
Jalan Pulang sekolah
Baik Hoshizora maupun Sakura masing - masing sudah menyelesaikan pelajaran hari ini, beberapa siswa bergerombolan keluar sekolah.
Misaki segera berjalan menjauh dari sekolah dan membuka penyamarannya di suatu tempat, sementara Maulana memilih jalan kaki dengan santai.
"Taro kenapa selalu buru - buru pulang ya? Oh iya aku lupa, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya. Sebaiknya aku kejar, sebelum Yoshuke menemukannya." Maulana kemudian berusaha mengejar Misaki yang sudah sangat jauh darinya
Yuki yang juga baru keluar sekolah melihat Maulana berlari ke arah taman, Yuki curiga dan segera mengejarnya.
"Kenapa Maulana berlari? Apa ada sesuatu ya? Sebaiknya aku kejar."
Beberapa saat kemudian
Misaki melepas seragam Hoshizora lalu memasukannya ke dalam tas, dia terkejut melihat Maulana mendekatinya.
"Maulana?"
"Oh, Misaki? Maaf aku kira tadi Taro, aku melihatnya berjalan terburu - buru." Maulana sampai
"Kenapa kamu mengejar Taro?" tanya Misaki
"Bolehkah aku datang ke rumahmu?" Maulana langsung jujur
"Eeh? Hmm ada apa ya? Kenapa mendadak?" Misaki tersipu
"Ada sesuatu yang mau aku bahas, ini soal Yoshuke." jawab Maulana
"Yoshuke?" Misaki mendengarkan penjelasan Maulana kemudian
Sementara itu
Yuki sampai di persimpangan dimana Maulana dan Misaki sedang bicara berdua, Yuki nampak cemburu.
"Misaki? Jadi Maulana sedang mengejar Misaki? Apa ya yang mereka bicarakan?" Saat hendak berjalan, mobil yang menjemput Yuki datang.
"Maaf nona Yuki." ucap pak Hideki sang supir
"Ah pak Hideki?" Yuki terkejut
"Maaf saya terlambat, Nona sudah ditunggu pak Hasegawa." pak Hideki membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Yuki masuk, Yuki kemudian melihat ke arah Misaki yang kini berjalan bersama Maulana menjauh dari tempat pertemuan tadi.
"Kemana ya mereka? Kenapa Maulana berjalan dengan Misaki sih?" tutur batin Yuki kecewa, akhirnya Yuki pun masuk ke dalam mobil menuju arah pulang
Kediaman Hasegawa 長谷川
Tuan Hasegawa sudah menyiapkan rencana untuk pindah ke Hokkaido sejak lama, namun karena alasan lain tuan Hasegawa tidak bisa pindah begitu saja. Nyonya Hasegawa, Sayaka dan Yuki punya urusan masing - masing juga, apalagi Sayaka dan Yuki masih sekolah.
"Kenapa baru sekarang kamu bahas ini? Seharusnya sebelum Yuki SMA, terus gimana Sayaka yang sebentar lagi masuk Universitas di Tokyo?" tanya nyonya Hasegawa
"Aku menyimpan rencana ini sampai waktu yang menurutku pas, biarkan Sayaka dan Yuki memutuskan akan ikut siapa. Lagipula, ini sudah terlalu lama bagiku menahannya." Tuan Hasegawa sedikit frustasi bila harus menunggu lama
"Papa kenapa sih? Kok maksa pengen pindah ke Hokkaido? Ada sesuatu yang papa coba sembunyiin?" Sayaka mencoba menebak apa yang terjadi
"Selama papa maksa, aku gak bisa menahannya. Aku gak mau jauh dari Maulana, gimana dong?" ujar Yuki dalam sepinya
"Gak ada apa - apa, ini rencana sudah selesai jadi kita tinggal pindah. Kamu jangan diem aja Yuki." Tuan Hasegawa menegur Yuki yang terus terdiam
"Aku gak mau pindah! Aku udah nyaman di Tokyo, aku juga gak mau jauh dari pacarku." Yuki kesal
"Pacar? Siapa lagi hah? Udah cukup kamu gagal sama Miyamura, sekarang siapa lagi pria yang kamu anggap pacar? Jangan bohong sama Papa!" Tuan Hasegawa juga kesal dengan keputusan Yuki
"Emang paling bisa kamu, bikin papa kesal. Hahaha 🤣" Sayaka tertawa dengan keras
"Eh.. anak cewek gak boleh ketawa kayak gitu ah! Udah kita terusin bicaranya nanti, sekarang makan dulu!" ujar Nyonya Hasegawa
Seluruh anggota keluarga Hasegawa sekarang fokus untuk makan, mungkin sekarang Yuki hanya berusaha fokus terhadap Maulana. Di sisi lain Sayaka harus fokus pada kuliahnya nanti, namun tuan Hasegawa tentu berharap jika kedua putrinya akan menuruti kemauannya nanti.
Maulana mengunjungi rumah Taro untuk menerangkan kejadian yang dilihat dan didengar Taguchi dan Rio, Taro nampak tidak terlalu peduli namun Misaki peduli.
