
-Princess of The Dark World-
Name underground : Evangeline Dvorak.
Name overground : Evangeline Sonja.
Districk : She's don't know.
Syndicate : Not yet classified. She doesn't control the dark world. Brenda is holding Dvorak Alliance now.
source : Pinterest
Bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Hampir-hampir memekakkan telinga, namun itulah yang ditunggu-tunggu para murid.
Evangeline segera mengemas buku-bukunya dan meraih paperbag dari laci.
Temannya, Anggi yang tak sengaja melihat Evangeline sedikit terburu-buru, kontan berseru, "Mau ke mana, Lin?"
"Ketemu Galen bentar."
Cewek berkuncir kuda yang duduk di sisi Anggi tampak bingung. Pasalnya Evangeline sudah putus dengan cowok itu beberapa hari lalu. Lantas ada urusan apa lagi? Membawa 'sesuatu' pula.
"Ngapain lo ketemu dia? Bukannya udah break?" Luna tak bisa menahan pertanyaannya yang sudah di ujung lidah. Ia harus memastikan temannya aman.
Karena Galen bukan cowok baik-baik. Evangeline dan Galen putus karena cowok itu ketahuan menjadikan gadis itu taruhannya. Luna yang tahu lebih awal dan langsung melaporkannya pada Evangeline.
"Gue cuma mau ngasih ini, kok."
Luna dan Anggi sama-sama menatap bungkusan yang ditenteng Evangeline. Paperbag warna silver yang kelihatan elegan. Entah di dalamnya bersisi apa. Tapi kalau dicium dari jarak beberapa meter seperti ini, Luna maupun Anggi bisa dengan mudah menebak kalau itu makanan.
"Lo ngasih sarapan buat dia?" Tanya Anggi tak percaya. Namun dijawab anggukan dan senyum malu-malu Evangeline.
"Alin, lo tau dia udah ngecewain lo. Ngapain, sih lo masih berharap sama dia." Sahut Luna tak terima. Ia tak akan pernah suka kalau temannya disakiti lagi.
"Gue nggak berharap apa-apa, girls. Liat aja entar, Galen yang bakal bertekuk lutut ke gue. Gue cuma mau balas dendam."
"Serah."
Evangeline tersenyum sangsi melihat tingkah cuek kedua temannya.
"Ya udah, gue keluar duluan ya?"
"Hm."
Tanpa mengindahkan tingkah Luna dan Anggi lagi, Evangeline bergegas keluar kelas dan berjalan menuju tempat perjanjiannya dengan seseorang.
"Galen!"
Suaranya menggema nyaring di halaman luas belakang sekolah. Tempat yang damai untuk kebanyakan orang yang suka sepi. Evangeline melihat, di sekitarnya terdapat sekitar tujuh sampai delapan orang yang sedang menikmati waktu sendiri.
Tempat ini memang dikhususkan sekolah untuk menenangkan diri, sebagai bentuk refreshing untuk menghilangkan stres. Di sini tidak boleh ada keramaian sedikit pun. Bila ada, maka sekolah akan memberi sanksi karena hal itu dapat mengganggu kenyamanan dan ketenangan semua orang.
Setelah Galen menoleh ke arahnya, Evangeline langsung berjalan mendekat dengan senyum riang.
Galen adalah cinta pertamanya. Sekaligus patah hati pertamanya.
Cowok itu tampan. Memiliki senyum menawan, bibir tipis, dagu tumpul, dan mata sememikat bunga. Seolah ia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling indah dipandang.
Anggota geng berandal sekolah. Bukan ketua, tapi dia cukup berpengaruh. Banyak korban yang datang tiap hari ke sekolah demi ingin menjumpai sosok Galen, meminta pertanggungjawaban. Sekolah tahu hal itu, tapi mereka tidak akan pernah menghukumnya karena dia anak sang pemilik.
