
29 September 2013
Persidangan kasus pembunuhan Hose dan Mark sudah mulai berjalan kembali setelah beberapa temuan barang bukti yang kuat, beberapa saksi dihadirkan dalam persidangan seperti saksi atas nama Kenta Koga, Junichi Ueda dan Sawaki Endo.
Yoshuke, Yoshida, Gen, Haruki dan Ryusei datang sebagai sahabat Hose dan Mark, melawan Taro Furuhashi, Junichi Ueda dan Sawaki Endo. Sebelumnya, beberapa di antara mereka dianggap memiliki barang bukti kuat sebagai alat untuk melakukan kejahatan.
Misaki Furuhashi bertindak sebagai wakil untuk Taro dan menjadi pembela bersama dengan Mizuki Kanzaki, sosok lain yang datang adalah keluarga dari mendiang Hose dan Mark.
Sayangnya sosok Maulana yang ditunggu kehadirannya oleh Misaki sama sekali tidak muncul, di tengah sidang pun tidak ada pembelaan lain bagi Sasaki dan Ueda.
"Semakin sulit, tidak ada pembelaan terhadapku dan dua bocah lain. Aku rasa Yoshuke benar - benar ingin aku terjebak di penjara, meskipun bukti yang ada bukan berasal dariku." ujar Taro dalam hati
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, membawa pengacara juga untuk membantu kakak. Mizuki juga sudah ada disini, tapi kenapa semuanya semakin sulit. Maulana.. apakah benar kamu tidak berniat membantuku?" Misaki menatap langit ruangan
"Aku tidak yakin, tapi kunci pembelaan terhadap Taro adalah pada Maulana sekarang ini. Senpai! Aku mohon, datanglah!" tutur batin Mizuki
Hakim melanjutkan persidangan.
"Sampai saat ini, kami sudah mendapatkan barang bukti penting secara keseluruhan. Berupa pisau, alat untuk memukul Baseball, sobekan baju yang dianggap milik tersangka utama, sebuah batu yang juga dianggap digunakan untuk membunuh saudara Hose dan saudara Mark. Lalu, apakah ada tambahan dari saksi kunci Kenta Koga?"
Kenta berdiri
"Saya rasa, masih ada satu lagi barang bukti yang mungkin tertinggal. Yaitu gagang dari patahan gagang pisau yang sudah ditemukan, dan saya yakin satu di antara mereka bertiga memilikinya."
Misaki menatap Kenta dengan perasaan campur aduk, satu sisi dimana dia mengingat sosok Miyu sahabatnya. Rasa kesal juga datang menghampirinya, bagaimana bisa seorang Kenta melakukan hal seperti itu.
Rumah sakit Ueno
Miyu tersadar ketika Kenta meninggalkannya sendirian di rumah sakit, Miyu kini merasa sendirian tanpa siapapun menemaninya.
"Misaki tidak datang, Kenta meninggalkanku. Sepertinya aku tidak begitu diperdulikan mereka, tapi.." Miyu menatap bunga yang diberikan Misaki kemarin hari.
Seseorang mengetuk pintu.
*Permisi
Seseok lelaki dengan pakaian sekolah yang sepertinya dia kenali sebelumnya, dan seorang gadis yang tersenyum menatapnya.
"Iya?" Miyu memperhatikan pakaian kedua orang ini
*Seragam SMA Hoshizora
*Seragam Sakura Gakuen
Miyu melihat sosok siswa Hoshizora.
"SMA Hoshizora? Kamu siswa Hoshizora?"
"Perkenalkan, namaku Uchida. Aku teman Misaki Furuhashi." ujar lelaki berkacamata
Miyu terkejut saat melihat sosok gadis yang dia kenal sebelumnya.
"Kamu?"
"Hasegawa Yuki, sudah lama tak jumpa ya Miyu." Yuki membungkuk
"Bagaimana kamu tau aku sedang dirawat?" Miyu masih terkejut
"Maaf, intinya kami datang kesini untuk memberikan ini." lelaki ini memberikan buket bunga kepada Miyu
lilly flowers
"Bunga lily💐? Terima kasih banyak." Miyu memegang buket bunga itu
"Sebelumnya, kami ingin membicarakan sesuatu denganmu. Miyu-san!" Yuki duduk di dekat Miyu
"Entah kenapa aku menjadi minder kalo kamu duduk di sebelahku." ucap Miyu
"Loh kenapa?" Yuki kaget
"Kamu terlihat cantik sekali jika dilihat dari dekat, udah gitu kamu itu idol di Sumida." Miyu masih sempat - sempatnya memuji Yuki
Yuki tampak malu, lelaki yang bersamanya hanya menatap Yuki dengan biasa saja.
"Enggak kok.. biasa aja." Yuki masih tersipu malu
"Kami datang kesini hanya untuk memberikan informasi soal pacarmu, Kenta Koga." lelaki bernama Uchida memulai pembicaraan serius
"Kenta? Ada apa dengan Kenta?" Miyu berubah menjadi khawatir
"Sebelumnya aku minta maaf padamu, apakah kamu tau apa yang Kenta lakukan akhir - akhir ini?" Yuki yang bertanya
"Dia bilang kerja di restoran, bersama siswa Hoshizora bernama Gen, Yoshuke. Dia juga bilang kalau kerjanya bagus, Gen akan membantunya mencairkan pendonor organ jantung untukku." Miyu menjawab dengan rasa ragu
"Saudari Kanazawa ini, sakit jantung?" Uchida terkejut
Miyu mengangguk, kemudian menatap Yuki. Yuki kemudian menatap Uchida, dan Uchida hendak mengatakan sesuatu.