"Aktifitas yang aneh dari Yoshuke, Gen dan Ryusei memang seperti menunjukkan kalau merekalah pelakunya. Soal bukti, aku berjanji padamu aku akan menemukannya sebelum yang lain dan membawanya ke kantor polisi." Maulana berharap Taro bisa menerima itu dan mempercayainya
"Omong kosong, sekarang aku harus fokus untuk membayar semua hutangku pada mereka. Jangan ganggu aku apapun soal mereka, kau terlalu sibuk dengan mereka sampai kau lupa kalau nyawamu juga terancam." Taro benar - benar tidak peduli
"Aku pikir ini akan menjadi semakin sulit kalo kakak gak dengerin apa kata Maulana, lagian ini juga untuk kebaikan kakak. Aku mohon sama kakak, kakak mau ya membantu Maulana melawan gangster sekolah Hoshizora. Aku gak mau kakak jadi korban mereka lebih dari ini, sudah cukup kejahatan mereka selama ini." Misaki sedikit menangis
"Kamu lagi, udah sebaiknya kamu tidur sana. Dan kau Maulana, sebaiknya kau pulang dan melindungi dirimu agar kejadian di festival kemarin tidak terjadi lagi." Taro segera bangkit, menarik lengan Maulana dan menyeretnya keluar rumah.
Misaki kini hanya bisa terdiam melihat perlakuan sang kakak terhadap Maulana, kenapa kakaknya berubah drastis seperti musuh bagi dirinya dan teman - temannya di sekolah.
Begitu di luar rumah, Taro dengan berani menampar Maulana dan mendorongnya. Maulana hanya bisa menahan amarahnya agar dia tidak menyakiti Taro, Maulana tentu juga memikirkan perasaan Taro dan Misaki.
"Pergilah dari hadapanku, dan jangan harap aku membantu kalian!" Taro segera masuk ke dalam rumah
"Pengecut ini! Kau akan berterima kasih padaku suatu saat nanti, Misaki juga akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari kakaknya." Maulana bangkit lalu berjalan pulang
Dalam perjalanan
Maulana menghubungi Rio
"Rio ini aku, kita ubah rencana untuk melindungi Taro!" ucap Maulana tegas
"Kenapa begitu? Apa terjadi sesuatu?" Rio bingung
"Kondisinya malah melawan kita, jadi rencana C akan kita jalankan. Nanti biar aku yang menjelaskannya pada Taguchi, soal Taro biarkan Misaki yang menahannya nanti. Sampai bertemu besok, Rio." Maulana segera menutup teleponnya
Dalam perjalanan, Maulana mengingat kembali apa yang Yuki katakan padanya jauh sebelum ini.
"Jangan terlalu memikirkan orang lain lebih dari memikirkan dirimu dan keluargamu, suatu saat nanti orang yang akan kamu bela bisa saja menjadi musuhmu."
Perkataan Yuki pada saat mengobati Maulana di rumah sakit membuat Maulana sedikit ragu akan apa yang dia lakukan sekarang, namun...
"Aku tidak menuntutmu untuk selalu menjaga kakakku, tapi aku hanya berharap kalau apapun sikap kakakku padamu tidak mengubah apa yang sekarang ada. Setiap kebaikanmu akan mendapatkan hasil yang indah, jadi jangan menyerah menjadi orang baik ya."
Perkataan Misaki sedikit membuat Maulana tenang saat Taro mencoba memusuhinya, kini yang ada di kepala Maulana adalah bagaimana membuat Yoshuke dan para anggotanya mendapatkan hukuman.
Kediaman Hasegawa
Yuki menatap langit malam yang penuh dengan bintang, sambil berharap jika orang tuanya bisa memenuhi hadapannya saat ini.
Apa yang dia dan Maulana bicarakan pada saat di rumah sakit membuat pikirannya sedikit terbuka.
"*Hasegawa-san aku punya pertanyaan yang jawabannya pasti bisa kau jawab."
"Iya Maulana?"
"Pernahkah kamu memperjuangkan sesuatu, lalu kamu melepaskannya untuk orang lain? dan apa yang akan kamu lakukan jika itu terjadi dua kali*?"
Yuki sedikit memutar otak untuk mendapatkan jawaban yang tepat, karena apapun yang terjadi dia tidak mungkin bisa melakukannya. Apalagi ini soal hati bukan?
"Aku bisa saja melepaskan keduanya, tapi jika aku melepaskan yang kedua maka itu tidak pantas disebut perjuangan. Berjuang artinya kamu sudah mengerahkan semua yang ada pada dirimu untuk mendapatkan itu, jika melepaskannya dengan mudah maka tidak pantas disebut perjuangan. Semudah itu, kamu tidak sulit menemukan jawabannya."
Setelah jawaban mudah Yuki, Maulana menanyakan hal yang membuatnya sedikit terguncang.
"Jika yang kedua adalah orang yang sulit kamu dapatkan selain berjuang, apakah hatimu akan merelakan kepergiannya semudah apa yang kamu katakan? Padahal, perjuanganmu belum sejuah perjuangan saat mendapatkan orang yang pertama."
Yuki terdiam dan meneteskan air matanya, entah kenapa ucapan Maulana kala itu benar - benar terjadi disaat sekarang. Yuki melepaskan Miyamura demi Misaki, namun dia tidak bisa melepaskan Maulana demi gadis lain dengan mudah semudah melepas Miyamura yang memang sudah memiliki kekasih.
"Jika orang yang kamu maksud orang pertama itu Miyamura, dan orang kedua adalah kamu. Aku sudah bertekad, tidak akan melepaskanmu demi gadis lain. Aku memohon pada Tuhan, jika kamu *Maulana* adalah jodohku."
Yuki, Misaki dan Maulana menghadapi masalahnya masing - masing, namun cara mereka menyelesaikan masalah itulah yang akan menjadi penentu apakah hasilnya akan indah atau malah menghancurkan mereka.