My Prisoner

My Prisoner
What do You Want?



"Sayang, kamu serius? Aku sama musuh kamu, loh."


"Orang tua kamu fine-fine aja. Aku nggak ada hak buat melarang kamu, kan?"


"Ya, karna orang tuaku nggak tau Keanu pernah macem-macem sama aku."


"Hei, listen to me. Adam sudah membuat perjanjian damai dengannya. Aku ataupun salah satu anggota keluargaku nggak bisa lagi menganggap Keanu musuh, karena kami teman. Untuk sementara ini."


"What? Are you crazy?! Kenapa dia punya taktik secerdik ini? Apa imbalannya?"


"I don't know. Because everything about Evangeline."


"It's okay. Aku nggak akan tanya apapun lagi sekarang. Karena Keanu adalah tuanku dan kamu juga sudah berdamai dengannya."


"Good girl."


Tut. Tut. Tut.


Vita menggeram kesal. Dulu dalam pikirannya tidak akan berakhir seperti ini.


Ia mengikuti rencana Adam dan Diego demi bisa hidup bersama Diego, seseorang yang sangat dicintainya. Berhubung keluarganya tidak terlalu berpengaruh dan ia sangat jarang mengikuti pesta, orang penting seperti Keanu pasti tidak bisa memastikan bahwa darahnya asli keturunan Arczhanka.


Kemudian mereka bertiga membuat rencana untuk mengelabuhi Keanu, agar cowok itu tak mampu mengambil keputusan siapa perusuh perusahaan atau penculik Evangeline, karena konsentrasinya bakal dibagi dua. Namun, Vita dan Si Kembar Alanzo luput menyadari bahwa Keanu sangat jeli dan penuh kecurigaan.


Selepas ia disiksa Keanu, Diego sengaja membuat plot di mana dia menjadi pahlawan agar orang tua Vita merestui hubungan mereka. Namun, Keanu mengirim ancaman yang luar biasa indah dan membuat Vita memaksa Diego tutup mulut.


Tapi, ia juga tak pernah membayangkan bakal seperti ini! Keanu selalu mengambil langkah awal dan tak pernah mau ketinggalan. Entah apa yang akan cowok itu lakukan padanya malam ini. Apakah Keanu akan membuat kontroversi dengannya? Pembenaran tentang pernikahan mereka yang sesungguhnya tak akan pernah terjadi?


Berita tentang perdamaian Keanu dengan Adam saja sudah membuatnya tak tenang. Cowok itu memang licik dan penuh strategi. Padahal ayahnya tak pernah ikut campur.


Bisa dibayangkan, kan bagaimana kalau Daraeus terjun langsung menolong Keanu?


TOK! TOK! TOK!


"Sayang, Tuan Muda menunggumu di bawah. Kamu masih lama?"


Langkah kaki jenjang Vita membawanya ke pintu kamar. Ia putar handlenya, dan muncullah wajah mama yang mengenakan pakaian ala ibu rumah tangga.


"Aku sudah siap."


Emily -mama Vita- mengusap lembut surai putrinya. "Jagalah hubunganmu dengan Tuanmu, Vita Arczhanka. Sebagai pembiasaan hubunganmu dengan calon suamimu."


Vita mengalihkan pandang ke arah lain. "Aku tidak akan menikah dengan Starlin."


"Vita, kita sudah membuat kesepakatan. Lagipula dia adalah seorang pemimpin yang baik dan tegas. Dia mampu melindungimu."


"Mama kira setiap keluarga mafia harus dijodohkan dengan mafia lainnya agar bisa menjaga satu sama lain?" Emily mengangguk samar. Membuat Vita mendengus remeh. "Mama tidak tahu semenderita apa Evangeline bersama Keanu. Dia tertekan, tetap mendapat bahaya meski tak langsung, dan nyaris tak pernah bahagia. Begitu pula yang akan terjadi dengan anak bungsu Mama ini."


"Starlin berbeda. Dia bukan pemimpin kejam yang tidak berperasaan. Bersama wanita saja, contoh ibunya, dia sangat lembut dan hati-hati. Kamu tidak akan menyesal pernah mama pertemukan dengan dia, Sayang."


"Bagiku sama saja. Dia menunjukkannya ketika di depan banyak orang. Kita tidak tahu, kan dia bagaimana dengan ibunya di belakang kita?"


Bukannya marah karena terus disanggah putrinya, Emily hanya tersenyum sambil menoel hidung mancung Vita. Bagi Vita, ibunya adalah wanita satu-satunya berdarah mafia yang berhati lembut. Dia nyaris tak pernah marah atau tersinggung sedikit pun.


"Mama sudah mengatur pertemuanmu dengan Starlin lusa. Jangan menghindar, Vita." Emily berbalik, bersiap meninggalkan putri bungsunya yang masih bengong di ambang pintu. Namun, sebelum kelupaan, ia membalikkan badan menghadap Vita lagi. "Jangan berkilah ingin bertemu Quiin di apartemennya, kalau kamu malah mampir ke apartemen Diego Alanzo."


