My Prisoner

My Prisoner
Orang Ketiga



Ballroom Hotel Infinite penuh sesak dengan orang-orang berbaju formal dan mewah. Kesemuanya memiliki tujuan yang sama, menghadiri acara pertunangan putra tunggal pemilik hotel dengan putri tunggal pemilik perusahaan -bangkrut- kilang minyak terbesar di negeri.


Di atas lantai dansa, menarilah pasangan yang sedang disorot banyak pasang mata untuk malam ini. Gerakan laki-laki atau perempuannya sama-sama serasi, kompak, apik, dan luwes.


Evangeline terlihat sangat menikmati lengan keras Keanu yang merengkuh pinggangnya. Sesekali memejamkan mata, menyesap wangi yang tak pernah bosan ia hirup dari sosok tampan di depannya. Sekaligus menyesap rakus ketenangan di sepenjuru ruangan.


Hingga musik nyaris berhenti, Keanu menghadiahi tamu undangan dengan kecupan mesranya bersama Evangeline. Yang langsung diserbu sorak sorai seluruh tamu.


Keanu tampak lelah dan kurang istirahat meskipun wajahnya masih sedingin biasanya. Evangeline tidak tahu apa yang menjadi beban pikiran tunangannya. Laki-laki itu juga tidak banyak bicara, apalagi di malam ini, setelah seseorang berhasil membuat moodnya hancur.


"Alin, gue minta lo tidur di rumah gue sekarang." Permintaan Keanu terdengar final. Tatapan matanya mengunci tunangannya.


"Mama masih di rumah, Keanu. Selain mama bakal protektif, gue juga nggak tega ninggalin dia sendirian." Balas Evangeline sambil merunut jari-jari Keanu.


Cowok itu terdengar menghela napas. Mendadak tatapannya berubah melembut, sendu. "Alin, plis, malam ini aja. Gue butuh elo."


"Ada apa, Keanu?"


Evangeline tahu ada yang tidak beres. Tapi tidak mungkin karena permasalahan tadi, laki-laki itu jadi mendadak baper.


"Ayo masuk mobil." Alih-alih menjawab, Keanu justru menggiring pasangannya meninggalkan acara. Tanpa menoleh ke kanan kiri lagi, tanpa pamit dengan orang tua mereka, tanpa peduli tamu-tamu undangan.


"Keanu–"


"Alin, plis jangan banyak tanya. Nanti gue ceritain semuanya."


"Gue cuma mau bilang kalo sandal jepit gue ketinggalan di kamar mandi." Sergap Evangeline sambil mendelik. Kesal mendengar titah Keanu tanpa memperhatikan sekelilingnya.


"Oke-oke gue ambilin. Lo di sini aja."


Keanu mulai berjalan meninggalkan Evangeline sendirian di depan lift. Gadis itu pun menunggu sambil memainkan kukunya.


Sampai-sampai sepasang kaki jenjang beralas high heels 15 centi hadir di depannya.


"Selamat, Alin. Gue nggak nyangka kalo elo adalah calon pasangan putra tunggal keluarga Samudera yang hangat dibicarakan publik."


"Makasih, Luna." Evangeline sampai kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu kalau gadis populer semasa SMP itu bakal datang. Karena semua teman-teman sekolahnya tidak ada yang mendapat undangan di acaranya ini.


"Lo harus ati-ati mulai sekarang, Lin. Hidup lo nggak akan setenang dulu lagi."


"Maksud lo?"


"Lo nggak tau calon pendamping hidup lo siapa?"


"He is Keanu. Putra tunggal pemilik perusahaan ekstraktif terbesar se Indonesia. Calon penerus tahta Samudera. What's wrong?"


"Alin, serius lo nggak tau dia siapa?"


"Apa yang lo tau yang gue nggak tau, Lun?"


"Gue pengen ngomong, tapi kayaknya bukan hak gue."