Galen dan Evangeline menjalin kasih selama tiga bulan. Baru beberapa hari lalu putus, karena Galen ketahuan menjadikan Evangeline bahan taruhan. Namun, Evangeline tampaknya tak masalah. Ia masih mau meladeni Galen sekarang, itu artinya masih ada sedikit rasa di hati.
"Hai, Lin." Cowok itu tersenyum tampan. Menarik mendekat kotak bekal yang ia bawa, mempersilahkan Evangeline duduk di sampingnya.
"Gimana? Jadi nggak makan barengnya?"
"Jadi, dong." Galen mengangkat kotak bekal yang ada di sisi kirinya. Membuka penutup, dan menyodorkannya pada Evangeline.
Gadis cantik itu pun segera tahu. Sudah menjadi kesepakatan sejak awal, kalau mereka akan bertukar menu sarapan.
Sekitar lima belas menit untuk keduanya bisa menikmati makan pagi mereka. Hingga pada saat Evangeline ingin bangkit dari duduknya untuk membuang sampah, kepalanya terasa sangat berat sekali. Rasa peningnya menjalar hebat, membuat pandangannya sedikit berkunang-kunang.
"Lin, lo nggak papa?"
"Sshh... kepala gue sakit banget, Len." Rintih cewek itu sambil memegang kepalanya.
"Lin, kita ke UKS ya?"
"Eenggh... nggak usah, entar juga sembuh sendiri."
Galen menatap bingung pada kotak bekalnya. Ia berani bersumpah tidak ada obat atau bahan kimia apapun yang ia masukkan ke dalam sana. Lantas siapa yang telah lancang melakukannya?
BRUK!
"Alin!"
Pekikan kaget Galen mampu membuyarkan ketenangan beberapa murid yang duduk di sekitarnya. Mereka sontak menoleh dan menganga terkejut. Tak ayal mendekati Galen untuk menanyakan apa yang terjadi. Namun, cowok itu tak menjawab dan langsung membawa pergi tubuh lemah Evangeline.
Dalam sekejap, kulit wajahnya berubah menjadi sepucat porselen. Bibirnya samar-samar berwarna biru, seolah habis tercebur selama berjam-jam di kolam.
Setelah mendapat izin untuk membawa Evangeline ke rumah sakit, Galen segera memasukkannya ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit terdekat. Tapi, di tengah jalan seseorang berhasil mencegat mobilnya.
Bukan hanya seseorang ternyata. Ada banyak orang yang muncul dari berbagai arah dan mereka semua berpakaian serba hitam. Tiba-tiba, salah satunya mendekat dan mengetuk pintu kemudi.
Dengan perasaan penasaran nan takut, Galen membuka pintu mobil dan keluar menemui si pengetuk pintu. Dia terlihat sedikit berbeda dari yang lain. Berpakaian serba hitam namun memakai kaos, sementara yang lain memakai seragam dengan emblem di tiap lengan kirinya. Galen tidak tahu pasti apa artinya.
Namun, laki-laki muda di depannya saja sudah menarik perhatiannya lebih dari pria-pria berseragam itu.
BUGH!
Belum sempat Galen bertanya, pria yang mungkin seumuran dengannya itu menjotos wajahnya. Tidak cuma satu kali, tapi berkali-kali. Sampai Galen tersulut emosi dan berniat memukul balik.
Tapi, tangannya lebih dulu ditusuk menggunakan belati.
"Charles, bawa dia ke Markas 3."
"Baik, Tuan."
Galen ingin mengumpat, atau paling tidak bersuara untuk menahan Evangeline tetap di sisinya. Tapi, mulutnya keburu dibekap dan kedua tangannya diborgol.
Sementara pandangannya sudah tidak bisa menangkap Evangeline dengan pemuda tanpa nama itu.
***
Saat matanya terbuka, Evangeline menangkap langit-langit kamar dengan pandangannya. Hidungnya juga mencium bau obat-obatan yang khas. Di punggung tangan kirinya juga terdapat jarum infus yang menempel.
