
Kantin penuh sesak dengan aktivitas orang-orang yang sedang mereguk segelas minuman dan sepiring makan siang. Semua siswa-siswi di sana makan dengan rakus, tanpa peduli moralitas atau apapun yang berkaitan dengan itu. Karena semuanya sama-sama memikirkan masalah perut.
Sepasang kekasih yang memiliki kandidat 'hot couple' di sekolah itu baru saja selesai makan siang. Setelah satu jam membolos di jam pelajaran sebelum istirahat, demi mendapat bangku kosong dan makan dengan tenang.
Di tengah perjalanan kembali ke kelas, Evangeline berpapasan dengan Rano. Laki-laki itu melempar senyum sebelum melanjutkan langkah. Tak berniat berbasa-basi lebih jauh karena masih ada Keanu di sisi gadis itu.
"Kita mau ke mana?" Tanya Evangeline saat menyadari langkahnya dibawa Keanu melewati kelas mereka.
"Perpus."
Evangeline mengangguk sekilas tanpa berniat bertanya. Ia tahu Keanu tak akan dengan gamblang menyatakan tujuannya, karena lagi-lagi Evangeline sudah sangat hapal.
Perpustakaan tampak kosong. Di jam istirahat begini memang tidak banyak murid yang mau bersedekap menghadap buku. Mereka lebih memilih mengisi perut alih-alih mengisi otak dengan pengetahuan.
Evangeline masih berdiri di belakang Keanu saat cowok itu terlihat sesekali mengedikkan kepala. Ketika Evangeline menelaah yang terjadi di depan tunangannya, ia baru sadar Keanu sedang mengusir teman-temannya yang masih asyik membaca buku atau mengerjakan tugas di dalam perpus.
"Apa yang lo lakuin, Keanu? Biarin mereka di sini, mereka nggak ganggu kita." Sela Evangeline. Menatap kasihan beberapa murid yang berbondong-bondong keluar kelas, menghindari tatapan maut Keanu.
"Mereka mengganggu, Evangeline." Balas sang tunangan penuh penekanan. Mata setajam elangnya menusuk tiap kepala yang melewatinya sambil merengut, membuat mereka kontan mengubah ekspresi.
Setelah ruangan penuh buku itu dirasa sepi, Keanu segera menarik Evangeline masuk. Menutup pintu di belakangnya secepat kilat dan memutar kunci.
Evangeline belum sempat bertanya mengapa laki-laki itu bisa mendapatkan kunci, ketika tangan Keanu sudah menutup bibirnya rapat-rapat. Mata cowok itu mengamati tiap jengkal wajah tunangannya. Mulai dari alisnya yang terbentuk rapi, hidung mancung, mata bulat beriris coklat terang, rambut panjang lurusnya yang berwarna coklat tua.
Keanu menarik pinggang Evangeline agar merapat ke tubuhnya. Kemudian mendorong tubuh gadis itu keras-keras di tembok samping pintu. Mengangkat dua kakinya untuk melingkari pinggangnya. Tanpa melepas bekapannya di mulut gadis itu. Semakin erat saja, sampai rasanya Evangeline ingin menggigit tangan besar Keanu.
Hidung bangir cowok itu tiba-tiba saja menyentuh hidung Evangeline. "Sayang, pulang yuk?"
Evangeline hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Sadar akan kekeliruannya, Keanu melepas bungkamannya. Kemudian menyatukan kening mereka berdua. Seketika napas hangat Evangeline menghembus keseluruhan wajahnya.
"Ssshh, Keanu, what's wrong?"
"Nothing. Just I want you."
Tidak biasa-biasanya Keanu seperti ini. Mengajak bolos demi kebutuhan pribadinya. Dari alasannya yang klise saja, Evangeline sudah bisa menebak laki-laki itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Uhm, kita duduk aja gimana? G-gue nggak nyaman." Cicit Evangeline sambil meremas jari-jarinya yang tertaut di belakang leher Keanu. Bibirnya ia gigit gugup, posisinya yang sangat intim seperti ini sungguhan tak nyaman.
"Kenapa harus duduk? Gue kuat, kok gendong lo kayak gini." Dalih Keanu sambil mengusap peluh yang menetes di pelipis tunangannya, pelan-pelan, sambil menikmati ekspresi muak gadis itu.
"Lo mau ngasih tau gue apaan?" Tanya Evangeline to the point. Enggan berlama-lama dengan Keanu di ruangan yang rawan orang lain tahu seperti ini.
Keanu mendengus sebelum menjauhkan kening mereka, lantas menatap Evangeline lebih jelas. "Udah gue bilang, gue pengen ngajak bolos sekarang."