"Oh, I know Keanu siapa di masa lalu. Tapi, jaman sekarang nggak ada yang namanya judge by cover lagi, kan?"


Luna tersenyum miring menyadari gadis pintar di depannya mampu mencium sesuatu yang mencurigakan. Evangeline terus mencoba mengorek yang diketahui Luna.


"Nah, itu yang gue maksud. Gue nggak mau bilang karena Keanu bisa membunuh kita berdua. Terlepas dari masa lalu kita bersama. Dan sekarang... gue pikir Keanu balas dendam sama lo."


"Luna Haven!"


Telinga Evangeline serasa berdenging hanya mendengar suara tinggi seseorang yang memanggil teman SMPnya. Keanu sudah berdiri menjulang di sisinya, menatap tajam lawan bicaranya. Tapi tampaknya Luna tidak masalah, dia tersenyum miring, mengejek.


"Hai, Keanu. Gue cuma ngasih tau sedikit sama tunangan lo. Masa iya bertahun-tahun nikah cuma karena balas–"


"Stop! Lo nggak ada kapasitas buat ngungkap acara sakral itu di depan Evangeline. Mulut lo terlalu kotor buat ngomong yang sejujurnya tentang nasib baik Evangeline, Luna."


"Harusnya gue yang ngomong itu sama lo. Lo terlalu haram buat jadi malaikat penolong tunangan lo. Gue tau niat busuk lo, Sialan Keanu!"


"Luna, kenapa lo tau?" Evangeline tahu Luna bisa mencium alur cerita hidupnya dengan cepat.


Sebenarnya ia tak perlu bertanya. Hanya saja, Evangeline suka melihat keributan di depannya. Melihat Keanu sangat berang adalah hiburan.


"Karena gue adalah–"


"Luna, tidak sopan sekali kamu berbicara keras dengan Tuan Muda!"


Perempuan cantik pemilik mata perunggu itu menunduk seketika. Tubuhnya seolah menciut tanpa nyali melihat kehadiran sang ayah.


"Maafkan aku, Tuan Muda. Putriku lolos dari pengamatanku."


Keanu membalas dengan senyum ramah. "Tidak apa-apa, Mr. Sebastian Haven. Saya sudah mengenal sifat Luna Haven yang seperti ini."


Pria paruh baya itu memelototi putri bungsunya. "Pulang sekarang, Luna! Papa ingin bicara."


Setelahnya Luna dan sang ayah meninggalkan pasangan hangat yang jadi perbincangan publik. Meninggalkan Evangeline dengan wajah penuh tanya menatap tunangannya.


"Gue sama sekali nggak ngundang temen sekolah siapapun itu ke acara ini." Sergap Evangeline sebelum dituduh Keanu.


"Bokapnya jadi bawahan bokap gue. Wajar kalo dia dateng sama anaknya yang manja."


Evangeline menghela napas pendek menyadari tatapan kosong Keanu. Tangannya bergerak mengambil alih sandal jepit di tangan cowok itu, dan buru-buru melepas high heels.


Sebelum Evangeline memakai sandal jepitnya, Keanu lebih dulu memakaikannya. Mengingatkan Evangeline akan suatu hal, sontak memundurkan kaki dan mengajak cowok itu berdiri tegak.


"Tenang aja. Pekerjaan gue dulu juga gini." Kata Keanu tanpa mempedulikan tangan lentik Evangeline di kedua pundaknya.


"Ayolah... semuanya udah berlalu." Desah Evangeline putus asa. Kenangan buruk itu nyatanya masih membekas dalam benak si cowok iblis di depannya.


"Buat elo iya. Buat gue enggak, Lin."


"Gue nggak tau lo siapa, Keanu. Maaf kalo dulu gue jadiin lo...."


Keanu mendongak, mata elangnya menatap sang tunangan. Bukan tatapan tajam seperti biasa. Tapi terlihat rapuh. "Gue nggak peduli mau selama apapun jadi babu lo, Lin. Gue malah suka bisa melayani lo sepenuh hati. Tapi, gue masih nggak terima sama kalian semua yang merendahkan gue sesuka hati."


