline pergi?" Tanya Keanu mengalihkan topik pembicaraan. Wajahnya yang semerah tomat pasti memalukan, membuatnya harus mencari cara bagaimana menghilangkan rasa panas itu.


"Anda melakukan sesuatu yang membuat Nona Evangeline sangat kesal, Tuan."


"Apakah karena kejadian di kantin itu?"


"Kalau saya jadi Nona Evangeline, saya juga tidak mau bertahan di sisi orang yang jelas tidak mencintai saya. Dan yang pasti, saya tidak mau bertahan dalam status yang sudah diputus."


"Kenapa Evangeline peduli? Bukannya dia tidak mencintaiku?"


"Mengapa Tuan bisa bicara begitu? Apakah Tuan pernah bertanya?"


"Ya. Dan dia menjawab mencintai Elrano Mahendra sepenuh hatinya."


Orlando mengangkat kedua alisnya. Matanya ikut berputar, berpikir siapa pemilik nama itu. Kalau dari marganya, sih dia seperti pernah mengenal.


"Oh, calon asisten pribadi Tuan, ya?"


"Ya. Sialnya dia berhasil mencuri hati tunanganku."


"Saya pernah mengawasi mereka berdua di cafe, atas perintah Anda saat itu. Kelihatannya Tuan Elrano juga mencintai Nona Evangeline, sangat kentara dari matanya."


BUG!


Tiba-tiba saja Keanu melempar tinjunya ke railing anak tangga. Rasa loyonya seperti hilang dalam sekejap. Tak akan pernah ia biarkan Rano menyentuh tunangannya yang sekarang entah pergi ke mana.


"Anda terlihat marah mengetahuinya. Apabila mereka suatu hari akan menjadi sepasang suami istri, apakah Anda rela?"


"Tentu saja tidak, bodoh!" Keanu mencengkeram kerah baju informannya. Menatap bengis bawahan yang sudah bertahun-tahun menemaninya itu.


Dengan kalem, Orlando tersenyum sambil mengedipkan mata.


"Kalau begitu, kenapa Tuan coba-coba memutuskan pertuanangan dengan Nona Evangeline?"


"Karena aku sedang menjalankan rencana. Kamu, kan tahu!"


"Tapi saya pernah memberikan opsi lain kepada Anda." Cengkraman Keanu sedikit melonggar, membuat Orlando bisa bernapas lebih leluasa. "Anda memacari Vita di belakang Nona Evangeline, tanpa ketahuan oleh siapapun, sampai Tuan menemukan siapa biang masalah perusahaan. Selanjutnya apa? Anda tetap bersikukuh memutuskan Nona Evangeline sampai dia sakit hati dan pergi entah ke mana."


Kedua tangan Keanu mendorong bawahannya sampai punggungnya terkantuk railing. Anehnya, dorongannya terasa lemah. Mungkin efek alkohol.


"Jangan membuatku merasa sangat bersalah, Orlando. Evangeline pergi karena ingin mencari informasi tentang jati dirinya. Itulah kenapa dia pertama-tama pergi ke rumah sakit ayahnya dan membawa pergi pria itu, yang jaringannya sudah dimanipulasi oleh Luna."


"Itu kemungkinan kedua, Tuan. Tapi, kembali ke topik selanjutnya. Saya tidak menduga Anda melenceng dari rencana awal."


Keanu menatap mata informan kepercayaannya. Orlando belum tahu hal ini, wajar kalau bicaranya menyudutkan.


"Si perusuh itu mengirim kata kuncinya. Dia akan berhenti kalau sudah mendapatkan Evangeline-ku."


"Kenapa Tuan tidak bilang sejak awal? Saya pasti membuatkan opsi lain yang tidak akan mengacaukan kita seperti ini."


