My Pretty "Boy" Girl?

My Pretty "Boy" Girl?
S2E8 Miyu Kanazawa & Ryoko Sashihara



*Ohisashiburi, Maulana-senpai!


Suara serak seorang Gadis memecah keheningan malam, Maulana hanya bisa terdiam menatap Gadis berpakaian seragam SMP yang kini berada di depannya, Maulana menatap gadis itu penuh makna terdalam.


"Ryoko?" Maulana terkejut


"Selamat Sore Senpai, apa kabarmu?" Ryoko sedikit menggoda


"Apa sih? Aku baik kok, kamu apa kabar hah?" tanya Maulana


"Aku baik juga kok." jawab Ryoko


"Kenapa kamu ada di Tokyo? Apakah kamu Kangen seseorang?" Maulana sekarang yang menggoda


"Aku sudah bertemu dengan orang itu semalam dan dia cuek, ngomong - ngomong aku ke Tokyo untuk bertemu kakekku. Aku teringat rumahmu, makanya aku datang ke sini." jawab Ryoko


"Iya, aku senang bisa melihatmu lagi." Maulana tersenyum


"Apa kabar pak Gunawan dan ibu Nami Uchida?" tanya Ryoko


"Baik, ayo aku antar ke dalam." Maulana bercanda


"Hemm bagaimana ya? Baiklah!" Ryoko ikut ke dalam rumah Maulana


*Suara Silvia terdengar sampai keluar


"GOOOALLL!" teriak Silvia


"AKU PULANG!" Maulana balas teriak


"AAAUU! Berisik!" Silvia marah


"Kakak tuh yang berisik, gak enak sama tetangga." Maulana juga marah


Silvia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang Maulana bawa ke rumah, Silvia bisa mengingat wajah gadis itu dengan baik.


"Ryoko-chan? Kamu Ryoko-chan kan? Ya ampun....." Silvia kemudian memeluk Ryoko


"Aku baik kak, kak Ayumi apa kabar?" Ryoko turut senang


"Aku baik, ayo silahkan duduk nanti aku ambilkan minum ya." antusias Silvia membangunkan tidur sang ayah


"Haduh Silvia!" pak Gunawan teriak dari kamar


"Ehh? Maaf yah.." ucap Silvia


"Aku akan ganti baju, kamu disini sama kakakku ya." ucap Maulana kemudian berjalan ke kamar


"Kenapa kamu ada di Tokyo?" tanya Silvia


"Aku di Tokyo mau liburan di rumah kakek, aku teringat Maulana jadi aku datang kesini." jawab Ryoko


"Apakah kamu sudah punya pacar?" pertanyaan Silvia sudah mulai ke arah yang lain


"Kenapa begitu? Aku sudah putus dengan pacarku setahun yang lalu, dia memilih untuk mengikuti kakaknya menjadi anggota sebuah gang." Ryoko tidak mungkin melupakan hal buruk itu karena Yoshida mencampakkannya hanya demi uang dan kekuasaan


"Gangster maksudmu? Mengerikan sekali, apakah kamu sempat diancam?" Silvia mulai khawatir


"Tidak, mantan pacarku mengatakan kalau kakaknya tidak akan menggangguku asal aku tidak bersama dia lagi." Ryoko sedikit terguncang


"Oh iya, kenapa Maulana lama ya ganti baju aja?! Sebentar ya Ryoko, aku lihat dulu sekalian mengambilkan minum untukmu." Silvia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur


"Terima kasih kak Ayumi." Ryoko kini menatap layar ponsel, dan menemukan pesan terakhir yang ia kirim untuk Yoshida


"Sebagai seorang sahabat, aku hanya mengingatkanmu akan kematian yang sia - sia. Jangan sampai kamu mati hanya karena kebodohan kakakmu, aku menantikan kehadiranmu lagi di hidupku untuk yang kedua kali."


"Pesan yang sebaiknya aku hapus sebelum Maulana melihatnya, atau aku akan dapatkan masalah." Ryoko segera menghapus pesan itu


*Beberapa saat kemudian


Maulana, Silvia dan Ryoko menikmati makanan yang dihidangkan nyonya Uchida, hanya sedikit pembicaraan soal Ryoko dan Maulana soal masa SMP.


"Aku pikir masa SMP ku akan indah seperti siswi yang lain, aku hanya berharap bisa menemukan teman yang baik sama seperti Maulana dimasa depan." Ryoko sedikit merasa sendu


"Jangan omongin soal cinta, aku juga tidak berhasil soal cinta." ujar Maulana


"Benarkah? Lalu siapa gadis yang tadi mengantarmu sampai depan rumah tadi sore? Benarkah gagal?" Ryoko mengingat Yuki yang mengantar maulana pulang


"Kau kan tau masalahku dengan gadis idola di sekolah, kau mengingat kan apa yang terjadi padaku bukan?"


Maulana teringat sosok yang membuatnya sakit hati dimasa lalu, Ryoko tentu ingat sosok gadis yang menjadi idola di sekolahnya.


"Memangnya kenapa dengan Maulana waktu SMP, Ryoko?" tanya Silvia penasaran


"Ehh.. etto.." Ryoko sedikit malu


"Gadis yang menjadi pacarku dulu menjadi idol..." jawab Maulana


"Idola, artis?" tanya Silvia


"Model Majalah dewasa, alias Gravure."


