
Keanu menelengkan kepalanya ke kiri. Mengamati baik-baik sosok pemuda bermata biru laut di depannya. Ia tahu mengenai Twins Alanzo belum lama ini. Karena perihal itu tidak pernah terkuak oleh publik selama ini. Sebagai seorang pemegang kendali keamanan negara, Kapten Fillaes yang tak lain adalah Reinaldi Alanzo, tidak pernah berani menguak lebih banyak mengenai putranya yang kembar.
Sayangnya, pria tua sok murah senyum itu luput mengantisipasi kaki tangannya akan berkhianat. Bersumpah pada negara dan siap dihukum mati saja tidak cukup untuk membuat mereka -sang kaki tangan' tidak berulah. Demi aset yang tak seberapa bagi Keanu, mereka rela menjual informasi sepenting ini.
"Jangan menatap saya seperti itu, Tuan. Saya bukan Diego yang pernah coba-coba membunuh Anda." Pria bertubuh kekar itu membuka suara untuk yang pertama kali, sejak ia menginjakkan kaki di ruangan VIP ini.
"Oh, saya sudah tahu mengenai itu. Jauh hari sebelum hari ini ketika Anda mengatakannya."
"Oh ya?" Adam memamerkan wajah pongahnya. Membuat Keanu ingin menonjok mukanya yang setampan Dewa Yunani.
Jujur, Keanu sedikit minder gara-gara ketampanan dan kharisma pria itu. Kalau suatu hari nanti Evangeline bisa jatuh cinta dengan Adam..., Keanu bakal betul-betul menyerah.
"Saya merindukan Evangeline tertidur di kasurku."
Mata biru itu terlihat sebening samudera di bawah sorot tipis sinar matahari, yang berhasil masuk melalui tirai rumbai berwarna seputih tulang. Wajahnya tak tampak menunjukkan emosi sama sekali. Padahal niat Keanu ingin menyenggol perasaannya yang barangkali sensitif.
"Sebelumnya saya mohon maaf karena mengganggu waktu sibuk Anda sebagai siswa teladan di sekolah. Anda harus meninggalkan mata pelajaran demi menemui saya di sini."
"Tidak masalah. Justru saya yang memohon maaf karena mengganggu waktu luang Anda bersama Tuan Fillaes." Keanu tersenyum miring di akhir kalimat. Sembari memastikan perubahan raut wajah Adam yang mungkin luput ia perhatikan. Tapi tetap saja, pria tanpa emosi itu masih menatap tenang dan santai. "Karena menurut saya, tidak ada yang lebih berarti ketimbang Evangeline."
"Aneh ya? Padahal gadis itu tidak ada di sini. Lantas kenapa Anda sampai rela mengorbankan waktu Anda sendiri, dan tentu mengganggu saya?"
Dengusan lirih keluar dari bibir tebal Keanu. Ia menatap tegas sosok -yang digadang-gadang- calon pendamping hidup Evangeline. Tatapannya persis ketika ia bernegosiasi dengan musuh.
"Saya tidak menyukai basa-basi, Tuan Alanzo. Anda tentu tahu apa tujuan saya kemari."
Sebelah tangan Adam mengayun ke depan. "Ya, dan saya menantikan Anda mengatakannya secara langsung sekarang."
Sebelum melanjutkan ucapannya yang sudah terencana, Keanu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Sebuah map berwarna hitam kelam, segelap dunia mafianya. Map itu tampak tipis, karena tidak banyak lembar dokumen di dalamnya. Langsung ia sodorkan benda itu ke hadapan Adam.
"Anda tidak mengatakan bahwa kita akan bernegosiasi, Tuan Arvid." Ujar Adam dengan ketengan yang sudah luntur sedikit. Beberapa lipatan di dahinya cukup memperlihatkan ia sedang kebingungan, dan Keanu puas menatapnya.
"Anda pikir saya rela melepas Evangeline tanpa jaminan?" Adam segera membuka map hitam itu tak sabaran. "Saya tidak ingin apa-apa dari Anda, Tuan Alanzo. Jadi, Anda tenang saja."
"Apa maksudnya?"
"Anda bisa membaca dengan teliti dari atas. Kemudian Anda bisa menandatanganinya langsung. Bukti bahwa saya dan Anda sudah berdamai tanpa melibatkan apapun lagi."
Sesuai perintah Keanu, Adam membaca dengan cermat. Sangat jeli sampai-sampai matanya melotot, nyaris keluar.
Keanu menunggu sambil menikmati wine yang sudah disediakan maid. Sesekali ia memanjakan matanya dengan interior mewah nan artistik dari restoran kelas internasional ini.
Tak lama, terdengar suara benda tumpul yang ditandaskan di atas kertas. Keanu melirik, dan dapat ia lihat Adam sudah membubuhkan tanda tangan sesuai aturan.
"Kesepakatan ini memiliki waktu yang sangat lama, Tuan Arvid. Tapi saya bersyukur Anda meminjamkan Evangeline kepada saya selama itu. Artinya, saya punya banyak kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta kepada saya."