Wajah Vita sontak memerah. Quiin, sang kakak yang terlahir beberapa jam lebih awal itu memang sangat ember! Padahal dia sudah menyogok dengan satu model seksi dari Spanyol yang ia bawa khusus untuk kakaknya tersayang. Tapi, apa ini?! Pengkhianatan?


"Mama enggak percaya sama Quiin, kan?"


"Kenapa enggak? Kalian anak mama dan mama tahu semuanya. Bahkan sebelum Quiin mengaku, mama sudah memata-matai kamu. Kemudian satu hal lagi, mama juga tahu Keanu pernah menyiksamu."


"Apa?! Kenapa Mama diam saja?! Waktu itu Diego yang menolongku." Vita berseru heboh. Matanya berkilat antusias ketika mengatakannya.


"Sayangnya mama juga tahu pengkhiatanmu dengan Keanu. Kamu berkomplot dengan putra Alanzo, agar Evangeline pergi dan gadis itu mudah didekati. Dan kamu sengaja membuat drama di balik penyiksaanmu, dibuat sealami mungkin dengan Diego yang berlagak menolongmu.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Di dunia mafia, pengkhianatan adalah hal paling sadis. Bahkan lebih sadis dari pembunuhan."


"Kalau nggak ada Diego, aku mungkin bisa mati di tangan Keanu, Ma."


Emily menjentikkan jari.


"Tepat sekali. Itu memang hukuman bagi seorang pengkhianat. Kamu bahkan dengan tega memalsukan identitas dirimu sendiri. Tidak cukupkah kamu mempermalukan mama dan papa di depan Keanu? Dia datang malam-malam di kantor papa hanya untuk menanyakan kejelasan identitasmu, kemudian Luna Haven menemui Quiin dan menanyakan hal yang sama juga.


"Mama dan papa kebingungan saat itu bahkan sempat marah karena identitasmu dipermasalahkan. Lantas kami diam-diam memata-mataimu, hal yang tak pernah kami lakukan kepada anak-anak kami selama ini. Karena ketiga kakakmu tidak pernah melakukan hal di luar batas. Lalu kamu melampauinya, dan kami terpaksa mengekangmu jauh sebelum kamu merencanakan hal tak masuk akal ini, Sayang."


Bagai dihantam ribuan ton batu, dada Vita terasa sesak sekali. Rencana konyolnya dengan Si Kembar Alanzo gagal karena kesalahan mereka sendiri. Ketidakjelian dan tidak berpikir jauh ke depan adalah salah satu penyebabnya. Padahal mama dan papa selalu mengajarkan untuknya teliti dan tidak teledor. Lantas kenapa ia bisa melalaikannya dalam sebuah rencana yang hasilnya sudah pasti luar biasa?


"Aku minta maaf, Ma." Tubuh cewek itu menghambur memeluk mamanya. Ia menangis dalam dekapan sang ibu. "Tolong maafkan aku, Ma. Tapi jangan kekang aku lebih dari ini. Aku mohon."


"Kamu mengkhianati keluargamu sendiri, Vita. Kesalahanmu banyak sekali. Kamu diam-diam bertemu Diego di apartemennya, dan apa yang kalian lakukan? Dapatkah kamu menjamin bahwa kamu masih 'aman' sekarang?"


"Ma! Aku nggak pernah nginap di apartemennya, dan Diego berasal dari keluarga terhormat. Dia tidak akan mungkin melampaui batasnya sebagai seorang laki-laki baik. Dia sangat menghormatiku."


"Sama seperti kamu meragukan Starlin, mama juga meragukan Diego. Dia hanya belum memiliki kesempatan untuk menyentuhmu."


"Ma, tolong. Bersedialah bertemu Diego. Dia akan menjadi menantu yang baik untuk mama dan papa, dan dia pasti menjagaku selamanya."


"Kalau Papamu berkata tidak, mama nggak bisa apa-apa, Vita." Emily melepas pelukan. "Atas pengkhianatanmu yang sesungguhnya tidak termaafkan, mama bersyukur kamu masih hidup. Keanu bersedia melupakan masalah ini karena kami berkontribusi banyak untuk perusahaan dan kekuatan pasukannya. Tapi tetap mama dan papa menghukummu. Kamu tidak boleh pergi setelah hari ini, sampai kamu menikah dengan Starlin. Dan malam ini adalah terakhir kali kamu keluar rumah." Ia melangkah menjauh dan benar-benar pergi meninggalkan putri bungsunya.


Ia tidak boleh begini. Ia tidak boleh menyerah. Mama dan papa harus dapat diyakinkan perihal Diego. Pokoknya cintanya dengan cowok itu harus diperjuangkan! Tidak boleh kandas!


Vita mengepalkan kedua tangannya. Ia harus membuat perjanjian dengan Keanu. Laki-laki berhati iblis itu, kan sangat menyukai taktik. Lagipula, mana bisa Keanu punya dua keuntungan sementara ia menangis darah di sini?