Sontak, kesadarannya pulih dengan cepat dan tubuhnya langsung terduduk.
"Nona, sudah sadar?" Suara itu berhasil mengagetkan Evangeline. Detak jantungnya bertalu dengan cepat.
Sosok Keanu berdiri di sampingnya sambil memencet tombol di atas kepala.
Beberapa menit kemudian, dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Evangeline.
"Keadaan Nona Evangeline berangsur membaik lebih cepat dari yang kami perkiraan. Anda keluarganya?"
"Saya-"
"Katakan pada mama dan papaku setelah kemari, Dokter. Laki-laki itu hanyalah pembantuku."
Dokter laki-laki yang memeriksa Evangeline hanya tersenyum maklum. Tingkah seperti Evangeline yang lagaknya anak konglomerat memang sudah biasa ia hadapi. Banyak pasiennya yang seperti itu juga. Sedikit... sombong.
"Baik, Nona. Saya permisi dulu."
Selepas para tenaga medis itu keluar, Evangeline menatap Keanu dengan mata memicing. Kentara sekali tidak suka dengan kehadirannya yang seperti bayangan, selalu ada ke mana pun ia pergi.
"Kenapa kamu masih di sini?" Todong Evangeline.
"Saya ditugaskan Nyonya untuk menjaga Anda, sampai kedua orang tua Anda kembali."
"Aku nggak suka kamu di sini."
Kepala Keanu yang semula tertunduk langsung terangkat. Tatapan matanya sedikit berbeda. Entah mengapa, Evangeline seperti sedang ditatap predator.
"Maafkan saya, Nona. Permintaan Nyonya adalah final dan saya tidak dapat membantah."
Evangeline mendengus tak suka. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa.
***
"Keanu akan satu sekolah denganmu. Tidak ada penolakan, Evangeline."
"Aku sudah dewasa, Ma. Aku bisa menjaga diriku sendiri, tidak perlu Keanu yang notabenenya tukang kebun bisa menjagaku."
Brenda menatap tajam putrinya. Tangannya mencengkeram rahang Evangeline.
"Setelah hari ini, kamu pikir hati mama bisa tenang? Mama harus mengambil penerbangan paling cepat dari London ke Indonesia, meninggalkan pekerjaan mama yang sedang menumpuk di sana. Demi siapa? Kamu. Karena mama mengkhawatirkanmu. Tapi begini caramu menenangkan hati mama."
Mata Evangeline berkaca-kaca. Baru kali ini ibunya bersikap demikian. Sebelum-sebelumnya kalau ia berani membantah, Brenda hanya sebatas mengomelinya. Tapi sekarang, wanita itu bersikap berbeda.
"Aku nggak maksa Mama buat pulang kalo pekerjaan Mama lebih penting." Cicit Evangeline. Membuat Brenda berdecak frustasi.
"Sudah terlanjur. Penting atau tidaknya pekerjaan mama, keselamatan kamu selalu menjadi prioritas mama. Tolonglah, Sayang mengerti sekarang. Kamu harus ada yang mengawasi."
"Kenapa aku harus diawasi? Sebenarnya apa yang Mama khawatirkan?"
Brenda terdiam sejenak. Mulutnya bergetar untuk sesaat. Meski ragu, ia harus tetap menjawab, kan? Ia yakin Evangeline tak sepintar itu untuk mencari tahu jawabannya sekarang.
Evangeline masih 15 tahun dan dia bukan murni darah mafia. Ada darah Gerald yang mengalir di dalamnya, menyalurkan beberapa persen sifat Gerald yang dungu.
"Kamu incaran dunia."
"Incaran dunia?"
"Ya, dan mama tidak bisa menjagamu 24 jam dari orang-orang yang berniat jahat. Setelah hari ini, mama tidak akan pernah melepas kamu sendirian. Kamu harus punya teman yang bisa melindungimu, dan mama mengirim Keanu ke sekolahmu."