"Iya, tapi kenapa?"
"Karena gue ingin."
Kedua mata Evangeline memicing curiga. "Nggak biasanya elo kayak gini, loh."
"I want you."
Lagi-lagi jawaban memuakkan itu.
Dengan sedikit dorongan kuat, Evangeline berhasil berdiri tegak seperti semula. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada, menunjukkan secara langsung bisa tegas juga.
"Gue tau elo nggak dari kemaren sore. Lo kira, gue sama kayak asisten-asisten lo, yang bisanya lo suruh-suruh tanpa mau tau perasaan Tuannya?"
Keanu mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Jadi, lo pengen bilang kalo lo peka? Padahal asisten gue yang lama kerja sama gue juga lebih bisa ngerti dibanding elo, tuh. Jangan geer, Nona." Kaki cowok itu melangkah ke lemari di sisi kanannya, menyandarkan tubuhnya di sana, sambil menatap rona wajah tunangannya yang semakin merah.
"Pokoknya gue tau elo kayak apa, gue kenal elo, Nu." Kesal sekali, perasaannya secara terang-terangan diragukan oleh Keanu. "Kalo lo nggak mau bilang, gue mau balik kelas sekarang."
"Kuncinya ada sama gue. Lo nggak akan bisa keluar tanpa gue." Kata Keanu sok menang.
Tapi Evangeline juga tak mau kalah. Ia mendongakkan dagu setinggi-tingginya, menunjukkan bahwa ia enggan didominasi. "Gue nanti pulang sama Rano aja." Katanya setenang air. Kontras sekali dengan respon Keanu yang wajahnya sudah kaku.
"Kenapa lo mau gue cerita?"
"Gue nggak mau lo ajak bolos kalo gue nggak tau alasannya."
"Lo cuma milik gue, Lin."
Kening Evangeline berkerut dalam, dua alisnya sampai nyaris menyatu. Tubuhnya tiba-tiba tegak kembali begitu menyadari langkah kaki Keanu yang mendekat ke arahnya.
Gadis itu berdehem, berusaha tetap menjaga ketenangan suaranya. "Gue tau. Lo juga milik gue."
"Sungguh?"
"Kita udah tunangan, Keanu. Apa yang perlu lo cemaskan?" Evangeline jadi gelisah sendiri di tempatnya. Gemas sekaligus kesal.
"Kita belom nikah. Lo bisa aja pergi, kan?"
"Bukannya gue udah pernah bilang? Kalo gue nggak bakal ninggalin lo lagi. Gue pengen lo berubah jadi baik, Keanu."
Langkah Keanu terhenti tepat di depan gadis itu. Matanya mengamati kesungguhan yang terpancar dari mata coklat tunangannya.
"Kenapa lo pengen gue berubah?"
"Lo pernah bilang kalo nggak ada yang terlahir sebagai pembunuh. Lo kayak gini bukan karena bentukan Tuhan atau lo sendiri, tapi papa lo. Kalo papa lo aja bisa merubah lo, gue juga bisa, kan?"
"Nggak mudah, Lin. Monster yang sekarang ada di dalam diri gue ini nggak bisa dibunuh, karena dia bakal tetep ada bahkan bisa berkembang terus menerus."
"Siapa bilang? Kita belom nyoba, kan?" Evangeline tersenyum hingga gigi putih rapinya terlihat jelas. "Makanya gue bakal nyoba bikin lo berubah. Kita bakal hidup tenang setelahnya, tanpa ada balas dendam dari keluarga orang yang lo bunuh."
"Kenapa lo bisa seyakin itu? Gimana kalo gue emang nggak bisa disembuhkan?"
Kedua bahu Evangeline mengedik. Kedua tangannya kemudian terangkat, mengalungkannya di leher sang tunangan.
"Kita bakal berusaha terus sampai lo bener-bener sembuh. Gue nggak bakal ke mana-mana, Keanu."
Cowok itu menatap sekali lagi dengan teliti, wajah mulus tanpa cacat Evangeline. Ada banyak hal yang menghantui pikirannya akhir-akhir ini, membuatnya terkadang meragu, tentang ucapan-ucapan gadis itu.
Keanu tak mau Evangeline pergi, dengan alasan apapun.
Tapi, pilihan memang harus dibuat.
Evangeline pergi karena seseorang berhasil melenyapkannya, atau Keanu yang melenyapkan tunangannya dengan tangannya sendiri.
Demi keamanan gadis itu.
BRUK!
Keanu memeluk Evangeline seerat mungkin. Pelukan janggal yang jarang sekali Evangeline rasakan. Tapi ia juga tidak menolak. Tangannya terangkat, balas memeluk laki-laki yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak.