"Apa?" Silvia lalu memandang sang ibu


"Ya ampun.." bu Nami terkejut dengan menggunakan bahasa isyarat


"Itu satu - satunya alasanku kenapa aku benci dengan gadis kaya harta, cantik, populer, apalagi idola." ujar Maulana


"Jadi gadis tadi itu Kaya raya, cantik, populer, dan idol?" tanya Ryoko


"Gadis yang mana, aku penasaran?" Silvia kembali penasaran


"Hasegawa, tadi aku bertemu dengannya." jawab Maulana


"Hasegawa? Ohh iya iya, dia memang cantik. CANTIK.... SEKALI!" ujar Silvia, sang ibunda tertawa melihat itu


"Jangan ganggu adikmu ah.." ujar but Nami


"Maaf bu.. hihihi" Silvia tertawa


Maulana, Silvia dan Ryoko segera menghabiskan makanan sebelum malam datang, Ryoko nampak menikmati makanan buatan nyonya Nami


*Rumah sakit


Misaki menemani Miyu yang berada di rumah sakit karena penyakit yang diderita Miyu, Misaki ditemani Kenta yang merupakan kekasih Miyu.


"Miyu...chan! Kamu kenapa jadi begini sih?" Misaki menangis


"Aku gak apa - apa kok Misaki, kamu kayak apa aja sih." Miyu sedikit tersenyum


"Aku tinggal sebentar ya." ucap Kenta berjalan menuju pintu


"Kenta akhir - akhir ini nampak sibuk ya.." Misaki sedikit penasaran


"Aku dengar dia dapat pekerjaan, dia bilang dia akan membayar biaya rumah sakitku plus organ untukku." jawab Miyu


"Benarkah? Kerja apa?" Misaki penasaran


"Aku tidak tau, yang jelas dia punya proyek besar katanya." Miyu tidak mengetahui apa yang Kenta lakukan bersama Yoshuke


"Aku sedikit lega setelah tau kamu mendapatkan perawatan yang baik, aku tidak menyangka akan seperti ini. Aku mau kamu sembuh, jadi kita bisa kumpul kayak dulu." Misaki memeluk Miyu


"Kita bicarain cowok cool di sekolah, kita bicarain kebiasaan burukmu. Begitukah?" Miyu bercanda


"Hemm kau masih melakukannya dibelakangku ya?" Misaki cemberut


Baik Misaki maupun Miyu saling melempar tawa dan mengingat kejadian lucu di sekolah, Kenta melihat keakraban itu dari kaca pintu ruangan.


"Begitu sidang selesai, kamu akan mendapatkan organ itu dan sembuh. Aku janji, kita akan menikah." tutur batin Kenta


*Bunyi ponsel


"Kenta, kita harus bertemu sekarang. Ingat! Jangan sampai ada yang tau!" ucap Gen


"Baik, aku akan kesana sekarang." Kenta kembali masuk ke ruang rawat serta meminta izin


"Miyu, Misaki. Aku izin pulang duluan ya, mau ada sesuatu.." Kenta berfikir mencari alasan


"Yaudah, kamu pergi gih. Entar telat, kasian yang nungguin." Miyu tersenyum


"Aku akan menemani Miyu sampai kamu kembali, jadi pergilah." ucap Misaki dengan nada lembut dan tersenyum


"Emmm iya, sampai nanti." Kenta berjalan sambil menunduk


"Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu. Kenta, tersayangku." tutur batin Miyu


"Ada lelaki yang rela melakukan apapun untuk gadis yang dia cintai, bahkan rela kehilangan nyawanya." Miyu seperti bisa membaca masa depan, meski pada akhirnya dia merasa sedih bila jauh dari Kenta.


"Kenapa aku malah teringat Miyamura.. huuuh!"


Miyu mengucapkan hal yang selama ini membuatnya tegar menghadapi segala situasi bersama Kenta, Misaki malah teringat Miyamura yang rela melakukan apa saja untuknya.


*Pertemuan Yoshuke, Gen, Kenta


"Beberapa bukti sudah ku dapatkan dan akan segera aku kirimkan kepada seseorang, kau tinggal membuat rancangan saksi palsu." ucap Gen


"Aku sudah mempersiapkan sejak lama, aku hanya menunggu janji kalian sekarang." ucap Kenta


"Soal organ tubuh itu, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mendapatkan calon pendonor, tugasmu hanya menyelesaikan sidang ini dengan bersih." ucap Yoshuke


*Dari luar ruangan


"Silahkan saja membuat saksi palsu, pada akhirnya hanya tersisa nama saja. Kenta Hamasaki."


Seorang gadis ternyata mengikuti Kenta sejak tadi, dia bersama dua orang pria kekar menuju tempat pertemuan Yoshuke, Gen dan Kenta.


"Organ tubuh itu tidak akan pernah ada, dan kalian tidak akan lepas dari saksi palsu itu. Ayo jalan, kawan - kawan."


Entah siapa gadis itu dan apa yang akan dia lakukan terhadap Kenta, yang jelas dia akan membuat perhitungan terhadap anggota gangster sekolah Hoshizora serta saksi palsu.