***


Di pesta, Vita bertemu dengan Starlin. Ia menduga mama yang sengaja mengaturnya.


Dia pria berperawakan tinggi, berotot, tegap, warna rambut pirang, mata hijau zamrud, dimple di pipi kiri, dan punya senyum sehangat mentari. Starlin memang dari keluarga mafia asli Rusia. Undergroundnya meliputi penjualan barang-barang ilegal, kejahatan kemanusiaan, dan kriminalitas lain yang sudah biasa dijamah oleh mafia-mafia seluruh dunia.


Namun, ada rumor positif yang mengatakan bahwa Starlin adalah sosok senang membantu. Dia tak segan menolong orang-orang kurang mampu, membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu, membiayai pengobatan penyakit kanker, dan kebaikan bernilai kemanusiaan lainnya yang belum diketahui Vita sejauh ini.


"Selamat malam, Nona Manis." Sapa hangat pria itu. Setahu Vita, umurnya juga masih puluhan tahun. Mungkin dua atau tiga tahun di atas Diego.


"Malam, Tuan Muda Starlin."


"Ke mana pasanganmu malam ini? Bukankah seharusnya Anda datang bersamanya?"


Ada nada mengejek yang tak kentara. Tapi Vita anggap angin lalu.


Cewek itu memang datang bersama Keanu. Tapi cowok itu meninggalkannya di ballroom hotel ini demi menemui koleganya di sepenjuru sudut.


"Tuan Muda Keanu sedang sibuk bercengkrama dengan rekan-rekannya. Dan saya." Vita mengangkat segelas anggur warna merah pekat dengan senyum menawan. Sembari ia lanjutkan ucapannya, "sedang sibuk memenuhi dahaga."


Tanpa disangka-sangka, Starlin tertawa melihat tingkat lucu calon istrinya. "Anda memiliki selera humor yang baik, Nona Manis. Anda berkenan untuk berdansa dengan saya malam ini?"


Vita berpikir sejenak, alih-alih mengulur waktu. Mana mau dia bersentuhan dengan Starlin.


Kemudian Keanu datang. Laki-laki itu seolah menjadi pelindungnya saat ini.


"Vita, acara dansa segera dimulai. Ayo kita ke lantai dansa." Ujar laki-laki itu tanpa basa-basi. Tangannya menarik pergelangan tangan Vita.


Tapi, aksinya diinterupsi oleh suara Starlin. "Saya tidak menyangka Anda pergi ke pesta ini, Tuan Muda Keanu."


Cowok bersurai coklat itu menoleh. Dan senyumnya langsung merekah. "Wow, maafkan saya yang tidak menyadari kehadiran Anda."


"Tidak masalah. Lagipula saya ingin meminta maaf karena lancang mengajak Nona Vita berdansa bersama saya."


Keanu mengalihkan pandangan ke cewek cantik di sampingnya. Membuat Vita mengalihkan pandang ke sembarang arah.


"Tentu Anda bisa mengajaknya menari. Tapi, saya boleh meminta waktunya sebentar, kan?"


Konotasinya jelas. Starlin diminta menunggu giliran.


"Sangat diperbolehkan, Tuan. Selamat menikmati."


"Terima kasih. Semoga Anda diberkahi olehNya."


Starlin mengangguk singkat. Matanya mengikuti langkah kaki Vita yang semakin menjauh bersama Keanu. Sampai bayang-bayang mereka tak terlihat lagi, karena sudah melebur menjadi satu dengan seluruh tamu undangan di lantai dansa.


"Keanu, aku pengen ngomong sama kamu." Bisik Vita tepat di telinga pasangannya malam ini.


"Silahkan."


"Apa yang kamu mau dari aku?"


"Aku cuma pengen kamu nemenin aku."


"Jujur, Keanu. Apa yang kamu inginkan."


Keanu mendekatkan kepalanya dengan kepala Vita. Ia tempelkan bibirnya di telinga cewek itu. Orang lain dapat menganggap bahwa ia sedang menebar keromantisan, tapi sebenarnya sedang membisik tanpa terendus.


"Aku tau kamu juga menginginkan sesuatu dariku."


"Aku cuma pengen nikah sama Diego, bukan sama Starlin."


"Kamu bisa mendapatkan itu, asal mau membantuku saat ini."


"Apa?"


"Berciuman denganku di sini, tepat di lantai dansa ini."


"Kamu gila?! Media bakal meliput kita."


"Itulah tujuanku."


***


To My Beloved Readers 💕


Happy eid adha untuk readersku yang sedang merayakan 🙏 Mari kita tebar kebaikan, mencari pahala yang bermanfaat, dan menyenangkan hati orang lain. Singkirkan iri dan dengki dengan cara mendukung karyaku 😉


Comment, votes, and stars kalian akan sangat menambah semangatku. Apalagi disertai kritik dan saran yang membangun, InshaAllah aku bisa belajar lebih baik lagi kedepannya.


Thank you for supporting me 🥰