"Ya. Gunakan waktu Anda sebaik mungkin. Namun, Anda tidak bisa mencegah apapun lagi seandainya Evangeline berniat kembali."
"Saya tahu ketetapannya. Saya berjanji akan menjaga dia sepenuh hati saya, karena saya sangat mencintainya lebih dari diri saya sendiri."
"Evangeline memang tidak pernah aman bersama saya. Dunia akan segera tahu kalian menikah, dan itu sangat baik untuknya. Untuk sementara Evangeline akan disegani."
"Lantas apa yang Anda lakukan selama itu? Kenapa rasanya mustahil bahwa Anda hanya menginginkan Evangeline selamat dari serangan?"
Keanu terkekeh. "Sangat terbaca ya?"
Kini giliran Adam yang terkekeh. "Anda masih muda tapi Anda berani mengorbankan banyak orang. Kali ini siapa yang Anda korbankan?"
"Geraldanio Sonja."
Sontak Adam melotot. Tangannya terkepal dan refleks menggebrak meja. "Itu tidak mungkin!"
"Kenapa tidak?"
"Beliau akan segera menjadi mertua saya dan namanya akan tergabung dengan keluarga saya. Anda tidak bisa menyerangnya."
"Bukan saya."
"Lalu?"
Untuk beberapa saat Keanu terdiam. Telunjuknya ia ketuk-ketukkan dengan ritme pelan di atas meja, sambil matanya terpejam. Ia tidak sedang berpikir, tentu saja. Keanu hanya mempermainkan waktu Adam.
"Tuan Arvid, Anda masih belasan tahun tapi Anda sudah menjadi sosok yang mengerikan. Itulah mengapa Tuan Gerald enggan menyerahkan putri semata wayangnya kepada Anda."
"Si tua bangka itu tidak sadar posisinya bisa aman karena siapa! Di dunia ini mustahil kalau tidak ada yang namanya pengorbanan. Sekarang saya bertanya, apakah Evangeline bisa bahagia dengan Anda selamanya?"
"Tentu saja. Saya punya segalanya. Negara bisa mendepak siapa saja yang berani mengotori ruangannya."
"Anda tidak tahu keinginan Evangeline, Tuan. Jadi Anda tidak bisa berkata seperti itu seolah-olah sudah mutlak."
"Maksud Anda?"
"Evangeline menginginkan kedua orang tuanya satu tujuan, satu misi. Tapi Anda tahu itu mustahil. Gerald ingin istrinya hengkang dari dunia gelap kami, tapi Anda tahu itu tidak mungkin bisa dilakukan Brenda. Sudah menjadi tradisi kami untuk menurunkan hak mafia secara turun-temurun. Itulah kenapa Gerald tidak ingin Evangeline bersamaku, karena Gerald tidak ingin keturunannya meneruskan tahta mafia."
"Maksud Anda, Evangeline tidak bahagia dengan ketetapan ayahnya?"
"Dia juga tidak bahagia dengan ketetapan mamanya."
"Kenapa Anda sangat berbelit-belit?!"
Adam mulai naik darah. Otak penuh misteri mafia adalah hal yang harus ia pelajari lebih dalam. Keanu adalah bocah yang menjelma menjadi iblis. Pintar membisik, mempengaruhi, dan bermuslihat.
"Bunuh Gerald."
"Mustahil saya melakukannya!"
"Kenapa? Karena tangan Anda terlahir suci tanpa noda?"
"Apa? Saya bahkan tahu Anda sudah pernah membunuh musuh yang mengincar Evangeline di perbatasan."
"Bagaimana mungkin?! Tindakan itu sangat bersih dan saya yakin tidak ada satu pun orang mengetahuinya."
"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Karena sesungguhnya yang Anda bunuh adalah anak buah saya." Wajah Adam kontan pucat pasi. Rona merahnya seolah lenyap begitu menyadari kekeliruannya ada di mana. "Anda luput mengamati isi mobil itu. Saya di sana ketika Anda pergi ke hutan, dan saya bersembunyi diam-diam ketika Anda membunuh anak buah saya."
"Tuhan."
"Kalau Anda berkenan, saya bisa memperlihatkan video thermalnya."
"Simpan dan jangan pernah perlihatkan pada siapapun termasuk saya!" Tuding Adam dengan mata melotot. Memaksa agar Keanu tunduk di hadapannya.
"Saya akan simpan video ini baik-baik kalau Anda bersedia membunuh Gerald."
"Tapi Anda tahu saya tidak bisa."
"Tuan Adam Alanzo." Keanu bangkit berdiri. Ia berjalan pelan mendekati Adam, dan berdiri tepat di belakangnya. Bibirnya ia dekatkan ke telinga laki-laki itu. "Kenapa Anda tidak bisa mempergunakan peluang sebaik mungkin? Akan ada berapa banyak anggota keluarga Anda yang terbunuh di tangan Gerald? Evangeline saja dia korbankan demi memuaskan nafsunya untuk memberantas mafia. Apalagi keluarga Anda yang notabenenya adalah orang lain."
