
*Lapangan sepakbola S1M
Misaki baru saja pulang dari rumah sakit Ueno dan memilih berpisah dengan rekannya, dia mengambil nafas sebentar sebelum akhirnya pulang ke rumah.
"Santai sebentar, baru aku akan pulang." Mizuki mengambil botol air minum dari tasnya
Mizuki sudah mengambil keputusan untuk bergerak lebih dulu dibanding Maulana yang masih memikirkan cara menjauhkan Taro sementara, Mizuki bergerak 3 langkah dari Maulana dalam misi ini meski pada akhirnya dia juga harus melibatkan Maulana.
Saat memasukkan botol minum ke tas, Mizuki terkejut melihat seorang gadis yang berjalan melewatinya.
"Gadis ini...?" Mizuki berfikir untuk menyapanya lebih dulu "Selamat datang di Tokyo ya, Sakamoto..?"
Gadis ini melihat ke arah Mizuki
"Oh.. Kanzaki-chan? Lama tak jumpa, dan kamu semakin cantik saja ya." Hikari tersenyum
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di Tokyo, bukankah kau sudah nyaman tinggal di Mie?" Mizuki nampak menyindir
"Tidak bolehkah aku menemui keluargaku yang tinggal di sini?" Hikari nampak membalas
"Aku tak melarang, hanya saja aku terkejut melihatmu disini. Gadis kelinci!" Mizuki mulai memancing emosi Hikari, namun Hikari tetap tak mencoba melawan
"Aku kesini sekaligus ingin menemui kekasihku, lagipula dia belum mengatakan dia memutuskan hubungan denganku. Kau tidak akan pernah dewasa, bila terus bersikap seperti ini." sekarang Hikari yang mencoba memancing emosi Mizuki
"Aku yakin 100% kalau lelaki yang kau panggil kekasih itu, sekarang berusaha menghindarimu dengan cara apapun. Bahkan, menerima cinta gadis yang baru saja menyatakan cinta padanya."
Mizuki dan Hikari melakukan pertarungan psikis, mereka mencoba menahan emosi masing - masing meskipun pada akhirnya akan mengeluarkan sifat asli.
"Jadi.. sudah sejauh mana kamu mencoba mengganggu pikiran kekasihku hah? Dengan permainan detektif bodohmu itu, pada akhirnya kau akan menyerah juga." ujar Hikari
"Kau sudah tertinggal jauh, bahkan kami sudah sampai tahap pengumpulan bukti untuk menjerat seseorang ke penjara." Mizuki berjalan mendekati Hikari
"Maulana akan kembali padaku, dan kau...! Kau akan menyesal!" ucap Hikari
"Maulana tidak akan tergoda pada gadis yang memperlihatkan harta tubuhnya untuk lelaki lain, apalagi melihat usianya. Maulana tau mana perempuan baik - baik yang patut diperjuangkan, dibanding dengan perempuan yang sudah membagikan kecantikan tubuhnya hanya demi uang." Mizuki cukup siap dengan perlawanan Hikari
"Tarik kata - katamu tadi! Kau tidak tau apa yang sedang kau katakan, kau tidak tau faktanya seperti apa. Kau pikir dirimu bersih hah? Hanya karena kau selalu menolong Maulana di sekolah? Pada akhirnya, kau akan kalah dari seorang gadis idola!" Hikari meneteskan air matanya tanpa sadar, Mizuki melihat itu dan entah kenapa dia merubah gesture tubuhnya.
"Untuk pertama kalinya, aku melihat air matanya keluar. Apakah aku sudah keterlaluan padanya?" tutur batin Mizuki
Saat itu juga, Hikari memutuskan meninggalkan Mizuki sendirian di depan lapangan sepakbola dekat sekolah Sakura Gakuen.
*Rumah sakit Ueno
Misaki menemui Miyu tepat setelah pulang dari sekolah, Miyu menyambutnya dengan senang.
"Miyu! Aku bawakan beberapa buah untukmu...~" ucap Misaki
"Terima Kasih sudah datang." Miyu membalas senyum Misaki namun sedikit melamun
"Kamu kenapa Miyu? Kok melamun?" tanya Misaki
"Kenta kalo sudah keluar, sulit dihubunginya. Dia juga jarang menemaniku sampai malam, akhir - akhir ini dia seperti sibuk sendiri." Miyu menunduk
"Kamu tidak penasaran apa dengan pekerjaannya?" Misaki curiga
"Aku penasaran, tapi sulit bagiku mengetahuinya jika aku terdiam di rumah sakit dengan kondisi sekarang. Aku ingin ikut dengannya kemanapun dia pergi, setidaknya itu bisa membuatku tenang." Miyu nampak akan menangis sebelum Misaki memeluknya.
