
BRAK! BRAK! BRAK!
“Buka pintunyaaa.”
“Saya tidak akan membukanya kalau Nona tidak mau makan dan minum obat.”
“Sialan! Kamu cuma pembantu di rumah ini. Tapi begitu arogan memerintahku?!”
“Maafkan saya, Nona. Saya juga tidak mau dipecat oleh Tuan.”
“Kalau begitu kita harus kerja sama. Bagaimana?”
“Maksud Nona?”
“Biarkan kamu dipecat oleh Tuanmu dan kamu bisa bekerja di rumahku.”
“Apakah Nona yakin?”
“Kamu meragukanku? Aku adalah pewaris tunggal Dvorak.”
“Nona, kan tidak pulang ke rumah selama berhari-hari. Apakah Nona masih dianggap anak oleh orang tua Nona?”
“Sial, dasar maid kurang ajar! Aku bisa membunuhmu selepas pergi dari rumah ini.”
“Saya tidak yakin Nona bisa keluar dari sini. Tuan Muda Alanzo mencintai Nona lebih dari dirinya sendiri.”
Evangeline tercekat mendengar jawaban maid itu. Ia pasang telinganya baik-baik, siap mendengarkan apa-apa saja yang bisa menjadi kuncinya.
“Irene? Kenapa kamu di sini? Apakah tugas dariku sudah kamu laksanakan?”
Itu suara Diego. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, Evangeline bisa menghapal suara seraknya dan aroma tubuhnya yang luar biasa maskulin. Dari dalam kamar saja, kharisma seorang Alonzo seperti
bisa tercium dari jarak puluhan meter.
“Maaf, Tuan. Saya sudah memaksa Nona Evangeline, tapi Nona tetap tidak mau makan dan minum obatnya. Sekarang saya kunci dia dari luar supaya tidak bisa keluar kamar.”
Terdengar helaan napas kasar dari luar. Dalam sepersekian detik, Evangeline bisa mendengar suara kunci yang diputar tepat di lubangnya. Kemudian pintu terdorong ke depan, mau tak mau menggeser posisi berdiri Evangeline di depan pintu.
Gadis itu menatap nyalang sosok yang baru beberapa jam ia temui di kebun binatang. Awalnya sosok itu menjelma sebagai orang yang ramah dan baik. Tapi sekarang Evangeline sudah tahu kebusukannya. Diego Alanzo tak
lebih baik dari pemuda yang terobsesi pada tahtanya.
“Kita makan di bawah?” Pria itu bersuara memulai ajakan. Tangan kanannya terulur serta, gesturnya jelas untuk menarik Evangeline mendekat dan mengikutinya.
“Apa yang lo rencanain, Diego?” Tanya Evangeline tanpa basa-basi. Kedua tangannya ia ulurkan ke belakang, ia kunci tepat di belakang punggungnya, seolah menyatakan keenggannya disentuh oleh Diego.
Laki-laki pemilik mata sebiru samudera itu tersenyum enteng. Senyum ramah seperti biasanya, yang tidak tahunya justru sangat berbahaya. Seperti predator.
“Ayolah, Sayang. Perut kamu harus diisi biar nggak sakit lagi.”
“Gue nggak bakal sakit kalo keluar dari kandang buaya ini.”
“Oh ya?” Kedua mata laki-laki itu memicing. Wajahnya mendekat, mencermati ekspresi kesal dan marah dalam wajah cantik Evangeline. “Kamu udah sakit lebih dari yang kamu sadari selama ini, selama kamu masih bersama
Keanu.”
Diego kembali menegakkan tubuh. Berdehem sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya, “Sekarang aku lega kamu udah nggak sama dia lagi.”
Evangeline membalikkan badan. Wajahnya kakunya berubah melunak sedikit. Setiap kali memorinya diingatkan oleh kenangan tentang Keanu, air matanya selalu siap tumpah. Kalau sedang sendiri, ia mungkin akan melepas
semua rasa sesak itu. Tapi sekarang ia sedang berada di kandang musuh, Evangeline tak sudi memperlihatkan kelemahannya di depan rivalnya.
