
"I love loving rules." -Evangeline Dvorak
source : Pinterest
"Selamat pagi, Nona."
Evangeline menghentikan langkah yang nyaris ingin memasuki mobil. Ia menatap Keanu yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Cowok itu tersenyum ramah, sedangkan Evangeline membalas senyum sinis.
"Seneng lo bisa sekolah di sekolah mewah?"
Keanu tampak tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia masih tersenyum sebagaimana mestinya.
"Saya selalu senang diberikan tugas untuk menjaga Anda. Itu adalah pengabdian terbesar yang bisa saya berikan untuk Nyonya Brenda."
"Cihh, terserah. Satu hal yang perlu lo tau, jangan pernah ikut campur urusan gue.”
Keanu membungkukkan badannya sedikit. “Saya akan ikut campur kalau menyangkut keselamatan Nona.”
Evangeline menajamkan tatapan. Tapi ia tak berkomentar apapun lagi. Kakinya segera melangkah masuk, mengingat matahari sudah semakin meninggi dan sebentar lagi masuk kelas.
***
“Ciieee, Alin. Kenalin, dong ke gue siapa pacar baru lo itu.” Luna berseru. Matanya berbinar menatap sosok laki-laki berkacamata yang baru saja turun dari mobil bersama Evangeline.
Sedangkan si cewek cantik dari keluarga konglomerat itu mendelik. Tampak tak terima mendengar seruan yang menyerupai olokan itu.
“Asisten pribadi gue.” Tandasnya sambil lalu.
“Ah, masa sih? Lo bukan anak raja yang butuh dijaga kan, Lin? Ya, gue tau lo anak orang kaya. Tapi nggak begini amat, kan?”
“Dia itu tukang kebun di rumah gue, Luna! Plis, deh jangan salah paham.”
Luna menutup mulutnya terkejut. Namun, sepersekian detik kemudian tawanya meledak. Bebarengan dengan tawa Evangeline. Seolah kembar, keduanya memiliki persamaan pemikiran dan bisikan batin.
“Duh, kasian tuh wajah jadi belepotan tanah. Padahal ganteng, loh.” Ledek gadis bermata zamrud itu. Terkekeh-kekeh sambil melirik
Keanu.
Tanpa gadis itu sadari, bahwa Keanu menandai namanya mulai detik itu. Luna tidak tahu dengan siapa ia berhadapan. Sosok seperti apa yang
akan menjadi tuannya suatu hari nanti.
Ketika istirahat berlangsung, Evangeline langsung memburu kantin seperti biasanya. Ia memesan makanan dan minuman bersama kedua teman
dekatnya. Bersama bodyguard barunya, tentu saja.
“Hai, Ganteng, mau minum apa? Biar gue ambilin.” Anggi mengedipkan sebelah matanya genit. Membuat Keanu mengalihkan pandang tak minat. “Ganteng, sombong banget sih.” Decaknya kemudian.
“Nggi, jangan godain bodyguard gue.”
“Kenapa? Lo suka sama dia?” Kedua mata Anggi memicing penuh selidik.
“Ya, entar kalo dia pacaran sama lo, pekerjaannya di rumah gue jadi ancur dong.”
“Hahaha, lupa gue kalo dia pembantu di rumah lo.”
“Padahal kalo lo mau pacaran sama dia, gue juga merestui kok, Lin.”
“Gue mau dikasih apaan?”
“Liburan gratis ke Corolado. Lo mau belanja apapun yang lo mau silahkan.”
“Yahh, tapi gue nggak minat. Gue lebih suka pacaran sama cowok paling culun di sekolah ini, daripada sama dia.”
“Hahaha, bisa aja lo, Lin.”
Evangeline menyempatkan menatap cowok berkacamata di sampingnya. Keanu tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar dan kepalanya menunduk.
Drrt. Drrt. Drrt.
Papa Gerald Calling.
“Halo, Pa?”
“Haiii, Sayang. Gimana kabar anak kesayangan papa ini?”
“Baik dong, Pa. Aku udah sehat, hehe.”
“Maaf, Sayang. Papa nggak bisa pulang kemarin buat nemenin kamu di rumah sakit.”
Dari balik ponselnya, Evangeline tersenyum pedih. Selalu saja, ketika papa atau mamanya tidak bisa bersama-sama menjaganya, ia jadi mendadak baper.
“Nggak apa-apa, Pa.”