"Tenanglah Miyu, aku yang akan mengikutinya kemanapun dia pergi." ucap Misaki
"Jangan Misaki! Kamu tidak perlu melakukannya, biar saja dia pergi kemanapun dia mau. Aku tidak mau terlalu mengikatnya, karena dia tau akan tanggung jawab atas apa yang dia lakukan sekarang." Miyu mengusap air matanya
"Aku tidak menyangka bisa sejauh ini, tapi aku harus bertindak segera. Ini demi Taro, juga Miyu." Misaki menghubungi Maulana.
"Maulana bisa bertemu nanti? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, aku harap kamu bisa datang." ucap Misaki
"Aku sedang berada di rumahmu, bersama Miyamura dan Taro. Kenapa kita tidak bicarakan di rumahmu?" balas Maulana
"Hah? Kapan dia berada di rumah? Aku tidak bertemu dengannya tadi." batin Misaki bertanya - tanya
"Misaki? Kamu kenapa?" Miyu memperhatikan Misaki sejak tadi
"Eh maaf, gak ada apa - apa kok." Misaki membalas pesan singkat Maulana tadi
"Nanti kita bahas lagi, aku masih menjenguk temanku."
*Kediaman Furuhashi
Miyamura menemani Taro sejak pulang sekolah, Maulana baru saja sampai dari konbini.
"Jadi aku hanya membawa sandwich saja, kau tidak bisa makan mie terus - menerus kan Taro." ucap Maulana
"Kau sama saja dengan Misaki, sensitif bila melihatku memakan mie." Taro kesal
"Kau juga tidak boleh minum soda untuk sementara waktu, demi kesehatan." ujar Miyamura
Taro menatap Miyamura
"Kau tidak perlu ikut campur!"
"Galak sekali sih." ujar Miyamura
"Jadi saat kau datang ke rumah sakit kosong itu, apa ada hal saja yang kau lihat? Mungkin bisa jadi petunjuk." ucap Maulana
"Aku terlalu fokus pada Sofie, jadi aku lupa memperhatikan sekitarnya." jawab Taro
"Tapi, aku bingung kenapa kau terlihat biasa saja saat berada di depan rumah." ujar Maulana
"Itu yang aku bingungkan juga, tidak ada satupun badanku yang terasa sakit." Taro memegangi tubuhnya
"Tapi aku merasa ada yang aneh saat datang kesini waktu itu, aku melihat barang asing berada di saku jaketmu." ucap Miyamura
"Masa sih? Aku tidak sempat meraba jaket saat itu, jadi aku tidak curiga." Taro kemudian mengecek jaketnya yang berada di kamar
"Dia langsung berlari begitu." ujar Miyamura
"Aku curiga, jangan - jangan?" Maulana dan Miyamura bertukar pertanyaan
Di kamar, Taro tidak menemukan apapun di saku jaketnya. Dia kemudian berjalan turun menemui Miyamura dan Maulana, dia langsung menunjukkannya kepada mereka.
"Aku tidak menemukan apapun disini." ucap Taro
"Apa mungkin Misaki menemukannya lalu membuangnya?" tanya Miyamura
"Bisa saja, apalagi yang mencuci baju selama orang tuamu tidak di rumah kan Misaki." ujar Maulana
"Tidak perlu kau jelaskan!" ucap Taro
Taro kemudian melempar jaket itu ke arah Miyamura.
"Apa - apaan kau ini?"
"Oh iya aku harus segera kembali pulang, ada janji dengan kakakku." ucap Maulana
"Janji apa?" tanya Taro
"Ra-Ha-Si-A! Aku pamit duluan ya, Miyamura jaga Taro ya!" Maulana membereskan barang lalu berjalan keluar
"Dia yang terakhir sampai, dia yang pulang duluan." ucap Miyamura
Miyamura akhirnya harus menjaga Taro hari ini sampai Misaki pulang.
Sementara itu...
Hikari pulang dengan rasa sakit hati atas pernyataan Mizuki kepadanya, tapi dia tidak mau meluapkannya di depan umum. Dia memilih tersenyum selama jalan pulang karena orang sekitar melihatnya, sampai dia berhenti pada suatu kafe dimana ada seseorang yang dia kenal sebelumnya.
"Dia? Sudah kembali dari Amerika?" Hikari hendak mendekat, namun beberapa orang menahannya.
"*Hikari...!"
"Hikari-chan*!!"
Banyak fan yang mendekat lalu meminta foto bareng, minta tanda tangan dan sebagainya. Beberapa saat, orang yang Hikari cari sudah tidak ditempat.
"Sayang sekali aku tidak menemuinya." Hikari memilih berjalan pulang
Biar bagaimanapun, hari ini semua orang sudah kelelahan. Entah apa yang akan terjadi esok hari, yang jelas Maulana, Misaki, Mizuki, Taro, Miyamura, dan Miyu akan menghadapi hal besar di kemudian hari.