“Gue makan di sini. Taruh nampan itu di atas ranjang, gue mau ke kamar mandi.” Ujar Evangeline setelah berusaha keras menormalkan tenggorokannya yang tercekat.
Diego tampak keluar sebentar, dan kembali beserta nampan untuk Evangeline. Ketika ia letakkan nampan itu sesuai perintah gadisnya, Evangeline kembali berkata, “Gue.mau.makan.sendiri.” Tatapannya tajam menusuk.
Di tempatnya, Diego tersenyum maklum. Ia mengedikkan bahu dan berlalu dari kamar Evangeline tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Setelah pintu tertutup rapat, Evangeline langsung melesat ke sana dan menguncinya sebelum orang-orang menyebalkan itu datang. Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari-cari tempat tersembunyi yang mungkin menjadi tempat bersemayamnya sebuah alat perekam.
Vas, atas ranjang, sela-sela laci, ranjang, lampu tidur, jendela, gorden, bawah keset, bawah karpet, selimut, bantal, guling. Pokoknya semua kemungkinan yang bisa menjadi tempat bersembunyinya CCTV.
Hingga ketika tangannya meraba kerangka tempat tidur, ia menemukan sebuah benda tipis yang terasa dingin. Segera ia tarik benda itu, hati-hati. Sebuah alat rekam suara berwarna black metallic. Beratnya sekitar 160 gram. Memiliki lubang-lubang transparan di sisi depannya. Sedangkan sisi belakang terdapat layar datar yang memungkinkan sambungan teleconference.
Seharusnya alat itu mempunyai handsfree, untuk menerima pesan dari seberang secara jelas. Evangeline mungkin harus mencarinya sekali lagi.
Mungkin sampai dua puluh menitan. Gadis itu baru menemukannya di atas AC. Ia tak tahu apa motif Diego memencar alat canggih itu sedemikian jauh. Padahal kalau alatnya dikhususkan untuk si tuan rumah, Diego
harusnya rugi. Karena ia pasti keburu ditangkap sebelum mengirim sinyal ke anak buahnya.
Betapa dungu. Batin Evangeline.
TOK! TOK! TOK!
“Evangeline, sudah tidur?”
Secepat kilat, gadis itu menyembunyikan alat temuannya ke balik pakaian. Untuk sementara ini tidak boleh ada yang tahu ia sudah menemukan alat canggih itu.
“Kenapa?” Sahutnya sambil menarik napas dalam-dalam. Ia tatap juga sekelilingnya. Sesuatu yang kusut atau tidak tertata seperti semula mungkin akan menimbulkan kecurigaan Diego atau pelayannya. Tetapi untungnya,
kegiatan pencariannya tidak menimbulkan perubahan yang signifikan.
Semuanya terlihat seperti semula, walau sedikit.
“Aku boleh masuk?”
“Nggak!” Tolaknya mentah-mentah. Kepalanya sampai menoleh ke arah pintu dan memelototinya, seolah pintu itu tubuh tinggi Diego.
“Aku belum memberikan obatnya.”
Mata Evangeline sontak melirik ke nampan berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya, dan segelas minuman air mineral. Tidak ada segelintir obat pun di sana. Ah, Diego sepertinya pintar menggunakan kesempatan.
CKLEK!
“Terima kasih.” Diego tersenyum sambil melangkah ke dalam. Tapi tangan Evangeline segera menahan dadanya.
“Siapa yang ngebolehin lo masuk, hah?!” Tanyanya galak.
“Aku harus mastiin kamu makan dan minum obatnya.” Jawab pria itu kalem.
“Lo budge ya?! Gue tadi udah bilang kalo gue mau sendiri. Lo nggak ngerti?”
