
Kediaman Hanamasa
Setelah pulang sekolah, Gen mengunjungi rumah Yoshuke untuk membawa dua orang saksi lagi yang mungkin akan mereka seret ke persidangan nanti.
"Jadi, ada kabar terbaru apa Gen?" tanya Yoshuke
"Dua orang ini." Gen membawa dua orang saksi "Junichi Ueda dan Sawaki Endo, mereka ikut menjadi saksi dalam kasus pembunuhan Hose dan Mark."
"Persetan! Kenapa kalian menyeretku kesini hah? Apa masalah kalian?" ujar Sawaki
"Aku tidak terlibat apapun itu! Aku bersumpah!" ujar Ueda
"Oh, sepertinya kita bisa mendapatkan Taro lebih cepat lagi dari ini." Yoshuke bangkit dari duduknya lalu mendekati Ueda dan Sawaki
"Apa yang kau ingin dari kami hah?" Sawaki berontak
"Diam!" teriak Gen
"Aku ingin tau beberapa hal, terutama.... kedekatan kalian dengan orang bernama Hose... dan Mark." ujar Yoshuke
"Bicaralah sedikit, perlahan nyawa kalian akan aman ditangan kami." ujar Gen
"Kau ingin aku membahas setan itu? Memangnya apa urusan kalian dengannya? Pun jika ini soal kematian mereka, kalian tidak bisa membuktikan kami pelakunya." Sawaki semakin berontak, begitu juga Ueda
Yoshida muncul ditengah perdebatan Gen dan Yoshuke melawan Sawaki dan Ueda...
"Ada apa ini? Berisik sekali!" ujar Yoshida
"Oh ada kau rupanya, aku sedang memeriksa dua orang saksi baru di persidangan nanti." ucap Yoshuke
"Kau membuang waktumu kak, lagipula aku sudah tau siapa pelakunya. Barang buktinya sudah ku dapatkan, bahkan sebelum kau menyeret dua orang ini." Yoshida mengatakannya dengan sangat santai
Yoshuke menatap Gen dengan tajam dan seperti saling bicara satu sama lain dalam pikiran mereka, Yoshida berjalan melewati dua orang yang dibawa Gen.
Yoshuke segera mendekati Yoshida.
"Apa maksudmu kau sudah tau?"
"Persidangannya masih dua minggu dari sekarang, sebaiknya kita persiapkan diri saja untuk persidangan." Yoshida meninggalkan Yoshuke dan berjalan menuju pintu keluar
"Kau bisa lepaskan kami sekarang? Tuan Shoji? Dan tuan Hanamasa?" ujar Ueda
Yoshuke dan Gen kemudian menatap Ueda dengan bingung.
"Darimana kau tau nama keluargaku?" tanya Gen
"Tidak sulit menemukan alamat rumah pelaku korupsi pembangunan jembatan penghubung daerah Sumida, sebesar 5 Miliyar Yen." ujar Ueda
"Begitupun juga Hanamasa, Korupsi yang pendaan desa di Kochi. Tidak main - main, 300 Miliyar Yen." ujar Sawaki
"Apa? Korupsi? Jangan asal bicara kau ya!" Yoshuke menarik kerah baju Sawaki
"Menarik bukan? Melihat kakak adik bertengkar lalu masuk penjara, apalagi karena kejahatan orang tuanya." ujar Sawaki sambil tersenyum
"Ngomong - ngomong, keluarga Shoji dalam masalah besar karena sebagian warga akan menuntut pak Yuuga Shoji atas kasus itu." Ueda juga tersenyum
"Lalu? Kau mau apa hah?" Gen mendekati Ueda
"Apa yang terjadi ya... mungkin akan banyak orang yang menganggapmu pembawa sial? Bagaimana jika siswa Hoshizora juga tau soal ini?" Ueda semakin berani melawan Gen
"Sebaiknya kalian lepaskan kami, atau masalah akan datang pada kalian." ujar Sawaki
Dari arah belakang, ada dua orang yang menutup wajah Sawaki dan Ueda dengan kain yang sudah dibasahi obat bius. Tak butuh waktu lama, Sawaki dan Ueda sudah dalam posisi tak sadarkan diri.
"Tak kukira, kalian akan seberani itu melawanku." ucap Yoshuke
"Tapi yang jadi pertanyaan berikutnya adalah, dari mana mereka tau masalah orang tua kita? Apalagi kasus ini sudah lama tidak disidangkan, dan sebagian orang pasti sudah melupakannya bukan?" Gen memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi barusan.
