My Prisoner

My Prisoner
Pujaan Hati Evangeline



Evangeline tertatih keluar mobil. Kakinya terasa kebas, menginjak aspal tanpa alas kaki. Sesekali pecahan kaca menusuk kulitnya, hingga darah merembes keluar. Itu saja tak mampu mengimbangi luka di hati.


Karena di depan sana, Elrano Mahendra, sedang meregang nyawa.


Ambulans datang ketika kakinya sudah menapak tepat di sisi motor yang sangat ia kenali. Petugas-petugas medis segera membawa korban masuk mobil menggunakan brankar. Evangeline bisa melihat, sekitar tiga orang yang dibawa. Semuanya berdarah-darah, terluka.


Evangeline tergugu. Dia tidak diberi kesempatan melihat wajah Rano sebelum ambulans membawanya pergi.


Mata buram Evangeline hanya menatap nanar kepergian mobil putih itu. Dia menyadari sesuatu, tapi tak bisa berbuat apapun. Untuk melihat kondisi Rano saja ia tak mampu. Hatinya mendorong untuk mengejar. Tapi raga tak sinkron. Kakinya sudah lemas duluan, membuat tubuhnya jatuh bersimpuh di atas aspal.


Lututnya terasa sakit. Darah segar merembes lagi dari sana. Evangeline menatapnya hampa. Darahnya tak sederas darah yang keluar dari kepala Rano tadi.


"Ayo pulang."


Evangeline muak hanya dengan mendengar suara yang sangat ia kenali. Bertahun-tahun mengenal Keanu, menjadi tawanan cowok itu. Tapi dia tak pernah berubah. Keanu selalu egois dan semaunya sendiri. Dia seperti memiliki jiwa psikopat yang suka membuat orang lain terluka.


"Alin, ayo pulang. Luka lo harus diobati." Keanu kembali bersuara saat Evangeline masih bergeming. Cowok itu bahkan rela jongkok di sampingnya. "Mau gue paksa?"


Mata merah Evangeline balik menatap Keanu. Luka tersirat jelas di sana. Hanya air mata yang bisa mewakili dukanya. Sedangkan suaranya tak mampu terucap. Apalagi untuk menyadarkan Keanu tentang perbuatannya. Percuma.


Evangeline tidak menjawab. Dia hanya berdiri dan tertatih kembali ke mobil. Keanu di belakangnya ikut membantu berjalan, tapi Evangeline menepis kasar tangan sialan itu.


Sampai di rumah, Evangeline langsung dibawa Keanu ke kamar cowok itu. Untuk membersihkan luka-luka Evangeline yang masih keluar darah.


"Perih nggak?" Tanya Keanu bersuara lembut. Matanya juga demikian. Sambil tangannya terus bergerak membersihkan darah.


Perlakuan yang tak pernah dialami Evangeline sehari-hari mereka bersama.


Evangeline berdecih dalam hati. Ia masih tak bersuara. Rasa sakit di kakinyanya pun tak mampu membuatnya meringis sakit. Pikirannya masih syok.


"Gue nggak suka lo kayak gini. Rela terluka demi orang lain." Meskipun sedikit menggeram, tapi suara lembut Keanu masih mendominasi.


"Alin, apa lo pernah kayak gini buat gue? Berdarah-darah buat gue?"


"Lo milik gue, tapi jiwa lo seolah milik orang lain."


"Gue selalu nggak suka saat lo deket sama cowok lain, ngobrol sama mereka, bahkan sampe jalan bareng mereka. Lo cuma punya gue. Lo cuma boleh sama gue."


"Gue egois ya? Hahaha, emang. Gue egois karena gue sayang sama lo. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa."


"Suatu saat lo bakal ngerti, kenapa gue kayak gini."


Keanu menyugar rambut Evangeline. Menatap sendu gadis itu yang masih diam, dan hanya terus mengeluarkan air mata.


"Jangan terlalu stres. Acara pertunangan tinggal beberapa hari lagi."


Keanu lantas berdiri. Kakinya mulai pegal jongkok setengah jam di depan gadisnya, untuk mengobati luka gadis itu. Dia menenteng kotak P3K di tangan kiri.


Saat Keanu ingin beranjak, Evangeline bersuara. Mau tak mau matanya kembali menatap gadis itu, menyimak bicaranya.


"Lo tau hati gue milik yang lain. Terus kenapa lo masih mempertahankan gue? Lepas gue, Keanu. Gue cuma bikin lo sakit."


Keanu menatap tak percaya. Evangeline sering berkata agar dia melepaskan. Tapi selalu Keanu abaikan, karena dia tahu gadis itu tidak serius. Namun kali ini, permohonan gadis itu disertai dengan pengakuan yang tak pernah ingin ia dengar.