***
"Lin, liat deh video ini!"
Seruan Ara membuyarkan konsentrasi Evangeline yang tengah mengerjakan soal Matematika. Gadis manis itu beringsut mendekat sambil mengarahkan ponsel tepat ke depan Evangeline.
Di layar, terdapat video perkelahian di sebuah tempat lapang di belakang bangunan sekolah. Tanah lapang itu ditumbuhi pepohonan yang jarang-jarang. Perkelahian ditonton oleh puluhan siswa yang mengenakan seragam yang sama, seperti yang dikenakan Evangeline dan Ara sekarang.
"Nggak penting gimana maksud lo?! Lo ikhlas pacar lo kesakitan kayak gitu?"
Evangeline sontak menjatuhkan pulpen sekenanya. Dia langsung merebut ponsel Ara untuk ia lihat video itu baik-baik.
Dua laki-laki yang sedang terlibat perkelahian di sana memang tak terlihat jelas wajahnya. Karena si penjotos yang ada di atas otomatis memunggungi kamera. Sementara si penjotos lain yang sedang berusaha melawan dari bawah, wajahnya sudah berlumur darah, tak kentara dia siapa.
Namun, dari tatapan mata setajam elang meskipun dilumuri darah, Evangeline tetap bisa mengenalnya. Keanugrahan Samudera sedang berkelahi di sana. Dibaca dari posisinya, dia sedang kalah atau berusaha menampar balik. Kedua-duanya mungkin.
"Ini kapan, Ra?"
"Videonya diupload sepuluh menit lalu sama pacar gue."
"Pacar lo yang sialan itu ada di sana sekarang?"
"Iya."
"Cepetan tanya apa mereka masih di sana."
Ara mengetik sesuatu di atas layar ponselnya secepat yang Evangeline perintahkan. Dia tahu rasa macam apa yang melingkupi sahabatnya saat ini.
"Masih, Lin." Ucap Ara setelah mendapat balasan yang sahabatnya mau.
Sontak, gadis pemenang Olimpiade Sains bulan lalu itu berdiri. Tak mengindahkan teriakan Ara di belakang. Dia menghadapi guru Matematika yang terkenal galak di depan dengan berani.
"Maaf, Bu. Saya izin keluar sebentar."
"Mau kemana kamu?"
"Kamar mandi."
"Emangnya nggak bisa ditahan sampai nanti? Kamu rela ninggalin mata pelajaran saya?"
"Mana ada kebelet ditahan!" Sentak Evangeline tanpa sadar. Seisi kelas refleks melongo. Pasalnya tak ada satu murid pun yang berani membantah dengan guru itu.
Tapi Evangeline mau tak mau harus berani. Ia harus mengambil tindakan sebelum nyawa Keanu melayang di tangan entah siapa di belakang gedung sekolah.
"Oke. Tapi jangan salahkan saya kalau–"
"Ya, itu sudah menjadi keputusan saya." Potong Evangeline menahan kesal. Ia sudah tahu kelanjutan ucapan itu.
Tanpa mempedulikan seluruh pasang mata murid kelas yang menatap heran, ia segera pergi dari hadapan guru galak itu. Berlari tergesa memelesat ke belakang sekolah. Halaman luas nan liar tak terawat, tempat yang cocok untuk berkelahi.
Beberapa murid yang tak sengaja ia lewati menatap penuh tanya. Tak segan-segan juga bertanya langsung, tapi hanya dibalas senyum oleh Evangeline. Tak ada waktu meladeni pertanyaan mereka satu persatu.
***
"Sshh, pelan-pelan dong."
Evangeline sengaja menekan kuat luka di sudut bibir Keanu. Membuat cowok itu berhasil melotot ke arahnya. "Siapa suruh berantem!" Hardiknya galak.
"Pacar mana yang terima kalo pacarnya hampir digodain."
Helaan napas asal terdengar dari Evangeline. Ia melempar kain basah ke baskom berisi air, hingga menimbulkan kecipak dan air muncrat ke mana-mana. Ia lantas menatap Keanu putus asa.
Ada-ada saja kelakuan cowok itu untuk melindunginya, protektif sekali.
"Masih hampir kan, Nu? Bisa jadi dia ngibulin elo, biar lo jadi emosi."
"Gue sekelas sama Galang. Gue tau dia sebejat apa kalo urusan cewek, apalagi ngambil cewek orang lain itu keahliannya."
"Lo tau kita udah tunangan."
"Tapi Galang masih bisa rebut lo dari gue."
