
Koridor rumah sakit terlihat lengang di sore hari minggu. Terasa kosong melompong padahal di balik-balik kamar yang tertutup rapat terdapat banyak pasien, dan mungkin tamu-tamu yang menjenguknya.
Sudah berkali-kali Evangeline hapal koridor-koridor bercabang di rumah sakit elite itu. Sejak pertama kali papa dirawat tiga tahun yang lalu. Hampir semuanya memiliki euforia yang sama. Sepi seolah tanpa penghuni.
Dulu waktu papa dinyatakan bangkrut, mama dan Evangeline sadar diri untuk tidak membawa papa ke rumah sakit elite. Papa dirawat di rumah sakit yang biasa-biasa saja. Kemudian saat Keanu dan keluarganya datang menawarkan bantuan, papa otomatis dirawat di rumah sakit ini atas kehendak mereka.
Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk ukuran orang sakit menjalani perawatan. Dokter mengatakan jika jantung papa hanya membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih betul. Evangeline kira, waktunya tidak akan selama itu. Tapi, ternyata bertahun-tahun. Sampai dia berhasil diikat sampai mati dengan seorang demon.
"Pa, Alin jenguk lagi. Papa jangan pernah nyerah buat sembuh. Papa harus punya semangat buat ketemu Alin dan mama. Papa harus kembali ke kami, Pa."
"Tau nggak, Evangeline kangennn banget sama papa. Meskipun papa jarang ada buat Alin, tapi Alin nggak pernah lupa saat kita bareng. Setiap momen, setiap Papa bilang sayang sama Alin, setiap Papa meminta maaf berkali-kali karena nggak bisa pulang selama berbulan-bulan. Alin masih ingat semuanya, Pa."
"Papa harus janji. Papa harus bisa siuman sebelum Alin nikah. Papa harus jadi wali Alin, ya, Pa?"
Evangeline beranjak dari duduknya untuk mengecup lembut dahi sang papa. Menyalurkan betapa rindu tiga tahun tidak bersama-sama mengecap kenangan.
Sebuket bunga di tangannya ia masukkan ke dalam vas kristal, yang mampu memperlihatkan batang bunga krisan terendam air. Walaupun Keanu sejak tadi hanya diam di sofa, berlagak tak peduli, tapi ide memberi sebuah kehidupan di ruangan ini adalah darinya.
Katanya, papa harus didampingi dengan kehidupan lain, berhubung tidak satupun dari orang-orang di sekeliling papa bisa menemani. Bukannya tidak bisa, tapi Evangeline punya keterbatasan waktu karena Keanu. Juga orang-orang lainnya yang memiliki kesibukan masing-masing.
"Setengah jam lebih dua detik."
Evangeline mengusap tangan papa yang diinfus sebelum mengalihkan pandang ke laki-laki menyebalkan itu. Untuk ukuran calon menantu, Keanu terlalu pelit membagi waktu tunangannya dengan papanya sendiri.
Tanpa berkata-kata, Evangeline melepaskan genggaman tangannya. Kemudian berbalik menuju satu-satunya pintu yang terhubung ke luar. Keanu mengikuti sambil menggulung kaos hitam panjangnya.
"Mau kemana lagi?"
"Gue nggak ada agenda, kok."
"Ada party anniversary Annabel Nigor, dan kita butuh salon sekarang."
"Mulai jam berapa?"
"Jam 7."
Untuk calon penerus perusahaan ekstraktif terkenal di negeri, Keanu harus tampil di acara-acara penting seperti itu untuk unjuk muka, pamer kekuasaan, dan berpolitik. Menggandeng Evangeline adalah pilihan yang sangat tepat, karena katanya, Evangeline adalah permata dunia.
***
Evangeline tampak elegan dengan gaun semata kaki berwarna hitam pekat. Kemilau dari aksen mutiara di bagian pinggang menambah kesan mewah. Potongan dadanya rendah, memamerkan setengah lekuk padat kebanggaannya.