Diego tampak terperangah, menghadapi gadis bermulut tajam berselimut wajah manis di depannya itu. Entah hilang ke mana tata krama dan tutur lembutnya, yang sejak kecil sering dibangga-banggakan Gerald.
“Kamu calon hidupku, Sayang. Aku perlu memastikan kamu
baik-baik aja.”
“Ngimpi aja lo!”
BRAK!
KLIK!
Sebelah tangan Diego terangkat, mengelus hidungnya yang terkantuk pintu secara kasar. Sedetik lalu ia kira hidungnya akan patah. Tapi tampaknya Tuhan masih melindungi wajah tampannya. Lantas senyumnya mengembang lebar. Gadis keturunan mafia tersohor di dunia itu memiliki paras yang menawan, otak cerdas, mulut setajam belati, ekspresi membunuh, dan berhati keras. Unik dan menarik.
Tapi laki-laki itu menyukainya. Sangat.
“Tuan Adam Diego Alanzo?” Senyumnya tiba-tiba buyar, berganti wajah sedingin es begitu telinganya menangkap suara sang kaki tangan.
“Ya?” Kepalanya menoleh sebentar. Kemudian menoleh lagi ke pintu yang tertutup rapat di depannya. “Kita bicara di ruanganku.” Katanya usai pertimbangan. Tak mungkin, kan mereka membicarakan suatu rahasia di depan kamar
gadis yang sedang menjadi tawanan? Meskipun untuk saat ini Evangeline tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tapi suatu saat, telinga dan memorinya yang tajam akan mengungkapkannya di depan seseorang.
“Baik, Tuan.”
Sedangkan di balik pintu yang tertutup rapat itu, Evangeline memelorotkan tubuh dengan pasrah. Akan sampai kapan ia dikurung di sangkar emas ini? Bersama seseorang yang sangat tidak ia sangka sebelumnya.
Kalau memang Diego mencintainya dan ingin menjadi pendamping hidup Evangeline, mengapa laki-laki itu harus menculiknya seperti ini? Kenapa Diego Alanzo tidak melamar secara gamblang di depan keluarganya? Padahal semua orang juga pasti sudah tahu tentang hubungannya dan Keanu yang renggang. Lantas apa yang menjadi penghalang Diego?
Tapi…, tunggu! Evangeline tampaknya asing ketika mendengar nama lengkap laki-laki itu. Ketika bawahannya memanggil nama tuannya dengan panggilan lengkap, ia merasa janggal.
Adam Diego Alanzo.
Saat di pesta Mr. Annabel, Diego memperkenalkan dirinya sendiri dengan nama Diego Alanzo. Dia mengesampingkan nama Adam yang menjadi nama utama. Mengapa?
“Ish! Evangeline, apa sih yang udah lo lakuin?!”
Untuk sebentar saja, Evangeline merenung atas kesalahannya. Ia sengaja mempertontonkan dirinya dengan mudah di depan musuh. Membuat mereka senantiasa menangkap. Tapi, Evangeline juga tidak pernah menduga kalau musuhnya ternyata Diego.
Seseorang yang awalnya ia anggap teman. Tapi sekarang jadi musuh hanya karena menculiknya dengan sebuah obsesinya yang gila.
Kira-kira papa tahu tidak ya?
Kalau tahu putra rekannya sejahat ini padanya, mungkin papa akan langsung memenjarakan Diego.
Ah, ternyata Diego sebodoh itu untuk mendapatkannya. Kalau dengan cara baik-baik saja bisa, mengapa harus dengan cara sulit seperti ini? Malahan bisa menjebloskan cowok itu ke penjara, kan? Pada akhirnya yang akan terkena dampak adalah bisnisnya.
Senyum kecut terukir di bibir Evangeline. Pikiran liar itu tidak boleh membuatnya senang. Ia harus tetap waspada dan menyiapkan pelarian diri apabila Keanu tak kunjung menjemputnya.