"Maksud gue, gue nggak akan lari dari lo, Keanu. Gue sadar gue punya siapa." Kata Evangeline melembut. Sebelah telapak tangan Keanu ia tempelkan di pipinya. Mencari kehangatan nan nyaman dari tangan besar itu.
"Gue tau. Setulus apapun lo tentang hubungan kita, tapi predator nggak pernah peduli. Sampai Galang berani nyentuh ujung rambut lo sedetik aja, gue berani bersumpah kepalanya bakal langsung sampe di depan keluarganya lima menit kemudian."
"Sstt, Galang nggak akan deketin gue. Karena ada elo, kan?"
"Ya. Gue selalu jagain lo."
Keanu merengkuh Evangeline ke pelukannya. Dari hari ke hari, janji yang selalu ia ucap dalam batin maupun secara gamblang adalah menjadi pelindung Evangeline. Ketakutannya akan kehilangan gadis itu selalu menjadi mimpi buruk.
Dan Galang, bukan ancaman satu-satunya. Hingga saat ini masih ada yang mengincar nyawanya ataupun nyawa Evangeline-nya. Tapi, tetap saja ia tak suka gadis itu tiba-tiba berpaling karena bujuk rayu Galang.
"Permisi." Suara lembut nan tegas itu membuyarkan pelukan sepasang sejoli. Evangeline menatap, lantas tersenyum ramah pada seorang wanita cantik berseragam khas guru.
"Halo, Bu Indi." Sapa Evangeline hangat, layaknya seorang murid yang hormat dengan gurunya.
Wanita berlesung pipit itu tersenyum lebar. Sebelah tangannya mengusap lengan Evangeline. Menatap gadis itu minta pengertian. Jelas kedatangannya ke UKS bukan untuk bertemu murid yang menjadi anak emasnya, tapi untuk bertemu Keanu yang sudah mencoreng nama baiknya beberapa menit lalu.
"Keanu, setelah selesai, temui saya di ruang guru ya? Saya akan mendampingi kamu ke bimbingan konseling."
"Saya bisa kesana sendiri, Bu Indira."
"Saya wali kelas kamu. Saya berhak mengantar kamu ke bimbingan konseling. Ini menyangkut nama saya juga." Wajah wanita itu sedikit merona saat ucapan terakhir terlontar. Ia bukan tipikal orang yang dengan gamblang mengutarakan maksud. Kesediaannya mengantar Keanu karena harga diri sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas nama anak didiknya.
"Baik kalau itu memang mau Ibu."
"Ya sudah, saya tunggu di ruang guru."
Selepas Bu Indira pergi keluar UKS, Evangeline segera mendekat kembali ke arah Keanu. Menatap nahas laki-laki bermata tajam itu. Tapi Keanu membalas dengan mengedikkan bahu.
"Gue bakal kangen kalo lo sampe diskors." Ujar Evangeline berkelakar, alih-alih mengutarakan kecemasannya.
"Tenang. Sekolah dan isinya ini milik gue sepenuhnya. Nggak akan ada yang bisa nendang gue sesuka hati. Paling-paling cuma ditegur dan dikasih surat peringatan buat totalitas. Kebohongan menyetarakan murid."
Keanu melempar seringai mautnya kepada sang tunangan. Evangeline sontak bergidik dan mendadak was-was.
"Termasuk elo, Evangeline. Lo milik gue sepenuhnya. Dan nggak akan pernah gue biarin siapapun menyentuh lo atas dasar ketidaksengajaan."
"Jadi, lo nyeret gue ke perpus siang ini karena kepancing Galang? Lo mau nunjukin ke seisi dunia gue milik siapa."
Keanu tampak berpikir sejenak. "Ya." Jawabnya seolah tanpa ragu.
Evangeline hanya tersenyum-senyum tak jelas. Hatinya tentu berbunga-bunga. Perasaannya seolah mendapat respon meskipun Keanu hanya bersikap protektif seperti biasa. Tapi, sikap cemburu cowok itu seolah sudah mewakili segalanya.
"Kapan-kapan liburan yuk?" Usul Evangeline seraya membereskan peralatan medisnya. Mengembalikan kotak P3K ke tempatnya, dan menyingkirkan baskom ke wastafel.
Sementara Keanu memutar bola mata ke atas. Ada banyak sekali destinasi wisata pilihan di otaknya. Tinggal menentukan waktu dan kesediaan Evangeline saja.
"Gimana kalo habis ujian? Kita lebih bebas, nggak terikat tugas apapun lagi."
"Boleh. Di mana?"
"Argentina?"
Keanu memutar bola mata ke atas lagi, tempat paling menarik seperti apa di Argentina.
"Oke, Sayang. Sekalian honeymoon?"