"Maksud Anda apa, Tuan Arvid?"
"Anda tahu Adik Anda terbunuh oleh kaki tangannya."
"Tapi itu adalah ketidaksengajaan. Tuan Gerald tidak mungkin benar-benar ingin melenyapkan keluarga saya."
"Kaki tangan Gerald mustahil tidak melihat plang khusus keluarga militer yang terpanjang di sepanjang tembok pembatas villa Anda. Kalau sebuah ketidaksengajaan, dia pasti mundur. Tapi dia tetap maju dan mempertontonkan adegannya secara sadis di depan Anda. Itu artinya dia ada di bawah kendali seseorang."
"Kalau begitu apa tujuan Tuan Gerald?"
"Tentu saja untuk mengancam. Dia sudah ada di dekatmu sekarang, dan dia siap menyerang."
"Bagaimana mungkin?! Penasehat saya berkata bahwa itu hanya kecelakaan. Dan saya tahu pasti Tuan Gerald tidak akan mungkin mengusik keluarga saya."
"Keluargamu akan menjadi keluarganya juga. Bisa jadi dia akan mengambil alih tahtamu untuk menghanguskan dunia mafia. Dia, kan membenci dunia Brenda. Perihal penasehatmu, dia mungkin ada di bawah kendali Gerald juga."
Seperti kompor yang siap meledak, tubuh Adam serta merta bangkit dan matanya menyala-nyala.
"Kalau apa yang Anda katakan benar, saya akan bersumpah membunuhnya."
Keanu tersenyum sambil memamerkan jempol kanan.
"Sudah pasti, demi ketenangan Sarah."
Seperti seorang kawan, Adam menepuk akrab bahu Keanu. "Kalau saya gagal membuat Evangeline jatuh cinta, saya berjanji akan melepasnya."
"Itu sudah pasti. Karena Anda adalah anggota penting dalam negara."
Adam memamerkan senyum sebisanya. Ia kemudian melangkah keluar ruangan, meninggalkan Keanu yang masih bertahan di ruang VIP restoran mewah ini.
"Selamat sore, Vita."
"Ngapain kamu telepon aku?"
"Sayang, kita masih kekasih, kan?"
"Pacar mana yang berani menyiksa pacarnya?"
"Oh, kamu tersinggung ternyata. Aku, kan nggak tau ternyata kamu berkomplot sama Si Kembar Alanzo. Aku merasa terkhianati."
"Apa maumu?"
"Datanglah ke pesta bersamaku malam ini. Kita buat berita menggemparkan."
"Maksudnya?"
"Kamu boleh minta izin sama calon suamimu, kok. Aku tidak melarang."
"Kamu bebas melarang Evangeline tapi jangan pernah berani melarangku, Keanu!"
"Ya, ya, ya. Jadi kamu mau, kan?"
"Kalau kekasihku mengizinkan."
"Hei, aku ini kekasihmu."
Tut. Tut. Tut.
Keanu tertawa terbahak. Vita memang selucu itu. Tapi, sebenarnya dia adalah gadis yang beringas.
***
โจTo Be Honest๐ญ
To my beloved readers....
I'm so thankful for your appreciate. I'm happily ever after. For all your comments, votes, stars, I thank you very much. I wouldn't be here now, if I didn't have support from you guys.
So, I have something to say. Previously I wanted to apologize. Because the plot isn't clear and you don't like it. However, I'm proud to have this kind of imagination. I don't mind if you guys don't like it, as long as I don't copy anyone's work.
Aku mencintai imajinasiku. Dan maaf kalau ada dari kalian yang tidak mencintai imajinasiku. Hal paling penting dalam semua karyaku adalah, aku tidak terlalu mempermasalahkan rasa cina kalian terhadap apa yang aku buat. Syukur sekali aku selalu mementingkan originalitas karyaku. Aku tidak pernah menjiplak, atau menyadur. Itulah kenapa imajinasiku jarang sekali mudah dipahami. Karena aku menyesuaikan passionku dengan lingkungan sekitarku. Aku menghindari adanya kejadian tidak diinginkan. Kalau ternyata aku kecolongan, aku mohon sekali kepada kalian untuk melaporkan adanya plagiarisme ๐ Perlindungan terhadap karya tulis itu sangat penting. Karena kami berkarya bukan hanya untuk menyenangkan pembaca, tapi untuk memuaskan imajinasi kami juga. Akan sia-sia kalau usaha kami nyatanya dijiplak semudah menjiplak apem.
Namun, aku ucapkan banyak sekali terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca sampai hari ini. Aku akui loyalitas kalian begitu hebat ๐ Di sini aku ingin menekankan satu hal. Tolong, bagi siapapun di antara kalian yang merasa janggal, berikan kritik dan saran yang membangun. Aku mungkin bisa belajar di lain waktu, lain tempat, dan lain suasana. Pengalaman masa lalu itu sangat penting, dan aku sangat menghargainya.
Terima kasih.
Salam hangat, dari penulis tercinta kalian ๐