"Kenta Koga, pekerjaannya..." Yuki memotong "Dia bekerja sebagai pelayan restoran, dia sangat amat teliti dan bersih."
Uchida menatap Yuki
"Apa?"
Yuki kemudian menggelengkan kepala, tanda kalau lebih baik tidak memberitahukan soal Kenta kepada Miyu. Uchida kemudian terdiam, Yuki memeluk Miyu.
Beberapa saat kemudian, Uchida menerima pesan...
"Sebaiknya kau cepat datang ke persidangan, sebelum terjadi sesuatu yang buruk." - Taguchi Yamada
"Hmm Yuki, sebaiknya kita pergi sekarang." ucap Uchida
"Oh? Iya, yaudah Miyu-san aku pergi dulu ya." ucap Yuki
"Kamu kesini cuman buat kasih aku bunga aja? Ngapain repot - repot sih." Miyu agak kecewa
"Iya, maaf ya udah bikin kamu khawatir soal Kenta." ucap Yuki tersenyum
"Iya, tak apa Hasegawa-san. Semoga hubungan kalian berdua semakin erat, seperti aku dan Kenta ya." Miyu secara tidak sadar membicarakan Yuki dan Uchida yang sedang bersama.
"Apa?" tanya hati Uchida
Yuki dan Uchida akhirnya keluar ruang inap, untuk segera kembali ke mobil dan berjalan menuju pengadilan.
Dalam mobil
"Sudah saatnya kamu muncul sebagai tamu tak terduga, Maulana!" ucap Yuki
"Aku akan buktikan pada mereka, kalau Taro tidak terlibat dalam masalah ini." Maulana kembali muncul sebagai dirinya
"Kenapa kamu harus menjadi seorang Uchida di depan Miyu?" tanya Yuki
"Kenapa kau menahan pernyataanku soal Kenta, kepada Miyu?" pertanyaan Maulana membuat Yuki kesal
"Kamu tidak sadar akan kondisinya hah? Dia tidak bisa menerima semua itu sekarang, aku tidak mau dia kenapa - kenapa." Yuki tidak sadar meneteskan air matanya
Maulana tersadar, kalau kondisi sekarang memang tidak tepat untuk membahas Kenta.
"Kita harus kembali fokus untuk melawan dakwaan Yoshuke."
Pak Hideki mempercepat jalan mobil agar sampai di pengadilan tepat waktu, Maulana kemudian mengeluarkan sesuatu dan menyusun rencana bersama Yuki.
Kembali ke persidangan
Hakim sudah membacakan nota dakwaan Yoshuke untuk 3 orang yang bisa menjadi tersangka, Misaki dengan tegas melawan pernyataan Yoshuke itu dan membela Taro habis - habisan bersama Mizuki.
"Dakwaan terhadap saudara Taro Furuhashi sudah jelas bukan?" tanya Yoshuke
"Jelas tidak ada bukti yang memperkuat bahwa kakak saya, Taro Furuhashi bersalah!" Misaki meninggikan suara
"Bukti sudah jelas ada di depan, kau mau berdalih kalau dia tidak bersalah? Come on!" Yoshuke menanggapinya dengan santai
"Bukti seperti ini saja masih kurang, kau mau memaksa mereka bertiga bersalah atas kejadian waktu itu? Ternyata kau tidak pintar ya! Hanamasa!" Mizuki kini angkat bicara
"Berani sekali nyonya ini ya!" ujar Ryusei
Beberapa saat kemudian, seseorang muncul dari pintu dengan membawa sesuatu. Yoshida menatap dua orang yang berjalan, membawa sebuah barang penting.
"Yang mulia, saya membawa seorang yang menyatakan kalau dia punya bukti tambahan untuk mengetahui siapa sosok pembunuh dalam kasus ini." ujar seorang polisi
Misaki terpana melihat sosok Maulana, Yoshida menatap seorang Nguyen Thuan. Maulana dan Nguyen saling menatap, mereka beradu mental.
"Akan ku tunjukkan sesuatu bukti, bahwa sahabatku tidak bersalah atas apapun." tutur batin Maulana
"Aku berjanji, akan membalas siapapun yang sudah menyakiti sahabatku! Tuan Yoshida!" tutur batin Nguyen
Keduanya memberikan barang temuan mereka kepada Tim autopsi, Nguyen membawa kayu yang berbentuk gagang pisau sedangkan Maulana membawa kalung dengan mata bermotif bintang jatuh.
"Maulana?" Misaki terkejut
"Uchida!" Reaksi mengejutkan dari Ryusei membuat Yoshuke panik
Hakim kemudian memutuskan untuk pihak polisi segera mengidentifikasi sidik jari yang terdapat pada dua benda tersebut, dan memutuskan untuk menunda sidang sampai 2 minggu.
Entah bagaimana nasib 3 orang yang diduga adalah pelaku pembunuhan Hose dan Mark, apakah Yoshuke akan membawa mereka lebih dalam lagi kasus ini.
Yang jelas, Misaki, Mizuki, Maulana akan terus menyerang Yoshuke dan kawan - kawannya.