"Keanu, gue nggak tau kalo kejadian itu masih lo inget. Mungkin juga bener apa yang dikatakan Luna." Cicit Evangeline sambil mengarahkan pandang lurus ke depan. Tak kuasa mengucap kalimat berikutnya. "Kalo lo jadiin gue jaminan karena pembalasan dendam lo di masa lalu."


Berat. Evangeline tak terima seandainya itulah alasan mengapa Keanu pada akhirnya mengikatnya dalam hubungan serius. Fakta itu benar-benar menghapus harapkan Evangeline tentang cinta Keanu. Yang pernah dengan gamblang dikatakan cowok itu beberapa tahun silam.


Meskipun, Evangeline kerap mendengar bahwa Keanu tidak menginginkan jatuh cinta kepadanya. Lagi, untuk yang kedua kalinya.


"Gue pernah bilang, kan? Kenapa lo nggak paham juga, hah?" Nada bicara Keanu meninggi. Tatapan rapuhnya berubah tajam. Tubuhnya ikut bereaksi, berdiri, dan mencengkeram rahang Evangeline kuat-kuat. "Gue nggak pernah maafin siapapun yang berani merendahkan gue di masa lalu, Evangeline."


"Maaf."


"Maaf?! Lo rasa itu cukup buat ngembaliin luka yang udah lo kasih ke gue? Bertahun-tahun, Lin! Bertahun-tahun gue nunggu elo buat balik cinta sama gue, sampe gue tanpa malu dan dengan bodohnya ngungkapin perasaan gue ke elo di depan temen-temen.


"Tapi apa?! Lo nggak ngerti arti kepemilikan yang sesungguhnya. Saat gue udah mengklaim elo, elo masih berani berhubungan sama cowok lain. Dengan dalih karena dia adalah calon terbaik yang dipilihin bokap lo yang sekarang kere itu."


"Gue dulu nggak cinta sama lo, Keanu!"


"Karena rasa gengsi lo itu, lo ngadu ke temen-temen lo dan bilang ke mereka kalo gue adalah anak tukang kebun. Lo, Luna, dan temen-temen busuk lo itu semuanya berhasil bikin gue emosi dan malu. Kalian semua udah bikin gue nggak pantes bersanding sama lo.


"Sampai hari ini."


Baru kali ini Keanu murka mengungkap semua keluh kesah yang ia pendam selama sekian tahun. Evangeline kerap mendengar alasan mengapa laki-laki itu terobsesi memilikinya. Namun, inilah alasan yang paling masuk akal.


Akhirnya, Evangeline mengerti betapa kejam ia dulu. Dan, betapa rapuh sosok Keanu yang sesungguhnya.


Keanu melepas cengkraman kuatnya disertai dengusan kasar. Ia berbalik, meninggalkan Evangeline yang masih mematung di tempat.


***


Malam semakin gelap. Hawa dingin menguak serta turut membuktikan bahwa waktu bukan sore lagi, tapi menjelang pagi.


Suasana tampak setenang air kolam ikan di sisi rumah Keanu. Dengan hias dengkuran pelan dari sosok tampan yang sedang tertidur lelap di kasur besarnya.


Evangeline menatap tunangannya sekilas. Kemudian balik menatap kolam ikan di bawah sana. Air kolam yang jernih memantulkan cahaya rembulan, menyilaukan mata. Tapi, Evangeline tampak tak terganggu. Ia lebih menikmati kesunyian malam yang sangat tenang ini dibanding mengacuhkan perkara sepele seperti itu.


"Ugh... Alin, jam berapa sekarang?"


Suara serak itu berhasil mengalihkan pikirannya dari ketenangan malam. Seraya mendengus, Evangeline menjawab, "Jam satu."


"Kenapa lo belom tidur?"


"Nggak bisa."