"Apa mungkin...?" Yoshuke menatap Gen
"Pengkhianat? Tapi, siapa?" Gen kemudian memikirkan tindakan aneh beberapa temannya
Restoran sushi
Misaki dan Maulana menemui Mizuki untuk membahas masalah penemuan barang bukti berupa kayu yang dianggap gagang pisau oleh Misaki, Mizuki datang membawa sang kekasih yakni Daniel James.
*Gambaran Daniel James
"Jadi...? Ada apa kalian memintaku datang?" tanya Mizuki
"Tapi sepertinya sudah menghilang entah kemana." ujar Misaki
"Loh? Kok bisa? Gimana bisa hilang?" Mizuki bingung dengan jawaban Misaki
"Kemarin saat aku membuangnya dalam plastik sampah lalu menaruh diluar, Taro melihat seseorang membuka plastik sampah itu lalu membawa sesuatu yang diyakini kayu gagang pisau itu." Misaki pasrah dengan keadaan sekarang
"Ya ampun kenapa jadi gini sih? Padahal itu bisa jadi jalan mudah kita untuk segera melakukan pembelaan untuk Taro, jadi rencanamu selanjutnya apa Maulana-senpai?" Mizuki mulai membahas rencana
"Aku berniat menemui Taro, Taguchi dan Rio untuk langkah berikutnya, untuk sementara kita merencanakan sesuatu secara terpisah." Maulana juga pasrah
"Semudah itu kalian menyerah?" Daniel mulai ikut dalam obrolan
Maulana, Misaki dan Mizuki menghadap Daniel.
"Apa?
"Maksudku, seharusnya meskipun nasib seperti di ujung tanduk setidaknya kalian coba cara lain agar korban tidak dijadikan tersangka atas tuduhan palsu." ujar Daniel
"Oh iya ya, ternyata pacarku pintar juga ya. hehehehe" ujar Mizuki
Misaki dan Maulana saling menatap satu sama lain.
"Bagaimana, Maulana?" tanya Misaki
"Untuk sementara kita tidak bertemu dulu, baik dengan Mizuki atau denganmu." ucapan Maulana membuat Mizuki dan Misaki bingung
"Memangnya kenapa? Apakah kamu menyerah?" tanya Misaki
"Iya, kenapa tiba - tiba sekali?" Mizuki bingung
"Pokoknya kita bertiga jangan dulu bertemu untuk membahas masalah ini, nanti akan ada waktunya kita bahas lagi masalah ini." Entah apa yang Maulana pikirkan, tapi Daniel sepertinya bisa memahami itu.
"Ide yang bagus, sebaiknya kita tidak perlu bertemu untuk sementara waktu. Apalagi kondisinya tidak baik, sekarang lebih baik kamu fokus dengan sekolahmu Misaki!" ucap Daniel
"Kenapa jadi begini sih?" Misaki nampak kecewa
Maulana menghubungi Taguchi dan Rio melalui pesan singkat.
"Taguchi! Rio! Ada yang aku ingin bahas, kita bertemu besok setelah pulang sekolah ya. "
Maulana kembali fokus pada Misaki dan Mizuki.
"Jadi.. ya seperti yang aku katakan tadi, tidak apa kan Misaki?"
Misaki menatap Maulana dengan penuh harap.
"Kenapa~?"
"Sebaiknya kita segera pulang, kalian juga harus istirahat kan Mizuki?" Maulana mempercepat bicara
"Eh? Hmmm iya, kami juga harus pulang. Maaf ya Misaki." ucap Mizuki
Misaki bangkit dari kursi, Maulana menggandeng tangannya.
"Kita pulang ya, Misaki." Misaki terkejut melihat apa yang Maulana lakukan
"Hmm?" tatap Misaki agak kosong
Maulana membawa Misaki berjalan menjauh dari tempat pertemuan dengan Mizuki dan Daniel James.
Selama perjalanan, Misaki terus menangis dan Maulana berusaha untuk menenangkan.
"Mmm Misaki!" ucap Maulana, Misaki melihat ke arahnya.
"Ada apa, Maulana?" Misaki masih lirih
Maulana dan Misaki saling menatap, Maulana kemudian mengelus rambut pendek Misaki.
"Aku melakukan ini untuk kalian, untukmu dan Taro. Bukan karena aku ingin lari, tapi sebaiknya kita tidak bertemu dulu ya."
Ucapan Maulana seperti sebuah panah yang menusuk hati Misaki, tak lagi Misaki bisa menahan tangisnya.
"Maulana....??" Misaki menangis sejadinya, dan Maulana membawanya dalam pelukannya
Maulana tau apa yang harus dia lakukan setelah ini, Misaki juga harus mempersiapkan persidangan untuk Taro yang mulai terancam dengan kesaksian palsu.
Entah apapun jalannya, nampaknya mereka harus menghadapi hari persidangan dengan cara mereka sendiri.