Sumpah demi apapun, Keanu sudah melarang bahkan mengancam seperti biasa untuk tidak mengenakan gaun sialan itu. Bagaimanapun juga lekuk tubuh gadis itu tidak boleh ditelanjangi oleh mata siapapun. Tapi, Evangeline bersikeras memakai pakaian minim yang sudah menjadi pakaian sejatinya sejak kecil.
"Daerah mana?"
"Tepi pelabuhan."
"Pantesan lama."
Keanu tidak menanggapi ucapan tunangannya. Fokus menyetir dengan wajah datar seperti biasa.
Sementara Evangeline mulai bosan perjalanannya dihiasi kesepian, meskipun sudah menjadi kebiasaan ketika bersama Keanu. Ia membuka ponsel dan mengarahkan jempol ke icon kamera di pojok bawah. Berselfie ria tanpa peduli suasana gelap gulita di dalam mobil, karena kameranya mempunyai kecanggihan.
"Bibirnya biasa aja, nggak usah monyong. Jelek." Komentar Keanu singkat. Tapi berhasil membuat Evangeline tak menyukainya.
"Suka-suka gue, dong. Wajah gue bukan milik siapapun."
"Lebih bagus kalo senyum."
Evangeline mencibir. Sosok seperti Keanu terkadang harus diberi pelajaran sedikit. Jadi tidak ada salahnya kalau sekarang dia jahil.
Evangeline memepetkan tubuhnya ke tubuh sang tunangan. Pipinya ia tempelkan di lengan keras cowok itu. Diam-diam mengarahkan ponsel ke depan wajah mereka.
CKREK!
Keanu mendelik. Evangeline tertawa.
"Anjirr muka lo kayak kadal ketangkep kucing, tau nggak. Tegang nggak bisa ngapa-ngapain. Padahal katanya bagusan senyum." Kata Evangeline tanpa menyurutkan tawanya. Tak segan-segan menyindir.
"Liat aja pembalasan gue. Lo harus nerima dua hukuman malam ini, Alin."
"Hukuman... yang seperti apa?" Suara gadis itu melirih. Nadanya seperti bocah usia lima tahun yang masih polos-polosnya, membuat Keanu menahan umpatan dalam hati.
"Menurut lo?" Tanya balik Keanu. Kepalanya kini menoleh, demi menatap Evangeline yang menggigit bibir ke arahnya.
"Uummm, yang seperti biasa?"
"Gadis nakal." Geram Keanu karena terus-terusan mendapat perlakuan sok polos dari tunangannya. Kalau begini, dia bisa melanggar janji dengan diri sendiri. Untuk tidak menyentuh Evangeline sampai mereka menikah.
"Kok gue malah nggak sabar nunggu hukuman itu, ya?"
"Jangan lewatkan malam ini sedetik pun, Alin. Karena gue nggak akan biarin lo jalan besok pagi."
***
Tidak seperti party Evangeline dan Keanu yang diselenggarakan di hotel untuk disorot banyak kamera. Party anniversary Annabel Nigor diselenggarakan secara private. Diselenggarakan di mansion megahnya. Dan hanya tamu undangan yang diperkenankan hadir, dilihat dari tamu-tamu yang langsung menyodorkan kertas kepada penyambut tamu di tepi-tepi pintu utama.
Keanu sudah siap di depan pintu mobil. Tangannya terulur untuk menyambut Evangeline turun dari Lykan Red miliknya. Gadis bersurai cokelat gelap itu menyambut uluran tangan sang tunangan, senyumnya mengembang sempurna. Kecupannya mendarat tepat di pipi kanan Keanu.
Demi totalitas.
Usahanya tak sia-sia. Mereka berhasil disorot banyak pasang mata yang sedang berjalan memasuki mansion besar Annabel Nigor. Banyak yang terang-terangan memuji pasangan serasi itu. Apalagi kaum hawa yang dikhususkan untuk menilai penampilan sempurna Sang Calon Pewaris Tunggal Samudera Coorporation.
