
Evangeline melangkah sedikit tertarih ke arah pemuda yang berhasil menembakkan peluru di belakangnya, tepat ke pusat sasaran. Nyaris menyerempet kulit kakinya yang berbalut celana jeans denim.
Sesampainya di depan pemuda itu, ia langsung angkat tangan, dengan wajah letih bermandikan keringat. Keanu tersenyum puas menatap wajah menyerah tunangannya. "Masih meragukan gue, hm?"
"Oke-oke. Gue cuma belom pernah liat lo secara langsung aja." Bela Evangeline seraya mengelap keringat yang mengalir nakal di ceruk lehernya.
Keanu hanya mengangkat bahu melihat sisi 'tak mau kalah' dari Evangeline. "Kalo gitu kita langsung latihan sekarang." Katanya lugas. Tidak pernah bisa dibantah.
Tampaknya percuma, ketika Evangeline berusaha mengulur waktu agar tidak perlu berlatih sesuatu yang bukan masalah sepele seperti itu. Yah, ia hanya belum siap mental sejak dua jam yang lalu Keanu mengajaknya kemari. Mengutarakan tujuannya dengan gamblang, untuk melatih kesiapan fisik Evangeline bersama prajurit-prajuritnya yang lain.
Evangeline bersyukur bujukannya bisa melemahkan pertahanan Keanu, membuat cowok itu rela turun tangan sendiri untuk melatihnya. Coba kalau sekarang dia dilatih bersama prajurit Keanu, mau pingsan berapa kali dia.
Sekarang saja Evangeline merasa perutnya seperti teraduk-aduk. Mual setengah mati membayangkan suatu hari nanti ia akan melukai seseorang atau bahkan membunuh, dengan senjata api di tangannya ini.
Tampaknya sang tunangan mengerti kegelisahan yang dirasakan Evangeline. Tangan cowok itu berkali-kali mengelus punggungnya berusaha menenangkan.
Ketika rona wajah Evangeline sudah kembali normal seperti semula -tidak sepucat tadi, Keanu sudah memposisikan diri dengan tepat layaknya pelatih di sisi belakang tubuh ramping tunangannya. Dada bidangnya menempel di punggung sempit Evangeline. Membuat cewek itu menggigit bibir, gugup.
Mengesalkan memang. Di saat Evangeline berusaha mati-matian menahan degup tak biasa untuk yang pertama kalinya memegang senapan, tapi malah ditambahi dengan sentuhan hangat di belakangnya.
"Atur napas pelan-pelan. Jangan buru-buru nembak kalo masih gugup."
Instruksi Keanu didengarkan baik-baik. Kalau saja bukan untuk kepentingan pribadi -melindungi diri sendiri, mungkin Evangeline sudah lari terbirit-birit menjauhi markas mengerikan cowok itu.
"Alin, lo harus bisa. Jangan takut karena sekarang penjagaan 24 jam diperketat. Tapi kita selalu was-was seandainya sesuatu hal yang di luar dugaan terjadi."
"Gue bisa." Sergah cewek itu secepat kilat. Tanpa peduli tatapan curiga Keanu -bersungguh-sungguh atau tidak. Tapi, Evangeline akan berusaha demi keselamatannya, dan mungkin semua orang.
"Inget, napas lo harus teratur. Pas pelatuk ini ditarik, lo harus bisa tahan napas. Perhatiin juga arah angin. Lo nggak mungkin bisa nembak di tengah badai, yang ada peluru bakal balik."
"Itu juga gue tau." Cibir Evangeline mendengar kalimat terakhir tunangannya.
1903 Springfield. Senjata laras panjang itu terasa ringan, mungkin beratnya sekitar 3 kilogram. Tidak lebih berat dari M1 Garand yang sempat ia pegang pertama kali saat menginjakkan kaki di tempat ini beberapa jam lalu.
Keanu terus mendampinginya. Bertahan dalam posisi berdiri, kedua tangan tertekuk ke belakang. Wajahnya tidak terlihat jengkel sama sekali, meskipun tunangannya lama dalam menyesuaikan diri. Tapi, teknik 'setenang air' memang diperlukan. Apalagi Evangeline baru pertama kali, Keanu maklum.