"Aku pikir ini cara terbaik, Orlando. Kamu sedang memenuhi tugas ayahku, tidak mungkin aku menyela kesibukanmu juga. Lagipula, perusuh itu akan tahu kalau aku sudah tidak punya hubungan apapun dengan Evangeline. Dan dia pasti segera pergi untuk menangkapnya. Sekarang apa? Evangeline diculik, bebarengan dengan berhentinya teror perusahaan."


"Jangan berpuas diri dulu, Tuan. Teror baru berhenti beberapa jam yang lalu. Kita tunggu sampai dua hari ke depan, sampai asumsinya betul."


"Dua hari katamu?! Evangeline-ku tidak punya awas diri yang kuat, musuh bisa sangat berbahaya untuknya."


"Apa fungsinya Vita Arczhanka, Tuan? Anda mendekatinya untuk mendapatkan informasi dari mana dia berasal, mengapa menggunakan identitas palsu, dan bagaimana bisa berhasil mengelabuhi keluarga Arczhanka. Dalam kurun waktu dua hari, Anda gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengulik informasi masa lalu Vita."


"Tapi apakah kamu yakin, Vita merupakan salah satu rencana kisruhnya perusahaan dan penangkapan tunanganku? Bagaimana kalau dia punya siasat lain?"


"Tentu saja kita tidak yakin. Kita hanya berpedoman dengan teka-teki mengapa Vita Arczhanka menjadi anggota palsu keluarga Arczhanka. Kalau dia punya siasat lain, yang jelas tidak jauh-jauh dari permasalahan Anda, kan? Tenang saja, Tuan. Vita Arczhanka memang bukan kunci untuk menemukan Nona Evangeline, tapi dia berguna untuk menjawab kecurigaan Anda."


Keanu hanya mengangguk pelan. Manusia berotak cerdas di depannya ini memiliki puluhan rencana yang lebih banyak dibanding dirinya. Tentu tidak akan sulit untuk Orlando memecahkan permasalahan sepele seperti ini.


"Aku bisa ketemu dengan Evangeline-ku lagi, kan?"


"Tentu saja bisa. Kalau memang Vita Arczhanka punya kaitan dengan penculikan ini juga, kita sekaligus tahu mengapa pengisruh menginginkan Nona Evangeline sampai harus repot-repot menghancurkan perusahaan Anda."


"Kamu benar, Orlando. Akan aku paksa Vita untuk bicara besok pagi." Dengan sedikit tergesa, Keanu berjalan menaiki tangga sambil berpegangan railing.


Tapi agaknya masih ada sesuatu yang Orlando ingin katakan.


"Tuan, Vita Arczhanka mungkin sudah tahu rencana Anda. Dia pasti juga sedang menyiapkan rencana untuk memutar balik keadaan. Apa yang akan Anda lakukan?"


"Siapkan pasukan untuk berkumpul di titik temuku dengan Vita, pukul 3 pagi, samarkan gerakan seperti biasa. Bawa kursi favoritku." Di akhir ucapannya, Keanu melempar senyum miring. Senyum yang sama jahatnya dengan otaknya.


"Apa lagi?"


"Saya belum memberitahu Anda mengenai Nona Luna."


Keanu lagi-lagi menahan langkah. Meskipun tidak menatap, tapi ia pasang telinganya baik-baik sebelum berjalan menginterogasi gadis itu di ruangannya.


"Saya sudah menyelidiki rekaman CCTV itu."


"Kamu sudah mengatakannya kalau rekaman itu nyata."


"Maksud saya, anonim."


"Apa maksudmu mengaitkannya dengan Luna?"


"Dialah anonim itu."


Mata sayu yang nyaris tertutup itu lagi-lagi terbuka lebar. Keanu menggeram marah dan mengepalkan tinju, serta merta berjalan menuju ruangan pribadinya.


Bulu kuduk Orlando berdiri tegak. Tidak dapat membayangkan kepala Luna akan terpenggal dengan belati yang disembunyikan Keanu di ruangannya.


***


SPLASH!


"Hiks... sudah, Tuan Muda. Maafkan saya."


SPLASH!


"Mau mati dengan tenang atau dengan siksaan, Nona Haven?"