“Hei, kamu nangis? Kenapa suara kamu serak?”
“Enggak, aku habis kesedak es batu.”
“Hm, kamu kan habis keracunan, Sayang. Harusnya jangan minum air yang nggak higenis kayak gitu dulu.”
“Maaf, Pa.”
“Ya udah nggak apa-apa, besok jangan diulangi lagi ya? Buat nebus kesalahan papa, gimana kalo lusa kita liburan ke villa? Ajak Mamamu, Sayang.”
“Wahhh, serius, Pa?”
“Iya, dong. Masa papa bohong.”
“Oke, Paa. Aku sama mama nunggu Papa di rumah.”
“Iya, Sayang. Ya udah, kalo gitu papa tutup teleponnya dulu ya? Papa mau meeting dulu. Kamu yang giat belajarnya, ya?”
“Iya, Pa. Daaahh, Papa.”
“Daahhh, Sayang.”
Tutt. Tutt. Tutt.
“Bokap lo, Lin?”
Tanpa ia sadari Keanu tengah mengetik sesuatu di atas ponsel jadulnya. Untuk memberi informasi pada seseorang. Brenda.
***
Di penghujung minggu, keluarga kecil itu sudah siap dengan beberapa pakaian yang selesai dipacking. Brenda dan Gerald mengapit Evangeline di atas sofa. Mereka bertiga menunggu satu asisten lagi yang akan ikut.
Bukan Keanu. Hanya pembantu biasa.
Evangeline sangat bersyukur Keanu tidak mengikutinya. Mama memberi cowok itu izin untuk cuti sehari. Entah apa yang dilakukannya,
Evangeline tidak peduli dan tidak mau tahu.
“Bi Inah kenapa lama banget sih, Ma? Keburu sore tauu.”
“Sabar, Sayang. Bi Inah lagi nyiapin keperluan kita, kan?” Balas Brenda sambil mengusap surai lembut putrinya.
Tak lama kemudian, sosok yang baru saja mereka bicarakan muncul. Sedikit tergopoh-gopoh dengan membawa tas jinjing transparan berisi
beberapa toples dan botol.
“Maaf lama menunggu, Nyonya, Tuan.” Ujarnya lirih, sambil menunduk.
“Nggak papa, Inah.” Gerald memberikan senyum menenangkannya. “Ya udah kalo gitu kita berangkat sekarang, ya?”
Keluarga kecil itu melangkah bersama keluar rumah. Menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan beranda.
Perjalanan ke villa tidak membutuhkan waktu lama. Di akhir pekan seperti ini, Gerald memang sering mengajak anak dan istrinya berlibur melepas penat di villa. Sehari saja sudah cukup. Namun, akhir-akhir ini mereka jarang
melakukan kegiatan santai itu.
Brenda dan Gerald seolah sibuk dengan dunia mereka sendiri, tak menyadari kehadiran putri tunggal mereka yang selalu merasa kesepian.
Beberapa bulan ini, semenjak hadirnya Keanu, jujur Evangeline merasa kesepiannya sedikit terobati.
Cowok itu memang bekerja sebagai tukang kebun menggantikan pamannya. Tapi, dia seolah merangkap menjadi bayangan Evangeline. Di manapun Evangeline berada, Keanu pasti ada di situ. Maksudnya, masih di dalam sudut rumah.
Ketika Evangeline bangun tidur di pagi hari, Keanu sudah tampak merawat bunga di bawah jendela kamarnya. Ketika sarapan, Keanu selalu
hilir-mudik membawa pot. Tak jarang Evangeline melihat cowok itu merawat tanaman yang hidup di dalam rumah.
Pokoknya, di mana Evangeline berpijak, di situ juga ada Keanu. Cowok itu seolah menjadi bayangannya, ke manapun ia pergi, Keanu selalu menyertainya. Apalagi sekarang cowok itu ditugaskan untuk menjadi bodyguardnya. Jadi semakin sering mereka bersama.
DORRR!
Lamunannya seketika pecah. Bebarengan dengan suara tembakan yang berhasil menembus kaca depan. Evangeline keburu ditarik ke samping oleh mamanya, sementara papanya merunduk.
Namun, sang sopir yang mengantarkan mereka tidak terselamatkan. Tubuh kurusnya limbung dan menyebabkan mobil oleng. Sebelum kendaraan beroda empat itu kehilangan kemudinya, Gerald mengambil alih. Tubuhnya menyempil di antara dua kursi di depannya, dan sesegera mungkin duduk di depan kemudi.