Evangeline mencintai laki-laki lain. Bukan dirinya. Bukan Si Monster. Bukan Prince Demon yang sudah bertahun-tahun bersamanya, mengurungnya. Fakta itu seakan menampar Keanu.


"Siapa yang lo cintai, hah?!"


Tak hanya dijambak, tapi juga dicekak. Sampai gadis itu megap-megap kesulitan bernapas.


"Sialan, Eve!"


Mata Evangeline terpejam erat seiring dengan cekikan di leher dan jambakan di rambut semakin kuat. Gadis itu berpikir Keanu benar-benar akan membunuhnya sekarang. Tidak apa, Evangeline malah senang. Akhirnya bisa bebas dari kungkungan Prince Demon.


"Uhuk! Uhuk!"


Evangeline nyaris muntah begitu cekikan di lehernya terlepas. Udara di sekelilingnya ia hirup rakus. Sambil mengusap kepala yang terasa pedas karena jambakan dahsyat Keanu. Ia yakin beberapa helai rambutnya rontok.


"Berani sekali lagi lo bilang cinta sama cowok lain, gue bakal bener-bener membunuh lo, Eve!"


Evangeline menyeringai. Napasnya masih memburu, tapi ia pongah berkata, "Silahkan. Dengan senang hati gue mau mati."


Iblis tampan itu kembali berang. Dirundung amarah yang membuatnya mendorong Evangeline ke kasur. Menindih tubuh gadis itu dan mencengkeram kedua tangannya ke atas kepala.


"Jadi lo lebih seneng mati bareng pujaan hati lo yang sekarang lagi sekarat? Daripada mati karena nggak betah sama orang tua lo?"


Mata pongah Evangeline berubah menyorot tajam. Ketika kata 'orang tua' terucap dari mulut Keanu, ia selalu sensi dan was-was.


"Ya! Gue lebih suka mati karena cinta sama orang lain daripada mati karena orang tua gue."


"Oh gitu?"


Sebuah ide terlintas dalam pikiran Keanu. Cowok itu mendekatkan bibir ke telinga Evangeline. Menggigit keras cuping telinga itu, hingga membuat sang empunya mengerang sakit. Lantas berkata, "Liat apa yang bakal gue lakuin setelah ini."


Evangeline menendang tulang kering Keanu. Membuat cowok itu berguling ke samping dan menggeram. Refleks melepaskan Evangeline.


Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Gadis pemilik surai coklat tua itu segera bangkit berdiri dan menyambar tasnya. Berlari keluar kamar meskipun tertatih. Meninggalkan Keanu yang hanya diam menatap sambil mengerang.


Keanu cepat-cepat meraih benda pipih dari saku celananya. Mengetik sesuatu di atas layar, dan menghubungi seseorang.


"Jangan halangi gadis itu, biarkan dia keluar. Aku tau dia mau kemana."


"Satu lagi. Arahkan target tiga ke markasku."


Laki-laki itu perlahan bangkit, melangkah menuju jendela besar yang mengarah ke halaman depan rumah. Dia bisa melihat Evangeline pergi menggunakan Ferrari 458 merah miliknya. Lirih, ia mendecih.


Betapa bodoh Evangeline. Pergi ketika pikirannya bisa langsung dilacak oleh Keanu. Gadis itu hanya belum tahu, sejauh apapun ia merasa melangkah, Evangeline tetap berada satu jengkal dengan Keanu.


Sifat sombongnya membutakan dia dari ancaman di depan sana. Hingga terkadang Keanu kasihan dengan Evangeline. Bersikap pongah tapi sudah tak punya apa-apa. Kalau saja gadis itu tidak dipungut oleh Keanu, sudah pasti jadi gelandangan.


Keanu berkeyakinan, Evangeline akan selalu kembali. Ancamannya tak pernah serius. Karena Keanu selalu bisa menampar balik. Tapi, ketika beberapa menit lalu ia mendengar sendiri bahwa Evangeline Sonja mencintai Elrano Mahendra, membuatnya panas.


Sekarang saja amarah kembali menguasai dirinya. Wajahnya terlihat memerah dengan tangan terkepal. Pokoknya ia tidak pernah terima jika gadisnya mencintai orang lain, Evangeline hanya boleh menjadi miliknya. Gadis itu tidak boleh berpaling. Keanu tidak akan pernah berhenti mengukung dan mengurung sampai Evangeline menoleh ke arahnya.


"Lihat, Alin. Apa yang dulu lo lakuin ke gue. Sampe buat gue tersiksa dan ngerasa nggak pantas bersanding sama lo. Meskipun sekarang lo udah jadi milik gue seutuhnya, dan semua orang tau itu."


"Tapi, hari ini lo melakukan kesalahan yang sama. Lo... dan cowok pujaan hati lo itu, pantas diberi hukuman setimpal atas rasa sakit gue."