Evangeline tidak menampik penampilan sempurna iblis tampan itu. Tidak pernah bahkan. Keanu selalu sempurna di matanya, atau mungkin mata siapapun juga.
Keanu menggandeng Evangeline dengan setelan yang sama hitamnya. Mengenakan kemeja formal dan celana panjang. Sepatu flat oxford yang menjadi alas kaki andalannya.
Rata-rata tamu undangan memakai pakaian gelap. Nyaris tidak ada satupun yang mengenakan pakaian cerah kecuali pelayan bersetelan putih.
"Harusnya kita ketemu papa sama mama di sini. Tapi kayaknya mereka nggak dateng."
"Bukannya sengaja? Biar elo yang dateng?"
"Bisa jadi."
Evangeline mengedikkan bahu tak acuh. Alasan apapun yang didengarnya, itu bukan sungguhan. Keanu sengaja pamer. Evangeline sudah lebih dari hapal mengenal watak laki-laki itu.
Mereka berdua berjalan di atas lantai marmer. Pintu terbuka otomatis setelah Keanu menyerahkan selembar undangan ke petugas. Mereka langsung disuguhkan pemandangan di dalam ruangan besar nan megah itu. Ada banyak meja bundar dan kursi. Ada banyak orang berlalu-lalang. Ada banyak orang yang berkumpul juga di beberapa sudut. Ada banyak jamuan yang menarik cacing-cacing di perut untuk berpesta.
Dari sekian banyak orang, Evangeline bisa mengira siapa yang sedang disorot untuk malam ini. Meskipun ia tak pernah tahu sosok Annabel Nigor, karena pria itu kolega keluarga Samudera. Praktisnya, Evangeline tak pernah menjumpai nama Annabel Nigor dalam pesta-pesta yang dulu sering didatangi ayahnya.
Dia berpakaian formal sama seperti yang lain. Mengenakan kemeja putih, blazer navy, dan jas hitam sederhana. Tanpa aksesoris lain seperti dasi atau sapu tangan yang menghiasi bajunya.
Wajahnya bertulang pipi tinggi, berdagu runcing nan tegas, tatapan matanya hangat tapi menghanyutkan. Evangeline bersumpah dia adalah laki-laki berwibawa. Wajahnya terlihat muda, mungkin masih berusia kepala tiga.
Di sampingnya berdiri sosok pasangan hidup. Mrs. Annabel berpakaian mengadaptasi penampilan Cinderella. A-line long dress dengan bordir kombinasi navy dan putih, tampak serasi dengan Mr. Annabel. Ditambah sarung tangan hitam setinggi siku. Tatanan rambutnya bun, menambah kesan seksi dan anggun di wajah ayunya.
Dengan senyum cerah yang sudah dipersiapkan sejak menjejakkan kaki di tempat ini, Keanu bergegas mendekati pasangan serasi itu. Langkahnya seperti terburu-buru, membuat Evangeline sedikit kewalahan mensejajarinya.
"Selamat malam, Mr. and Mrs. Annabel."
Pasangan di kisaran 30 tahunan itu sama-sama tersenyum lebar. Terlihat sangat ceria menyambut tamu undangan yang satu ini. Putra tunggal dan calon penerus tahta Samudera.
"Selamat datang, Kawan. Aku mengira kamu nggak akan datang."
"Siapa bilang? Ayah sangat berharap saya datang mewakilinya." Balas seringai lebar Keanu. Sambil tangannya merangkul posesif pinggul tunangannya.
"Ya, sangat disayangkan papamu nggak bisa hadir di perayaan ini. Tapi saya sangat bersyukur karena kamu bisa mewakilinya dengan... Mrs. Keanu."
Semburat merah muncul di kedua pipi Evangeline. Panas menjalari benda kenyal itu. Merona antara malu dan menahan marah. Kesal karena faktanya dia seperti dikutuk, untuk menyandang gelar bersama pangeran iblis.