"Tenang, Alin. Jangan terlalu panik. Pertama-tama, jangan anggap target di depan adalah musuh. Karena lo lagi belajar, anggap target di depan bukan apa-apa. Tapi lo harus penuh tekad dan percaya diri buat nembak tepat sasaran."
Evangeline memejamkan kedua mata sambil meraup rakus udara di sekitarnya. Keanu mustahil mengetahui bahwa ia gugup. Kentara sekali dari dadanya yang naik turun secara cepat.
Pelan-pelan ia menarik napas panjang lagi. Mempersiapkan mental, menahan mual dan takut, demi persiapan untuk hal yang tidak sepele. Benar yang dikatakan Keanu, ia tidak boleh selamanya bergantung pada siapapun. Secara tidak langsung, cowok itu bilang Evangeline harus bisa apabila 'tanpa Keanu'.
Evangeline harus mandiri dan tidak boleh manja. Dia tidak boleh hanya duduk-duduk saja tanpa malu, sementara orang-orang di sekelilingnya berani berkorban nyawa demi melindunginya.
DOR!
Senapan itu lantas terjatuh. Seiring dengan hembusan napasnya yang kasar. Seolah mengalami jetlag yang pertama kali, Evangeline langsung limbung tak berdaya.
Keanu hanya menatap datar. Tak percaya bahwa tunangannya selemah ini. "Ayo berdiri." Katanya tanpa perasaan. Evangeline kontan mendelik tajam..
"Sialan. Gue baru syok, bentar aja sih." Kata gadis itu sarkasme. Tapi Keanu tidak masalah dengan bicaranya yang mendadak berani.
Alih-alih meladeni, Keanu beranjak menuju meja panjang tempat senapan-senapan terbaik miliknya terpajang di sana. Semuanya elok. Memiliki daya ledak mematikan. Tepat mengenai pusat sasaran tubuh, manusia itu bisa langsung mati.
Keanu sudah biasa melihat dengan mata kepala sendiri, orang-orang yang mati karena tertembak. Karena ia sendiri yang membunuh orang-orang itu. Dia bisa merasakan, ketakutan dan kelemahan orang-orang tersebut di ambang kematiannya. Namun hati dingin Keanu tak pernah tersentuh. Tiap kali dia berhasil membunuh, kebahagiaannya bertambah berkali-kali lipat.
Evangeline dia biarkan saja terkapar di atas rumput. Membiarkannya merasa menyesal sudah datang kemari, menuruti kemauan Si Tuan Iblis. Nanti juga terbiasa, pikir Keanu.
"Lo adalah cewek paling lemah yang pernah gue kenak, Lin."
"Lo bahkan lebih lemah dari yang lo tau, Keanu. Jangan mengatai orang lain seolah-olah lo nggak bisa ngaca!"
"Gue emang lemah, tapi gue mampu membuat tameng sendiri. Sedangkan elo? Lemah dan nggak mampu membuat tameng."
"Siapa bilang, hah?!" Evangeline sontak berdiri. Matanya yang semula lemah mendadak melotot penuh ancaman menatap Keanu.
Secara teknis, laki-laki itu berhasil membuat Evangeline merasa tertantang.
"Gue barusan."
Keanu memalingkan wajah serta merta merona malu. Ekspresinya tidak sulit dikenali, berikut kepalan di kedua tangan yang mirip tinju. Evangeline tersenyum puas melihatnya.
"Jangan sentuh apapun tentang hidup gue, Alin."
"Kalo gitu, jangan sentuh hidup gue juga. Lo bertindak, gue juga sama. Nggak ada yang gratis kan, Keanu? Lo berani memenjarakan gue di kandang mutiara lo itu, dan gue juga bisa berani berbuat kejam membunuh hati dan pikiran lo."
"Sekali lagi lo berpikir begitu, nyawa nyokap lo melayang di tangan gue sendiri."
Evangeline mendengus. Kendati ucapannya mampu mengusik ketenangan Keanu, cowok itu memegang kendali penuh atas hidupnya. Membolak-balik sesuka hati. Menyetir apapun, semuanya, bahkan yang tidak Evangeline suka sama sekali.
Keanu atau Evangeline sama-sama tidak beradu mulut lagi. Gampang membuat Evangeline tutup mulut. Itulah kenapa Keanu tak pernah cemas memikirkan Evangeline akan melarikan diri.