"Tidur, Alin. Besok kita harus ke rumah sakit bokap lo."


"Gue insom."


"Tidur. Sekarang."


Kalimat itu tegas, tapi tidak bernada perintah. Evangeline hanya mengedikkan bahu tak acuh dan kembali menatap bawah. Hal itu kontan mengundang geram marah dari Keanu.


Cowok tanpa baju atasan itu turun ranjang, terseok dengan mata nyalang menatap tunangannya. Sekalipun baru bangun tidur, Keanu tampak segar bugar. Fisiknya sudah terlatih untuk selalu waspada dalam keadaan apapun.


Evangeline hanya memandangnya tanpa dosa. Dia bahkan mengulurkan tangan ke depan, menyetop gerakan Keanu.


"Jangan paksa gue. Atau gue nyebur ke bawah sekarang."


Keanu terkekeh mendengar ancaman konyol itu. "Kalo lo nyebur ke sana, lo cuma cidera, paling parah bisa lumpuh. Tapi lo nggak bisa mati. Dan lo masih bisa gue siksa seumur hidup gue."


"Lo nggak se-spesial itu di mata Tuhan."


"Siapa tau, kan?"


Keanu menghembuskan napas asal. Tak memperdulikan ancaman Evangeline lagi, ia berjalan mendekat. Kedua lengannya melingkar di perut ramping Evangeline, kepalanya ia letakkan di dada gadis itu.


"Seandainya lo mati, gue juga ikut mati."


"Kenapa lo ikut mati?"


"Biar gue bisa menyiksa lo di sana. Mengambil alih tugas malaikat buat menyiksa elo."


"Gimana bisa lo nyiksa gue, sedangkan lo punya banyak dosa yang mungkin lebih banyak dari gue?"


"Jangan menghakimi. Gue berandai aja. Kayaknya asik kalo kita masih bisa bareng-bareng di sana."


"Kalo lo mati, siapa yang bakal nerusin warisan bokap lo? Tanggung jawab perusahaan di masa depan ada sama lo, Keanu."


"Hm, gue juga nggak tau matinya kapan."


"Kalo gue mati sekarang, lo mau ikut mati juga?"


"Iya."


"Dungu. Banyak orang yang bergantung sama lo, Keanu."


"Lo nggak termasuk."


Benar adanya. Tapi Evangeline memilih mengesampingkan ucapan janggal itu. Di pikirannya sudah berkelebat banyak sekali bayang-bayang masa depan Keanu.


"Lo harus sadar, Keanu. Ada banyak calon tulang punggung keluarga yang bernaung di bawah lo. Lo harus mikirin masa depan mereka, jangan sia-siain. Sifat psiko lo juga harus dikurangin, nggak semua masalah bisa diselesaikan pake cara membunuh. Childish, tau nggak."


"Membunuh itu hobi, Lin."


"Buat ukuran penjahat, lo terlalu jujur."


"Ya, ini cuma sebagian kecil dari sifat baik gue yang lain."


Evangeline mengusap surai gelap Keanu. Memilin, menarik-narik kecil, menyugar. Wanginya luar biasa maskulin, khas citrus.


"Jadi apa yang mau lo ceritain ke gue?"


Evangeline mustahil menyadari tindak-tanduk Keanu yang mendadak manja seperti ini. Sudah membekas di luar ingatan selama berbulan-bulan terkungkung di bawah kuasa cowok itu. Ketika Keanu gelisah, gundah, atau berduka.


Evangeline pernah luput menyadari. Keanu pernah seperti ini saat berhasil mencelakai Raymond. Sekalipun jiwanya psikopat, tapi sisi kelam itu memiliki kerapuhan. Keanu lemah dengan air mata Evangeline.


"Gue buruk ya? Gue suka semaunya sendiri. Nggak peduli sama orang lain. Bodo amat sama keadaan. Tapi, gue nggak bisa berubah."


"Tumben melankolis."