Sangat disayangkan, apabila banyak gadis-gadis atau bahkan wanita-wanita di luar sana yang mengharapkan Keanu menjadi pendamping hidup mereka. Karena gelar yang sekarang Evangeline sandang sangat diharapkan oleh mereka, tapi tidak dengan dirinya sendiri yang mengutuk gelar itu.
"Ah ya, perkenalkan, Mr. and Mrs. Annabel. Ini tunanganku, Evangeline Sonja."
Evangeline menunduk empat puluh lima derajat. Memamerkan senyum cantiknya kepada dua pasangan serasi itu. "Senang bertemu denganmu, Mr. and Mrs. Annabel. Aku Evangeline Sonja, putri tunggal Geraldanio Sonja."
"Sayang, jangan kamu cubit sembarangan hidungnya. Mr. Gerald bisa marah dengan kita." Canda Mr. Annabel dengan bibir mencebik ke bawah.
"Bukan papa yang marah, Mr. Lihatlah tunanganku, dia sangat posesif." Evangeline balas bercanda. Matanya melirik jahil ke arah sang tunangan, refleks diikuti pasangan serasi di depannya.
Mereka berempat terkikik geli, bahkan Keanu tak sungkan mengumbar tawa. Namun senyumnya tak sampai mata. Evangeline tahu hanya untuk formalitas.
"Ehm, baiklah Mr. and Mrs. Annabel. Ada baiknya aku menghukum sedikit tunanganku yang nakal ini sekarang. Kami pamit undur diri dulu." Kata Keanu sambil merangkul hangat pundak Evangeline.
"Jangan terlalu keras. Bisa-bisa dia nggak akan menyenangkanmu lagi." Canda Mrs. Annabel sambil mengelus rambut halus Evangeline, layaknya seorang kakak yang perhatian dengan adiknya.
"Ah, ya, kami juga mengucapkan selamat hari pernikahan, Mr. and Mrs. Annabel. Semoga usia pernikahan kami nanti selanggeng Anda."
"Terima kasih untuk kalian berdua yang sudah berkenan hadir. Lain kali mungkin kita bisa jalan-jalan bersama. Iya kan, Dear?" Balas Mrs. Annabel sambil melirik gadis cantik di depannya. Dan hanya dibalas Evangeline dengan senyum lebar.
"Kami persilakan kalian menikmati jamuan yang sudah kami persiapkan. Kami yakin kalian akan puas. Mansion ini juga punya banyak kamar kalau kalian bersedia...."
Di tempatnya, Evangeline sudah sangat malu. Wajahnya benar-benar panas, ia yakin sudah semerah tomat.
"Tidak usah, Mr. Kami terbiasa di tempat kami sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Anak muda memang suka dengan gayanya masing-masing."
Evangeline hanya menganggukkan kepala sekilas sambil tersenyum sebelum berlalu bersama Keanu. Cowok itu mengajaknya ke tepi kolam, duduk di bangku berteman sampanye.
"Lo mau nyoba?" Sodor Keanu tepat di depan wajah Evangeline.
"Nggak. Gue alergi."
"Huh?" Sebelah alis Keanu terangkat. Senyum miringnya kelihatan mengejek. Membuat Evangeline kesal saja.
"Gue nggak mau ya kalo lo sampe mabok."
"Nggak bakal. Kan gue janji mau menghukum lo sampe rumah."
"Hm? Jadi gue nggak boleh pulang nih?"
"Pulang kemana maksud lo? Rumah lo sekarang, kan di rumah gue."
"Sembarangan aja kalo ngomong. Kita belom sah, Keanu. Nggak seharusnya kita tiap hari tinggal di satu rumah apalagi sekamar."
"Peduli amat sama tradisi. Kalo gue aja pernah bener-bener liat bagian-bagian paling private itu."
Memang Keanu sialan. Pintar membalik omongan. Evangeline jadi terpojok sekarang. Malah pipinya merona lagi. Kali ini benar-benar karena murka.