Walau tidak menjawab apapun ucapan ibunya, tapi Evangeline tengah berpikir keras. Setelah berkali-kali ia mencurigai sesuatu tentang banyak orang yang mencoba mencelakainya, baru kali ini Brenda berkata tentang salah satu kebenarannya.
Incaran semua orang? Apakah Evangeline se spesial itu? Apakah menjadi anak konglomerat seberat ini?
Matanya menatap Keanu dan menemukan cowok itu sedang menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Entah mengapa, Evangeline merasa merinding mengingat tatapan Keanu beberapa waktu lalu sebelum ibunya datang.
Gadis itu tak tahu, kalau dia menjadi incaran semua orang bukan karena anak konglomerat. Tapi lebih mengerikan dari itu. Karena ia anak seorang mafia. Darah Dvorak mengalir dalam tubuhnya.
Selama bertahun-tahun Brenda mencoba menutupi segala sesuatu tentang putrinya dari publik. Tapi tetap saja, Evangeline dapat diketahui oleh musuh dengan cepat. Musuh yang ingin melenyapkan nyawanya karena siasat balas dendam. Karena Brenda dan nenek moyangnya pernah melenyapkan orang-orang yang menjadi teman dekat atau bahkan keluarga musuh.
Sewaktu Brenda muda, ia juga mengalami hal yang sama seperti Evangeline. Bedanya, dia sudah tahu lebih dulu sejak kecil. Karena kedua orang tuanya murni darah mafia. Jadi fisiknya benar-benar terlatih.
Berbeda dengan Evangeline, yang harus ditutup matanya agar tidak bisa mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya. Karena gadis itu bukan darah mafia murni. Brenda mempertimbangkan Gerald yang tidak tahu sama sekali tentang dunia gelapnya. Ia juga memikirkan bagaimana Evangeline akan menjalani hari dengan ketidaktenangan.
Baru sekarang ketika Gerald sudah mengetahui, Brenda sedikit berani memberikan kata kunci untuk putrinya. Meski gadis itu belum boleh diberi tahu secara gamblang siapa dirinya.
Pokoknya semua ini demi Evangeline. Hatinya yang masih memiliki sisi kelembutan, tidak seperti hati mafia murni lainnya, membuat Brenda ekstra hati-hati. Brenda tidak mau putrinya menjadi stres di usia muda hanya karena mengetahui lingkungannya yang mengerikan.
Gadis itu pun tak tahu seberapa banyak penjaga yang tersebar di sekitarnya untuk mengawasi. Keanu memang bukan satu-satunya dan dia adalah 'kiriman' baru. Namun, Brenda harus memposisikannya untuk menjadi pelindung utama Evangeline.
Pendekatan yang disengaja untuk membuat keduanya terbiasa dalam kebersamaan, dan agar Keanu mudah dalam menjaga calon pasangan hidup sematinya. Apalagi sekarang Evangeline sudah tahu kata kuncinya, kedepannya gadis itu akan mencari tahu lebih banyak lagi. Dan Brenda tidak ingin putrinya banyak mengetahui.
Tidak sampai Evangeline tunangan dengan Keanu. Mempercayakan seluruh hidupnya dengan laki-laki itu, dan bersedia bergantung hanya padanya.
***
Aku tidak berharap banyak kalau cerita ini bisa menggaet dari banyak kalangan. Namun, aku berharap untuk tetap mendapat apresiasi, sebuah penghargaan yang tidak sesulit ketika aku membuat alur cerita ini ☺ Kumohon, siapapun kalian yang telah membaca, yang berbudi luhur dan baik hati. Berikan satu atau dua apresiasi. Sedikit saja cukup untuk membangkitkan semangatku 🔥
Jadi, mau lanjut? Votes, likes, stars, and comment. Ok 😉