"Berhenti, Gerald!" Brenda berseru sambil memeluk erat kepala putrinya. Seolah tidak mau gadis kesayangannya terluka di tangan orang lain.
"Aku bisa mengatasinya."
"Yang mereka mau adalah aku!"
"Bukan kamu, tapi Evangeline!"
Tubuh Evangeline sontak bergetar. Ia menyadari betul mama dan papa mencemaskan dirinya. Kemarin ketika Evangeline diracuni, mama sudah bilang bahwa ia menjadi incaran banyak orang, apakah sekarang ia tengah diburu juga?
"Ma, siapa mereka?" Tanyanya lirih. Teredam oleh suara tembakan yang membabi buta dari luar.
"Hanya orang-orang yang mencoba mencari mati dengan mama, Sayang."
Evangeline tak mengerti arti ucapan mamanya. Tapi, ia sempat melihat bahwa Brenda tengah mengeluarkan senapan dari sela-sela kaki. Membuka jendela sampai setengah, kemudian menembakkan peluru ke arah yang menjadi sumber munculnya kegaduhan.
Gadis itu bahkan baru tahu, jika Brenda bisa menembak.
DORRR!
Satu tembakan berhasil menembus kaca, namun pelurunya tak sampai mengenai tubuh salah satu penumpang. Evangeline, Brenda, Gerald, dan Inah masih aman di tempat. Peluru hanya meleset di samping tubuh Evangeline.
"Merunduk, Evangeline!"
Tanpa diperintah dua kali, Evangeline segera menundukkan tubuhnya. Tapi naas, tembakan ke dua berhasil menembus lengan kanannya. Menciptakan luka baru yang menganga, dan darah mengucur deras.
Panas luar biasa. Sedetik saja perhatian semua orang mengarah pada lukanya. Tapi, Brenda segera membalas perbuatan orang-orang itu dengan telak. Gerald pun memilih berkonsentrasi penuh pada kemudinya. Agar Brenda leluasa menembak balik dan menghindari tembakan selanjutnya dari musuh.
Menit-menit berikutnya, Evangeline tak bisa lagi melihat apa yang terjadi. Kesadarannya sudah hilang sepenuhnya. Kegelapan siap menyambut lagi, setelah apa yang ia lalui kemarin pagi bersama Galen.
***
"Jangan pernah mengaturku, Gerald! Sudah cukup kamu hancurkan perusahaanku."
"Perusahaan yang mana? Perusahaan ilegal itu? Perusahaan yang bisa membuat anakmu, anakku, anak kita selalu dalam bahaya?"
"Aku tidak pernah bermaksud membuat anak kita dalam bahaya."
"Tapi duniamu membawa anak kita dalam bahaya, Brenda! Dan itu tidak akan pernah berhenti kalau kamu tidak mau mengakhirinya."
"Bagaimana aku bisa mengakhirinya? Itu adalah dunia yang sangat aku cintai dan kamu juga memiliki dunia yang kamu cintai. Cukup jangan campuri urusanku dan aku akan menjamin semua keamanan Evangeline."
"Yakin bisa? Tidak takutkah kalau dia akan menjadi anak yang tidak biasa? Anak yang menginginkan kebebasan?"
"Dia sudah cukup mendapatkannya selama ini, Gerald."
"Aku tetap akan mengirimkan seseorang untuk menjaganya. Terlepas kamu sudah mengirimkan Keanu dalam hidup putri kita. Tapi aku juga akan mengirimkan Raymond untuk menjaganya."
"Terserah. Asal kamu tidak mencampuri urusan duniaku lagi."
"Ingatlah, Brenda. Bahwa suatu hari nanti Evangeline akan tahu siapa yang lebih baik. Aku atau kamu."
"Aku tidak peduli."
Ruangan itu begitu sunyi, membuat obrolan keras yang baru saja terjadi begitu jelas menggema. Evangeline mendengar semuanya, tapi ia hanya diam dan terus memejamkan kedua matanya.
Ia tak mau kalau orang tuanya tahu dia sudah sadar dan mampu mendengar semua pembicaraan mereka.
Sudah cukup Evangeline memendam kebingungannya. Akan ia cari tahu suatu hari nanti. Sambil menunggu sosok Raymond yang katanya mempunyai tugas mirip seperti Keanu.
Bodyguardnya.