"Gue ngambil camilan dulu."
"Biar pelayan aja."
"Gue mau sekalian jalan-jalan bentar. Lo kalo capek duduk aja, deh daripada ngribetin ngintilin gue kemana-mana."
"Tempat ini rame, Lin. Bahaya buat lo."
Gadis itu tertawa ngakak. Nggak bisa ditahan lagi kegelian dalam dirinya mendengar alasan yang biasa diperuntukkan anak kecil supaya mereka manut. Evangeline jadi ingat dulu papanya sering bilang begini.
"Bahaya apanya, sih? Justru kalo rame nggak ada yang berani ganggu. Tenang, gue cuma bentar, ambil camilan doang nggak ke mana-mana."
Keanu tidak menjawab, tidak pula menanggapi dengan gestur. Hal itu menjadi kesempatan Evangeline untuk segera melesat ke tengah-tengah keramaian sebelum cowok itu berubah pikiran.
Manisan yang ia cari ada di pojok sebelah utara. Dia harus melewati lima pilar dari pintu penghubung antara ruang pesta dengan taman. Ruangan yang sangat luas membuatnya sedikit kerepotan untuk mengecek di meja mana saja manisan disajikan. Tapi tidak terlalu sulit karena matanya dapat menangkap tulisan kecil di atas meja, menjadi keterangan makanan atau minuman yang sedang disajikan.
Rasmalai disajikan mirip seperti gulab jamun. Kalau gulab jamun berkuah gula kental atau sirup mawar, rasmalai menggunakan kuah susu murni. Manisan itu dari India. Entah apa yang mendasari pemilik pesta menyajikan manisan dari negara berpendudukan tinggi di seluruh dunia urutan ke-dua.
"Ms. Evangeline Sonja?"
Tubuh ramping Evangeline tampak terkesiap. Ia tengah menyesap kuah rasmalai ketika seseorang bersuara rendah menyapa. Sontak kepalanya menoleh, menatap siapa gerangan pemilik suara nge-bass itu.
"Saya Diego Alanzo, putra bungsu Keluarga Alanzo." Laki-laki itu buru-buru menyahut melihat ekspresi penasaran Evangeline. Badannya ia bungkukkan empat puluh lima derajat.
Mata bulat Evangeline meneliti penampilan sosok tampan di depannya. Bermata biru laut, berhidung mancung, berdagu tegas. Matanya menyiratkan keramahan yang mustahil tidak membuat Evangeline terpesona. Matanya juga mengingatkannya dengan seseorang yang pernah ia jumpai berkali-kali saat papa masih berjaya.
Tubuh atletisnya dibalut kaos krem dengan blazer dan celana hitam. Tampilannya casually, malahan sangat cocok digunakan di pesta keluarga atau teman dekat. Apalagi oxford shoesnya yang menambah kesan santai.
"Sepertinya saya mengenal Ayah Anda. Beliau adalah rekan kerja ayah saya dulu."
Dulu. Evangeline meringis dalam hati menyebutnya. Fakta bahwa sekarang Gerald sudah lengser dan mungkin tidak akan kembali berjaya seperti dulu. Karena penopang kehidupan keluarganya sudah ada pada Keluarga Samudera.
Diego tersenyum ramah mengetahui Evangeline mengingat ayahnya. Dulu gadis itu juga sering menghadiri pesta bersama ayahnya, sama sepertinya. Tapi mungkin Evangeline tidak ingat, atau tidak tahu menahu bahwa mereka kerap berjumpa meskipun masing-masing tidak saling mengenal nama.
"Ya. Mereka sahabat karib, Ms. Saya dan ayah sangat menyayangkan perusahaan sebesar itu bangkrut. Mr. Geraldanio sudah sangat sempurna dalam membangun perusahaan berkualitas tinggi itu."
Evangeline hanya tersenyum tipis. Tidak berniat menanggapi. Untuk apa? Kalau hanya menoreh luka.