Gadis itu pun mengalihkan perhatian dari ketegangan. Memungut senapan yang teronggok tak berdaya di sisinya. Mengatur napas lebih tenang dari sebelumnya. Fokus membidik alih-alih mengabaikan Keanu yang berdiri di depan titik sasaran. Sama seperti yang Evangeline lakukan ketika cowok itu menembak.
Ah, nyatanya Keanu ingin bernasib serupa.
Evangeline baru belajar. Pelurunya bisa saja meleset dan mengenai jantung Keanu. Memikirkannya saja membuat rasa gembiranya hadir, walau sebentar. Karena, ketakutan lah yang lebih mendominasi. Kalau saja cowok itu sungguhan celaka.
DOR!
Nyaris saja.
Peluru itu berhasil melewati pundak Keanu dengan mulus. Setidaknya cowok itu berhasil membuktikan bahwa Tuhan masih menyayanginya.
Evangeline pun tak bisa menahan gejolak lega. Dia menjatuhkan senapan asal-asalan, kemudian menghambur memeluk Keanu yang masih berdiri mematung di tengah arena.
"Bodoh! Gimana kalo lo mati." Sembur Evangeline sambil memukuli dada Keanu.
Keanu membalas pelukannya. Senyumnya mengembang lebar tanpa Evangeline tahu. Asyik juga memberinya kejutan.
"Nggak masalah, kan? Lo bakal bebas dari iblis tampan ini. Lo udah nggak bakal tersiksa lagi. Lo bakal merdeka kayak dulu."
"Gue nggak butuh merdeka atas apapun, kalo elo yang jadi taruhannya."
"Kedengerannya lo nggak terima gue pergi?"
Semburat merah menghiasi pipi tirus Evangeline. Untung wajahnya disembunyikan di bahu bidang tunangannya. Kalau tidak, Keanu akan sangat bangga dan bisa saja congak berhasil membuatnya merona.
"Bukannya gue nggak terima. Gue masih butuh elo buat melindungi gue 24 jam."
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Kalimat itu malah terlihat kalau Evangeline sangat membutuhkan Keanu. Seharusnya bukan kalimat itu yang keluar. Tapi memang Evangeline tidak pandai berkelit. Sekalipun di otaknya pantang terucap, tapi bibirnya melanggar.
Tidak ada jawaban apapun dari Keanu. Cowok itu hanya mengeratkan pelukan dan mengecup rambut Evangeline sesekali.
"Acara sakral itu bakal jadi buktinya."
"Gue harap lo nggak bohong, buat sehidup semati sama gue."
"Buat apa gue bohong? Sedangkan pembalasan dendam gue ke elo belum tersalurkan sepenuhnya."
"Selamanya lo milik gue, Keanugrahan Samudera."
"You're mine too."
Evangeline ataupun Keanu tahu konsekuensi dari ucapan itu. Keanu sudah memaksa Evangeline berjanji untuk tidak mencintainya, membuat gadis itu tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi. Tapi, hanya kata-kata itulah yang dapat ia gunakan untuk menutupi perasaan aslinya.
Sedangkan Keanu, ia menikmati drama yang sudah bertahun-tahun mereka jalani dengan apik. Ia sendiri tahu monster apa yang sedang tumbuh secara brutal dalam dirinya, membuatnya tanpa belas kasih, dan sesekali ingin melihat Evangeline tersiksa.
Yah, walaupun hatinya yang masih mempunyai sisi baik itu juga tidak tega, melihat lelehan air mata di pipi Evangeline karena perbuatannya.
Tapi, inilah konsekuensi dari perjanjian yang ia buat dengan mama Evangeline tiga tahun yang lalu. Keanu tidak boleh bawa perasaan apapun sampai misi mereka sukses. Karena cinta yang buta bisa menggagalkan semua rencananya.
Praktisnya, kedua manusia itu sama. Sama-sama berdusta soal rasa meski tidak tahan. Sama-sama terjebak dengan janji yang mereka buat. Sama-sama tidak sadar sudah saling bergantung satu sama lain.
Perasaan mereka, tumbuh untuk dibunuh? Atau hanya Evangeline yang merasakannya?