Sejujurnya silsilah keluarga Keanu saja masih menjadi tanda tanya Evangeline. Ia tidak tahu umur berapa Keanu mulai dibesarkan secara kasar oleh orang tuanya, tepatnya ayahnya.


Didikannya mungkin luar biasa tegas.


Melihat tatapan tanpa belas kasih dan kelembutan dari Daraeus Samudra, Evangeline yakin pria paruh baya itu menghabiskan seumur hidupnya untuk menggembleng Keanu tanpa ampun. Maklum kalau sifat Keanu menurun hampir delapan puluh persen dari pria itu.


Seolah tujuan hidup Keanu hanya untuk membuat sengsara orang lain, demi satu kepuasan. Dan untuk menelengkan siapapun yang berani menghalangi jalannya.


Entah apa pula pekerjaan lain mereka selain merintis perusahaan. Evangeline yakin tak jauh dari dunia gelap. Dilihat dari banyaknya markas yang Keanu –ralat, keluarga Samudera- punya, dan persenjataan laki-laki itu di markas 3. Markas pribadi, katanya.


"Gue nggak pantes dicintai orang lain. Bahkan sama orang tua gue sendiri. Tapi gue egois, gue pengen sekali aja diperhatiin sama lo. Sama orang yang pernah bener-bener gue cintai."


Keanu terus meluncurkan kalimat-kalimat yang mungkin menjadi unek-unek selama hidup. Kalimat itu pun semata-mata untuk merendah. Menarik belas kasih yang luput dirasakannya sejak kecil. Evangeline mengelus surai gelap laki-laki itu penuh kelembutan.


"Semua orang sayang sama lo, Keanu. Semua orang mendukung lo. Jangan pernah berkecil hati dan jangan pernah beranggapan kalo lo nggak pantas dicintai."


Karena, Evangeline benar-benar mencintai Keanu.


"Hari ini, gue berhasil bawa seorang mayat ke Markas 3."


Napas Evangeline mendadak tercekat. Matanya nyalang was-was. Otaknya langsung tersambung pada salah satu memori wajah seseorang.


"Lo nggak lagi mencelakai dia kan, Keanu?" Nada tanyanya menyerupai geraman marah. Evangeline bahkan melepas pelukan begitu saja.


"Sekalipun gue ingin, gue masih waras buat nggak mencelakai calon asisten pribadi gue."


"Jadi bener, kalo Keluarga Arvid itu keluarga lo?"


"Kenapa lo pengen tau? Sekarang bukan kapasitas lo buat tau semuanya, Alin."


"Oh, sori. Gue lupa kalo status gue masih tawanan yang nggak boleh tau rahasia tuannya. Hm, gara-gara pertunangan sialan itu."


Keanu mengibaskan tangan. Mengabaikan sindiran Evangeline alih-alih meladeninya. "Namanya Ferdinan Macanthos. Suami simpanan nyokap gue."


Bola mata Evangeline tambah melebar. Hadiah ini lebih mengejutkan daripada nada ganjil yang diucap Keanu.


"Nyokap lo tau?"


"Tau."


"Terus gimana reaksi nyokap lo?"


"Lo berharap apa, Lin?"


"Umm, sedih?"


Keanu mendongak menatap sang tunangan. Pertanyaan itu lucu, mampu mengundang tawa. Tapi, untuk saat ini ia sedang tak bisa berekspresi dengan baik.


"Ini politik, Alin. Nyokap nikah sama dia cuma karena pengen merebut kembali tahta keluarganya yang asli, yang sempat direbut Ferdinan setelah laki-laki itu menikahi kakak kandung nyokap bertahun-tahun silam."


"Kenapa harus membunuh? Lo nggak pernah berpikir kalo itu childish? Semuanya bisa diselesaikan secara kepala dingin."


"Jangan menggurui. Membunuh adalah cara paling tepat buat membungkam mulut keluarganya. Sepekan lalu keluarganya berontak, nggak terima kalo warisan balik lagi ke nyokap. Mereka bahkan ngancam. Mereka udah berani main-main sama keluarga gue, Alin."