"Ah, ya, Mr. Diego. Sebaiknya jangan memanggil saya dengan sebutan itu. Terlalu tua, saya tidak suka."
"Tepat sekali. Saya juga tidak suka dipanggil Mr. Oleh karenanya mari kita buat kesepakatan untuk memanggil dengan nama panggilan."
"Panggil aku Evangeline atau Alin. Umurku masih 18 tahun dan umurmu pasti tidak jauh di atasku. Sebaiknya kita menggunakan bahasa santai saja."
"Panggil aku Diggie. Umurku masih 21 tahun. Mari kita jalin pertemanan, Evangeline Sonja." Diego mengulurkan tangan kanan dengan wajah ramah. Yang disambut Evangeline dengan suka cita.
"Senang bertemu denganmu, Diego Alanzo."
"Oh iya, gue ucapin selamat buat pertunangan lo sama pacar lo. Gue nggak nyangka gue kalah cepet, haha."
"Makasih.... Kalo lo udah punya pacar, segera tunangan aja. Sebelum pacar lo lepas."
"Hm, gue pikir itu ide yang bagus. Tapi gue nggak punya pacar. Gue cuma punya inceran. Dan sekarang inceran gue dikurung di balik topeng keluarganya."
Evangelin mengernyitkan kedua alisnya, kentara sekali bingung. "Gue nggak paham maksud lo."
Diego menatap lembut gadis cantik di depannya. Bertahun-tahun mereka kerap ada di satu tempat yang sama. Tidak membuat Diego lupa wajah cantik khas Evangeline.
Dulu tubuhnya belum bertumbuh seseksi ini, sepadat ini. Sekarang, Diego benar-benar dibuat terpesona. Karena setidaknya dia melihat Evangeline baik-baik saja meski di bawah tekanan.
Hm, bagaimana dia tahu ya?
Mudah saja. Diego punya banyak aliansi di mana-mana. Apalagi kebangkrutan Geraldanio menuai banyak keterkejutan dan sebuah kejanggalan.
See? Sekarang gadis itu dikurung selamanya dengan demon. Pangeran dunia gelap yang memiliki aura tak wajar. Bermata sedingin es melebihi penjahat terkeji sekalipun. Diego jadi takut kalau Evangeline tak bisa lagi mengendalikan perbuatan janggal Keanu.
"Inceran gue dijodohin. Kan gue jadi nggak punya kesempatan buat deketin dia lagi." Balas Diego sambil meneguk wine yang sejak tadi dipegang di tangan kiri.
"Oh, gue kira apaan." Evangeline mengamati keadaan sekelilingnya. Membelah lautan manusia dengan mata telanjangnya, mencari sosok-sosok yang berwajah mirip dengan laki-laki di depannya. "Lo kesini sama bonyok?"
"Sendirian aja kebetulan. Bonyok berhalangan hadir. Biasa, weekend mereka buat honeymoon."
Evangeline terkekeh pelan. "Kalo lo mau, bisa gabung sama gue di taman." Tunjuknya ke belakang punggung Diego. "Tunangan gue juga bakal seneng ketemu sama lo."
Diego tersenyum miring. "Gue nggak bodoh, Lin. Gue tau tunangan lo seposesif apa."
Kali ini Evangeline dibuat tertawa. Memang dasar Keanu. Viral karena watak tak wajarnya.
"Ya, ya, ya. Maafin dia ya kalo suatu saat lo dibikin kesel."
"Lah, kejadiannya aja belom masa gue udah mau maafin, sih."
Evangeline cengengesan. "Betul juga."
"Lo masih mau makan manisan di sini?"
"Enggak. Sebenernya gue cuma mau ngambil aja."
"Oh, oke kalo gitu. Kalo lo masih mau makan di sini, kan gue temenin."
Evangeline tersenyum sebelum pamit undur diri. Meninggalkan Diego dengan pikiran yang bercabang-cabang tentang gadis itu.