"Hiks, ampun, Tuan Muda Arvid. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Kesalahanmu banyak! Anda mengkhianati kaum Anda sendiri, kemudian membiarkan orang berharga seperti Evangeline Sonja terluka di tangan musuh. Sebenarnya apa yang Anda pikirkan, Nona Haven? Anda mengucap sumpah setia sejak bergabung di aliansi kami, tapi Anda juga menjebloskan seseorang yang Anda anggap sahabat ke tangan musuh. Anda stres?"


Luna Haven diam tidak berkutik. Bibirnya ingin sekali mengucap jujur. Tapi ia tak mau mengingkari janjinya dengan Evangeline. Harapannya sekarang adalah, kalau ia sudah di surga nanti, semoga Keanu dan Evangeline kembali bersama dengan damai.


"Akan saya jelaskan mengapa saya bisa membawa Nona Evangeline ke zoo, Tuan."


"Anda pikir saya bodoh? Penjelasan Anda itu tidak akan mengubah apapun. Evangeline tidak akan kembali sekarang, dan Anda akan menerima hukuman yang setimpal." Keanu meludah di samping Luna. Informasi apapun tidak ia butuhkan lagi dari Luna. Gadis itu sudah sangat kejam, dan tak pantas dimaafkan. Kalaupun mati, Keanu tidak akan menanggung beban pikiran dengan cara apa gadis itu disiksa. "Katakan. Anda ingin mati yang bagaimana?"


Ayahnya sedang tidak ada di sini. Pria paruh baya yang sangat ia cintai itu sedang disiksa oleh anak buah Keanu di ruang pribadi Prince Demon itu. Luna tidak akan bisa menatap mata yang sama dengannya untuk terakhir kali. Sebastian Haven akan meninggal tanpa menatap wajah putrinya juga. Mereka berdua akan meninggal tanpa rasa tak rela dalam hati.


Luna menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya cemeti di tangan kanan Keanu. Terbuat dari rotan, ampuh membuat tubuh bagian depannya luka-luka hingga membentuk sayat memanjang, merobek kemeja tipisnya semudah merobek kertas. Apakah cemeti itu bisa melukainya lebih lagi, sampai membuatnya mati mengenaskan?


"Bolehkah saya minta dengan satu permintaan, Tuan?"


"Katakan."


"Ketika Nona Evangeline kembali, tolong jangan siksa dia lebih dari yang Anda lakukan hingga membuatnya pergi. Saya tidak bohong ketika dia datang kepada saya, sambil menangis dan mengeluh sakit. Hatinya memang serapuh itu, dan Anda tidak menyadarinya. Bertahun-tahun Nona Evangeline hidup dalam kebohongan, siapapun tidak membiarkannya tahu jati dirinya. Padahal kalaupun tahu, Nona Evangeline tidak akan pernah keberatan, terbukti ketika ayahnya mengungkap siapa sebenarnya dia, Nona Evangeline tidak menunjukkan reaksi apapun seperti yang kalian semua khawatirkan.


"Nona Evangeline berusaha memahami mengapa kalian menutupinya. Dia menyadari kalau semua itu untuk keamanannya sendiri. Setelah menyadarinya, Nona Evangeline rutin berlatih fisik dengan alasan untuk melindungi dirinya sendiri dan mamanya. Dia sekarang bisa memanah, menembak, melakukan perlawanan telak. Anda tidak perlu khawatir kalau dia ada di tangan musuh, karena Nona Evangeline jauh lebih hebat dari yang terakhir Anda lihat."


"Lalu apa permintaanmu?"


"Seperti yang saya katakan di awal tadi. Anda tidak boleh menyakitinya, baik dengan ucapan ataupun tindakan. Kelakuan Anda di kantin memang berhasil membuatnya patah hati. Tapi Nona Evangeline selalu bisa menutupi keadaan hatinya, dan kembali bangkit berdiri tegak. Kemudian dia juga meyakinkan dirinya sendiri kalau dia bisa kembali dengan tujuan berbeda."