Evangeline tak bisa menahan gidikan ngerinya. Ia tahu kalau keluarga Keanu memang sejujurnya tidak pada umumnya. Sebenarnya dia sedang terkurung di keluarga monster?


"Gue takut."


"Takut apa?"


"Kalo lo udah nggak bisa normal lagi, Keanu."


"Jangan khawatir. Semua pihak mendukung gue. Lagian ini adalah sebentuk tarikan perhatian papa."


Evangeline menangkup pipi Keanu, menolehkan ke arahnya. "Gue takut kalo gue nggak bisa bikin lo berubah jadi baik."


Keanu balas menatap. Kata-kata Evangeline adalah representasi dari rasa letihnya selama berbulan-bulan terkungkung. Keanu tahu tunangannya perhatian. Hanya saja, entah kenapa masih kurang.


"Janji buat nggak ninggalin gue sejengkal pun?"


"Asal lo juga mau janji kalo mau berubah."


"Nggak gampang, tapi gue coba."


"Lo harus bisa, Keanu. Gue nggak biasa hidup sama orang serampangan."


"Mulai detik ini lo harus biasa. Karena ini dunia gue, dunia gelap gue, dan akan jadi dunia gelap lo juga. Lo harus suka." Keanu menatap tunangannya lekat-lekat. Ketakutannya memang tergambar jelas dalam bola mata jernihnya. Tapi, Keanu harus membuat Evangeline terbiasa, dan melatihnya mulai sekarang. "Gue yang lebih takut kalo lo ninggalin gue, Lin."


Keanu bisa merasakan pelukan gadis itu mengerat. Batinnya merasa kalut tiap waktu. Membayangkan gadis itu suatu saat, akan diraih secara paksa dari hidupnya. Kematiannya, pelariannya, atau karena orang lain.


Bayangan terakhir itulah yang Keanu takuti selama beberapa ini. Seseorang berhasil mengusik hidupnya. Menggerogoti rahasia perusahaan dan dunia gelapnya bagai virus. Keanu tidak akan sekhawatir ini, kalau bukan Evangeline taruhannya.


Dan, ia tak pernah siap menghadapi hari di mana Evangeline berhasil lolos. Tanpa ia sadari. Diam-diam. Tak terendus.


"Keanu?"


"Hm?"


"Gue yakin membunuh nggak bikin lo jadi melankolis."


Keanu melepas pelukan. Ditariknya kepala Evangeline agar mendekat ke arahnya. Hidung mereka menempel, mata saling tatap. Baru kali ini, tatapan kebencian sedikit saja luruh dari mata masing-masing.


"Alin, jaga diri lo baik-baik oke? Selalu. Ingat, selalu. Jangan pernah lengah sama keadaan seaman apapun itu. Ingat mulai sekarang, jangan terbiasa bergantung sama orang lain. Gue emang janji melindungi lo dari segala mata yang berusaha narik perhatian lo.


"Tapi, gue nggak bisa janji bakal baik-baik aja saat semuanya udah kecolongan. Menjaga diri sendri adalah yang paling penting, Alin."


Inilah yang tidak beres.


Entah sumbernya dari Ferdinan Machantos yang disebut-sebut Keanu tadi. Atau orang lain yang sudah berhasil membuat Keanu gelisah. Seseorang yang sudah mempersiapkan waktu sekian tahun lamanya untuk menunggu saat ini. Saat Keanu berani memainkan perannya, memamerkan aset dunia sebagai miliknya.


"Gue harus apa?"


"Jangan panik."


Evangeline hanya memamerkan wajah jengah. Ia tahu jawaban itu bukan aslinya. Keanu penuh kejutan. Suka membuat perutnya melilit-lilit nyaris muntah.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Evangeline harus suka. Seperti yang dikatakan laki-laki itu.