"Apa itu?"


"Membuat Anda jatuh cinta."


"Mustahil!"


"Anda boleh tidak percaya. Tapi satu yang harus Anda percaya, Nona Evangeline mencintai Anda. Itulah mengapa dia mau kembali sekalipun hatinya sudah sangat hancur."


Wajah Keanu berubah pucat pasi. Tubuhnya tiba-tiba merosot. Akalnya untuk tetap menjaga image di depan Luna buyar sudah. Fakta baru itu mampu membuat tubuhnya bergetar, jantungnya juga berdetak tak normal.


"D-dia mencintaiku?"


Luna mengangkat sebelah alisnya heran. Keanu seterkejut itu mendengar faktanya. Padahal Luna yakin, cowok itu sedang menjalankan misi balas dendam.


Kalau begitu, kenapa Keanu malah kaget seolah tidak masuk rencana?


"Maaf kalau saya lancang. Bukankah Tuan sudah merencanakan semua ini?"


"Aku memang sengaja membuat hubungan kami renggang, tapi tentang kepergiannya itu diluar ekspektasiku. Tentang balas dendam itu, sebenarnya aku tidak berniat melakukannya. Aku sudah puas ketika dia jatuh ke tanganku, itu saja. Aku tidak merencanakan pembalasan dendam yang lain, sampai membuat Evangeline berhasil jatuh cinta denganku."


"Sekembalinya Nona Evangeline nanti, dia akan senang mendengar ini dari Anda."


"Jadi, dia pergi karena cemburu?"


Kedua mata Luna sontak membelalak lebar. Keanu itu raja dunia gelap, calon penerus tahta Arvid yang sudah merajalela di mana-mana. Mengapa untuk urusan cinta, dia begitu bodoh?


"Tentu saja. Itulah kenapa Anda tidak pernah membayangkan hal ini terjadi. Karena Anda tidak bisa merasakan perasaannya."


"Aku, memang, bodoh." Keanu berkata lirih, tapi masih bisa didengar Luna.


Tatapan dan suaranya tampak putus asa. Luna juga bisa memahami jika ada di posisi laki-laki itu. Menyesal ketika semuanya sudah terlambat.


"Anda mungkin terlambat menyadari. Tapi Anda belum terlambat untuk kembali bersamanya, Tuan. Anda masih bisa mengerahkan kemampuan untuk menolongnya dan menebus semua kesalahan Tuan."


Kepala Keanu mendongak perlahan. Ia rekam baik-baik ucapan Luna, segala ucapan baik gadis itu baru saja. Mungkin Luna kembali berguna untuk menuntunnya kepada Evangeline. Maksudnya, bisa memberinya arahan terbaik untuk hubungan yang akan ia perbaiki.


"Anda pintar memanipulasi jaringan, bukan?"


"Tampaknya begitu, Tuan."


"Anda dan Ayah Anda akan aku beri kesempatan sekali lagi. Buktikan kalau Anda layak hidup dengan membantuku mencari Evangeline."


"Saya siap melaksanakannya."


Sambil tersenyum tipis, Keanu bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan gadis cantik pemilik mata hijau zamrud sendirian di ruang pengap itu, tanpa kata. Tak lama kemudian, Luna bisa mendengar teriakan Keanu kepada anak buahnya.


"Pulangkan Luna dan ayahnya. Tapi ingat, jaga mereka 24 jam di rumah mereka. Awasi kegiatan mereka."


"Siap, Tuan."


Luna kembali mendesah lega. Tuhan lagi-lagi menyelamatkannya. Ia kembali lolos dari maut yang mengintai, hanya karena Keanu telah menyadari betapa penting posisinya untuk melacak keberadaan Evangeline.


Kalaupun Keanu tidak meminta bantuannya, Luna akan senantiasa mencari keberadaan Evangeline. Hilangnya gadis itu juga kesalahannya, dan Luna harus menebus.